Aliyah Rizq Holdings Pte Ltd terus memperkuat perannya dalam mendorong pengembangan industri kurban dan peternakan modern melalui Asia Mega Qurban 2026 yang digerakkan... | Halaman Lengkap [363] url asal
JAKARTA - Aliyah Rizq Holdings Pte Ltd terus memperkuat perannya dalam mendorong pengembangan industri kurban dan peternakan modern melalui Asia Mega Qurban 2026 yang digerakkan anak perusahaannya di Desaru, Aliyah Rizq Farm Sdn Bhd. Inisiatif lintas negara ini mengintegrasikan nilai ibadah, pemberdayaan masyarakat, serta kolaborasi industri regional pada perayaan Hari Raya Iduladha tahun ini.
Program ini akan menjangkau sejumlah negara ASEAN, termasuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dengan fokus utama pada pengembangan sistem operasional yang modern, terstruktur, dan berkelanjutan. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, program Live Ibadah Qurban diselenggarakan pada 27 Mei 2026 di Masjid Al-Syifa, Bandar Penawar, Johor, yang akan menampilkan koordinasi operasional secara langsung bersama berbagai pemangku kepentingan strategis.
Chief Executive Officer Aliyah Rizq Holdings Pte Ltd, Dato’ Seri Ashraf Bakar, menegaskan pelaksanaan program tahun ini tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian angka, melainkan berfokus pada pembangunan ekosistem qurban dan peternakan yang mandiri serta berkelanjutan di kawasan ASEAN.
“Diskusi awal dengan sejumlah pemilik peternakan di Malaysia menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Mereka melihat potensi besar dalam membangun rantai pasok yang lebih terstruktur bersama Aliyah Rizq, khususnya untuk mendukung pelaksanaan qurban berskala besar pada tahun mendatang,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).
Dato’ Seri Ashraf Bakar menambahkan sinergi tersebut tidak hanya akan meningkatkan kapasitas peternakan lokal, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi para peternak untuk menjadi bagian dari ekosistem regional yang semakin kompetitif.
Pada saat yang sama, Aliyah Rizq menerima pengakuan resmi dari ASEAN Records dan ASIA Records atas keberhasilannya menyelenggarakan pelaksanaan qurban lintas negara secara serentak dalam rentang waktu 24 jam dengan total kurban sebanyak 5.623 yang telah di pesan, proses dan tawarkan di 11 negara.
“Kedua penghargaan ini, diserahkan pada 27 Mei 2026, menjadi simbol transformasi sektor agro modern melalui pendekatan yang profesional, terintegrasi, dan terkoordinasi secara menyeluruh,” katanya.
Untuk memastikan pelaksanaan program berjalan lancar, Aliyah Rizq bekerja sama erat dengan berbagai instansi pemerintah di Johor, lembaga keagamaan, aparat penegak hukum, serta otoritas setempat yang mendukung aspek logistik, operasional, dan kesejahteraan hewan. Kegiatan ini juga akan dihadiri oleh perwakilan industri, mitra strategis, insan media, serta tamu kehormatan dari dalam dan luar negeri.
Grup Djarum bangun peternakan sapi perah terintegrasi untuk tekan impor susu, tingkatkan produksi lokal, dan terapkan sistem zero waste demi keberlanjutan. [490] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Grup Djarum menyiapkan strategi terintegrasi untuk memperkuat produksi susu nasional sekaligus menekan dominasi produk impor.
CEO Savoria Group Ihsan Mulia Putri mengatakan dua entitas usaha Grup Djarum, yakni PT Global Dairi Alami dan PT Global Dairi Bersama, menargetkan populasi mencapai 36.000 ekor sapi perah dalam beberapa tahun ke depan.
“Jika sudah beroperasi penuh, akan dapat memberikan kontribusi sebesar sekitar 18% terhadap target susu segar nasional,” kata Ihsan kepada Bisnis, Selasa (12/5/2026).
Adapun untuk meningkatkan daya saing dengan produk impor, Grup Djarum menerapkan model bisnis integrated farm-to-glass. Menurut Ihsan, strategi tersebut dilakukan agar seluruh rantai pasok dapat terkontrol secara optimal, mulai dari peternakan hingga produk sampai ke tangan konsumen.
