Bisnis.com, JAKARTA — MEXC Foundation dan Triv memperluas strategi pengembangan talenta digital sebagai bagian dari upaya memperkuat industri blockchain dan Web3 di Indonesia—salah satu pasar aset kripto dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.
Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan tenaga ahli blockchain di tengah lonjakan pengguna dan transaksi aset digital dalam tiga tahun terakhir.
Indonesia mencatat lebih dari 18,61 juta investor aset kripto per Oktober 2025. Kenaikan minat ritel ini mendorong industri kripto berskala global seperti MEXC untuk memperdalam fondasi ekosistem, terutama melalui ketersediaan talenta yang siap masuk ke industri.
Kristina Xu, VP of MEXC Foundation, mengatakan bahwa Indonesia telah menjadi “pasar prioritas” karena kombinasi demografis muda, penetrasi digital yang tinggi, serta arah regulasi yang semakin jelas.
“Kami percaya Indonesia sangat berpotensi menjadi pusat blockchain dan Web3 terkemuka di
Asia Tenggara pada siklus ini, dan salah satu yang paling dinamis di dunia,” kata Kristina, Rabu (12/11/2025).
Triv, yang telah beroperasi selama lebih dari satu dekade dan melayani lebih dari 3 juta pengguna, melihat fenomena yang sama. CEO & Founder Triv Gabriel Rey menyebutkan bahwa permintaan industri terhadap talenta Web3 meningkat lebih cepat dibanding supply-nya.
“Dulu ada stigma industri kripto adalah sesuatu yang meragukan tapi sekarang industri ini sudah bisa memberikan dampak langsung ke seluruh masyarakat di Indonesia,” katanya.
Keduanya sepakat bahwa penguatan talenta lokal menjadi elemen strategis agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar besar, tetapi pusat inovasi Web3 di kawasan.
Untuk itu, MEXC Foundation dan Triv meluncurkan program F.I.R.E (Future Innovators in Rising Economy) sebagai bagian dari strategi jangka panjang membangun pipeline talenta dan mendorong pertumbuhan industri secara berkelanjutan.
Program ini menyediakan jalur pendidikan, pendampingan, dan akses ke industri bagi mahasiswa dan pengembang muda. Meski terdapat komponen beasiswa, fokus utamanya adalah membangun kompetensi teknis seperti smart contract, keamanan blockchain, riset kriptografi, dan pengembangan aplikasi Web3—area yang selama ini menjadi kekurangan utama di Indonesia.
Founder & CEO CryptoWave, Goldwin Halim, mencatat bahwa minat mahasiswa terhadap blockchain melonjak, tetapi sebagian besar masih berbasis tren, bukan pemahaman teknis.
“Industri butuh talenta yang tahu cara membangun, bukan hanya yang ikut hype. Program seperti ini mengubah rasa ingin tahu menjadi kompetensi,” ujarnya.
MEXC melihat langkah ini sebagai investasi strategis untuk menghadapi “talent war” di industri Web3 global. Banyak negara di Asia kini berebut membangun pusat pengembangan blockchain. Indonesia dinilai memiliki keunggulan unik yakni komunitas yang besar, partisipasi ritel yang tinggi, dan pendekatan ekosistem yang berbasis komunitas (community-driven).
Ke depan, MEXC Foundation dan Triv menargetkan memperluas kolaborasi dengan lebih banyak universitas, laboratorium riset, serta startup Web3 lokal. Mereka juga menyiapkan integrasi peserta program ke dalam jaringan ekosistem global MEXC, termasuk peluang inovasi, riset, dan hackathon tingkat internasional.
Program F.I.R.E akan mendukung 20 mahasiswa dari 11 universitas dengan biaya kuliah penuh selama satu semester, akses mentorship industri, serta kesempatan menjadi Student Ambassador Web3.
Namun bagi MEXC dan Triv, nilai terbesar dari program ini bukan beasiswanya, melainkan pembentukan generasi pertama builder Web3 Indonesia yang terhubung langsung dengan industri global.
“Indonesia sudah punya user base besar. Sekarang saatnya membangun fondasi talenta dan inovasi agar Indonesia dapat memimpin siklus Web3 berikutnya,” ujar Kristina.
Inisiatif talenta ini menjadi bagian langsung dari pilar pendidikan dan pemberdayaan MEXC Foundation, sekaligus mempertegas strategi kedua organisasi ini dalam memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi digital Asia Tenggara.