Alibaba Cloud mempercepat perkembangan Agentic AI, yang mampu menyusun rencana dan mengambil keputusan mandiri. Model Qwen 3.7 terbaru mendukung tugas kompleks dan otomatisasi. [518] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Era Agentic AI telah dimulai. Berbeda dengan AI generatif biasa yang hanya merespons perintah teks (prompt), teknologi ini memiliki kemampuan lebih kompleks karena mampu menyusun rencana, mengambil keputusan, hingga menjalankan serangkaian tindakan untuk mencapai target tertentu secara lebih mandiri.
Lead Solution Architect Alibaba Cloud Indonesia, Ananda Budi, menyebut perkembangan AI ke depan tidak lagi berhenti pada fungsi chatbot semata. Menurutnya, model Agentic AI bakal mengarah ke pembangunan platform kerja yang lebih terintegrasi sekaligus membantu menciptakan lingkungan kerja yang tertata, kolaboratif, dan lebih terstruktur.
"Jadi, bagaimana AI ini bisa digunakan secara optimal untuk meningkatkan produktivitas. Namun, ini juga dirancang untuk manusia dan AI hidup berdampingan, bukan untuk menggantikan dengan humanoid," katanya di Jakarta, Rabu, (20/5/2026)
Perkembangan Agentic AI secara global kini bergerak sangat pesat. Di tengah tren tersebut, Alibaba terus memperkuat pengembangan Qwen, yakni rangkaian model bahasa besar (large language model/LLM) dan teknologi kecerdasan buatan yang dirancang untuk menangani beragam kebutuhan, mulai dari pengolahan teks, gambar, video, penerjemahan, pemrosesan visual dan suara, hingga penulisan kode perograman.
Qwen pertama kali diperkenalkan pada 2023 dan terus mengalami pembaruan seiring perkembangan teknologi AI. Ananda menjelaskan hingga akhir Maret 2026, model tersebut telah mencapai versi 3.6.
"Pagi ini, saya baru dapat kabar kita sudah merilis Qwen 3.7," ungkapnya.
Qwen 3.7 merupakan versi terbaru dari LLM canggih besutan Alibaba Cloud yang dikembangkan dengan kemampuan penalaran tingkat lanjut (frontier reasoning). Model ini difokuskan untuk menangani tugas-tugas kompleks, terutama dalam pemrograman berbasis agen (agentic coding), penyelesaian persoalan matematika, serta otomatisasi berbagai alur kerja.
"Jadi, hitungan rilisnya hanya minggu, kita sudah rilis model baru. Ini memang revolusinya sangat cepat sekali," imbuhnya.
Ke depan, Alibaba Cloud disebut berencana membawa model-model AI terbaru ke pasar Indonesia sebagai bagian dari upaya mempercepat adopsi kecerdasan buatan di dalam negeri. Tidak hanya Qwen, perusahaan juga menyiapkan kehadiran model generasi video Wan serta Happy Horse yang dinilai dapat membuka peluang baru bagi industri kreatif untuk memanfaatkan AI dalam proses produksi dan pengembangan konten.
Selain menghadirkan model AI, Alibaba Cloud juga akan memperluas ekosistem aplikasinya melalui berbagai solusi berbasis kecerdasan buatan untuk mendukung kebutuhan bisnis lintas sektor. Beberapa di antaranya meliputi platform pengembangan Qoder, platform produktivitas kerja berbasis AI QoderWork, hingga MuleRun yang dirancang untuk membantu efisiensi operasional perusahaan.
Alibaba Cloud juga terus mengintegrasikan teknologi AI ke dalam infrastruktur komputasi awannya melalui sejumlah solusi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus keamanan operasional.
Beberapa di antaranya meliputi Database Autonomous Agent (DAS) untuk mengotomatisasi pengelolaan database, AI Safety Guardrail guna mendukung implementasi AI yang lebih bertanggung jawab, serta Security Center yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi ancaman siber secara lebih adaptif dan cerdas.
