Bisnis.com, JAKARTA — Adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) terus melesat di kalangan korporasi dunia, namun dampaknya terhadap profitabilitas dinilai belum signifikan.
Riset terbaru dari firma akuntansi dunia, Deloitte, menyoroti adanya kesenjangan tajam antara ekspektasi pendapatan perusahaan dan realitas hasil investasi teknologi tersebut di lapangan.
Dalam laporannya yang bertajuk The State of AI in the Enterprise 2026: The Untapped Edge, Deloitte mengungkapkan mayoritas inisiatif AI belum berhasil mendongkrak pendapatan secara nyata. Survei ini melibatkan 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi informasi (TI) yang tersebar di 24 negara.
Data menunjukkan bahwa sebanyak 74% organisasi menargetkan inisiatif AI mereka untuk memacu pertumbuhan pendapatan. Sayangnya, hanya 20% perusahaan yang melaporkan telah benar-benar melihat realisasi pertumbuhan tersebut.
Temuan Deloitte ini sejalan dengan survei pemimpin bisnis yang dirilis PwC baru-baru ini. Melansir dari The Register, Kamis (22/1/2026), data PwC mencatat hanya 12% CEO yang melihat dampak ganda berupa penurunan biaya operasional sekaligus peningkatan pendapatan sebagai hasil langsung dari investasi AI mereka.
Kendati keuntungan finansial belum merata, Deloitte menekankan bahwa uang bukanlah satu-satunya tolok ukur keberhasilan adopsi teknologi ini. Laporan tersebut menyatakan kesuksesan AI selain mencakup aspek efisiensi, terdapat pula aspek pencapaian diferensiasi strategis dan keunggulan kompetitif jangka panjang.
Hal ini tercermin dari peningkatan persepsi dampak teknologi tersebut di mata para eksekutif. Sebanyak 25% pemimpin bisnis mengatakan AI memberikan efek transformatif pada organisasi mereka, angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 12%.
Dari sisi operasional, akses tenaga kerja terhadap perangkat AI tercatat terus meluas. Kurang dari 60% pekerja kini memiliki akses ke alat AI yang disetujui oleh tim TI, naik dari posisi 40% pada tahun lalu.
Namun, tingkat pemanfaatan alat tersebut dinilai masih belum maksimal. Di antara pekerja yang memiliki akses, kurang dari 60% menggunakannya sebagai bagian dari alur kerja harian, sehingga potensi produktivitas dan inovasi dianggap masih belum tergali sepenuhnya.
Laporan tersebut juga menyoroti potensi otomatisasi pekerjaan yang masif dalam waktu dekat. Sebanyak 36% perusahaan memproyeksikan setidaknya 10% dari pekerjaan mereka akan terotomatisasi penuh dalam satu tahun ke depan.
Angka tersebut diprediksi meningkat drastis dalam jangka menengah. Sekitar 82% perusahaan memperkirakan tingkat otomatisasi yang sama akan terjadi dalam kurun waktu tiga tahun mendatang.
Ironisnya, ekspektasi otomatisasi ini belum diikuti dengan penyesuaian struktur organisasi yang memadai. Sebanyak 84% responden mengaku belum mendesain ulang peran kerja karyawan mereka berdasarkan kapabilitas AI, yang menandakan lambatnya perubahan manajemen.
Kepala AI AS di Deloitte Jim Rowan mengatakan organisasi yang sukses dengan AI tidak hanya berinvestasi pada algoritma semata. Menurutnya, investasi pada sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor krusial dalam keberhasilan adopsi teknologi.
"Fokus ganda pada pemajuan kapabilitas talenta dan alat AI memberdayakan tim untuk merangkul model bisnis yang dirancang ulang dan menetapkan dasar bagi keunggulan kompetitif," kata Rowan dalam laporannya.
Selain tantangan internal, isu Sovereign AI atau kedaulatan AI menjadi prioritas strategis baru bagi korporasi. Sebanyak 83% perusahaan menyatakan kendali atas perangkat lunak dan data sesuai hukum lokal adalah hal penting, sementara 66% khawatir terhadap ketergantungan pada vendor asing.
Riset PwC
Sebelumnya, survei yang dilakukan oleh PwC, sebuah firma jasa profesional global, menyebutkan bahwa penurunan kepercayaan ini disebabkan oleh CEO yang masih bergulat dengan hasil penerapan AI yang tidak merata, meningkatnya risiko geopolitik, serta ancaman siber yang kian besar.
Menurut laporan Survei CEO Global ke-29 PwC yang didasarkan pada tanggapan 4.454 CEO di 95 negara dan wilayah, hanya 30% CEO yang menyatakan yakin terhadap pertumbuhan pendapatan selama 12 bulan ke depan. Angka ini turun dari 38% pada survei tahun 2025 dan 56% pada tahun 2022.
Salah satu kekhawatiran terbesar para CEO adalah perubahan teknologi yang sangat cepat, termasuk AI. Sebelumnya, AI dianggap sebagai solusi ajaib untuk meningkatkan kinerja bisnis. Namun kenyataannya, hanya 12% CEO yang merasa AI benar-benar memberikan keuntungan finansial. Artinya, ada 88% CEO yang tidak merasakan dampak AI terhadap pertumbuhan bisnis.
Sebaliknya, sebanyak 56% CEO mengaku belum melihat manfaat finansial yang signifikan dari penerapan AI.
Ketua Global PwC, Mohamed Kande, mengatakan hanya sedikit perusahaan yang berhasil menjadikan AI sebagai sumber keuntungan nyata, sementara banyak perusahaan lainnya masih berada pada tahap uji coba. Akibatnya, kesenjangan dalam kepercayaan diri dan daya saing antar perusahaan semakin melebar.
“Tahun 2026 tampaknya akan menjadi tahun yang menentukan bagi AI,” ujar Kande, dikutip dari situs resmi PwC, Selasa (20/1/2025).
Namun, bagi perusahaan yang telah menggunakan AI secara serius dalam produk dan layanan mereka, keuntungan yang diperoleh cukup signifikan, yakni hampir 4% lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang belum menerapkannya. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)