Indonesia berambisi menjadi pemain utama industri baterai EV dengan mengolah nikel, berpotensi meningkatkan nilai tambah hingga 100 kali lipat. [1,171] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Ambisi Indonesia mengubah statusnya dari eksportir bahan mentah menjadi pemain utama industri bateraikendaraan listrik memasuki fase krusial.
Di tengah tren penurunan harga baterai global, perubahan teknologi penyimpanan energi, hingga meningkatnya persaingan manufaktur dari Cina, pemerintah dan pelaku industri tetap optimistis hilirisasi nikel menuju baterai masih menawarkan prospek ekonomi yang menjanjikan.
Optimisme itu salah satunya datang dari PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC). Perusahaan pelat merah yang menjadi motor pengembangan ekosistem baterai nasional tersebut memperkirakan nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan nikel hingga menjadi baterai dapat mencapai 100 kali lipat dibandingkan menjual bijih nikel mentah.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, nilai tambah tersebut hanya bisa diwujudkan apabila Indonesia berhasil membangun rantai pasok baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Kalau kita berhasil membangun value chain nikel sampai ke baterai end-to-end dan betul-betul terintegrasi, nilai tambah dari nikelnya sendiri itu kami prediksi bisa sampai 100 kali nickel ore," ujarnya dalam podcast Broad Cash Bisnis.com, dikutip Selasa (23/6/2026).
Pernyataan itu menjadi salah satu gambaran mengenai besarnya potensi ekonomi yang ingin diraih Indonesia melalui program hilirisasi mineral, khususnya nikel.
Maklum, selama ini Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, tetapi sebagian besar nilai tambah masih dinikmati negara lain yang mengolah mineral tersebut menjadi produk manufaktur berteknologi tinggi.
Putar Otak Optimalkan Nikel
Di satu sisi, Aditya mengungkapkan IBC tengah menjajaki pengembangan teknologi baterai generasi baru yang tetap mengandalkan kandungan nikel tinggi. Langkah ini ditempuh untuk menjaga relevansi komoditas nikel Indonesia di tengah perubahan tren industri baterai global.
Dia mengatakan, perusahaan memiliki mandat untuk mendukung hilirisasi nikel nasional. Oleh karena itu, IBC tidak hanya berfokus pada pengembangan baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC) maupun lithium iron phosphate (LFP), tetapi juga mulai mengeksplorasi teknologi baterai baru yang berpotensi menggunakan nikel dalam porsi signifikan.
"Kami juga sekarang sedang mengembangkan potensi-potensi kerja sama lain untuk teknologi baterai yang lebih baru. Jadi teknologi baterai yang baru yang kami approach itu adalah yang memang posibilitas untuk menggunakan nikelnya masih cukup tinggi," katanya.
Dia menjelaskan, teknologi tersebut masih berada pada tahap awal pengembangan sehingga arah komersialisasi dan pilihan materialnya masih sangat beragam. Namun, IBC tidak ingin terlambat masuk ke segmen tersebut karena sejumlah produsen global telah mengumumkan rencana produksi komersial dalam waktu dekat.
"Kita juga harus cepat-cepat. Karena negara lain sudah banyak yang mulai, pabrikan lain sudah banyak yang bahkan sudah announce akan melakukan skala komersialnya di akhir tahun ini," ujarnya.
Setali tiga uang, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menilai, perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari.
"Teknologi itu berkembang," ujarnya ketika ditanya mengenai prospek baterai berbasis nikel di tengah maraknya penggunaan LFP.
Meski demikian, pemerintah masih melihat ruang bagi pemanfaatan nikel dalam teknologi baterai masa depan. Menurut Yuliot, kombinasi penggunaan berbagai material masih sangat mungkin terjadi seiring evolusi teknologi penyimpanan energi.
Ilustrasi
Karawang Jadi Ujung Tombak Hilirisasi
Optimisme terhadap masa depan industri baterai nasional tidak hanya bertumpu pada potensi teknologi, tetapi juga pada pembangunan fasilitas manufaktur skala besar yang saat ini tengah berlangsung.