Ananda menambahkan, penguatan teknologi AI di level infrastruktur menjadi bagian dari strategi Alibaba Cloud untuk membantu perusahaan mengelola sistem digital secara lebih efisien, aman, dan siap menghadapi kebutuhan bisnis yang semakin kompleks.
Dia menyebut Alibaba Cloud saat ini juga telah meraih peringkat keamanan siber tertinggi dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Pencapaian tersebut ditandai dengan keberhasilan perusahaan mencapai level “Inovatif” atau Level 5 dalam Instrumen Penilaian Kematangan Keamanan Siber (IKAS), yang mencerminkan tingkat kesiapan dan pengelolaan keamanan siber yang dinilai matang.
Survei NBER: 80% perusahaan global belum merasakan manfaat AI meski 69% sudah menggunakannya. Eksekutif prediksi dampak positif dalam 3 tahun ke depan. [502] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Teknologi kecerdasan buatan (AI) yang digadang-gadang akan merevolusi dunia kerja malah berbanding terbalik pada kenyataannya, hasil survei terbaru menunjukkan 80% perusahaan tidak melihat keuntungan dari AI.
Sebuah studi yang dilakukan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) di Massachusetts melibatkan hampir 6.000 eksekutif dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Australia. Respondennya terdiri dari CEO, CFO, dan pimpinan perusahaan dari berbagai skala bisnis.
Hasilnya yang didapat cukup mengejutkan. Lebih dari 80% eksekutif mengatakan mereka belum melihat dampak signifikan AI terhadap lapangan kerja maupun produktivitas di perusahaan mereka.
Padahal, 69% bisnis mengaku sudah menggunakan AI dalam beberapa bentuk. Bahkan 75% memperkirakan akan memanfaatkan AI dalam tiga tahun ke depan.
Penggunaan AI yang paling umum saat ini meliputi pembuatan teks dengan model bahasa besar (LLM), Pembuatan konten visual, dan pemrosesan data berbasis machine learning.
Menurut responden survei 90% manajer menyebut AI tidak berdampak pada jumlah karyawan dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, 89% tidak melihat perubahan berarti dalam produktivitas, yang diukur dari volume penjualan per karyawan.
Walaupun dampaknya belum terasa, para eksekutif memperkirakan perubahan lebih besar akan terjadi dalam tiga tahun ke depan. NBER memperkirakan sekitar 1,75 juta pekerjaan di empat negara tersebut bisa terdampak pada 2028.
Para responden juga memprediksi produktivitas perusahaan akan meningkat sekitar 1,4% dalam tiga tahun mendatang berkat AI. Angka ini memang tidak besar, tetapi dinilai bisa membalikkan tren perlambatan produktivitas di negara-negara maju.
Menariknya, ekspektasi karyawan berbeda dari para eksekutif. Banyak pekerja justru percaya AI akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja, meskipun peningkatan produktivitasnya dinilai lebih kecil.
Studi Lain Tunjukkan Hasil Serupa
Dilansir dari The Register Kamis (19/2/2026), temuan NBER sejalan dengan sejumlah riset lain. konsultan PwC juga melakukan survei terhadap lebih dari 4.500 pemimpin bisnis, dan menemukan lebih dari setengah responden tidak melihat kenaikan pendapatan atau penurunan biaya setelah menerapkan AI.
Riset dari firma jasa profesional Deloitte juga menunjukkan 74% organisasi berharap AI bisa meningkatkan pendapatan, tetapi hanya 20% yang benar-benar merasakannya.
Bahkan uji coba penggunaan Microsoft 365 Copilot di sebuah departemen pemerintah Inggris tidak menemukan peningkatan produktivitas secara keseluruhan. Beberapa tugas memang lebih cepat, tetapi tugas lain justru menjadi lebih lambat.
Eksekutif yang memimpin pengembangan AI untuk tempat kerja di Microsoft Jared Spataro, mengakui sulit mengukur pengembalian investasi (ROI) dari Copilot. Alasannya, banyak pekerjaan berbasis pengetahuan tidak langsung tercermin dalam angka pendapatan atau laba.
