Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memandang target tingkat pengembalian aset (return on assets/ROA) mencapai 7 persen dapat dicapai Danantara dengan memperkuat kualitas aset dan menjalankan disiplin seleksi investasi.
Sebagaimana diketahui, target tersebut merupakan permintaan Presiden RI Prabowo Subianto yang disampaikan dalam pidatonya pada acara Indonesia Economic Outlook 2026.
“Agar target tersebut dapat dikejar secara realistis dan berkelanjutan, strategi utama yang perlu ditempuh adalah penguatan kualitas aset dan disiplin seleksi investasi,” kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
Lebih lanjut, Josua memaparkan sejumlah langkah yang perlu ditindaklanjuti oleh Danantara. Pertama, Danantara perlu memprioritaskan proyek dengan arus kas yang relatif pasti dan memiliki dampak pengganda ekonomi tinggi, seperti hilirisasi mineral dan energi yang sudah memiliki pasar jelas serta dukungan kebijakan kuat.
Kedua, pengelolaan portofolio harus berbasis keseimbangan antara proyek jangka panjang berisiko lebih tinggi dan aset yang sudah beroperasi serta menghasilkan pendapatan rutin, sehingga stabilitas imbal hasil terjaga.
Ketiga, penguatan tata kelola menjadi kunci, termasuk transparansi, pengawasan independen, dan pemisahan yang tegas antara pertimbangan komersial dan pertimbangan nonkomersial.
Keempat, optimalisasi kemitraan dengan investor global yang telah terbangun dapat menurunkan beban pembiayaan sendiri dan risk-sharing, sehingga tingkat pengembalian terhadap aset bersih dapat meningkat tanpa menambah tekanan keuangan secara berlebihan.
“Dengan pendekatan tersebut, target 7 persen merupakan pendorong reformasi manajemen investasi negara yang lebih disiplin, efisien, dan berorientasi pada kinerja jangka panjang,” kata Josua.
Menurutnya, target imbal hasil aset sebesar 7 persen yang disampaikan Presiden pada dasarnya merupakan sinyal arah dan standar kinerja yang ingin ditegakkan sejak awal pembentukan Danantara.
“Danantara memang diposisikan sebagai lengan investasi strategis negara dengan mandat besar, baik dalam proyek hilirisasi lintas sektor, pembiayaan infrastruktur, maupun pengelolaan aset global,” kata Josua.
Namun, secara realistis, ia memandang target imbal hasil aset 7 persen bagi entitas yang baru beroperasi sekitar satu tahun tentu tergolong ambisius.
Ia menjelaskan bahwa tantangannya bukan hanya pada menghasilkan laba, tetapi pada konsolidasi tata kelola, penyelarasan portofolio, penguatan manajemen risiko, serta integrasi proyek-proyek yang sebagian masih dalam tahap pembangunan.
Pada tahap awal, jelas Josua, struktur biaya masih tinggi, proyek belum sepenuhnya menghasilkan arus kas, dan sebagian investasi bersifat jangka panjang. Dengan karakter seperti itu, imbal hasil tinggi biasanya baru stabil setelah siklus proyek matang.
“Karena itu, target tersebut dapat dipandang sebagai sasaran strategis jangka menengah yang perlu dicapai secara bertahap, bukan sebagai tekanan jangka pendek yang memaksa pengambilan risiko berlebihan,” kata Josua.
Sebelumnya, merespons permintaan Presiden, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengatakan target tersebut menjadi sinyal agar Danantara dapat meningkatkan standar investasi, dan lebih selektif dalam memilih proyek-proyek strategis dan "high return".
“Ya bagus, dengan adanya ekspektasi lebih tinggi, juga kita akan fokus kepada proyek-proyek yang lebih high return dengan impact yang sama. Kita juga akan sekarang barrier-nya akan lebih tinggi lagi, standar-standarnya dinaikin,” ujar Pandu diwawancarai cegat di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2).
Pandu menegaskan, target yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo akan menjadi acuan baru bagi target kinerja Danantara Indonesia ke depan.
“Ya dikasih angka segitu, ya itu targetnya, kan udah Januari (2026). Ya angka itulah sekarang menjadi ROA yang baru,” kata Pandu.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026