#30 tag 24jam
Mengganti tameng dengan benteng, perkuat eksportir
Tekanan terhadap rupiah kembali mengemuka ketika kurs menembus Rp17.424 per dolar AS pada 5 Mei, melemah sekitar 5 persen dalam 12 bulan. Ironisnya, gejolak ... [1,360] url asal
#perkuat-eksportir #perkuat-ekspor #gejolak-nilai-tukar #kurs-rupiah
Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, setiap guncangan global membuat rupiah seakan berdiri hanya dengan tameng tipis, bukan di balik benteng kokoh
Jakarta (ANTARA) - Tekanan terhadap rupiah kembali mengemuka ketika kurs menembus Rp17.424 per dolar AS pada 5 Mei, melemah sekitar 5 persen dalam 12 bulan. Ironisnya, gejolak nilai tukar ini terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang justru solid, mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026, lebih tinggi dari pada kuartal sebelumnya yang 5,39 persen.
Di permukaan, publik mudah menunjuk jari ke faktor eksternal: perang Iran menghadapi agresi AS dan Israel, ketegangan di Selat Hormuz, lonjakan harga minyak, dan tingginya suku bunga Amerika Serikat. Namun, di balik semua itu, tekanan terhadap rupiah sesungguhnya mencerminkan rapuhnya fondasi domestik yang membuat setiap guncangan global membesar, efeknya terasa di dalam negeri.
Secara global, dolar AS menguat karena kembali menjadi aset pelindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik, diperkuat kebijakan suku bunga tinggi The Fed.
Ketegangan di Selat Hormuz tidak hanya memicu kekhawatiran pasokan energi, tetapi juga ikut mendorong kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi impor di negara pengimpor minyak, seperti Indonesia. Inflasi kita melonjak menjadi 4,76 persen (year-on-year) pada Februari 2026, dari 3,55 persen pada Januari, dengan indeks harga konsumen naik dari 105,48 menjadi 110,50.
Literatur ekonomi moneter kontemporer mengingatkan bahwa faktor eksternal hanya pemantik; besarnya "api" sangat ditentukan oleh kondisi bahan bakar di dalam negeri. Di Indonesia, ada setidaknya empat kerentanan struktural yang membuat rupiah mudah goyah.
Pertama, pelebaran defisit fiskal dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal. Pasar akan menuntut premi risiko lebih tinggi, yang berujung pada arus keluar dana portofolio asing dari pasar surat berharga negara dan memperbesar tekanan pada rupiah.
Kedua, struktur ekonomi yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku, beberapa pangan, dan energi, membuat kebutuhan dolar AS tetap tinggi, bahkan ketika pertumbuhan ekonomi domestik terlihat baik. Begitu harga komoditas melemah atau permintaan global melambat, surplus perdagangan menyempit dan bantalan cadangan devisa terhadap gejolak kurs menipis.
Ketiga, daya saing ekspor Indonesia masih terkunci pada komoditas primer, dengan nilai tambah rendah dan logistik nasional yang mahal dan tidak efisien. Di sisi UMKM, ada perkembangan menggembirakan: sepanjang 2025 ekspor produk UMKM mencapai sekitar 15 persen dari total ekspor Indonesia, dan menembus lebih dari 33 negara.
Namun, bila dibandingkan dengan sekitar 65 juta pelaku UMKM aktif, kontribusi tersebut masih perlu ditingkatkan untuk menopang neraca perdagangan dan cadangan devisa secara signifikan jika dikomparasikan dengan Malaysia dan Thailand yang mencapai 28-30 persen UMKM penyumbang ekspor.
Keempat, tata kelola kebijakan dan komunikasi antarlembaga yang belum sepenuhnya selaras sering kali menimbulkan kebingungan sinyal. Pergeseran pesan dan komunikasi kebijakan ekonomi yang tidak solid memperkuat sikap wait and see investor dan mendorong volatilitas di pasar keuangan domestik. Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, setiap guncangan global membuat rupiah seakan berdiri hanya dengan tameng tipis, bukan di balik benteng kokoh.
Perisai jangka pendek
Menghadapi tekanan kurs di atas Rp17.400, Bank Indonesia merespons dengan strategi intervensi multi-instrumen, memanfaatkan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) offshore, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) onshore, intervensi spot, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
DNDF domestik dirancang memberikan fasilitas lindung nilai berbasis rupiah tanpa penyerahan dolar tunai, sehingga perusahaan dapat melakukan hedging di pasar dalam negeri dan mengurangi dominasi NDF offshore dalam pembentukan ekspektasi nilai tukar.
