#30 tag 24jam
BI: Porsi Pendapatan Masyarakat untuk Cicilan Naik, Tabungan Turun
Porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk membayar cicilan dan utang menunjukkan peningkatan pada Mei 2026. [1,032] url asal
#cicilan #kondisi-ekonomi #pendapatan-masyarakat #pembayaran-cicilan #rasio-tabungan #rasio-cicilan
(Kompas.com - Money) 11/06/26 18:01
v/247457/
JAKARTA, KOMPAS.com — Porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk membayar cicilan dan utang menunjukkan peningkatan pada Mei 2026.
Di saat yang sama, porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan justru menurun, meski keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap berada pada level optimistis. Data ini tergambar dalam Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) periode Mei 2026.
Survei tersebut mencatat rasio pembayaran cicilan terhadap pendapatan atau debt installment to income ratio mencapai 10,2 persen pada Mei 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 9,7 persen.
SHUTTERSTOCK/MINTRATH Ilustrasi tabungan, menabung.Sebaliknya, rasio tabungan terhadap pendapatan atau saving to income ratio turun menjadi 17,5 persen dari sebelumnya 18,2 persen.
Sementara itu, proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi relatif stabil. Pada Mei 2026, rata-rata proporsi konsumsi terhadap pendapatan tercatat sebesar 72,3 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 72,1 persen.
BI menyebut kondisi tersebut terjadi di tengah keyakinan konsumen yang masih kuat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ekonomi ke depan.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2026 berada di level 120,9 atau masih berada di zona optimistis karena berada di atas level 100. Meski demikian, angka tersebut lebih rendah dibandingkan April 2026 yang sebesar 123,0.
Porsi cicilan naik di tengah optimisme konsumen
Kenaikan rasio cicilan menjadi salah satu perubahan yang menonjol dalam komposisi penggunaan pendapatan rumah tangga pada Mei 2026.
SHUTTERSTOCK/CHAYANUPHOL Ilustrasi utang, utang pribadi.Berdasarkan grafik komposisi penggunaan pendapatan rumah tangga yang dirilis BI, peningkatan porsi pembayaran cicilan terjadi bersamaan dengan penurunan porsi tabungan.
Data BI menunjukkan masyarakat masih mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan konsumsi.
Dari setiap Rp 100 pendapatan yang diperoleh rumah tangga, rata-rata Rp 72,3 digunakan untuk konsumsi, Rp 10,2 untuk membayar cicilan atau utang, dan Rp 17,5 disimpan dalam bentuk tabungan.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa ruang yang tersedia untuk menabung menjadi lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya. Pada April 2026, rata-rata rumah tangga mengalokasikan 18,2 persen pendapatannya untuk tabungan, sementara porsi cicilan berada di level 9,7 persen.
Kelompok berpendapatan tinggi mencatat kenaikan cicilan
Berdasarkan kelompok pengeluaran, kenaikan porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan terutama terjadi pada kelompok masyarakat dengan tingkat pengeluaran lebih tinggi.
Survei BI menunjukkan rasio pembayaran cicilan meningkat pada kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta menjadi 10,7 persen. Sementara pada kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta, rasio pembayaran cicilan mencapai 12,8 persen.
Di sisi lain, proporsi konsumsi terhadap pendapatan mengalami peningkatan pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta menjadi 76,7 persen dan kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta menjadi 72,2 persen.
Pada kelompok pengeluaran lainnya, proporsi konsumsi terindikasi menurun.
Data tersebut menunjukkan bahwa perubahan penggunaan pendapatan tidak terjadi secara merata di seluruh kelompok masyarakat.
Sebagian kelompok meningkatkan porsi konsumsi, sementara kelompok dengan pengeluaran lebih tinggi mencatat peningkatan alokasi untuk pembayaran cicilan.
FREEPIK/JCOMP Ilustrasi gaji. Gaji bulanan rata-rata tertinggi di ASEAN 2026, Singapura tertinggi.Pendapatan saat ini masih dinilai baik
Meski porsi cicilan meningkat, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini masih berada pada level optimistis. Hal itu tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 112,2 pada Mei 2026.
Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan April 2026 yang sebesar 116,5, namun masih berada di atas level 100.
Tetap kuatnya IKE ditopang oleh tiga komponen utama, yakni Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) sebesar 123,2, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) sebesar 105,0, serta Indeks Pembelian Barang Tahan Lama atau durable goods (IPDG) sebesar 108,3.
Ketiga indeks tersebut masih berada di zona optimistis meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, persepsi terhadap penghasilan saat ini juga masih kuat pada seluruh kelompok masyarakat. Indeks tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta yang mencapai 129,7.
Dari sisi usia, kelompok responden berusia 20 hingga 30 tahun mencatat indeks penghasilan saat ini tertinggi, yakni sebesar 132,1.
Ekspektasi ekonomi enam bulan ke depan tetap optimistis
Selain kondisi ekonomi saat ini yang masih dinilai baik, konsumen juga tetap optimistis terhadap prospek ekonomi enam bulan mendatang.
Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Mei 2026 tercatat sebesar 129,7, sedikit meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 129,6. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh membaiknya ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja dan kegiatan usaha.
Thinkstockphotos.com Ilustrasi konsumenBI mencatat indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja mencapai 128,1, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 127,7. Sementara indeks ekspektasi kegiatan usaha meningkat menjadi 124,5 dari sebelumnya 124,1.
Adapun ekspektasi penghasilan enam bulan ke depan tetap berada pada level optimistis dengan indeks sebesar 136,5, meski sedikit lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 136,9.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, optimisme terhadap penghasilan masa depan terlihat pada seluruh kelompok masyarakat. Indeks tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta yang mencapai 138,2.
