Bisnis.com, BANDUNG - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat guna mengantisipasi dampak jangka panjang dinamika geopolitik global terhadap kinerja perdagangan, khususnya sektor ekspor daerah.
Kepala Disperindag Jabar Nining Yuliastiani mengatakan koordinasi tersebut dilakukan melalui komunikasi intensif dengan sejumlah kementerian dan lembaga terkait, termasuk Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.
Menurut dia, langkah tersebut diperlukan untuk memastikan adanya keselarasan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas perdagangan serta daya saing produk ekspor Jawa Barat di tengah ketidakpastian global.
"Koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait terus kami lakukan secara intensif agar kebijakan yang diambil dapat selaras serta mampu merespons dinamika perdagangan global," kata Nining di Bandung, Rabu (1/4/2026).
Selain memperkuat koordinasi antarpemerintah, Disperindag Jabar juga aktif menghimpun berbagai masukan dari pelaku usaha, khususnya eksportir yang terdampak langsung oleh perubahan kondisi pasar global.
Masukan tersebut, kata Nining, menjadi bahan penting dalam penyusunan rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat.
"Kami juga terus menyerap aspirasi para eksportir di Jawa Barat agar kondisi riil di lapangan dapat menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijakan di tingkat nasional," katanya.
Di sisi lain, Disperindag Jabar juga mendorong strategi jangka panjang berupa diversifikasi pasar ekspor. Salah satu langkah yang dilakukan adalah penyelenggaraan program Pitching Business secara daring yang dilaksanakan secara berkala dengan target negara tujuan yang berbeda-beda.
Program tersebut melibatkan Atase Perdagangan dan pimpinan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) untuk mempertemukan pelaku usaha Jawa Barat dengan calon pembeli potensial di pasar nontradisional.
"Diversifikasi pasar ekspor menjadi salah satu strategi penting agar pelaku usaha tidak terlalu bergantung pada pasar tertentu," ujarnya.
Selain itu, optimalisasi pemanfaatan berbagai perjanjian perdagangan internasional juga terus didorong guna memperluas akses pasar bagi komoditas ekspor daerah.
Disperindag Jabar juga memperkuat sistem informasi intelijen pasar untuk memberikan informasi terkini mengenai perkembangan regulasi perdagangan global kepada para pelaku usaha.
Saat ini, terdapat 14 Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) di kabupaten dan kota di Jawa Barat yang dapat memfasilitasi penerbitan Surat Keterangan Asal atau Certificate of Origin (COO) bagi eksportir.
Dokumen tersebut diperlukan untuk memanfaatkan skema preferensi tarif dalam berbagai perjanjian perdagangan internasional sehingga produk ekspor Indonesia dapat memperoleh tarif yang lebih kompetitif di pasar tujuan.
Nining menegaskan pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan situasi geopolitik global secara cermat guna memastikan daya saing komoditas ekspor Jawa Barat tetap terjaga.
"Pemprov Jawa Barat berkomitmen untuk terus memantau perkembangan situasi ini agar daya saing komoditas daerah tetap kompetitif dan pelaku usaha dapat terus menjaga kinerja ekspor," katanya.
Dia berharap dinamika geopolitik global saat ini tidak berkembang menjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan sehingga target pertumbuhan ekonomi daerah tetap dapat tercapai sesuai rencana pembangunan yang telah ditetapkan.