Salah satu proyek utama adalah pembangunan ekosistem baterai terintegrasi hasil kerja sama IBC dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) yang bakal diluncurkan Juli 2026 mendatang.
Pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat itu digarap oleh konsorsium Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) dengan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) dan IBC. CBL merupakan anak usaha dari CATL.
Konsorsium perusahaan-perusahaan itu pun membentuk perusahaan baru khusus mengelola pabrik baterai tersebut, yakni PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).
Adapun kapasitas produksi tahap pertama dirancang mencapai 6,9 GWh per tahun. Kapasitas tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik maupun sistem penyimpanan energi atau battery energy storage system (BESS).
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menilai, proyek baterai nasional tersebut masih memiliki prospek ekonomi yang kuat meskipun industri global menghadapi tekanan harga.
Menurutnya, proyek hulu-hilir senilai Rp98 triliun yang tengah dikembangkan konsorsium IBC dan CATL di Karawang masih layak secara komersial.
"Pabrik baterai tersebut dibangun dengan konsep captive market, yang menjamin produksi langsung diserap produsen otomotif. Pemerintah Indonesia saat ini sedang menggencarkan penggunaan mobil listrik, di mana untuk mobil listrik di Indonesia bisa menggunakan baterai berbasis nikel yang cadangannya cukup banyak di Indonesia," ucap Sudirman kepada Bisnis.
Selain itu, proyek tersebut dirancang mengintegrasikan seluruh rantai pasok mulai dari penambangan nikel, pengolahan bahan baku, produksi prekursor dan katoda, hingga manufaktur sel baterai.
Integrasi tersebut dinilai mampu menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan efisiensi produksi, dua faktor yang sangat menentukan daya saing industri baterai global.
Tak hanya menyasar kendaraan listrik, baterai produksi dalam negeri juga diproyeksikan memasok kebutuhan Energy Storage System (ESS) yang permintaannya terus meningkat seiring ekspansi energi terbarukan.
"Selain untuk mobil listrik, baterai produksi dalam negeri juga disiapkan untuk sistem penyimpanan energi atau ESS, seiring melonjaknya tren energi bersih," kata Sudirman.
Di luar pasar domestik, Indonesia juga membidik posisi yang lebih strategis dalam rantai pasok regional.
Sudirman berpendapat, apabila fasilitas baterai nasional mampu memproduksi baterai secara massal dengan harga kompetitif, peluang ekspor ke negara-negara Asia Tenggara akan terbuka lebar.
Prospek tersebut muncul seiring percepatan adopsi kendaraan listrik dan pembangunan sistem penyimpanan energi di kawasan.
Namun, untuk mencapai tahap tersebut Indonesia harus mampu menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Produksi tambang dan smelter nikel perlu tetap terjaga agar industri baterai memiliki kepastian suplai jangka panjang.
Antara Peluang dan Risiko
Meski prospeknya menjanjikan, sejumlah kalangan mengingatkan bahwa klaim nilai tambah hingga 100 kali lipat tidak otomatis menjamin keuntungan besar.
Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita berpendangan, konsep hilirisasi memang secara teoritis mampu menghasilkan nilai tambah jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor bahan mentah.
Namun, dalam praktiknya keberhasilan sangat ditentukan oleh kemampuan industri nasional bersaing secara global. Menurutnya, industri baterai saat ini menghadapi tekanan margin akibat penurunan harga yang berlangsung cepat. Oleh karena itu, keunggulan sumber daya alam saja tidak cukup.
"Jadi proyek baterai nasional masih bisa ekonomis, tetapi dengan syarat sangat ketat, yakni harus berbasis efisiensi, teknologi yang tepat, dan integrasi rantai pasok yang solid, bukan hanya bertumpu pada keunggulan bahan baku," ujarnya.
Ronny menilai, Indonesia memang memiliki peluang besar menjadi basis produksi baterai regional berkat dominasi cadangan nikel global. Namun, negara ini perlu bergerak lebih jauh dari sekadar pemasok bahan baku.