Meski demikian, klaim optimistis tetap bermunculan. Kepala AI Microsoft Mustafa Suleyman, menyebut sebagian besar pekerjaan yang dilakukan di depan komputer seperti akuntansi, hukum, pemasaran, dan manajemen proyek bisa sepenuhnya diotomatisasi dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.
Perusahaan teknologi lain juga tetap percaya diri. Lenovo menyebut 94% perusahaan di Eropa dan Timur Tengah berharap mendapatkan ROI positif dari AI.
Sementara itu, survei dari Gartner menunjukkan 91% pemimpin layanan pelanggan berada di bawah tekanan manajemen untuk menerapkan AI.
Sekitar 80% perusahaan bahkan berencana memindahkan sebagian agen layanan pelanggan ke peran baru, karena tugas-tugas rutin diperkirakan akan diotomatisasi. Namun, keahlian manusia tetap dibutuhkan untuk menangani situasi yang beragam atau sensitif secara emosional. (Nur Amalina)
Infrastruktur AI di Indonesia tumbuh pesat, namun didominasi asing. Meski belum menguntungkan, investasi AI terus berlanjut untuk efisiensi dan keunggulan kompetitif. [976] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Infrastruktur teknologi kecerdasan buatan (AI) dinilai berkembang begitu cepat di Indonesia. Namun, mayoritas masih didominasi oleh perusahaan asing.
Pembangunan AI juga diramal masih akan terjadi meski sejumlah riset menyebut teknologi pintar itu belum memberi keuntungan di bagi para perusahaan yang mengembangkannya.
Riset terbaru Deloitte yang bertajuk The State of AI in the Enterprise 2026: The Untapped Edge mengungkap adanya kesenjangan tajam antara ekspektasi dan realisasi investasi AI.
Survei terhadap 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi informasi di 24 negara menunjukkan bahwa 74% organisasi menargetkan AI untuk mendorong pertumbuhan pendapatan, namun hanya 20% yang benar-benar melihat hasil tersebut.
Temuan Deloitte tersebut sejalan dengan survei PwC yang mencatat hanya 12% CEO yang merasakan dampak finansial langsung berupa penurunan biaya sekaligus peningkatan pendapatan dari investasi AI.
Meski demikian, Deloitte menekankan m keberhasilan AI tidak hanya diukur dari keuntungan finansial jangka pendek, melainkan juga dari efisiensi operasional, diferensiasi strategis, dan keunggulan kompetitif jangka panjang.
Laporan tersebut juga mencatat meningkatnya adopsi AI di lingkungan kerja, dengan hampir 60% pekerja kini memiliki akses ke perangkat AI resmi perusahaan, meskipun tingkat pemanfaatannya masih belum optimal.
Selain itu, sekitar 82% perusahaan memperkirakan sedikitnya 10% pekerjaan akan terotomatisasi dalam tiga tahun ke depan, sementara mayoritas organisasi belum melakukan penyesuaian struktur kerja yang memadai.
Pengguna mencoba kacamata teknologi AI
Ketua Global PwC Mohamed Kande menyatakan hanya sebagian kecil perusahaan yang mampu menjadikan AI sebagai sumber keuntungan nyata. Namun, perusahaan yang telah mengintegrasikan AI secara serius dalam produk dan layanan tercatat memperoleh keuntungan hampir 4% lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang belum mengadopsinya.
Sejalan dengan itu, berbagai pemangku kepentingan di Indonesia menilai bahwa meskipun profitabilitas AI belum sepenuhnya terlihat, investasi teknologi ini masih akan terus berlanjut seiring berkembangnya infrastruktur, regulasi, serta kebutuhan digital lintas sektor.
Ketua Bidang Industri IoT, AI & Big Data Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Teguh Prasetyo menilai kondisi tersebut wajar mengingat pembangunan ekosistem AI masih berada pada fase awal, terutama dari sisi infrastruktur.
Menurut dia, pertumbuhan infrastruktur AI di Indonesia berlangsung sangat pesat dalam tiga tahun terakhir, mulai dari pembangunan GPU hingga pusat data berbasis AI dengan nilai investasi yang besar.