Bank Indonesia juga memperkuat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang tercatat meningkat 21 persen menjadi Rp885,41 triliun pada April, di samping pembelian SBN di pasar sekunder yang mencapai Rp123,8 triliun hingga awal Mei.
Langkah ini bertujuan menahan kenaikan yield yang berlebihan, menstabilkan pasar obligasi, dan menarik kembali capital inflow untuk mengimbangi keluarnya dana dari SBN dan pasar saham.
Bagi UMKM eksportir, kebijakan ini ibarat kabar baik yang masih “terlalu jauh di menara kebijakan”. DNDF potensial menjadi alat penting perlindungan nilai tukar, tetapi di lapangan, UMKM menghadapi kendala literasi derivatif yang rendah, skala transaksi kecil, dan biaya serta persyaratan margin yang terasa berat.
Karena itu, efektivitas DNDF bagi UMKM jauh lebih besar bila digunakan melalui skema tidak langsung. Bank menawarkan paket kredit ekspor plus fasilitas hedging sederhana, sementara banklah yang melakukan lindung nilai ke Bank Indonesia melalui DNDF.
Integrasi dengan KUR berorientasi ekspor, KURBE, dan pembiayaan LPEI dengan komponen hedging yang disubsidi – wajib atau opsional – akan membuat perlindungan kurs benar-benar menyentuh pelaku kecil yang padat karya.
Sektor pertanian, mebel, dan tekstil yang sensitif terhadap margin kurs bisa menjadi prioritas karena dampaknya besar terhadap ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Namun, semua instrumen ini, betapapun canggih, pada hakikatnya masih tameng taktis jangka pendek. Tanpa penguatan struktur ekonomi, rupiah akan terus menjadi korban pertama tiap kali ada badai global berikutnya.
Membangun benteng
Stabilitas rupiah yang berkelanjutan menuntut sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan reformasi struktural yang konsisten dari hulu ke hilir. Di sini, penguatan UMKM eksportir bernilai tambah tinggi, bukan sekadar agenda pemberdayaan, tetapi bagian inti dari strategi pertahanan mata uang.
Pertama, pemerintah harus menjaga kepercayaan pasar melalui jalur konsolidasi fiskal yang kredibel dan bertahap. Pengelolaan anggaran yang hati-hati, transparan, dan konsisten akan mengurangi kekhawatiran soal kemampuan negara mengelola utang dan memenuhi kewajiban, sehingga premi risiko menurun dan tekanan terhadap rupiah berkurang.
Kedua, koordinasi moneter–fiskal antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan perlu naik kelas dari sekadar koordinasi formal menjadi orkestrasi narasi. Dalam masa krisis, publik dan pasar perlu mendengar pesan yang sama, dengan nada yang sama, dari otoritas moneter dan fiskal. Komunikasi yang tegas dan selaras membantu meredam kepanikan, menjaga ekspektasi inflasi, dan menstabilkan kurs, seperti yang diupayakan ketika rupiah berada di bawah tekanan pada April–Mei 2026.
Ketiga, komitmen untuk mengurangi kebergantungan terhadap impor dan dolar harus diterjemahkan ke agenda konkret: substitusi impor selektif, dorongan hilirisasi industri, dan pengembangan ekspor bernilai tambah tinggi yang melibatkan UMKM.
Perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral (local currency transaction/LCT) serta pemanfaatan transaksi digital lintas negara (seperti QRIS dan BI-FAST di kawasan regional) dapat membantu mengurangi tekanan permintaan dolar secara bertahap. Di saat yang sama, perbaikan efisiensi logistik dan penguatan kapasitas produksi domestik akan memperkuat cadangan devisa dan mengurangi kerentanan kurs dalam jangka panjang.
Keempat, pendalaman pasar keuangan domestik – termasuk pasar DNDF onshore– menjadi keharusan, bukan pilihan. Instrumen lindung nilai harus lebih beragam dan mudah diakses, sementara surat berharga rupiah perlu semakin atraktif bagi investor domestik dan manajer dana regional yang terkait ekosistem UMKM. Likuiditas dan efisiensi pasar yang membaik akan membantu menyerap guncangan global tanpa selalu memaksa bank sentral melakukan intervensi besar-besaran.
Kelima, kualitas tata kelola dan konsistensi sinyal kebijakan ekonomi perlu ditingkatkan secara serius. Kredibilitas institusional yang kuat, transparansi pengambilan keputusan, dan komunikasi yang bisa diprediksi adalah modal penting untuk memulihkan dan menjaga kepercayaan investor. Dalam dunia yang sarat ketidakpastian, kebijakan yang tidak bisa diprediksi seringkali lebih berbahaya daripada berita buruk yang jelas.
