Bisnis.com, JAKARTA — Para investor obligasi bencana (catastrophe bonds/cat bonds) harus menelan pil pahit dari risiko premi (risk premia) yang turun ke level terendah sejak 2022 ketika Badai Ian menerjang Florida, Amerika Serikat. Tekanan tersebut terjadi seiring dengan derasnya aliran modal baru ke pasar yang mendorong penyempitan spread dan menekan potensi imbal hasil.
Hal itu terungkap dalam analisis terbaru dalam laporan perusahaan reasuransi Swiss Re mengenai kondisi pasar insurance-linked securities (ILS) pada Senin (16/2/2026).
“Kami melihat [derasnya] arus modal masuk ke pasar yang mengakibatkan penyempitan spread,” ujar Andy Palmer, Head of ILS Structuring untuk Eropa dan Asia di Swiss Re, kepada Bloomberg News.
Dia mencatat bahwa akan terdapat obligasi jatuh tempo dengan nilai menembus US$11 miliar pada semester I/2026. Namun Swiss Re juga memperkirakan bahwa pipeline penerbitan cat bonds baru tetap kuat.
Sebagai catatan, Badai Ian pada September 2022 menjadi titik balik pasar cat bonds. Sebelum periode tersebut, pasar menikmati fase ketika level kerugian relatif rendah dan likuiditas melimpah, sehingga menekan imbal hasil.
Situasi berubah drastis setelah Ian memicu kerusakan besar di Florida. Bencana tersebut mendorong lonjakan premi risiko karena investor menuntut kompensasi lebih tinggi untuk menanggung eksposur bencana serupa.
Sejak itu, popularitas obligasi bencana meningkat seiring dengan perubahan iklim yang memicu terjadinya cuaca ekstrem lebih sering. Di sisi lain, perusahaan reasuransi juga makin bergantung pada pasar modal untuk menyerap kenaikan risiko.
Sejak 2021, Swiss Re Global Cat Bond Total Return Index mencatat imbal hasil kumulatif 61%, termasuk rekor 20% pada 2023. Namun, kinerja melandai ke sekitar 11% pada 2024 akibat minimnya kerugian besar sehingga penerbit dapat menawarkan kupon lebih rendah.
Adapun imbal hasil cat bonds terdiri atas premi risiko yang ditambah dengan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury). Saat ini, premi risiko berada di kisaran 5,2%, setara dengan level sebelum Badai Ian pada 2022, dan jauh di bawah sekitar 11% yang tersedia pada awal 2023.
Di sisi lain, Swiss Re mencatat obligasi bencana relatif tahan terhadap volatilitas pasar global dan “tetap stabil” di tengah pengumuman kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Kinerja tersebut menegaskan karakteristik instrumen ini yang tidak berkorelasi dengan pasar keuangan secara luas, serta dipengaruhi kondisi musim badai AS yang relatif jinak.
Pasar cat bonds global yang bernilai sekitar US$60 miliar juga mulai merambah kelas risiko baru. Pada 2025, risiko kebakaran hutan (wildfire) menjadi perkembangan penting, seiring meningkatnya kesiapan investor untuk menanggung risiko yang sebelumnya dianggap sulit dimodelkan.
Laporan terpisah dari Howden Capital Markets & Advisory (HCMA) pekan lalu menyebut tingginya penerbitan sepanjang 2025 telah mengukuhkan cat bonds sebagai “jangkar struktural” dalam program reasuransi.
“Sepanjang 2025 hingga pembaruan kontrak Januari, kami melihat cat bonds semakin mapan sebagai komponen inti dalam kerangka manajemen risiko klien,” ujar Mitchell Rosenberg, Co-Head Global ILS di HCMA.
Menurutnya, penerbit tidak lagi memanfaatkan pasar semata untuk menambah kapasitas, melainkan juga untuk menghadirkan ketahanan, diversifikasi, serta kepastian harga dalam strategi reasuransi mereka.