Bisnis.com, PADANG - Angin laut berhembus pelan di pesisir Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Di atas hamparan air biru yang jernih, beberapa nelayan sibuk memeriksa keramba kecil tempat ratusan lobster tumbuh dan berkembang.
Sejak hampir setahun terakhir, kawasan ini menjadi saksi awal dari mimpi besar Sumbar untuk membudidayakan lobster laut sebuah langkah berani di tengah fluktuasi hasil tangkapan yang selama ini menggantung pada kemurahan cuaca.
Bagi masyarakat pesisir, lobster bukan sekadar komoditas mahal, tapi merupakan simbol harapan baru bagi kehidupan yang lebih sejahtera.
“Dulu nelayan di sana hanya berharap dari tangkapan di laut. Kalau cuaca buruk, hasilnya juga buruk. Sekarang, semenjak adanya bantuan yang kami berikan, dan nelayan pun terlihat sangat serius dan antusias untuk budidaya lobster ini, alhamdulillah ada hasil positif yang terlihat,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Reti Wafda kepada Bisnis di Padang, Senin (27/10/2025)
Program budidaya lobster laut ini dimulai pada November 2024 lalu. DKP Sumbar menyalurkan 200 benih lobster kepada dua kelompok nelayan, lengkap dengan bantuan keramba dan kerangkeng.
Satu tahun berlalu, hasilnya mulai tampak menggembirakan. Berat lobster telah menembus 400 gram per ekor tanda panen pertama tinggal menunggu waktu.
Menurutnya alasan Sungai Bungin dipilih, karena memiliki karakteristik perairan yang sesuai, yakni ada terumbu karang, pasir putih, dan kondisi air yang stabil.
“Habitat alami lobster laut memang di perairan yang memiliki terumbu karang, dari pantai dangkal hingga kedalaman 100 meter. Kondisi di Sungai Bungin mendukung proses budidaya yang alami,” ujarnya.
Pakan yang digunakan pun bukan pelet buatan, melainkan daging kerang yang dipotong kecil-kecil agar para baby lobster bisa dengan mudah mengonsumsi pakan tersebut, dan kondisi ini juga ingin menciptakan kondisi seakan lobster ini hidup di alam bebas.
Reti bilang untuk keberanian memulai budidaya lobster tidak datang tanpa tantangan. Dari sisi teknis, perawatan lobster laut menuntut kesabaran dan ketelitian tinggi. Tapi yang lebih kompleks justru datang dari selera pasar.
Pasar yang Selektif
Missho, seorang pengepul lobster di Padang yang telah mengekspor hasil laut ke Hong Kong, menilai inisiatif pemerintah daerah patut diapresiasi. Menurutnya, Sumbar memiliki potensi perairan yang luas untuk menopang produksi lobster laut. Hanya saja, ia mengingatkan bahwa pasar global memiliki standar yang sangat ketat.
“Permintaan dari luar negeri masih didominasi lobster hasil tangkapan laut, bukan dari budidaya,” kata Missho. Masalahnya, lobster hasil budidaya ini lebih rentan mati, sehingga sulit dikirim dalam keadaan hidup. Kalau mati di perjalanan, harganya jatuh jauh.
Dia juga menjelaskan perbedaan yang sering menjadi pertimbangan buyer internasional warna cangkang.
“Cangkang lobster budidaya biasanya lebih pucat dibandingkan lobster tangkapan laut. Buyer bisa tahu dari warna saja,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pembudidaya lobster di Sumbar. Jika ingin menembus pasar ekspor, mereka perlu memastikan lobster hasil budidaya memiliki daya tahan dan kualitas yang setara dengan hasil tangkapan liar.
Missho bahkan menawarkan diri membantu pemerintah daerah belajar ke Vietnam, negara yang sukses mengembangkan budidaya lobster laut hingga diterima pasar global.
“Silakan Pemprov Sumbar bersurat ke Vietnam. Saya siap bantu fasilitasi kunjungan belajar ke sana, biayanya saya tanggung. Asal ada izin resmi, supaya langkahnya jelas,” ucapnya.
Belajar dari Vietnam hingga antusiasme yang tinggi...
Vietnam selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang paling berhasil mengembangkan budidaya lobster laut. Dengan teknologi dan manajemen rantai pasok yang terintegrasi, lobster budidaya dari negara itu mampu bersaing di pasar internasional baik dari sisi kualitas maupun ketahanan hidup, dan itulah model yang ingin dicontoh oleh Sumbar.
Reti menyampaikan DKP juga membuka peluang kolaborasi untuk memperkuat kapasitas pembudidaya lokal.
“Kami sadar, ini langkah awal. Karena itu, kami terbuka untuk masukan dari para pelaku usaha dan ahli yang sudah berpengalaman,” katanya.
Pada tahap awal, fokus pemerintah daerah adalah menguatkan pasar domestik. Restoran dan hotel di kota-kota besar seperti Padang, Bukittinggi, dan Jakarta bisa menjadi sasaran utama.
“Pasar dalam negeri juga sangat potensial. Tapi tetap harus dijaga agar lobster dikirim dalam kondisi hidup dan segar,” tambahnya.
Untuk menekan risiko kematian lobster dalam pengiriman, beberapa nelayan di Sungai Bungin mulai berinovasi. Mereka memanfaatkan air laut yang diolah dengan sistem aerasi sederhana, menjaga oksigen tetap stabil selama transportasi. Meskipun masih eksperimental, cara ini terbukti bisa memperpanjang daya tahan lobster hingga dua hari lebih lama.
Antusiasme yang Menular
Meski masih dalam tahap awal, semangat nelayan di Sungai Bungin menular ke daerah lain. Beberapa kelompok nelayan dari Pesisir Selatan dan Padang Pariaman sudah menyatakan minat bergabung. DKP Sumbar pun merespons cepat. Dalam anggaran perubahan 2025, pemerintah berencana menambah bantuan benih sebanyak 8.000 ekor lobster serta membangun 150 kerangkeng baru.
Reti optimistis program ini bisa menjadi penggerak ekonomi baru di pesisir Sumbar. “Lobster laut punya nilai jual tinggi. Kalau budidaya ini berhasil, dampaknya bisa besar sekali untuk masyarakat. Kami ingin nelayan tak hanya bergantung pada cuaca,” tegasnya.
Harapan itu bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan global terhadap lobster terus meningkat, terutama dari Tiongkok dan negara-negara Asia Timur.
Harga di pasar internasional terbilang mahal, dan tergantung jenis serta ukuran. Bila Sumbar mampu menghasilkan lobster budidaya berkualitas, peluang ekspor sangat terbuka lebar.
Di satu sisi, optimisme menyala di antara nelayan Sungai Bungin yang mulai melihat hasil kerja kerasnya. Namun disisi lain, ada kesadaran bahwa perjalanan menuju pasar global masih panjang. Dari kualitas pakan, desain keramba, hingga distribusi logistik semuanya membutuhkan perbaikan berkelanjutan.
Bagi nelayan setempat, keberhasilan tidak diukur dari cepatnya ekspor, melainkan dari keberlanjutan. Tapi yang mereka inginkan bisa hidup layak dari laut, tanpa harus bergantung pada nasib.
Kini adanya perhatian DKP Sumbar terhadap budidaya lobster laut memberi harapan baru bagi ekonomi pesisir. Program ini diharapkan terus berlanjut, karena bisa jadi sumber penghasilan tetap bagi nelayan, bukan hanya saat musim tangkap.