Dia mengingatkan bahwa penguasaan teknologi, pengembangan industri prekursor dan katoda, serta kepastian regulasi menjadi faktor yang menentukan keberhasilan jangka panjang.
"Tanpa itu, ada risiko Indonesia hanya menjadi basis produksi berbasis sumber daya, bukan pusat manufaktur bernilai tinggi," imbuh Ronny.
Dia mengidentifikasi tiga risiko utama yang perlu diantisipasi. Pertama, risiko pasar akibat perubahan teknologi baterai global yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap nikel.
Kedua, risiko efisiensi dan biaya produksi yang menentukan daya saing terhadap produsen besar seperti China. Ketiga, risiko tata kelola, termasuk isu lingkungan dan tuntutan standar ESG yang semakin ketat.
Ronny mengatakan, jika tantangan tersebut dapat diatasi, hilirisasi nikel menuju baterai berpotensi menjadi salah satu transformasi industri terbesar Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
"Jika risiko-risiko ini tidak dikelola dengan baik, maka hilirisasi bisa berhenti pada tahap awal dan tidak mencapai nilai tambah optimal seperti yang diharapkan," ucap Ronny.
ANTM dikeluarkan dari MSCI Small Cap Index, namun tetap fokus pada fundamental bisnis, strategi hilirisasi, dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik. [439] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam menegaskan fundamental bisnis dan arah strategis perseroan tetap terjaga dengan baik di tengah dinamika pasar global dan perubahan komposisi indeks pasar modal internasional.
Sebagaimana diketahui, MSCI Inc. secara resmi telah mengumumkan hasil peninjauan berkala indeks saham global periode Mei 2026 yang akan efektif berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Dalam revieu tersebut, sejumlah emiten Indonesia tercatat keluar dari indeks MSCI Global Standard maupun MSCI Global Small Cap.
Untuk MSCI Indonesia Index pada MSCI Global Standard Indexes, tidak ada saham baru yang masuk. Sebaliknya, MSCI menghapus enam saham Indonesia dari indeks tersebut, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.
Sementara itu, untuk MSCI Global Small Cap, ANTM menjadi salah satu dari 13 saham Indonesia yang dikeluarkan dari indeks tersebut. Saham-saham lainnya yang dicoret dari MSCI Small Cap Index, yakni AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, dan MIKA. Kemudian, MSCI juga menghapus saham MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG dari MSCI Small Cap Index.
Corporate Secretary ANTM Wisnu Danandi Haryanto menyebut bahwa dinamika indeks global merupakan bagian dari proses pasar modal internasional yang terus berkembang, dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk market structure, market accessibility, likuiditas, serta evaluasi indeks secara berkala.
“Antam memandang dinamika pasar sebagai bagian dari mekanisme pasar modal global yang wajar. Perseroan tetap fokus menjaga fundamental bisnis, memperkuat operational excellence, serta memastikan keberlanjutan strategi pertumbuhan jangka panjang,” ujar Wisnu dalam keterangannya, dikutip Kamis (14/5/2026).
Antam menegaskan bahwa fundamental bisnis perseroan tetap solid seiring dengan berjalannya strategi penghiliran mineral dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Perseroan juga memastikan bahwa proyek-proyek strategis, termasuk pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik berbasis nikel, tetap berjalan sesuai dengan rencana.
Sejalan dengan itu, ANTM juga terus mendorong penguatan kualitas tata kelola perusahaan, transparansi, dan keterbukaan informasi kepada investor domestik maupun global. Perseroan menilai aspek transparency, disclosure, dan investor engagement menjadi bagian penting dalam memperkuat daya tarik investasi jangka panjang perseroan di pasar global.
“Antam akan terus fokus pada penciptaan value jangka panjang melalui penguatan fundamental bisnis, hilirisasi, serta implementasi tata kelola perusahaan yang baik dan berstandar internasional,” kata Wisnu.