Sementara dari sisi usia, kelompok 20 hingga 30 tahun mencatat ekspektasi penghasilan tertinggi sebesar 142,6. Kelompok usia 31 sampai 40 tahun dan 41 hingga 50 tahun juga mengalami peningkatan indeks masing-masing menjadi 140,4 dan 135,9.
Keyakinan konsumen tetap kuat
Secara umum, Survei Konsumen BI menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap kuat pada Mei 2026. IKK tercatat sebesar 120,9, masih berada di level optimistis meskipun lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 123,0.
Optimisme konsumen ditopang oleh persepsi yang masih positif terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ekonomi ke depan. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini tercatat sebesar 112,2, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen mencapai 129,7.
Menurut hasil survei, keyakinan konsumen tetap berada di level optimistis pada seluruh kelompok pengeluaran. IKK tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta sebesar 124,6.
Dari sisi usia, kelompok 20 sampai 30 tahun menjadi kelompok paling optimistis dengan IKK mencapai 129,1.
Dengan demikian, gambaran kondisi keuangan rumah tangga pada Mei 2026 menunjukkan konsumsi yang relatif stabil, kenaikan porsi pembayaran cicilan, dan penurunan porsi tabungan.
Pada saat yang sama, persepsi terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan prospek ekonomi masih berada pada zona optimistis menurut hasil Survei Konsumen Bank Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Prospek Ekonomi Bakal Cerah Tapi Warga RI Kok Lebih Pilih Nabung?
Kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menabung ketimbang konsumsi terjadi saat angka IKK Oktober 2025 melesat ke level 121,2 [716] url asal
#ekonomi-indonesia #konsumsi #tabungan #indeks-keyakinan-konsumen #survei-konsumen #ekspektasi-ekonomi #rasio-tabungan #bank-indonesia
(CNBC Indonesia - News) 10/11/25 14:57
v/34085/
Jakarta, CNBC Indonesia - Kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menabung ketimbang konsumsi terjadi saat angka Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2025 melesat ke level 121,2 dari bulan sebelumnya di level 115.
Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, pada Oktober 2025 rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat sebesar 74,7%, lebih rendah dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 75,1%.
Sementara itu, proporsi pembayaran cicilan/utang (debt to income ratio) tetap di kisaran 11,0%, relatif stabil dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 11,2%, dan proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 14,3%, lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 13,7%.
"Proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi menurun pada sebagian kelompok pengeluaran," dikutip dari Survei Konsumen BI Oktober 2025, Senin (10/11/2025).
BI mencatat, sebagian besar rasio konsumsi per kelompok pengeluaran mengalami penurunan, di antaranya kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta turun dari 71,8% bulan lalu menjadi 70,5% terhadap pendapatannya. Demikian juga kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta-Rp 4 juta dari 74,7% menjadi 72,8%, dan kelompok pengeluaran terbawah, yaitu Rp 1 juta-Rp 2 juta dari Rp 78% menjadi 76,5%.
Rasio konsumsi terhadap pendapatannya naik di antaranya hanya kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta-Rp 5 juta dari 72,4% menjadi 73,6%, dan kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta-Rp 3 juta dari 75,2% menjadi 75,8%.
Sedangkan untuk rasio tabungan terhadap pendapatan untuk seluruh kelompok pengeluaran cenderung mayoritas naik. Kelompok pengeluaran tertinggi, yakni di atas Rp 5 juta per bulan naik dari 14,4% menjadi 16,5%, dan kelompok Rp 4,1 juta sampai Rp 5 juta dari 13,2% menjadi 14,1%.
Adapun untuk kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta-Rp 4 juta tetap di kisaran 14%, sedangkan kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta sampai Rp 3 juta dari 13,5% menjadi 14,6%, dan kelompok pengeluaran Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan dari 14,4% menjadi 14,8%.
"Proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 14,3%, lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 13,7%," tulis BI dalam laporan hasil surveinya.
Sementara itu, untuk porsi pembayaran cicilan/utang terhadap pendapatan konsumen juga mayoritas cenderung turun. Untuk kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan turun dari 13,8% menjadi 13%, dan kelompok Rp 4,1 juta sampai Rp 5 juta dari 14,5% menjadi 12,3%.
Untuk kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta-Rp 4 juta cenderung naik dari 11% menjadi 13,2%, sedangkan kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta sampai Rp 3 juta merosot dari 11,2% menjadi 9,6%, dan kelompok pengeluaran Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan naik sedikit dari 7,6% menjadi 8,7%.
Prospek Ekonomi 6 Bulan ke Depan Membaik
Kondisi makin mencuatnya proporsi pendapatan untuk tabungan itu mencuat di tengah tingginya ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan yang mereka perkirakan meningkat.
Hal ini tercermin dari IEK Oktober 2025 sebesar 133,4, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks pada bulan sebelumnya sebesar 127,2. Kenaikan IEK Oktober 2025 bersumber dari peningkatan seluruh komponen pembentuknya, yaitu Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP), Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK), dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU), yang tercatat masing-masing sebesar 138,4, 132,0, dan 129,6, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 134,3, 123,1, dan 124,2.
Sebagaimana diketahui Survei Konsumen BI ini dilaksanakan terhadap kurang lebih 4.600 rumah tangga sebagai responden (stratified random sampling) di 18 kota: Jakarta, Bandung, Bodebek, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Bandar Lampung, Palembang, Banjarmasin, Padang, Pontianak, Samarinda, Manado, Denpasar, Mataram, Pangkal Pinang, Ambon dan Banten.
Indeks per kota dihitung dengan metode balance score (net balance + 100) yang menunjukkan bahwa jika indeks di atas 100 berarti optimis dan di bawah 100 berarti pesimis.
(arj/mij)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56