Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perkebunan kelapa sawit PT Prime Agri Resources Tbk. (SGRO) menargetkan pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit (CPO) dan tandan buah segar (TBS) pada 2026 di kisaran 3%–5%.
Target itu seiring dengan strategi perseroan untuk mendongkrak kinerja operasional di tengah peluang besar dari implementasi mandatori biodiesel B50.
Head of Investor Relations SGRO Stefanus Darmagiri mengatakan perseroan menilai kebijakan ini akan menjadi katalis positif bagi peningkatan permintaan domestik crude palm oil (CPO) sekaligus menjaga stabilitas harga komoditas tersebut.
Dia melanjutkan langkah utama yang ditempuh adalah memperkuat produktivitas melalui penerapan best agronomy practices. Upaya ini dilakukan dengan melanjutkan program intensifikasi yang telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.
“Strategi atau langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh perseroan adalah dengan terus meningkatkan produktivitas CPO Perseroan melalui best agronomy practice,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Sejumlah inisiatif strategis yang terus digenjot antara lain mekanisasi operasional kebun, penguatan sistem manajemen air (water managementsystem), serta peningkatan infrastruktur pendukung. Selain itu, perseroan juga mempercepat digitalisasi guna meningkatkan sistem monitoring, efektivitas produksi, serta efisiensi kerja di lapangan.
Di sisi pemasaran, seluruh penjualan CPO perseroan saat ini difokuskan ke pasar domestik. Strategi ini dinilai sejalan dengan meningkatnya kebutuhan dalam negeri, terutama dari sektor biodiesel.
Implementasi mandatori biodiesel B50 diproyeksikan akan meningkatkan penyerapan kelapa sawit di dalam negeri secara signifikan. Kenaikan alokasi CPO untuk kebutuhan biodiesel lokal juga diyakini dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor.
Penjualan kelapa sawit nasional ke pabrik biodiesel lokal akan meningkat dan dapat menopang harga minyak kelapa sawit di tengah dinamika global.
“Hal ini dapat menopang harga minyak kelapa sawit, yang secara tidak langsung mendukung kinerja perseroan,” imbuhnya.
Kinerja produksi emiten yang dulunya bernama PT Sampoerna Agro Tbk. ini hingga kuartal III/2025 menunjukkan perbaikan signifikan seiring meredanya dampak El Nino yang sebelumnya menekan produksi. Total produksi TBS SGRO meningkat jadi 1,2 juta ton. Produksi TBS dari kebun inti tercatat 846.810 ton, sementara pasokan dari plasma dan pihak ketiga mencapai 402.820 ton.
Dari sisi operasional, SGRO menargetkan pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit (CPO) dan tandan buah segar (TBS) pada 2026 di kisaran 3%–5%.
Sementara dari sisi keuangan berdasarkan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, SGRO mencatatkan pendapatan Rp6,45 triliun atau bertumbuh 16,4% dibandingkan periode yang sama pada 2024 senilai Rp5,54 triliun.
Namun pertumbuhan pendapatan tak sejalan dengan laba yang dibukukan pada 2025 senilai Rp359,68 miliar pada 2025 atau turun 51,9% dibandingkan dengan capaian di Tahun Buku 2024 sebesar Rp748,56 miliar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.