Bisnis.com, JAKARTA — Profitabilitas lini asuransi kredit dinilai masih memiliki prospek yang baik. Hal ini karena didukung oleh pertumbuhan pembiayaan dan kebutuhan proteksi kredit.
Sebab demikian, untuk tetap menjaga rasio klaim dalam level yang ideal, pengamat asuransi Wahyudin Rahman membeberkan setidaknya ada empat cara yang bisa dilakukan perusahaan.
“Strategi yang perlu dilakukan antara lain memperkuat underwriting berbasis kualitas debitur, meningkatkan pemanfaatan data analytics dan credit scoring,” tuturnya, dikutip pada Senin (25/5/2026).
Kemudian, dua cara lainnya adalah dengan melakukan diversifikasi sektor dan portofolio, serta memperketat monitoring melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Meski begitu, Wahyudin tidak menampik tantangan yang perlu diwaspadai industri asuransi umum adalah potensi kenaikan NPL pada BPR dan Fintech, perlambatan ekonomi, volatilitas suku bunga, moral hazard, serta persaingan tarif yang masih terjadi.
Perlu diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio klaim asuransi kredit pada industri asuransi umum dan reasuransi gabungan (konvensional dan syariah) sebesar 97,00% pada kuartal I/2026. Angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan posisi Februari 2026 yang mencapai 108,40%.
Wahyudin berpendapat bahwa penurunan rasio klaim asuransi kredit itu karena mayoritas membaiknya kualitas kredit debitur, pengetatan underwriting, seleksi risiko yang lebih hati-hati, serta peningkatan monitoring portofolio seiring juga dampak dari POJK 20/2023.
“Selain itu, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pembayaran pada beberapa sektor usaha turut membantu menekan frekuensi klaim. Namun demikian, kondisi ini masih perlu diuji dalam jangka menengah karena tekanan ekonomi global-geopolitk dan potensi perlambatan domestik,” tegasnya.
Sependapat, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai penurunan rasio klaim ke 97% pada Maret 2026 mencerminkan perbaikan secara bulanan. Namun, angka itu tetap perlu dicermati karena rasio klaim masih tergolong tinggi. Artinya, hampir seluruh pendapatan premi pada lini ini masih terserap untuk pembayaran klaim.
“Jadi, perbaikan ini belum bisa langsung disimpulkan sebagai perbaikan fundamental, tetapi merupakan sinyal awal yang perlu dikonfirmasi melalui tren beberapa bulan atau kuartal berikutnya,” sebut Ketua Umum AAUI Budi Herawan kepada Bisnis, Rabu (20/5/2026).