“Yang paling dasar itu infrastrukturnya dulu. Infrastruktur AI di Indonesia rasanya tumbuh pesat sekali, baik GPU maupun AI data center,” kata Teguh dalam acara Indonesia Digital Outlook 2026 “From Policy to Practice: Shaping Indonesia’s Sustainable Digital Future” di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Namun, Teguh mengakui sebagian besar pengguna infrastruktur AI di Indonesia saat ini masih berasal dari pasar global, bukan dari dalam negeri. Karena itu, dia menilai Indonesia masih membutuhkan penguatan infrastruktur pendukung di luar pusat data, termasuk pengembangan jaringan dan komputasi terdistribusi.
Di lapisan berikutnya, Teguh melihat pertumbuhan positif dari sisi aplikasi AI. Jumlah startup AI di Indonesia telah menembus ratusan, mencakup pengembangan AI visual, suara, pemrosesan ruang-waktu, hingga large language model (LLM) lokal.
Menurut dia, ke depan AI berpotensi menjadi killer application jaringan 5G, sebagaimana e-commerce menjadi pendorong utama adopsi 4G.
“Kalau ditanya killer application 4G apa, jawabannya e-commerce. Kalau 5G, kami di Mastel melihat AI akan menjadi killer application-nya,” kata Teguh.
Dia menilai hampir seluruh sektor kini bergantung pada AI, termasuk Internet of Things (IoT). Bahkan penggunaan sederhana seperti kamera pengawas rumah telah memanfaatkan teknologi AI untuk mendeteksi objek hingga aktivitas manusia.
Teguh juga menilai pengembangan AI tidak hanya akan terpusat di hyperscale data center, melainkan akan bergerak ke arah AI on edge seiring dengan kondisi geografis Indonesia yang berbeda dengan negara satu pulau seperti Singapura.
Risiko Investasi
Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Sonny Hendra Sudaryana mengingatkan adanya risiko global yang menyertai masifnya investasi teknologi, termasuk AI.
Dia menyebut dalam World Economic Forum (WEF) 2025 di Davos, Swiss telah mengidentifikasi tiga potensi gelembung ekonomi global, yakni AI bubble, crypto bubble, dan debt bubble.
“AI bubble ini terjadi ketika investasi yang dikeluarkan belum menghasilkan manfaat ekonomi yang signifikan,” kata Sonny.
Menurut dia, fenomena tersebut sejalan dengan kondisi global saat ini, di mana banyak perusahaan gencar berinvestasi AI, tetapi belum seluruhnya mampu mengonversinya menjadi pendapatan nyata.
Sonny menilai kewaspadaan terhadap risiko gelembung perlu diimbangi dengan kebijakan yang mendorong pemanfaatan AI secara produktif dan berkelanjutan.
Dari sisi industri telekomunikasi, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Merza Fachys menegaskan AI bukan semata isu sektor telekomunikasi, melainkan bagian dari industri digital secara menyeluruh. Menurut dia, investasi AI justru saat ini lebih banyak dilakukan oleh pelaku pusat data.
“AI ini dimainkan oleh hampir semua industri, bukan hanya operator,” ujar Merza.
Di internal perusahaan telekomunikasi, Merza menjelaskan pemanfaatan AI masih difokuskan pada peningkatan efisiensi operasional.
AI digunakan dalam pengelolaan jaringan, peningkatan kualitas layanan pelanggan, hingga optimalisasi proses internal perusahaan. Selain itu, operator juga menyediakan solusi berbasis AI untuk segmen enterprise.
Namun demikian, dia menyebut operator belum menjadikan AI sebagai produk ritel yang dimonetisasi secara langsung ke konsumen, seperti AI untuk pengolahan foto atau video.
“AI yang kami bangun kebanyakan untuk enterprise solution, bukan untuk monetisasi langsung ke retail,” katanya.
Sementara itu, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Dyah Ayu menilai meski profitabilitas AI masih terbatas, investasi teknologi ini di Indonesia tetap akan tumbuh.
Menurut Dyah, Indonesia kini mulai memasuki fase baru pengembangan AI, salah satunya melalui kehadiran agentic AI, yaitu sistem AI yang mampu memperbarui data secara otomatis, menganalisis informasi lintas sumber, hingga menyusun strategi secara berkelanjutan.
