Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja dua emiten teknologi Tanah Air, PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), menunjukkan arah yang kontras pada kuartal I/2026. Di saat GOTO mulai menuai laba perdana, BUKA justru kembali tertekan ke zona rugi meski mencatatkan pertumbuhan pendapatan.
BUKA membukukan rugi bersih sebesar Rp425,78 miliar sepanjang tiga bulan pertama 2026, berbalik dari laba bersih Rp110,65 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini terjadi di tengah lonjakan pendapatan yang tumbuh 62,71% secara tahunan menjadi Rp2,36 triliun.
Kontribusi terbesar pendapatan BUKA masih berasal dari segmen gaming yang mencapai Rp2,09 triliun. Sementara itu, segmen online to offline menyumbang Rp173,81 miliar, diikuti ritel Rp79,42 miliar, serta investasi Rp20,98 miliar.
Namun, kenaikan pendapatan tersebut tidak diikuti efisiensi biaya. Beban pokok pendapatan BUKA melonjak 66,49% menjadi Rp2,20 triliun, dari Rp1,32 triliun pada kuartal I/2025. Kondisi ini menekan kinerja operasional, dengan rugi usaha tercatat sebesar Rp519,05 miliar atau melonjak signifikan dibandingkan Rp94,38 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset BUKA tercatat sebesar Rp25,42 triliun per akhir Maret 2026, turun dari Rp26,03 triliun pada akhir 2025. Liabilitas juga menyusut menjadi Rp657,89 miliar, sementara ekuitas turun menjadi Rp24,77 triliun.
Berbanding terbalik, GOTO justru mencatatkan tonggak penting dengan membukukan laba bersih sebesar Rp257,9 miliar pada kuartal I/2026, menjadi laba perdana sejak perusahaan berdiri. Capaian ini membalikkan posisi rugi bersih Rp283,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kinerja GOTO ditopang oleh kenaikan pendapatan sebesar 26% menjadi Rp5,34 triliun, dari Rp4,23 triliun pada kuartal I/2025. Selain itu, EBITDA yang disesuaikan melonjak 131% secara tahunan menjadi Rp907 miliar, mencerminkan perbaikan profitabilitas yang semakin solid.
Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo menyebut capaian ini sebagai momen penting bagi perseroan.
“Hal ini mencerminkan kerja keras tim selama bertahun-tahun dalam mendorong pertumbuhan pendapatan, mengelola biaya secara disiplin, dan menciptakan nilai nyata bagi pelanggan kami,” ujarnya.
Dari sisi operasional, GOTO juga mencatatkan arus kas bebas disesuaikan positif sebesar Rp1,3 triliun. Kinerja ini didorong oleh pertumbuhan bisnis fintech yang mencapai Rp1,9 triliun atau naik 58% secara tahunan, serta segmen on-demand services sebesar Rp3,36 triliun.
Direktur Keuangan GOTO Simon Ho menilai perbaikan kinerja ini menunjukkan operating leverage yang semakin kuat dalam bisnis perseroan.
“Pertumbuhan pendapatan melebihi pertumbuhan biaya secara signifikan, baik di bisnis fintech maupun on-demand services,” ujarnya.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta menilai basis pelanggan yang kuat, khususnya dari segmen menengah atas, menjadi salah satu faktor yang menopang ketahanan GOTO di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, strategi segmentasi pelanggan serta penguatan bisnis fintech dan layanan on-demand menjadi kunci bagi GOTO untuk menjaga momentum pertumbuhan dan profitabilitas ke depan.
“Strategi Gojek adalah segmentasi pelanggan yang tepat lewat balancing segmen affluent dan mass market sedangkan untuk Fintech fokus pada mendorong pertumbuhan pengguna bertransaksi serta proses underwriting kredit yang berbasis data untuk risk management” ungkap Kafi.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.