Pemangkasan komisi ojol jadi 8% berdampak pada ODS GOTO, namun pendapatan tetap kuat berkat diversifikasi bisnis, terutama dari fintech yang tumbuh pesat. [359] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pemangkasan komisi ojek online (ojol) menjadi 8% dinilai akan berdampak terhadap lini bisnis On-Demand Services (ODS) dan mempengaruhi kinerja pendapatan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO).
Adapun, GOTO siap melakukan penyesuaian komisi 92% untuk mitra ojek online dan 8% untuk aplikator, yang akan segera diimplementasikan untuk layanan kendaraan roda dua.
Selain penyesuaian skema pada layanan GoRide sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, Direktur Utama GoTo Hans Patuwo akan mengoptimalkan lini-lini bisnis yang lain untuk mendukung perubahaan ini.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta mengatakan kebijakan tersebut dipastikan berdampak pada pendapatan unit bisnis ODS terutama produk GoRide. Namun, pendapatan GOTO tidak bergantung dari satu sumber.
“Sebagai ekosistem, GOTO memiliki sumber pendapatan yang terdiversifikasi. Tidak hanya bertumpu pada ODS, tetapi ada fintech yang growth-nya tinggi, ada juga logistik dan pengantaran serta pendapatan dari e-commerce service fee,” kata Kafi dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).
Dia memberi contoh pada unit bisnis Fintech sudah berkontribusi positif baik dari sisi top-line maupun bottom-line ke GOTO. Namun dari sisi skala sebenarnya bisnis Fintech memiliki ruang pertumbuhan yang tinggi.
Kafi menambahkan Fintech GOTO mencapai 27,5 juta pengguna aktif dengan 2 miliar transaksi pada kuartal I/2026. Ruang pertumbuhan masih terbuka karena total populasi penduduk dewasa Indonesia mencapai hampir 200 juta orang.
Berdasarkan kinerja kuartal I/2026, GOTO melaporkan pendapatan bersih Fintech tumbuh 58% menjadi Rp1,9 triliun. Kenaikan ini didorong oleh akuisisi pengguna yang solid, pertumbuhan yang kuat di segmen bisnis pembayaran, dan nilai buku pinjaman yang tumbuh berkelanjutan.
Di sisi lain, aplikasi GoPay terus mendorong pertumbuhan nilai buku pinjaman yang mencapai Rp9,9 triliun, meningkat 59% dari tahun sebelumnya.
Di tengah pertumbuhan kredit yang signifikan, GOTO mampu mempertahankan kualitas kredit tetap konsisten, menunjukkan tata kelola risiko berbasis data mampu mendukung pertumbuhan sambil memastikan risiko kredit tetap terjaga.
Menurutnya, Fintech menjadi growth and profitability engine untuk GOTO. Marjin bisnis Fintech yang terus membaik akan membuat sumber pendapatan maupun laba GOTO akan makin berimbang.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
GOTO siapkan strategi hadapi kebijakan komisi ojol 8% di 2026, fokus optimalkan ekosistem bisnis dan inovasi kendaraan listrik untuk jaga kinerja dan kesejahteraan mitra. [1,101] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja perusahaan tetap optimal pada kuartal III/2026, seiring dengan kebijakan baru yang akan diterapkan pemerintah terkait batas maksimal biaya aplikator driver ojek online yang sekitar 8%.
Direktur Utama GoTo Hans Patuwo mengakui kebijakan tersebut berpotensi menurunkan pendapatan Gojek secara keseluruhan. Pendapatan Gojek diketahui masih menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan Grup GoTo.
Pada kuartal I/2026, segmen On-Demand Services (ODS) menyumbang sekitar 63,4% dari total pendapatan Grup. Pendapatan bersih ODS tercatat sebesar Rp3,36 triliun atau tumbuh 12% secara tahunan (year-on-year/YoY), sementara total pendapatan GoTo mencapai Rp5,3 triliun.
Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan bisnis delivery yang naik 13% YoY menjadi Rp2,545 triliun. Sementara itu, bisnis mobility tumbuh 8% YoY menjadi Rp815 miliar.
Hans mengatakan untuk kuartal II/2026, yang tersisa 1 bulan lagi, dipastikan kinerja GOTO tidak terdampak oleh kebijakan komisi yang nantinya tertuang dalam perpres Ojek Online. Meski demikian, perusahaan telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis Group pada kuartal selanjutnya.