Dia menjelaskan kesejahteraan hewan atau animal welfare menjadi salah satu prioritas utama perusahaan. Dalam hal ini, ujar dia, setiap sapi dipastikan memperoleh nutrisi optimal guna menjaga kesehatan dan produktivitas ternak.
Selain itu, Grup Djarum juga membangun pabrik pakan sapi untuk menjamin ketersediaan pakan berkualitas yang dapat mendukung produktivitas dan kesejahteraan sapi perah.Di sisi hilir, perusahaan menyiapkan pabrik pengolahan susu dengan teknologi tinggi untuk menjaga kesegaran serta kandungan nutrisi produk susu.
Ihsan menambahkan perusahaan juga menjalankan program keberlanjutan berbasis zero waste system melalui pengolahan limbah terpadu. Dalam konsep tersebut, kotoran sapi diolah menjadi biogas, sementara sisa biogas dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
“Limbah cair didaur ulang di instalasi pengolahan air, serta pemanfaatan panel surya untuk kebutuhan listrik pabrik,” imbuhnya.
Menurutnya, jaringan distribusi yang kuat juga menjadi bagian penting dalam strategi bisnis susu Grup Djarum. Dengan demikian, kualitas dan kesegaran susu tetap terjaga karena produk dapat langsung dikirim dari peternakan ke konsumen.
Di tengah ekspansi tersebut, Ihsan mengakui industri peternakan sapi perah modern di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah tingginya biaya operasional akibat harga pakan yang tidak stabil dan kualitas pakan domestik yang belum konsisten dibandingkan dengan pakan impor.
Selain itu, ancaman penyakit hewan seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) danLumpy Skin Disease(LSD) juga berdampak langsung terhadap penurunan produktivitas, bahkan menyebabkan kematian ternak.
“Terbatasnya benih unggul di dalam negeri baik itu sapi perah maupun pakan ternak [jagung khusus silase],” ujarnya.
Dia menambahkan implementasi teknologi di sektor peternakan turut menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan produktivitas dan menghasilkan susu berkualitas internasional atau berstandar ekspor.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Suganda mengatakan investasi pengembangan sapi perah oleh Grup Djarum melalui PT Global Dairi Bersama merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk mendorong swasembada pangan, khususnya komoditas susu.
Menurut Agung, investasi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta mendorong kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Brebes dan Provinsi Jawa Tengah.
“Dengan adanya investasi pengembangan sapi perah oleh PT Global Dairi Bersama diharapkan membawa dampak positif antara lain mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas SDM, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara sosial di wilayah Kabupaten Brebes dan Provinsi Jawa Tengah,” ujar Agung dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (Japfa) bersama Universitas Hasanuddin (Unhas) meresmikan kandang closed house teaching farm di Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (16/12/2025). Fasilitas ini disiapkan sebagai ruang pembelajaran dan riset peternakan modern berbasis praktik.
Teaching farm tersebut dibangun melalui kolaborasi strategis Japfa dan Unhasdengan total investasi sekitar Rp3 miliar. Fasilitas berdiri di atas lahan 1.500 meter persegi dengan kapasitas lebih dari 20 ribu ekor ayam.
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada pertengahan 2024. Kolaborasi diharapkan dapat memperkuat sinergi industri dan akademik dalam pengembangan ekosistem peternakan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Direktur Japfa Rachmat Indrajaya menyebut, teaching farm sebagai bagian dari pengembangan teknologi peternakan berbasis riset dan pendidikan.
“Teaching farm ini menjadi bagian dari upaya kami dalam mengembangkan teknologi peternakan modern berbasis riset dan pendidikan. Kami berharap fasilitas ini dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, khususnya para mahasiswa Unhas, sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang berdaya saing global,” kata Rachmat dalam siaran pers, Rabu (17/12/2025).
Fasilitas tersebut didirikan untuk mendukung pembelajaran praktis mahasiswa, mulai dari pemeliharaan ternak, penerapan biosekuriti, kesehatan hewan, hingga manajemen bisnis peternakan. Sistem closed house memungkinkan pengendalian lingkungan melalui ventilasi otomatis dan pengaturan suhu.
