Bisnis.com, JAKARTA – Ketegangan perdagangan Amerika Serikat dan China kembali memanas setelah kedua negara saling menerapkan kontrol ekspor dan tarif perdagangan.
Terbaru, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghentikan perdagangan minyak goreng dengan China, langkah yang berpotensi memperburuk hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.
Dalam pernyataannya yang dikutip dari Bloomberg pada Rabu (15/10/2025), Trump mengatakan kebijakan itu dipertimbangkan sebagai bentuk pembalasan terhadap keputusan Beijing yang menolak membeli kedelai asal AS. Menurutnya, hal tersebut merupakan tindakan bermusuhan secara ekonomi yang sengaja menyulitkan para petani kedelai Amerika.
“Kami sedang mempertimbangkan untuk menghentikan bisnis dengan China yang berkaitan dengan minyak goreng dan sektor perdagangan lainnya sebagai bentuk pembalasan. Sebagai contoh, kami dapat dengan mudah memproduksi minyak goreng sendiri tanpa perlu membelinya dari China,” tulis Trump di media sosial.
Ancaman ini merupakan buntut dari keputusan China yang menjatuhkan sanksi terhadap anak usaha asal AS milik raksasa pelayaran Korea Selatan, Hanwha Ocean Co., serta memperingatkan akan mengambil langkah balasan lebih jauh terhadap industri pelayaran global.
Sanksi tersebut melarang individu maupun lembaga di China melakukan transaksi dengan unit bisnis Hanwha Ocean yang berbasis di AS.
Kedua negara sebelumnya telah saling mengenakan tarif pelabuhan khusus pada kapal masing-masing, sementara Washington berupaya menggandeng sekutunya—terutama Korea Selatan—untuk membangkitkan kembali industri perkapalan AS yang tengah lesu.
Perseteruan ini dinilai krusial bagi perekonomian dunia, mengingat lebih dari 80% perdagangan internasional diangkut melalui jalur laut.
Kepala Kebijakan Perdagangan di Hinrich Foundation Deborah Elms mengatakan sanksi ini menjadi perluasan nyata dari perang dagang yang sedang berlangsung antara kedua negara adidaya tersebut.
“Persoalannya kini tak lagi sebatas tarif dan kontrol ekspor, melainkan siapa yang diperbolehkan beroperasi di pasar mana. Jika tren ini berlanjut, banyak aktivitas ekonomi global yang bisa terdampak serius,”ungkapnya seperti dikutip Bloomberg.
Industri pelayaran menjadi salah satu titik sengketa terbaru dalam hubungan bilateral AS–China yang kian menegang.
Sebelumnya, AS juga mengancam tarif tinggi imbas pengetatan ekspor mineral langka (rare earth elements) yang menjadi komponen penting dalam industri teknologi, termasuk kendaraan listrik, mesin pesawat, hingga radar militer.
Kementerian Perdagangan China juga mengatakan bahwa kontrol ekspor terhadap unsur-unsur tanah jarang itu mengikuti serangkaian tindakan AS sejak pembicaraan perdagangan bilateral di Madrid bulan lalu.
Hal ini merujuk pada penambahan perusahaan China ke daftar hitam perdagangan AS dan penerapan biaya pelabuhan oleh Washington pada kapal-kapal yang terkait dengan China.
Redakan Eskalasi
Pemerintahan Presiden Donald Trump memberi sinyal siap berdamai dengan China untuk meredakan ketegangan dagang, namun menilai pembatasan ekspor terbaru China menjadi hambatan utama bagi negosiasi.
Wakil Presiden JD Vance menyerukan agar China memilih jalur yang rasional di tengah memanasnya pertikaian dagang antara dua ekonomi terbesar dunia. Dia menegaskan AS memiliki posisi tawar yang lebih kuat jika konflik dagang ini berlangsung lebih lama.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump memberikan sinyal kemungkinan jalan keluar bagi Presiden China Xi Jinping, sambil menebar ancaman halus bahwa perang dagang penuh akan merugikan China sendiri.
“Jangan khawatir tentang China, semuanya akan baik-baik saja! Presiden Xi yang sangat saya hormati hanya sedang mengalami momen sulit. Diaa tidak ingin depresiasi bagi negaranya, dan saya pun tidak. AS ingin membantu China, bukan melukainya!” tulis Trump dikutip dari Bloomberg, Senin (13/10/2025)
Pernyataan Trump dan Vance itu menunjukkan Washington berusaha menekan Beijing untuk membatalkan langkah dagangnya yang terbaru, sekaligus menenangkan pasar keuangan yang terguncang akibat kekhawatiran akan eskalasi balasan tarif.
Rencana Pertemuan Xi - Trump
Di tengah gejolak perdagangan terbaru ini , Donald Trump tetap berencana bertemu Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan akhir Oktober.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa komunikasi antara kedua pihak intensif terjadi sepanjang akhir pekan dan sejumlah pertemuan tambahan diperkirakan akan berlangsung.
“Kami telah berhasil menurunkan eskalasi secara signifikan. Mengenai tarif, Presiden Trump menyatakan bahwa tarif baru tidak akan berlaku hingga 1 November. Pertemuan dengan Ketua Partai Xi di Korea dipastikan tetap berjalan,” kata Bessent dikutip dari Reuters, Selasa (14/10/2025).
Trump dan Xi awalnya dijadwalkan bertemu dalam forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) yang digelar di Korea Selatan pada akhir Oktober.
Bessent menekankan, Amerika Serikat akan menggelar pertemuan tingkat staf dengan China pekan ini di Washington, bersamaan dengan pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).
“Tarif 100% tidak harus terjadi. Hubungan, meski ada pengumuman pekan lalu, tetap baik. Jalur komunikasi telah dibuka kembali, kita akan lihat ke mana arah pembicaraan ini,” kata Bessent.
Meski begitu, Bessent menilai langkah China provokatif dan menyebut AS menanggapi secara tegas. Amerika Serikat juga telah berkoordinasi dengan sekutu dan mengharapkan dukungan dari Eropa, India, dan negara demokrasi di Asia.
“China adalah ekonomi yang dikendalikan pusat. Mereka tidak bisa memerintah atau mengontrol kami,” tegas Bessent.
China menuding AS sebagai pihak yang memicu meningkatnya ketegangan dagang pada Minggu lalu dan menyebut ancaman tarif 100% Trump sebagai tindakan munafik. Beijing membela pembatasan ekspor logam tanah jarang dan peralatan terkait, yang sangat penting bagi industri teknologi global.