“Perubahan ini akan memiliki dampak penurunan pendapatan Gojek di bisnis GoRide. Kami akan mengoptimalkan lini-lini bisnis kami yang lain untuk men-support perubahan ini,” kata Hans dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Hans menjelaskan GoTo memiliki ekosistem bisnis yang saling menopang, mulai dari layanan pengantaran, logistik, finansial, hingga layanan digital lainnya. Menurutnya, optimalisasi lintas lini bisnis menjadi strategi perusahaan untuk menjaga stabilitas di tengah penyesuaian komisi aplikator.
Dia menilai kekuatan ekosistem tersebut menjadi fondasi penting bagi Gojek dan GoTo untuk tetap bertumbuh sekaligus mempertahankan kualitas layanan.
“Kalau kami melihat Gojek dan GoTo itu adalah ekosistem yang cukup kuat dan ada cukup banyak lini bisnis yang kalau kami saling menopang, kalau kami sinergi, sebenarnya mungkin kami juga bisa menjalankan dan bisa mengatasi masalah atau penyesuaian ini,” kata Hans.
Meski demikian, GoTo masih menunggu finalisasi detail aturan dalam Perpres Nomor 27 Tahun 2026 yang menjadi dasar penurunan komisi aplikator menjadi 8%.
Hans menilai kebijakan yang baik bagi mitra pengemudi juga akan berdampak positif bagi ekosistem dan perusahaan secara keseluruhan. Dia menyebut momentum ini dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan inisiatif baru demi meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi tanpa mengabaikan kebutuhan pelanggan.
Driver Gojek menunggu penumpang
Dampak ke Konsumen
Terkait dampak kepada konsumen, Hans memastikan perusahaan akan berupaya agar tarif layanan GoRide reguler tidak mengalami kenaikan.
“Jadi kami benar-benar berusaha dan mengatur supaya semua pelanggan yang tiap hari benar-benar menggunakan layanan GoRide reguler, mereka secara ekonomi tidak ada dampak yang negatif ya dan bahwa harga mereka itu akan tetap sama,” kata Hans.
Dia juga mengungkapkan jumlah pengguna GoRide reguler saat ini masih lebih besar dibandingkan layanan GoRide Hemat. Karena itu, perusahaan berharap kebijakan tersebut dapat tetap menjaga stabilitas layanan bagi pelanggan.
Adapun Gojek akan menghentikan program langganan GoRide Hemat untuk mitra pengemudi. Sementara terkait taksi online, Hans menyebut pembahasan saat ini masih difokuskan untuk pengemudi ojek online roda dua.
“Akan tetapi kalau ada informasi apa pun atau nanti ada peraturan yang berbeda, maka pasti akan kami menyesuaikan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama GoTo Catherine Hindra Sutjahyo mengatakan perusahaan akan terus menghadirkan inovasi, salah satunya melalui program kendaraan listrik.
Menurut Catherine, program tersebut sedang disiapkan bersama pemerintah sebagai bagian dari upaya mendukung pengurangan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi biaya operasional mitra pengemudi.
“Karena apa? OPEX-nya mereka, pengeluaran mereka bulanan tuh juga bisa lebih dihemat begitu,” katanya.
Dia menambahkan respons pelanggan terhadap kendaraan listrik juga cukup positif karena dinilai lebih nyaman dan minim suara.
“Jadi ini kita rasa suatu project, suatu program yang cukup strategis untuk kami, cukup bagus dan kita percaya akan memberikan keuntungan yang lebih juga untuk ekosistem,” katanya.
Catherine mengatakan detail implementasi program tersebut masih menunggu finalisasi Perpres. Perusahaan juga terus berdialog dengan pemerintah agar implementasi kebijakan dan program baru dapat berjalan bersamaan.
“Jadi mudah-mudahan secepatnya ini bisa dilaksanakan. Tapi dari kita akan terus berdialog, berdiskusi. Nanti kami update,” katanya.
Selain itu, Gojek memastikan berbagai program kesejahteraan mitra tetap dilanjutkan, seperti Bonus Hari Raya (BHR), BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, beasiswa bagi mitra dan anak mitra pengemudi, umrah gratis, Bursa Kerja Mitra Gojek, hingga program cek kesehatan gratis bersama Kementerian Kesehatan.
Pengemudi memperlihatkan logo GOTO di smartphone
Ekosistem Seimbang
Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) Tesar Sandikapura menilai implementasi Perpres Nomor 27 Tahun 2026 perlu diarahkan untuk menciptakan ekosistem yang lebih seimbang dan berkelanjutan, bukan sekadar fokus pada besaran potongan aplikasi.