Penerapan sistem tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pakan, menekan tingkat kematian ternak, serta mengurangi limbah produksi. Pendekatan ini juga memperkenalkan praktik peternakan modern yang lebih terukur.
Rektor Unhas Jamaluddin Jompa menilai kolaborasi ini memperkuat peran perguruan tinggi dan sektor swasta dalam menyiapkan sumber daya manusia.
“Tidak hanya mendukung Tridharma Perguruan Tinggi, tetapi juga wujud komitmen bersama dalam mencetak lulusan yang siap menghadapi tantangan industri peternakan masa depan, sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Dekan Fakultas Peternakan Unhas Syahdar Baba menyebut fasilitas ini memperkaya pembelajaran berbasis praktik dan riset terapan.
“Fasilitas ini akan menjadi sarana penelitian dan pembelajaran langsung, memperkaya kurikulum berbasis praktik dan riset terapan.”
Mahasiswa, menurut Syahdar, akan memperoleh pengalaman mengoperasikan teknologi closed house secara langsung.
“Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman langsung dalam mengoperasikan teknologi closed house terkini, sehingga mampu memahami konsep peternakan berkelanjutan secara komprehensif dan aplikatif.”
Kolaborasi Japfa dan Unhas diharapkan berkontribusi pada penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor peternakan. Program ini diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan dan pengembangan peternakan nasional berbasis teknologi dan riset.
Cowin, startup dari Riau, menghubungkan investor dan peternak sapi melalui platform digital. Mengubah ekonomi desa dengan inovasi dan kolaborasi. [785] url asal
Bisnis.com, PEKANBARU-- Di sebuah pagi yang sejuk di Desa Laboi Jaya, Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar, sekelompok anak muda berlari santai menyusuri jalan desa.
Khairul Anwar Ade Saputra, salah satu yang ada di kelompok tersebut, masih belum menyadari bahwa rutinitas lari paginya akan menjadi titik awal kehadiran salah satu inovasi peternakan digital paling progresif di Indonesia.
“Saat itu, kami berhenti di depan kandang besar milik teman. Kandangnya megah, tapi hanya ada tiga ekor sapi di dalamnya. Dari situ kami mulai bertanya, kenapa ya bisa begitu?” kenang Khairul, Senin (20/10/2025).
Pertanyaan sederhana itu memantik percikan ide besar dalam dirinya. Dia melihat kenyataan pahit bahwa di banyak desa, termasuk di desanya sendiri, usaha peternakan sapi kerap stagnan. Bukan karena kurang minat, tetapi karena keterbatasan modal.
Sapi bagi masyarakat desanya kala itu bukanlah komoditas bisnis, melainkan tabungan hidup yang akan dijual hanya saat anak masuk sekolah, menikah, atau ketika kebutuhan mendesak datang.
Dari keprihatinan itu, Khairul yang memiliki latar belakang pendidikan teknologi informasi mulai merancang sesuatu yang bisa menjadi jembatan antara peternak dan pemodal.
Inspirasi akhirnya datang dari geliat perusahaan rintisan atau startup digital yang menjamur di Indonesia sejak 2017. Kala itu ada aplikasi ojek online, belanja daring, hingga layanan pemesanan tiket digital. Khairul lalu berpikir: “Kalau transportasi dan belanja saja bisa jadi digital, kenapa peternakan tidak bisa?”
Tepat pada 17 Oktober 2017, lahirlah Cowin, platform investasi ternak sapi berbasis teknologi yang menghubungkan investor dengan peternak lokal.
Modelnya memang sederhana, namun revolusioner. Prinsip kerja Cowin adalah ekor sapi bisa dimiliki bersama oleh enam investor. Sapi itu kemudian digemukkan mitra peternak selama lima bulan sebelum dijual. Keuntungannya dibagi adil yaitu 40% untuk investor, 40% untuk peternak, dan 20% untuk Cowin sebagai pengelola.