Selain menjaga pertumbuhan bisnis, Antam juga terus memperkuat kualitas komunikasi dengan investor melalui peningkatan kualitas public disclosure, penguatan engagement dengan investor institusi global, serta partisipasi aktif dalam berbagai forum investasi internasional.
Perseroan juga menekankan komitmennya terhadap penerapan tata kelola perusahaan yang baik melalui berbagai standar internasional, termasuk penguatan ESG governance, audit independen, serta sustainability reporting yang berkelanjutan.
---
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –– Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menaikkan tarif impor mobil asal Eropa menuai kritik keras dari industri otomotif Jerman. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan pada sektor otomotif yang tengah menghadapi tantangan global.
Ketua Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA) Hildegard Mueller menyatakan bahwa rencana kenaikan tarif akan memberikan “beban serius” terhadap hubungan ekonomi transatlantik antara Amerika Serikat dan Eropa.
Menurut Mueller, tambahan pungutan tersebut tidak hanya berdampak pada produsen otomotif di Jerman dan Eropa, tetapi juga berpotensi merugikan konsumen di Amerika Serikat melalui kenaikan harga kendaraan.
Ia menegaskan bahwa industri otomotif saat ini sedang berada dalam tekanan, baik akibat dinamika pasar global maupun transformasi menuju kendaraan listrik. Kebijakan tarif baru dinilai akan memperburuk kondisi tersebut.
Mueller mendesak pemerintah di Brussel dan Washington untuk segera meredakan ketegangan melalui dialog. Ia juga menyerukan agar kedua pihak tetap mematuhi aturan perdagangan internasional yang telah disepakati bersama.
Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social, di mana ia menyatakan akan menaikkan tarif impor mobil dan truk dari Uni Eropa hingga 25 persen mulai pekan depan.
Trump membenarkan langkah itu dengan menuduh Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan yang telah disepakati sebelumnya. Pernyataan tersebut mempertegas potensi meningkatnya ketegangan dagang antara kedua kekuatan ekonomi tersebut.
Menanggapi hal itu, Uni Eropa menyatakan akan tetap membuka berbagai opsi untuk melindungi kepentingannya jika Amerika Serikat mengambil langkah yang dianggap tidak sesuai dengan kesepakatan perdagangan bersama.
Kesepakatan yang dimaksud mencakup komitmen kedua pihak untuk menjaga perdagangan yang timbal balik, adil, dan seimbang, sebagaimana disepakati dalam pernyataan bersama tahun lalu.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menggandeng Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) untuk mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin (20/4/2026), menyampaikan kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik nasional, khususnya pada rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir.
Kemitraan tersebut diumumkan bertepatan dengan peringatan 55 tahun Toyota Indonesia. Dalam kerja sama ini, TMMIN mengalokasikan investasi sebesar Rp 1,3 triliun guna meningkatkan kapasitas produksi baterai sekaligus mendorong lokalisasi komponen penting di dalam negeri.
Ia menyampaikan, kolaborasi dengan CATL akan memperluas kemampuan produksi baterai, tidak hanya pada tahap perakitan, tetapi juga hingga produksi sel dan modul baterai. Ia menyampaikan, saat ini TMMIN memiliki lini produksi battery pack di pabrik Karawang, Jawa Barat, untuk memproduksi baterai Toyota Kijang Innova Zenix HEV, Veloz HEV, dan Yaris Cross HEV.
Melalui kolaborasi strategis dengan CATL di Indonesia, pihaknya berupaya meningkatkan kemampuan produksi battery assy pack hingga pembuatan sel baterai dan modul secara menyeluruh.
"Komponen sel baterai dan modul yang saat ini diimpor nantinya akan diproduksi oleh SDM Indonesia. Kemitraan ini tidak hanya akan memperbesar investasi, tetapi juga mendukung inisiatif multipathway Toyota menuju netralitas karbon melalui penguatan rantai pasok lokal," kata dia.