“Ini bukan cuma AI yang menjawab pertanyaan, tapi AI yang terus update dan bisa menjadi search engine sekaligus analis,” ujarnya.
Dia menilai potensi pasar domestik masih sangat besar, mengingat penetrasi internet Indonesia telah menembus 80% populasi. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia menarik bagi investor global, meskipun dari sisi regulasi masih terdapat celah, khususnya terkait pajak digital.
Dyah menilai belum adanya aturan spesifik mengenai pajak digital membuat perusahaan teknologi global memperoleh keuntungan besar dari pasar Indonesia, sementara kontribusi fiskalnya masih terbatas.
Menurut dia, mekanisme pajak digital berbasis jumlah pengguna dan valuasi pasar dapat menjadi solusi agar investasi AI tetap berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat bagi negara.
Deloitte mengungkapkan bahwa investasi AI belum signifikan meningkatkan pendapatan korporasi, meski adopsinya meningkat. Hanya 20% perusahaan yang melihat pertumbuhan nyata. [727] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) terus melesat di kalangan korporasi dunia, namun dampaknya terhadap profitabilitas dinilai belum signifikan.
Riset terbaru dari firma akuntansi dunia, Deloitte, menyoroti adanya kesenjangan tajam antara ekspektasi pendapatan perusahaan dan realitas hasil investasi teknologi tersebut di lapangan.
Dalam laporannya yang bertajuk The State of AI in the Enterprise 2026: The Untapped Edge, Deloitte mengungkapkan mayoritas inisiatif AI belum berhasil mendongkrak pendapatan secara nyata. Survei ini melibatkan 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi informasi (TI) yang tersebar di 24 negara.
Data menunjukkan bahwa sebanyak 74% organisasi menargetkan inisiatif AI mereka untuk memacu pertumbuhan pendapatan. Sayangnya, hanya 20% perusahaan yang melaporkan telah benar-benar melihat realisasi pertumbuhan tersebut.
Temuan Deloitte ini sejalan dengan survei pemimpin bisnis yang dirilis PwC baru-baru ini. Melansir dari The Register, Kamis (22/1/2026), data PwC mencatat hanya 12% CEO yang melihat dampak ganda berupa penurunan biaya operasional sekaligus peningkatan pendapatan sebagai hasil langsung dari investasi AI mereka.
Kendati keuntungan finansial belum merata, Deloitte menekankan bahwa uang bukanlah satu-satunya tolok ukur keberhasilan adopsi teknologi ini. Laporan tersebut menyatakan kesuksesan AI selain mencakup aspek efisiensi, terdapat pula aspek pencapaian diferensiasi strategis dan keunggulan kompetitif jangka panjang.
Hal ini tercermin dari peningkatan persepsi dampak teknologi tersebut di mata para eksekutif. Sebanyak 25% pemimpin bisnis mengatakan AI memberikan efek transformatif pada organisasi mereka, angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 12%.
Dari sisi operasional, akses tenaga kerja terhadap perangkat AI tercatat terus meluas. Kurang dari 60% pekerja kini memiliki akses ke alat AI yang disetujui oleh tim TI, naik dari posisi 40% pada tahun lalu.
Namun, tingkat pemanfaatan alat tersebut dinilai masih belum maksimal. Di antara pekerja yang memiliki akses, kurang dari 60% menggunakannya sebagai bagian dari alur kerja harian, sehingga potensi produktivitas dan inovasi dianggap masih belum tergali sepenuhnya.
Laporan tersebut juga menyoroti potensi otomatisasi pekerjaan yang masif dalam waktu dekat. Sebanyak 36% perusahaan memproyeksikan setidaknya 10% dari pekerjaan mereka akan terotomatisasi penuh dalam satu tahun ke depan.
Angka tersebut diprediksi meningkat drastis dalam jangka menengah. Sekitar 82% perusahaan memperkirakan tingkat otomatisasi yang sama akan terjadi dalam kurun waktu tiga tahun mendatang.