Menurut Tesar, ada sejumlah langkah yang dapat dipertimbangkan. Pertama, implementasi penyesuaian komisi dilakukan secara bertahap agar platform memiliki waktu menyesuaikan model bisnis tanpa langsung mengurangi insentif pengemudi maupun promo pengguna.
Kedua, diperlukan transparansi terkait pembagian biaya layanan, komisi, dan insentif agar pengemudi memahami sumber pendapatan dan potongan yang berlaku.
Ketiga, pemerintah dan platform dinilai perlu membangun skema pembiayaan bersama untuk perlindungan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan, asuransi kecelakaan, dan dana darurat pengemudi.
Keempat, platform perlu tetap diberi ruang meningkatkan efisiensi teknologi, termasuk optimalisasi rute, AI matching, dan integrasi layanan.
“Agar pendapatan driver tetap meningkat tanpa harus membebani konsumen melalui kenaikan tarif,” kata Tesar kepada Bisnis, Selasa (19/5/2026).
Kelima, regulasi dinilai tetap harus mendukung inovasi dan investasi di sektor ekonomi digital nasional.
“Jika industri tetap sehat, maka manfaat jangka panjang bagi driver dan masyarakat juga akan lebih besar,” katanya.
Keenam, diperlukan forum evaluasi berkala yang melibatkan pemerintah, asosiasi pengemudi, akademisi, dan industri untuk mengevaluasi dampak kebijakan secara berbasis data.
Menurut Tesar, solusi terbaik adalah menciptakan titik keseimbangan agar pengemudi terlindungi, masyarakat tetap memperoleh layanan terjangkau, dan platform digital nasional tetap dapat tumbuh berkelanjutan.
Di sisi lain, Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mendukung apabila beleid terkait ojek online juga mengatur perlindungan sosial bagi pengemudi.
Menurut Huda, ekosistem transportasi daring seharusnya ikut berkontribusi dalam program jaminan sosial pemerintah, mulai dari jaminan kesehatan, kecelakaan kerja, hingga tabungan pensiun.
“Jaminan sosial tersebut yang dapat membuat kesejahteraan driver menjadi lebih baik, di masa sekarang maupun di masa tua kelak,” kata Huda.
Terkait penurunan komisi aplikator, Huda menilai perusahaan swasta pada akhirnya tetap akan menyesuaikan model bisnisnya. Dia memperkirakan kemampuan platform dalam memberikan promosi dan diskon akan berkurang apabila potongan aplikator dipatok lebih rendah.
Di sisi lain, pengemudi masih menghadapi biaya tetap yang belum berubah sejak 2022.
“Penurunan potongan aplikator hanya akan menurunkan pendapatan aplikator tanpa menaikkan pendapatan driver,” kata Huda.
Dia juga memperkirakan akan ada perubahan signifikan dalam model bisnis platform ride-hailing ke depan. Huda mencontohkan munculnya platform dari India yang menawarkan skema tanpa komisi, tetapi menerapkan biaya tetap kepada pengemudi. Model serupa, menurutnya, juga telah diterapkan oleh aplikasi TADA di Singapura.
“Di Singapura juga ada aplikasi TADA yang menawarkan skema bisnis yang serupa. Saya rasa akan ada perubahan menuju ke arah sana,” katanya.
GOTO telah menghabiskan dana IPO Rp13,57 triliun untuk modal kerja dan investasi, dengan fokus pada efisiensi operasional dan peningkatan profitabilitas. [331] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) menghabiskan dana penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) sebesar Rp13,57 triliun.
Direktur Keuangan GOTO Simon Tak Leung Ho menjelaskan GOTO mendapatkan hasil penawaran umum senilai Rp13,72 triliun pada IPO pada 2022 lalu. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp4,07 triliun telah direalisasikan untuk modal kerja GOTO.
Lalu, sebesar Rp4,07 triliun untuk penyertaan pada PT Tokopedia. GOTO juga menggunakan sebanyak Rp3,39 triliun dana IPO untuk penyertaan pada PT Dompet Anak Bangsa atau Gopay.
Kemudian, sebesar Rp678,7 miliar untuk penyertaan pada PT Multifinance Anak Bangsa, lalu sebesar Rp274,8 miliar untuk penyertaan pada Velox Digital Singapore Pte. Ltd., dan Rp273,96 miliar untuk penyertaan pada GO Viet Technology Trading Joint Stock.
Kemudian untuk modal kerja Velox Digital Singapore Pte. Ltd. (VDS) mencapai Rp274,86 miliar. Lalu untuk Go Viet Technology Trading Joint Stock Company (GVT) sebesar Rp273,96 miliar.