Tak hanya itu, Cowin juga melengkapi setiap ternak dengan jaminan asuransi sehingga risiko kematian atau kehilangan sapi bisa diminimalisir. Ini menjadi sebuah langkah maju yang jarang ditemui di bisnis peternakan tradisional di daerah tersebut.
Namun, Khairul mengakui perjalanan Cowin diakuinya memang tidak selalu mulus. Edukasi investasi di awal menjadi tantangan besar.
“Banyak masyarakat trauma dengan investasi bodong. Mereka butuh bukti, bukan janji,” kata Khairul.
Ironisnya, pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan banyak sektor, justru menjadi titik balik bagi Cowin. Ketika masyarakat mulai sadar pentingnya diversifikasi aset dan peluang digital, platform ini tumbuh pesat.
Setelah delapan tahun berjalan Cowin telah bertransformasi menjadi jaringan ekosistem peternakan digital yang tersebar di berbagai daerah di Tanah Air. Sudah ada 18 peternakan mitra di seluruh Indonesia dengan 12 di antaranya berada di Riau.
Mitra lain tersebar di Sijunjung Sumatera Barat, dua lokasi di Lampung, dan bahkan merambah ke Cianjur, Jawa Barat untuk program sapi perah yang terintegrasi dengan rantai pasok susu Cimory dan Taman Safari.
Standar kemitraan yang ditetapkan Cowin juga ketat, diantaranya satu lokasi minimal memiliki 50 ekor sapi, memiliki dokter hewan yang siaga, dan memenuhi kriteria kelayakan kandang.
Dari sisi investor, 430 orang pemodal telah terdaftar di platform ini, dengan sekitar 80-100 investor aktif di setiap periode. Dalam satu siklus investasi selama lima bulan, rata-rata 200–250 ekor sapi dikelola secara kolektif.
Khairul menjelaskan, hasil ternak Cowin sudah dipasarkan ke rumah potong hewan swasta, katering besar, dan perusahaan jasa boga yang ada di Riau. Menurutnya di momentum IdulAdha selalu menjadi puncak penjualan.
“Tahun lalu, kami berhasil menjual 90% dari target 425 ekor. Tahun ini angkanya naik signifikan menjadi sekitar 645 ekor,” ujarnya.
Khairul menyebutkan sapi-sapi Cowin didatangkan dari Kupang, Sumbawa, hingga Bali menyesuaikan dengan kebutuhan pasar lokal dan nasional.
Usaha itu terus berkembang dan sudah tidak hanya bicara soal penggemukan, Cowin kini menyiapkan ekspansi distribusi ternak sapi lintas provinsi dari wilayah timur ke barat Indonesia, dengan fokus pada Jambi, Palembang, dan Jabodetabek.
Langkah ini diakui dirinya bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan upaya nyata menjaga stabilitas pasokan daging di Indonesia dan memastikan rantai pasok pangan tetap tangguh.
Inovasi Cowin ini telah mendapat banyak pengakuan dan penghargaan. Salah satunya datang dari Astra International melalui Satu Indonesia Awards 2020. Khairul dinilai berkontribusi dalam memperkenalkan model investasi digital di sektor peternakan.
Namun, dia menilai penghargaan bukanlah tujuan akhir dari perjalanan bisnisnya.
“Cowin bukan hanya bisnis. Ini adalah gerakan sosial yang menjembatani pemodal di kota dengan peternak di desa. Kami ingin keduanya tumbuh bersama,” tuturnya.
Bagi generasi muda, terutama Gen Z yang hidup di era digital, kisah Cowin adalah pengingat bahwa inovasi tak harus lahir di pusat kota atau dari ruang kerja bergaya startup penuh layar. Inovasi itu ternyata bisa lahir dari desa, dari rasa ingin tahu, dan dari empati terhadap persoalan nyata di sekitar.
Dari sebuah kandang kecil di Kampar, kini Cowin telah berdiri sebagai simbol bagaimana teknologi, kolaborasi, dan niat baik bisa mengubah wajah ekonomi desa, dimulai dari satu sapi, satu ide, dan satu langkah kecil dalam mewujudkan mimpi besar untuk Satu Indonesia.
1760943407_e9f09bdd-01bd-48bf-a48f-64026a8480b2.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56