Bisnis.com, MAJALENGKA — Pergerakan kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati kembali mengalami dinamika signifikan sepanjang 2025. Data terbaru menunjukkan penurunan tajam pada Oktober 2025, yang memicu evaluasi terhadap kesiapan ekosistem pariwisata daerah.
Kepala BPS Majalengka Joni Kasmurim menyatakan kondisi tersebut menggambarkan peluang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. "Arus kunjungan internasional memiliki peran strategis untuk mendorong sektor jasa, transportasi, kuliner, hingga UMKM lokal. Stabilitas kunjungan menjadi fondasi penting bagi percepatan ekonomi daerah," kata Joni, Selasa (2/12/2025).
Pada Oktober 2025, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui pintu kedatangan Bandara Kertajati tercatat 151 kunjungan, turun dari September yang mencapai 263 kunjungan. Angka tersebut menjadi titik terendah sepanjang tahun. Penurunan ini kontras dengan potensi Majalengka sebagai kawasan yang didukung infrastruktur strategis, termasuk BIJB Kertajati dan jaringan transportasi regional.
Sepanjang tahun berjalan, pergerakan kunjungan wisman menunjukkan pola tidak stabil. Pada Januari 2025, tercatat 236 kunjungan dan turun menjadi 207 kunjungan pada Februari. Tren kembali menguat pada Maret dengan 262 kunjungan dan meningkat menjadi 334 kunjungan pada April, yang sempat memunculkan optimisme pelaku usaha pariwisata.
Pada Mei, angka sedikit melemah menjadi 257 kunjungan sebelum melonjak tajam menjadi 513 kunjungan pada Juni, yang menjadi rekor tertinggi sepanjang 2025. Kenaikan tersebut dipengaruhi agenda wisata regional, peningkatan konektivitas penerbangan, dan kampanye promosi pemerintah daerah. Namun momentum itu mereda pada Juli saat angka kembali turun ke 263 kunjungan, kemudian menyusut menjadi 231 pada Agustus. Peningkatan terjadi pada September dengan 263 kunjungan sebelum kembali melemah pada Oktober.
Joni menilai fluktuasi tersebut menjadi catatan bagi pemerintah daerah dalam memperkuat strategi pariwisata. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang lebih konsisten, mulai dari penyediaan paket tur terintegrasi, peningkatan kualitas layanan bandara, hingga diversifikasi destinasi untuk menarik pasar internasional.
Menurut Joni, stabilitas kunjungan sangat bergantung pada kesiapan rantai layanan pariwisata secara keseluruhan, termasuk aksesibilitas, kualitas atraksi, dan ketersediaan informasi bagi wisatawan. "Pelaku usaha perlu didorong untuk meningkatkan standar pelayanan, terutama bagi wisatawan mancanegara yang memiliki preferensi berbeda," ujarnya.
Ia menambahkan, potensi BIJB Kertajati sebagai pintu masuk utama wisatawan global ke wilayah Ciayumajakuning belum dimanfaatkan secara optimal. Keberlanjutan rute internasional, frekuensi penerbangan, dan kolaborasi dengan maskapai asing masih perlu diperkuat untuk menjaga arus kunjungan.
Selain destinasi alam seperti Panyaweuyan, Curug Ibun, dan Terasering Argapura, Majalengka juga memiliki peluang besar pada wisata olahraga, budaya, serta kegiatan meeting, incentive, convention, exhibition (MICE). Integrasi agenda internasional dengan konektivitas bandara dinilai mampu menciptakan tren kunjungan yang lebih stabil.
Joni berharap data Oktober menjadi momentum evaluasi dan mendorong sinergi lintas pihak dalam memperkuat strategi pariwisata. "Dengan ekosistem yang solid, Majalengka diyakini mampu mengubah fluktuasi 2025 menjadi pijakan untuk pertumbuhan yang lebih kokoh di tahun mendatang," katanya.