Bisnis.com, JAKARTA — Pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap makin marak, tak terkecuali di kalangan emiten-emiten. Langkah ini ditempuh untuk mendukung pasokan listrik dari sumber terbarukan, sekaligus menunjang operasional bisnis.
Aksi pemasangan PLTS atap turut ditempuh emiten Grup Salim PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF). Belum lama ini, INDF resmi mengoperasikan PLTS di pabrik tepung terigu Bogasari Jakarta.
Pabrik Bogasari Jakarta menjadi pabrik kedua yang mengaplikasikan PLTS atap dalam mendukung operasionalisasi Indofood. Pabrik pertama berlokasi di Cibitung, Bekasi yang telah mulai dijalankan pada 2022.
Manajemen menerangkan bahwa upaya ini dilakukan dalam rangka menjalankan konsep industri hijau secara berkelanjutan oleh perusahaan. Selain itu, INDF juga mematok target jangka panjang penurunan emisi dan penghematan biaya listrik divisi Bogasari melalui pemasangan PLTS atap.
Adapun kapasitas terpasang PLTS atap di pabrik Bogasari Jakarta mencapai 1,88 megawatt peak (MWp) dan mampu menghasilkan penghematan energi sebesar 1,92 juta kilowatt-hour (kWh) per tahun. Di pabrik ini, terdapat 3.410 lembar photovoltaic (PV) yang tersebar di beberapa gedung pada area sekitar gudang.
“Bahkan Bogasari Jakarta rencananya akan menambahkan kapasitas dari PLTS kurang lebih sampai dengan total 4 MWp,” kata Vice President Engineering and Technology Bogasari Andry Wiryanto dalam keterangan resmi, Selasa (25/11/2025).
Andry menerangkan bahwa ide pemasangan dan pengelolaan PLTS atap di pabrik Bogasari Jakarta semula digagas pada 2022. Hanya saja, proses perencanaan dan penguatan struktur atap bangunan gedung dilakukan secara bertahap pada 2024. Baru setelahnya pemasangan solar panel dilakukan pada 2025.
Penghematan listrik yang dinikmati pabrik Bogasari Jakarta melalui penggunaan PLTS atap diprediksi dapat mengurangi emisi hingga 1.350 ton setara karbon dioksida (CO2e) per tahun atau setara dengan aksi menanam sebanyak 22.346 pohon setiap tahunnya.
Wakil Kepala Divisi Bogasari Erwin Sudharma menerangkan bahwa selain PLTS, sejumlah komitmen dalam menjaga keberlanjutan lingkungan telah dijalankan oleh Indofood melalui divisi Bogasari, seperti upaya mengurangi sampah kemasan dengan pemakaian berulang.
Selain itu, Bogasari juga memiliki sistem sea water reverse osmosis (SWRO) yang mampu mengelola air laut menjadi air tawar. Sistem ini telah dijalankan Bogasari sejak 2016 dan telah memiliki kapasitas 1.000 meter kubik per hari di Jakarta dan 750 meter kubik per hari di Surabaya.
“Ke depannya terkait energi, Bogasari akan meningkatkan penggunaan energi bersih dengan meningkatkan pembelian REC,” tegas Erwin.
Tak kalah dari INDF dengan pabrik Bogasari Jakarta, PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk. (PRAY) atau Primaya Hospital Group juga kembali mengoperasikan PLTS atap di salah satu rumah sakit kelolaannya di Jabodetabek. Pasokan listrik hijau kini hadir di Primaya Hospital Karawang setelah operasional PLTS atap dimulai di Primaya Hospital Bekasi Timur.
PLTS atap di Primaya Hospital Karawang tercatat memiliki luas 1.123 meter persegi dengan kapasitas 164,7 kilowatt peak (kWp). Fasilitas ini berpotensi menghasilkan energi bersih sekitar 241.330 kWh per tahun, angka ini cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik lebih dari 290 rumah tangga.
Penerapan energi terbarukan ini juga disebut menekan emisi karbon hingga 215,75 ton per tahun. Volume tersebut setara dengan menanam hampir 2.900 pohon dan menghemat lebih dari 129.000 liter bensin setiap tahunnya.
CEO Primaya Hospital Group Leona A. Karnali, mengemukakan bahwa operasional PLTS atap di Primaya Hospital Bekasi Timur selama satu tahun terakhir telah menghemat lebih dari 477.000 kWh energi, dengan nilai efisiensi biaya mencapai Rp68 juta.
“Melihat manfaat tersebut, kami menghadirkan inisiatif serupa di Primaya Hospital Karawang sebagai langkah konkrit menuju layanan kesehatan yang berkelanjutan. Sejalan dengan tema ulang tahun ke-19 kami, 19 Years with You – Caring Beyond Boundaries, kami berkomitmen untuk tidak hanya menjaga kesehatan pasien, tetapi juga kesehatan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab kami terhadap masa depan yang lebih hijau,” kata Leona dalam acara peresmian pada 13 November 2025.
Korporasi Tetap Adopsi Praktik ESG
Aktivitas pemasangan PLTS atap di sejumlah fasilitas bisnis emiten sejalan dengan laporan BloombergNEF teranyar. Analisis mengungkap bahwa korporasi-korporasi menyampaikan lebih banyak komitmen untuk aksi perubahan iklim.
Hal ini memberi sinyal bahwa keberlanjutan masih menjadi strategi bisnis kunci bagi perusahaan, meski gelombang kebijakan anti-ESG mengemuka secara global.
Lebih dari 11.000 perusahaan global tercatat telah menetapkan target atau berkomitmen menetapkan tujuan iklim melalui Science Based Targets initiative (SBTi) hingga akhir semester I/2025. Perusahaan-perusahaan ini juga telah sejalan dengan target global untuk membatasi pemanasan global melampaui 1,5 derajat Celsius.
BloombergNEF mencatat bahwa 85% dari komitmen ini dibuat dalam kurun 2023 sampai Juni 2025. Sebagian besar perusahaan dalam SBTi tercatat telah menetapkan komitmen jangka pendek yang mencakup penurunan emisi operasional langsung (Scope 1) dan tidak langsung (Scope 2).
“Angka ini menjadi indikasi bahwa keberlanjutan tetap masuk dalam agenda perusahaan, meski otoritas Uni Eropa dan Amerika Serikat cenderung menjauh dari regulasi yang terkait dengan kriteria ESG [environmental, social and governance],” tulis BNEF.
BNEF turut mencatat bahwa jumlah komitmen yang dibuat korporasi pada paruh pertama 2025 mendekati rekor yang ditorehkan sepanjang 2023.
Bahkan Amerika Serikat yang mencatatkan penerapan regulasi anti-ESG di berbagai negara bagian turut menorehkan awal yang kuat untuk komitmen iklim perusahaan melalui SBTi.
Lebih dari 210 perusahaan yang berkantor pusat di AS telah berkomitmen atau menetapkan target iklim pada semester I/2025, naik hampir dua kali lipat daripada 116 perusahaan pada semester I/2023.