Melalui kerja sama ini, Toyota juga memperdalam lokalisasi baterai hybrid electric vehicle (HEV) guna mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan daya saing industri otomotif nasional. Penguatan kapasitas produksi domestik diharapkan mampu mendorong Indonesia menjadi basis produksi dan ekspor kendaraan elektrifikasi serta komponen utamanya ke pasar global.
Pihaknya menargetkan ekspor baterai mulai paruh kedua 2026, baik dalam bentuk baterai yang terpasang pada kendaraan maupun komponen baterai secara terpisah.
Langkah ini, menurutnya, menandai peran Indonesia yang semakin penting dalam rantai pasok global kendaraan listrik.
Antam, IBC, dan HYD menandatangani perjanjian untuk mengembangkan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia, mendukung ambisi negara menjadi hub baterai dunia. [373] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam telah menandatangani framework agreement dengan PT Industri Baterai Indonesia (PT IBI) dan HYD Investment Limited (HYD) dalam rangka rencana pengembangan hilirisasi nikel.
Direktur Pengembangan Usaha ANTM I Dewa Wirantaya menyampaikan proyek ini merupakan bagian dari inisiatif pengembangan ekosistem baterai terintegrasi antara perseroan, PT IBI, dan HYD.
"Perseroan telah menandatangani Framework Agreement bersama PT IBI dan HYD pada tanggal 30 Januari 2026. Penandatanganan Framework Agreement ini sehubungan dengan rencana pengembangan hilirisasi nikel dalam rangka inisiatif pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia," tulis I Dewa Wirantaya dalam keterbukaan informasi, dikutip Senin (2/2/2026).
Adapun, Framework Agreement tersebut belum berlaku efektif pada tanggal penandatanganan, melainkan berlaku efektif setelah seluruh kondisi prasyarat sebagaimana diatur dalam Framework Agreement sudah terpenuhi.
Di dalam Framework Agreement tersebut, terdapat ketentuan-ketentuan utama kerja sama Para Pihak, termasuk namun tidak terbatas pada ruang lingkup pengembangan proyek hilirisasi nikel yang terintegrasi dari hulu ke hilir, prinsip tata kelola kerja sama.
Selanjutnya, tahapan pengembangan proyek serta kerangka pengaturan teknis dan finansial yang akan dikaji lebih lanjut melalui studi kelayakan bersama (joint feasibility study).
"Framework Agreement merupakan kerangka awal, dan pelaksanaan kerja sama selanjutnya akan tunduk pada pemenuhan kondisi prasyarat pendahuluan, serta perundingan dan penandatanganan perjanjian-perjanjian definitif," tulis I Dewa Wirantaya.
Indonesia menargetkan diri menjadi hub ekosistem baterai dunia dan bahkan membidik posisi sebagai produsen terbesar kedua setelah China. Ambisi itu mulai diwujudkan melalui percepatan megaproyek baterai terintegrasi yang digarap PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Industri Baterai Indonesia (IBC/IBI) dan konsorsium global HYD Investment Limited.
Proyek senilai US$5 miliar-US$6 miliar itu telah dimulai dengan penandatanganan Framework Agreement (FA) antara ANTAM, IBC, dan mitra strategis global Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd.
Kolaborasi tersebut turut melibatkan HYD Investment Limited—konsorsium dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan EVE Energy Co., Ltd.—serta PT Daaz Bara Lestari Tbk.
Kerja sama ini diarahkan untuk membangun rantai pasok baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir di dalam negeri, mulai dari pengelolaan sumber daya nikel, pengolahan dan pemurnian, hingga produksi sel baterai.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Indonesia berambisi menjadi hub ekosistem baterai dunia dengan proyek senilai US$5-6 miliar oleh Antam, IBC, dan HYD untuk memperkuat hilirisasi nikel. [616] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Indonesia menargetkan diri menjadi hub ekosistem baterai dunia dan bahkan membidik posisi sebagai produsen terbesar kedua setelah China. Ambisi itu mulai diwujudkan melalui percepatan megaproyek baterai terintegrasi yang digarap PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Industri Baterai Indonesia (IBC/IBI) dan konsorsium global HYD Investment Limited.