Transformasi
Strategi sinergi ini perlu ditempatkan dalam horizon waktu yang jelas. Jangka pendek (0–6 bulan) menitikberatkan pada intervensi terukur DNDF/NDF/spot, penguatan SRBI, pengendalian transaksi spekulatif, dan komunikasi yang konsisten antara otoritas.
Jangka menengah (6–18 bulan) diarahkan pada konsolidasi fiskal yang kredibel, pendalaman pasar DNDF domestik, integrasi hedging dalam pembiayaan ekspor UMKM, dan percepatan substitusi impor selektif. Jangka panjang (lebih dari 18 bulan) harus fokus pada transformasi struktur ekspor lewat hilirisasi, penguatan daya saing, dan konsolidasi tata kelola institusional.
Pada titik ini, pertanyaan kuncinya bukan lagi sekadar “berapa cadangan devisa kita?” tetapi “seberapa kokoh fondasi ekspor bernilai tambah dan basis devisa yang bersumber dari jutaan pelaku usaha?” Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih solid 5,61 persen di kuartal I 2026, Indonesia memiliki momentum yang sayang jika hanya dihabiskan untuk strategi tanggap darurat jangka pendek.
Rupiah tidak bisa selamanya hanya mengandalkan tameng intervensi pasar ketika badai datang. Ia membutuhkan benteng: struktur ekonomi yang lebih berdaulat, basis ekspor UMKM yang naik kelas, pasar keuangan domestik yang dalam, dan tata kelola kebijakan yang kredibel.
DNDF, NDF, dan instrumen moneter lainnya tetap penting sebagai lapis pertama pertahanan; tetapi tanpa reformasi struktural dan penguatan UMKM eksportir sebagai basis devisa, kita hanya memindahkan titik lemah dari satu siklus krisis ke siklus berikutnya. Dengan orkestrasi kebijakan yang konsisten, Indonesia bukan saja bisa mempertahankan stabilitas rupiah, tetapi sekaligus mengubah setiap episode tekanan global menjadi momentum percepatan transformasi ekonomi
*)Prof Dodi Wirawan Irawanto PhD,Ketua Pusat Riset Kepemimpinan dan Organisasi Universitas Brawijaya Malang
Copyright © ANTARA 2026
Semen Indonesia perkuat ekspor untuk tingkatkan pendapatan
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) memperkuat ekspor ke pasar internasional guna meningkatkan pendapatan, memperluas peluang usaha, serta mengoptimalkan ... [377] url asal
#semen-indonesia #sig #perkuat-ekspor #tingkatkan #pendapatan
Jakarta (ANTARA) - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) memperkuat ekspor ke pasar internasional guna meningkatkan pendapatan, memperluas peluang usaha, serta mengoptimalkan utilisasi pabrik di tengah persaingan industri semen domestik.
"Salah satu fokus utama SIG saat ini adalah memperkuat penetrasi pasar ekspor," kata Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Dia menyampaikan penetrasi pasar ekspor sebagai langkah strategis untuk meningkatkan utilisasi pabrik, dan memperluas peluang pasar produk derivatif bernilai tambah.
Melalui anak usaha, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk bersama Taiheiyo Cement Corporation, SIG telah menyelesaikan proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi untuk ekspor di Tuban, Jawa Timur yang ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2026.
Fasilitas tersebut akan menjadi basis penguatan ekspor perusahaan itu sekaligus membuka peluang peningkatan margin usaha di tengah kompetisi pasar domestik yang semakin ketat.
"Rampungnya fasilitas ekspor di Tuban menjadi tonggak penting bagi SIG untuk memperkuat posisi di pasar internasional," ucap Vita.
Ia menekankan ekspor akan menjadi instrumen strategis untuk mengoptimalkan utilisasi sekaligus mendukung pertumbuhan profitabilitas perseroan.
Adapun dalam kondisi pasar yang masih dibayangi overcapacity, perusahaan tersebut berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan kinerja sekaligus menyiapkan mesin pertumbuhan baru melalui penguatan pasar ekspor.
Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp8,29 triliun atau tumbuh 8,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat signifikan sebesar 88,7 persen menjadi Rp80 miliar. Volume penjualan juga naik 1,7 persen yoy menjadi 8,71 juta ton.
Vita mengatakan capaian tersebut menunjukkan strategi transformasi yang dijalankan perseroan berhasil menjaga resiliensi bisnis sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.
"SIG tidak hanya fokus menjaga kinerja jangka pendek, tetapi juga membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan. Transformasi bisnis yang dijalankan secara disiplin berhasil meningkatkan daya saing perusahaan di tengah tantangan industri,” tutur Vita.
