Prabowo meresmikan alutsista baru TNI AU, termasuk jet Rafale, untuk memperkuat pertahanan Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global. [1,064] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto meresmikan penambahan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis TNI Angkatan Udara pada Senin (18/5/2026). Langkah ini menandai tahap baru modernisasi pertahanan Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Pemerintah menerima enam jet tempur Rafale, enam jet bisnis militer Dassault Falcon 8X, dua pesawat angkut strategis Airbus A400M MRTT, dua radar GM403, serta rudal Meteor. Alutsista tersebut diproyeksikan memperkuat daya tangkal udara sekaligus memperluas jangkauan operasi militer Indonesia.
Dalam acara di pangkalan udara militer, Prabowo menegaskan penambahan alutsista bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya memperkuat pertahanan nasional.
“Ini salah satu tonggak penambahan kekuatan. Kita harus terus meningkatkan pertahanan sebagai penangkal,” ujarnya.
Menurutnya, di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, pertahanan menjadi syarat utama menjaga stabilitas dan kedaulatan negara.
Masuknya Rafale, rudal Meteor, radar GM403, hingga A400M MRTT menunjukkan Indonesia mulai bergerak melampaui konsep minimum essential force menuju pembangunan daya tangkal strategis jangka panjang.
Modernisasi Rafale Terjaga APBN
Presiden Prabowo menyerahkan alutsista strategis kepada TNI, Senin (18/05/2026), di Halim Perdanakusuma, Jakarta, yakni 6 pesawat MRCA Rafale, 6 pesawat Falcon 8X, 1 pesawat Airbus A400M MRTT, 1 missile meteor dan enam smart weapon hammer, serta 1 radar GCI GM403./BPMI Setpres
Kedatangan enam Rafale menjadi tahap awal dari kontrak pembelian total 42 unit yang ditandatangani Indonesia dengan Prancis pada 2022. Nilai kesepakatan ini diperkirakan lebih dari US$8,1 miliar atau sekitar Rp31,80 triliun, meski pemerintah tidak merinci angka resminya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pengadaan tersebut telah diperhitungkan dalam kerangka fiskal negara tanpa melanggar batas defisit APBN.
Purbaya menegaskan pemerintah juga menyiapkan anggaran signifikan untuk memperkuat pertahanan darat, laut, dan udara dalam beberapa tahun ke depan.
“Ada, tahun depan juga kita anggarkan juga cukup-cukup signifikan. Tapi kalau Anda tanya jumlahnya, kan rahasia juga. Tapi akan kita perkuat terus darat, laut, dan udaranya,” ujar Purbaya.
Menurutnya, penguatan anggaran pertahanan telah dirancang untuk beberapa tahun ke depan di tengah ketidakpastian global.
“Tahun depan ada, tahun depannya lagi ada, tahun depan sudah dianggarkan juga cukup besar. Jadi kan di tengah uncertainty seperti sekarang, memang apa kata Bapak Presiden betul, kita harus jaga kemampuan pertahanan kita,” katanya.
Ia juga menegaskan peningkatan belanja pertahanan tidak akan membebani APBN karena seluruh kebutuhan telah diperhitungkan sehingga defisit tetap dijaga di bawah 3% terhadap PDB.
Purbaya memastikan pembiayaan program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), subsidi energi, dan pembangunan nasional tetap berjalan karena seluruh alokasi anggaran telah dihitung secara matang tanpa saling mengganggu.
Pengadaan Rafale sendiri telah dirancang sejak Prabowo menjabat Menteri Pertahanan sebagai bagian dari reposisi strategi pengadaan alutsista. Pesawat tempur generasi 4.5 produksi Dassault Aviation ini mampu menjalankan berbagai misi, mulai dari superioritas udara hingga peperangan elektronik.
Indonesia juga mengakuisisi sistem persenjataan utama Rafale, termasuk rudal beyond visual range (BVR) Meteor dan munisi presisi AASM Hammer. Rudal Meteor memiliki jangkauan sekitar 200 kilometer dan dapat menyerang target sebelum lawan menyadari ancaman.
Analis pertahanan Tasha Imansyah menilai kombinasi Rafale dan radar GM403 menjadi langkah penting bagi modernisasi TNI AU.
“Masuknya Rafale dan radar GM403 jelas merupakan lompatan besar dan langkah awal yang sangat baik,” ujarnya.
Namun, dia mengingatkan daya tangkal penuh baru akan terbentuk setelah seluruh ekosistem persenjataan terkirim dan terintegrasi secara menyeluruh. Artinya, kedatangan enam Rafale baru menandai tahap awal modernisasi kekuatan udara Indonesia.
Presiden Prabowo menyerahkan alutsista strategis kepada TNI, Senin (18/05/2026), di Halim Perdanakusuma, Jakarta, yakni 6 pesawat MRCA Rafale, 6 pesawat Falcon 8X, 1 pesawat Airbus A400M MRTT, 1 missile meteor dan enam smart weapon hammer, serta 1 radar GCI GM403./BPMI Setpres
Selain Rafale, pemerintah juga menerima dua unit Airbus A400M MRTT yang memiliki kemampuan angkut strategis sekaligus pengisian bahan bakar di udara. Fitur ini memungkinkan jet tempur beroperasi lebih jauh tanpa kembali ke pangkalan, sesuatu yang penting bagi Indonesia dengan wilayah lebih dari 5.000 kilometer dari barat ke timur.
Analis pertahanan Tasha Imansyah menilai pengadaan A400M merupakan langkah besar, tetapi belum cukup. Indonesia masih membutuhkan pesawat tanker murni berkapasitas bahan bakar besar serta pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C).