Proyek senilai US$5 miliar-US$6 miliar itu telah dimulai dengan penandatangananFramework Agreement(FA) antara ANTAM, IBC, dan mitra strategis global Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. Kesepakatan ini menjadi kerangka kerja awal percepatan program hilirisasi nikel sekaligus investasi pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia.
Kolaborasi tersebut turut melibatkan HYD Investment Limited—konsorsium dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan EVE Energy Co., Ltd.—serta PT Daaz Bara Lestari Tbk.
Kerja sama ini diarahkan untuk membangun rantai pasok baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir di dalam negeri, mulai dari pengelolaan sumber daya nikel, pengolahan dan pemurnian, hingga produksi sel baterai.
Direktur Utama Antam Untung Budiharto mengatakan perusahaan akan menjadi penyedia bahan baku strategis yang dikelola secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan mandat perseroan dalam memperkuat hilirisasi mineral nasional.
“Kami memandang kolaborasi ini sebagai bagian dari transformasi strategis untuk memastikan sumber daya mineral Indonesia memberikan nilai tambah maksimal di dalam negeri,” kata Untung dalam keterangan resminya, Jumat (30/1/2026).
Ekosistem baterai terintegrasi ini akan mencakup pembangunan fasilitas produksi baterai yang detailnya akan difinalkan melalui studi kelayakan. Proyek tersebut memiliki potensi kapasitas hingga 20 GWh dengan estimasi nilai investasi mencapai US$5 miliar–US$6 miliar atau setara dengan Rp83,95 triliun Rp100,74 triliun (kurs Rp16.790 per dolar AS).
Investasi jumbo itu diproyeksikan menciptakan ribuan lapangan kerja baru, memperkuat struktur industri nasional, serta memberi kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan agenda transisi energi Indonesia.
“Melalui sinergi dengan IBC dan mitra global seperti Huayou, Antam berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi yang berkelanjutan, berdaya saing, dan sejalan dengan kepentingan strategis nasional,” tuturnya.
Sementara itu, Presiden Direktur Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., Chen Xuehua, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai global, baik dari sisi ketersediaan sumber daya maupun arah kebijakan industrialisasi.
“Huayou melihat Indonesia sebagai mitra strategis jangka panjang dalam pengembangan industri baterai global. Melalui kerja sama ini, kami berkomitmen menghadirkan teknologi, pengalaman industri, serta praktik keberlanjutan global untuk mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia,” ujarnya.
Sebagai entitas yang mendapat mandat pemerintah mengembangkan industri baterai nasional, IBI berperan sebagai penghubung sekaligus orkestrator sinergi antara industri dalam negeri dan mitra global, termasuk dalam aspek teknologi dan tata kelola proyek. Kolaborasi ini juga membuka peluang alih teknologi serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri baterai terintegrasi global.
“IBC dibentuk untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi pusat industri baterai terintegrasi yang berdaya saing global dan berkelanjutan. Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kuat seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem industri nasional bernilai tambah tinggi,” ujar Aditya.
Framework Agreement ini menjadi landasan bagi penyusunan studi kelayakan bersama serta perjanjian definitif yang akan dijalankan secara bertahap. ANTAM, IBC, dan Huayou menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh tahapan proyek berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik, keberlanjutan, dan kepentingan strategis nasional.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pengembangan industri ini masih membutuhkan dukungan mitra luar negeri, terutama dalam bentuk transfer teknologi, akses pasar, dan manajemen profesional.
Namun, dia menegaskan bahwa kepemilikan mayoritas akan dipegang ANTAM sebagai BUMN karena harus memprioritaskan kepentingan negara sesuai Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
“Kita ingin menjadikan Indonesia sebagai hub daripada ekosistem baterai mobil, terutama bahan baterai mobilnya. Kalau ini terjadi maka kita terbesar nomor dua setelah China,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (30/1/2026).
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56