Ironisnya, ekspektasi otomatisasi ini belum diikuti dengan penyesuaian struktur organisasi yang memadai. Sebanyak 84% responden mengaku belum mendesain ulang peran kerja karyawan mereka berdasarkan kapabilitas AI, yang menandakan lambatnya perubahan manajemen.
Kepala AI AS di Deloitte Jim Rowan mengatakan organisasi yang sukses dengan AI tidak hanya berinvestasi pada algoritma semata. Menurutnya, investasi pada sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor krusial dalam keberhasilan adopsi teknologi.
"Fokus ganda pada pemajuan kapabilitas talenta dan alat AI memberdayakan tim untuk merangkul model bisnis yang dirancang ulang dan menetapkan dasar bagi keunggulan kompetitif," kata Rowan dalam laporannya.
Selain tantangan internal, isu Sovereign AI atau kedaulatan AI menjadi prioritas strategis baru bagi korporasi. Sebanyak 83% perusahaan menyatakan kendali atas perangkat lunak dan data sesuai hukum lokal adalah hal penting, sementara 66% khawatir terhadap ketergantungan pada vendor asing.
Riset PwC
Sebelumnya, survei yang dilakukan oleh PwC, sebuah firma jasa profesional global, menyebutkan bahwa penurunan kepercayaan ini disebabkan oleh CEO yang masih bergulat dengan hasil penerapan AI yang tidak merata, meningkatnya risiko geopolitik, serta ancaman siber yang kian besar.
Menurut laporan Survei CEO Global ke-29 PwC yang didasarkan pada tanggapan 4.454 CEO di 95 negara dan wilayah, hanya 30% CEO yang menyatakan yakin terhadap pertumbuhan pendapatan selama 12 bulan ke depan. Angka ini turun dari 38% pada survei tahun 2025 dan 56% pada tahun 2022.
Salah satu kekhawatiran terbesar para CEO adalah perubahan teknologi yang sangat cepat, termasuk AI. Sebelumnya, AI dianggap sebagai solusi ajaib untuk meningkatkan kinerja bisnis. Namun kenyataannya, hanya 12% CEO yang merasa AI benar-benar memberikan keuntungan finansial. Artinya, ada 88% CEO yang tidak merasakan dampak AI terhadap pertumbuhan bisnis.
Sebaliknya, sebanyak 56% CEO mengaku belum melihat manfaat finansial yang signifikan dari penerapan AI.
Ketua Global PwC, Mohamed Kande, mengatakan hanya sedikit perusahaan yang berhasil menjadikan AI sebagai sumber keuntungan nyata, sementara banyak perusahaan lainnya masih berada pada tahap uji coba. Akibatnya, kesenjangan dalam kepercayaan diri dan daya saing antar perusahaan semakin melebar.
“Tahun 2026 tampaknya akan menjadi tahun yang menentukan bagi AI,” ujar Kande, dikutip dari situs resmi PwC, Selasa (20/1/2025).
Namun, bagi perusahaan yang telah menggunakan AI secara serius dalam produk dan layanan mereka, keuntungan yang diperoleh cukup signifikan, yakni hampir 4% lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang belum menerapkannya. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)
AI membuka peluang kerja fisik baru, seperti teknisi dan pekerja konstruksi, seiring meningkatnya permintaan infrastruktur AI global, kata CEO Nvidia Jensen Huang. [576] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Para tokoh besar di dunia teknologi sepakat bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya akan melahirkan pekerjaan berbasis digital, tetapi juga membuka banyak peluang kerja fisik yang membutuhkan keahlian teknis.
Mulai dari teknisi, tukang listrik, hingga pekerja konstruksi diprediksi akan menjadi bagian penting dari ekosistem AI di masa depan.
Pandangan ini mencuat dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, ketika para pemimpin industri AI berkumpul untuk membahas masa depan teknologi, dampaknya terhadap lapangan kerja, serta isu apakah ledakan AI saat ini hanyalah sebuah gelembung ekonomi.
CEO Nvidia Jensen Huang mengatakan bahwa AI bukanlah gelembung. Menurutnya, salah satu bukti terkuat adalah tingginya permintaan GPU Nvidia di seluruh dunia.