GOTO juga telah menghabiskan dana IPO sebesar Rp508,6 miliar untuk modal kerja PT Dompet Anak Bangsa. Dengan demikian, jumlah dana IPO GOTO yang telah terpakai adalah sebesar Rp13,57 triliun, atau telah sepenuhnya terpakai.
Terkait dengan prospek saham GOTO, Tim Riset Korean Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) menilai kunci perbaikan kinerja GOTO ke depan terletak pada efisiensi operasional, peningkatan take rate, serta pengurangan insentif.
Apabila manajemen baru konsisten menjalankan arah tersebut, kerugian perseroan dinilai berpeluang menyempit dan jalur menuju profitabilitas menjadi lebih jelas.
Meski demikian, KISI mengingatkan bahwa risiko terhadap kinerja GOTO masih tetap ada, terutama dari ketatnya persaingan di industri serta tekanan kondisi makroekonomi. Dari sisi pasar modal, dalam jangka pendek pergerakan saham GOTO diperkirakan masih akan volatil dan dipengaruhi sentimen.
“Bisa ada reli karena optimisme manajemen baru, tetapi untuk naik terus perlu bukti kinerja,” dikutip dari KISI.
Bisnis.com, JAKARTA — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) mengumumkan akan merombak manajemen, dengan mengangkat Hans Patuwo sebagai Direktur Utama. Sosok yang mengembangkan Goto Financial itu akan menggantikan Patrick Walujo. Valuasi dari GOTO secara jangka panjang diperkirakan akan meningkat dengan perubahan manajemen ini.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan dengan posisi GOTO sebagai leading ecosystem digital, valuasi perusahaan secara jangka panjang masih tetap menarik. Dia menjelaskan GOTO saat ini telah masuk ke dalam ekosistem masyarakat, sehingga tingkat ketergantungan masyarakat terhadap ekosistem ini sangat besar.
“Meskipun valuasinya mengalami penurunan, secara jangka panjang kinerja GOTO akan pulih apabila GOTO mampu me-manage kinerja perusahaannya dengan baik,” ujar Nico, Senin (24/11/2025).
Nico juga menuturkan perubahan dibutuhkan untuk memberikan warna baru, harapan baru, dan strategi baru dalam sebuah perusahaan.
“Bagus tidaknya sosok yang menggantikan juga akan berperan penting nantinya. Oleh sebab itu, penggantinya akan menjadi sorotan bagi pelaku pasar dan investor saat ini, konsep seperti apa yang akan dibawa nantinya ke GOTO,” ucapnya.
Sebelumnya, GOTO mengumumkan rencana perubahan kepemimpinan, dengan Hans Patuwo yang dinominasikan menjadi CEO, dan Patrick Walujo mengundurkan diri dari jabatannya setelah menjabat sebagai CEO sejak Juni 2023.
Patrick menuturkan Hans memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai operasional GOTO, mulai dari pengalaman di lapangan, hingga keputusan strategi korporasi.
“Kapabilitas kepemimpinan yang telah teruji serta integritas yang dimilikinya menjadikan Hans sosok yang tepat untuk memimpin GOTO memasuki babak baru perjalanannya,” ujar Patrick dalam keterangan resminya, Senin (24/11/2025).
Adapun Hans saat ini merupakan Chief Operating Officer dan Presiden On-Demand Services (ODS) GOTO. Sebelum bergabung dengan Gojek, Hans memiliki pengalaman bekerja di Amerika Serikat, China, dan Singapura pada berbagai perusahaan multinasional, termasuk menjabat sebagai Partner di firma konsultan manajemen McKinsey.
Pada penutupan perdagangan hari ini, saham GOTO ditutup menguat 1,56% ke level Rp65 per saham. Saham GOTO diperdagangkan pada rentang Rp64-Rp68 per saham. Sementara itu, secara year to date, saham GOTO tercatat melemah 7,14%, sementara selama tiga bulan terakhir, saham GOTO telah turun 6,56%.
--
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Saham GOTO menghadapi tantangan kebijakan bagi hasil baru meski kinerja kuartal I/2026 positif. Kebijakan ini dapat menekan margin ODS dan mempengaruhi target laba. [59] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) tengah berada di persimpangan krusial. Di satu sisi, kinerja keuangan kuartal I/2026 menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat menuju profitabilitas.
Namun pada sisi lain, rencana kebijakan baru terkait dengan skema bagi hasil ride hailing berpotensi menjadi batu sandungan bagi segmen andalan perseroan, yakni On Demand Services (ODS).
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56