“Tanpa kedua enabler murni ini, radius tempur dan situational awareness Rafale tidak akan maksimal,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga menerima dua radar GM403 GCI yang menjadi bagian dari target pengadaan 25 radar nasional untuk memperkuat pengawasan udara. Radar ini dirancang mendeteksi ancaman jarak jauh dan membantu proses intersepsi, sekaligus memperkuat Sistem Pertahanan Udara Nasional.
Namun Tasha menyoroti tantangan interoperabilitas karena Indonesia mengoperasikan radar, jet tempur, dan sistem data-link dari berbagai negara.
Menurutnya, keberagaman platform seperti F-16, Sukhoi, Hawk, T-50, dan Rafale berpotensi menciptakan beban logistik dan biaya perawatan tinggi.
“Mengoperasikan terlalu banyak jenis platform dari negara produsen berbeda menciptakan beban logistik dan biaya perawatan yang sangat tinggi,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu mulai memikirkan standardisasi platform serta memensiunkan armada lama secara bertahap agar biaya pemeliharaan tidak terus membebani APBN.
Tasha juga menyoroti pentingnya transfer teknologi dalam pengadaan alutsista. Pemerintah perlu memastikan industri pertahanan dalam negeri memperoleh manfaat nyata dari proyek Rafale.
“Industri pertahanan dalam negeri harus didorong mampu melakukan pemeliharaan tingkat berat secara mandiri,” katanya.
Menurutnya, jika transfer teknologi berjalan optimal, modernisasi pertahanan dapat mendorong pengembangan industri manufaktur, elektronika militer, dan riset teknologi tinggi di dalam negeri.
Peta Kekuatan Udara Asean
Masuknya Rafale tidak terlepas dari dinamika kekuatan udara di Asia Tenggara. Dalam satu dekade terakhir, negara-negara kawasan mempercepat modernisasi militernya.
Singapura telah mengoperasikan F-35 dan F-15SG generasi terbaru dengan sistem komando udara terintegrasi. Malaysia memperkuat armada Su-30MKM dan FA-50, sementara Thailand mengoperasikan Gripen yang terhubung dengan airborne early warning system. Vietnam juga masih mempertahankan armada Sukhoi dalam jumlah besar.
Di sisi lain, Indonesia selama bertahun-tahun dinilai tertinggal karena armada tempur utamanya masih mengandalkan F-16 lama, Sukhoi Su-27/30, Hawk 109/209, dan T-50. Kondisi ini menjadi tantangan bagi TNI AU dalam menjaga wilayah udara nasional yang sangat luas.
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia membutuhkan sistem pertahanan udara yang kuat sekaligus memiliki radius operasi panjang. Karena itu, kehadiran A400M MRTT menjadi salah satu elemen penting dalam modernisasi pertahanan kali ini.
Perbandingan Kekuatan Udara Regional Asia Tenggara (2026)
Negara
Jet Tempur Utama
Kekuatan Utama
Tantangan
Indonesia
Rafale, F-16, Sukhoi Su-27/30, FA-50
Modernisasi cepat, wilayah strategis luas
Overdiversifikasi armada
Singapura
F-15SG, F-16V, F-35B
Teknologi paling maju di Asean
Wilayah kecil
Malaysia
Su-30MKM, FA-50
Penguatan armada bertahap
Keterbatasan anggaran
Vietnam
Su-27/30
Armada tempur besar
Modernisasi radar terbatas
Thailand
Gripen, F-16
Sistem data-link modern
Jumlah terbatas
Sumber: International Institute for Strategic Studies (IISS), Military Balance 2025 (diolah)
Prabowo Subianto mengumumkan penambahan alutsista TNI AU, termasuk 6 Rafale dan radar, untuk memperkuat pertahanan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik. [257] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat sistem pertahanan nasional melalui penambahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) bagi TNI Angkatan Udara.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan keterangan terkait penerimaan sejumlah alutsista baru untuk memperkuat postur pertahanan udara Indonesia.
“Kita menerima secara resmi dengan adat kita, penambahan alutsista untuk angkatan udara kita. Kita menerima enam pesawat tempur Rafale, dan pesawat angkut Falcon, pesawat angkut VIP, dan A400. Ada radar juga,” ujar Prabowo.
Menurutnya, penambahan alutsista tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam pembangunan kekuatan pertahanan nasional yang modern dan berdaya tangkal tinggi.
“Kita harus terus tingkatkan kekuatan pertahanan kita sebagai penangkal, sebagai deterrent. Kita tidak punya kepentingan selain untuk menjaga wilayah kita sendiri,” katanya.
Prabowo menilai kondisi geopolitik dunia saat ini penuh ketidakpastian sehingga Indonesia perlu memastikan kesiapan pertahanan demi menjaga stabilitas dan kedaulatan negara.
“Tapi kita lihat kondisi dunia, geopolitik penuh dengan ketidakpastian, dan kita tahu bahwa pertahanan syarat utama untuk stabilitas, jaminan bahwa kita bisa berdaulat,” lanjutnya.
Dia menegaskan pemerintah akan terus membangun kekuatan pertahanan secara bertahap guna mengamankan seluruh wilayah nasional, baik udara, laut, maupun daratan.
“Dalam waktu yang akan datang terus akan kita bangun kekuatan kita. Kita ingin mengamankan wilayah udara, wilayah laut, dan tentunya wilayah daratan kita,” tutur Prabowo.
Dalam kesempatan tersebut, pemerintah diketahui menerima sejumlah alutsista strategis, termasuk enam pesawat tempur Dassault Rafale, pesawat angkut Dassault Falcon 8X, serta pesawat tanker dan angkut strategis Airbus A400M MRTT.
Selain itu, Indonesia juga memperkuat sistem pertahanan udara melalui penambahan radar untuk mendukung pengawasan dan pengendalian wilayah udara nasional.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56