Di sisi operasi, perusahaan tersebut juga terus memperkuat efektivitas transformasi melalui pengelolaan pasar mikro, optimalisasi portofolio produk, serta efisiensi biaya.
Strategi tersebut membantu perseroan menjaga kinerja di tengah kenaikan harga energi dan permintaan pasar domestik yang baru menunjukkan geliat pada awal tahun ini.
Selain mencatat pertumbuhan penjualan domestik sebesar 5,4 persen secara yoy, perusahaan itu juga berhasil menurunkan biaya keuangan bersih sebesar 35,4 persen yoy melalui pengelolaan keuangan yang lebih optimal.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
SIG: Proyek Talavera Jetty di Tuban operasi tahun ini, perkuat ekspor
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) memastikan proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi Talavera Project Jetty di kawasan Socorejo, Tuban, Jawa ... [510] url asal
#sig #proyek-talavera-jetty #tuban #operasi-2026 #perkuat-ekspor
Jakarta (ANTARA) - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) memastikan proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi Talavera Project Jetty di kawasan Socorejo, Tuban, Jawa Timur, beroperasi optimal pertengahan tahun 2026 guna memperkuat ekspor dan daya saing industri.
Direktur Utama SIG Indrieffouny Indra mengatakan proyek di kawasan Socorejo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban itu akan menjadi tonggak penting tidak hanya dalam memperkuat kapasitas distribusi, tetapi juga berkontribusi terhadap daya saing pasar ekspor dan memperkuat jaringan distribusi global.
"Proyek ini akan berkontribusi di tengah tantangan pasar domestik yang semakin kompetitif, serta kondisi overcapacity yang dihadapi industri semen domestik, ini diharapkan segera rampung untuk siap beroperasi secara optimal pada pertengahan tahun 2026," kata Indrieffouny dalam keterangan di Jakarta, Minggu.
Proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi tersebut, merupakan bagian dari kerja sama strategis antara SIG melalui anak usahanya, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, dan Taiheiyo Cement Corporation yang telah terjalin sejak tahun 2021 silam.
Dengan nilai investasi sebesar Rp1,4 triliun, proyek itu mencakup sejumlah pengembangan fasilitas dermaga maupun pabrik. Salah satunya adalah peningkatan kapasitas Terminal Khusus dari 15.000 Deadweight Ton (DWT) menjadi 50.000 DWT.
Penambahan kapasitas itu dilakukan dengan membangun jetty trestle dan jetty platform baru yang terhubung dengan existing jetty.
Sedangkan untuk mendukung produksi, proyek itu juga mencakup pembangunan fasilitas seperti blending silo system dengan kapasitas 8.000 ton, clinker silo system berkapasitas 15.000 ton, dan 2 cement silo system masing-masing berkapasitas 18.000 ton.
Selain itu, proyek tersebut juga melibatkan pemasangan fasilitas transpor berupa tube conveyor sepanjang 4,1 km, tripper conveyor, dan ship loader dengan kapasitas 1.000 tons per hour (tph) yang berfungsi mengirim semen curah dari pabrik menuju kapal yang bersandar di dermaga.
Proyek sinergi dengan Hutama Karya itu diproyeksikan untuk dapat mengirim 450 ribu ton semen pada tahun ini, dari kapasitas pemenuhan hingga 1 juta ton semen per tahun.
"Semoga kerja sama dengan Taiheiyo ini membawa hasil optimal dan berkontribusi pada pertumbuhan kinerja kedua grup. Dan yang paling penting, memperluas layanan karya anak bangsa di kancah dunia,” ujar Indrieffouny.
Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka meninjau proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Jumat (6/3).
Dalam kunjungan tersebut, Wapres Gibran turut didampingi Gubernur Provinsi Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa; Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky; termasuk Direktur Utama SIG Indrieffouny Indra bersama jajaran manajemen perusahaan.
Proyek yang dikelola oleh anak usaha SIG yaitu PT Solusi Bangun Indonesia Tbk tersebut, akan menjadi fasilitas ekspor semen berkapasitas besar yang mengadopsi teknologi modern terkini untuk mendukung operasional ekspor yang efisien dan berkelanjutan.
Wapres Gibran Rakabuming menyampaikan apresiasi atas perkembangan proyek yang kini telah mencapai 99 persen dan berharap perusahaan terus menjaga dan bahkan meningkatkan standar dan kepatuhan pengelolaan lingkungan.
"Semoga segera operasional dan mendukung peningkatan kapabilitas bangsa di kancah global serta agenda pembangunan berkelanjutan, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara,” kata Wapres.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Wapres meninjau fitur-fitur dermaga yang diproyeksikan mampu mengirim 500 ribu hingga 1 juta ton semen ke pasar internasional.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56