Saat ini, GPU Nvidia digunakan di hampir semua layanan cloud, dan menyewanya menjadi semakin sulit karena permintaan yang terus meningkat, bahkan untuk model lama.
Huang menjelaskan bahwa lonjakan investasi AI terjadi karena hampir semua sektor kini membutuhkannya. Perusahaan farmasi, misalnya, mulai mengalihkan anggaran riset dari laboratorium tradisional ke superkomputer AI.
Akibatnya, dunia kini sedang membangun infrastruktur AI dalam skala masif mulai dari pusat data, pembangkit listrik, hingga jaringan pendukung lainnya.
“Ini adalah pembangunan infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia,” ujar Huang mengutip The Verge, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, proyek-proyek ini menciptakan banyak lapangan kerja bergaji tinggi, terutama bagi tenaga teknis seperti teknisi chip, pekerja pabrik, dan ahli infrastruktur.
Pandangan serupa disampaikan CEO Microsoft Satya Nadella. Dia juga menilai AI bukan sekadar tren sesaat. Menurut Nadella, jika AI benar-benar hanya gelembung, dampaknya akan terbatas di sektor teknologi.
Namun kenyataannya AI sudah mempercepat riset obat, meningkatkan efisiensi layanan publik, dan mendorong produktivitas di berbagai industri.
Meski begitu, Nadella menekankan bahwa keberhasilan AI harus diukur dari manfaat nyatanya bagi masyarakat. Jika AI hanya menghabiskan energi tanpa memberikan dampak positif pada kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, maka dukungan publik terhadap teknologi ini bisa hilang.
Pandangan para ahli mengenai dampak AI terhadap Pekerjaan
Soal dampak AI terhadap pekerjaan, pendapat para ahli masih beragam. Beberapa riset memperkirakan AI dapat menggantikan jutaan pekerjaan dalam satu dekade ke depan.
Bahkan ada laporan yang memperingatkan bahwa hingga puluhan juta pekerjaan di Amerika Serikat berisiko terdampak oleh otomatisasi.
Namun Huang justru melihat sisi lain. Menurutnya, AI akan menciptakan banyak pekerjaan baru, terutama di sektor keahlian teknis.
“Industri energi, chip, dan pusat data semuanya menciptakan lapangan kerja,” katanya.
Bahkan, pekerjaan-pekerjaan ini bisa menawarkan gaji sangat tinggi bagi tenaga terampil.
Begitu juga dengan CEO Palantir Alex Palantir yang juga memprediksi bahwa pekerjaan berbasis kejuruan dan keterampilan teknis akan menjadi tulang punggung pasar kerja yang stabil. Menurutnya, teknisi dan pekerja terlatih justru akan semakin dibutuhkan dan dihargai di era AI.
Sementara itu, Nadella menekankan pentingnya keterampilan AI yang bisa dipelajari dan diterapkan langsung. Ia berharap ada hubungan yang jelas antara menguasai keterampilan AI dan peluang mendapatkan pekerjaan, seperti dulu ketika kemampuan menggunakan Excel atau Word menjadi nilai tambah di dunia kerja.
Di tengah optimisme tersebut, CEO Salesforce Marc Benioff justru menyampaikan peringatan. Meski perusahaannya sangat agresif mengadopsi AI, Benioff menyoroti risiko serius dari teknologi ini, terutama terkait keselamatan pengguna dan anak-anak.
Benioff menekankan bahwa AI masih sering menghasilkan informasi yang keliru dan bisa berdampak berbahaya jika tidak diatur dengan baik. Menurutnya, pemerintah perlu segera hadir dengan regulasi yang jelas agar perkembangan AI tidak mengorbankan keselamatan dan nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, masa depan AI bukan hanya soal algoritma dan chatbot pintar. Dunia juga membutuhkan lebih banyak pekerja lapangan mereka yang mengenakan helm pengaman dan sepatu bot untuk membangun fondasi fisik dari revolusi teknologi terbesar abad ini. (Nur Amalina)
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56