BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyampaikan bahwa sebanyak 413 dari 602 terminal satelit pengguna (user terminal/UT) SATRIA-1 di ... [521] url asal
Kami ada 602 titik lokasi user terminal SATRIA-1, mayoritas di sekolah dan fasilitas layanan kesehatan. Ada 602 yang terdampak, tetapi sekarang sudah pulih sebanyak 413 lokasi.
Jakarta (ANTARA) - BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyampaikan bahwa sebanyak 413 dari 602 terminal satelit pengguna (user terminal/UT) SATRIA-1 di wilayah terdampak banjir Sumatera telah dipulihkan dan kembali digunakan masyarakat untuk akses internet, berdasarkan data per 6 Desember 2025.
Dari total UT yang telah dipulihkan, Sumatera Barat mencatat tingkat pemulihan tertinggi dengan 42 dari 49 titik UT kembali berfungsi. Sumatera Utara mengikuti, dengan pemulihan 161 dari 205 titik UT. Sementara itu, Provinsi Aceh mencatat pemulihan 210 dari 348 titik UT.
“Kami ada 602 titik lokasi user terminal SATRIA-1, mayoritas di sekolah dan fasilitas layanan kesehatan. Ada 602 yang terdampak, tetapi sekarang sudah pulih sebanyak 413 lokasi,” kata Direktur Utama BAKTI Kemkomdigi Fadhilah Mathar atau akrab disapa Indah, di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu.
Indah menjelaskan bahwa dalam kondisi bencana, konektivitas terestrial kerap terdampak berat sehingga sulit dijadikan andalan utama.
Oleh sebab itu, keberadaan satelit pemerintah melalui SATRIA-1 menjadi krusial untuk menjaga ketersediaan akses komunikasi. Dalam hal ini, negara kepulauan seperti Indonesia memang membutuhkan konektivitas non-terestrial secara berkelanjutan.
“Teknologi seluler 4G maupun ‘G’ yang lain, pada saat kejadian (saat terjadi banjir bandang di tiga provinsi Sumatera) belum sepenuhnya bisa dipulihkan, sehingga pemanfaatan dari satelit yang kita miliki atau SATRIA-1 menjadi sangat penting,” kata Indah.
Menanggapi pertanyaan mengenai penyediaan Starlink yang dinilai lebih cepat dalam membantu masyarakat di wilayah terdampak, Indah menegaskan bahwa pemulihan dan penyediaan akses internet darurat melalui SATRIA-1 tidak terlambat.
“Terkait dengan kebencanaan itu, kita bukan terlambat. Sebenarnya kita bahkan lebih cepat dibandingkan itu. Hanya memang posisi kita saat itu lebih fokus kepada pemberian konektivitas dibanding sosialisasi dari apa yang kita lakukan,” kata dia.
Indah pun menegaskan pentingnya percepatan penyediaan akses internet di wilayah bencana dan perlunya antisipasi menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.
Dengan jangkauan SATRIA-1 yang mencakup seluruh Indonesia, ia meyakini tantangan komunikasi pada kondisi darurat maupun di daerah yang sulit dijangkau jaringan terestrial dapat ditangani lebih baik ke depannya.
Per 7 Desember 2025, total sebanyak 30.017 lokasi di Indonesia telah terlayani UT SATRIA-1, sehingga semakin memperluas akses internet bagi masyarakat di wilayah 3T.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar berada pada sektor pendidikan (69,24 persen atau 20.785 lokasi), diikuti kantor pemerintahan (19,48 persen atau 5.846 lokasi) serta layanan kesehatan (5,63 persen atau 1.689 lokasi).
Satelit SATRIA-1, yang diluncurkan pada 2023 dan mulai beroperasi sejak 2024, merupakan satelit dengan kapasitas terbesar di Asia dengan total kapasitas transmisi 150 Gbps dengan menggunakan teknologi very high-throughput satellite (VHTS) dan frekuensi Ka-Band.
Infrastruktur pendukung SATRIA-1 dilengkapi dengan 11 gateway yang tersebar di Batam, Pontianak, Banjarmasin, Cikarang, Manado, Ambon, Kupang, Manokwari, Timika, Jayapura, dan Tarakan. Gateway berfungsi sebagai penghubung utama antara satelit dan jaringan internet nasional.
Service level agreement (SLA) SATRIA-1 periode Mei 2024 hingga Agustus 2025 mencapai lebih dari 99,5 persen atau melampaui standar minimum yang dipersyaratkan, menunjukkan capaian kinerja layanan yang positif.
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kemkomdigi menyebutkan 30.017 titik lokasi di Indonesia telah terpasang perangkat penerima sinyal ... [575] url asal
Jakarta (ANTARA) - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kemkomdigi menyebutkan 30.017 titik lokasi di Indonesia telah terpasang perangkat penerima sinyal satelit SATRIA-1 per 7 Desember 2025, dengan kecepatan internet hingga 10 Mbps per lokasi.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar berada pada sektor pendidikan (69,24 persen atau 20.785 lokasi), diikuti kantor pemerintahan (19,48 persen atau 5.846 lokasi) serta layanan kesehatan (5,63 persen atau 1.689 lokasi).
"Kita harapkan bahwa konektivitas di seluruh layanan publik ini bisa membantu kita untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, transparansi, dan tentu kepada hal-hal lain yang membaik misalnya ekonomi yang bertumbuh, aspek-aspek sosial yang semakin membaik," kata Direktur Utama BAKTI Kemkomdigi Fadhilah Mathar atau akrab disapa Indah di Cikarang, Jabar, Rabu.
Satelit SATRIA-1, yang diluncurkan pada 2023 dan mulai beroperasi sejak 2024, merupakan satelit dengan kapasitas terbesar di Asia dengan total kapasitas transmisi 150 Gbps dan menggunakan teknologi very high-throughput satellite (VHTS) di frekuensi Ka-Band.
Infrastruktur pendukung SATRIA-1 dilengkapi dengan 11 gateway yang tersebar di Batam, Pontianak, Banjarmasin, Cikarang, Manado, Ambon, Kupang, Manokwari, Timika, Jayapura, dan Tarakan.
Gateway ini berfungsi sebagai penghubung utama antara satelit dan jaringan internet nasional.
Service level agreement (SLA) SATRIA-1 periode Mei 2024 hingga Agustus 2025 mencapai lebih dari 99,5 persen atau melampaui standar minimum yang dipersyaratkan, menunjukkan capaian kinerja layanan yang positif.
Indah menegaskan pihaknya terus berkomitmen untuk mewujudkan pemerataan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi di seluruh Indonesia.
Penyediaan SATRIA-1 ini merupakan salah satu wujud konkret komitmen Kemkomdigi dalam memperkuat konektivitas nasional di lokasi layanan publik.
"Kehadiran SATRIA-1 diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan pendidikan, kesehatan, pemerintah serta mendorong percepatan transformasi digital yang inklusif di seluruh Indonesia," kata Indah.
Direktur Utama BAKTI Kemkomdigi Fadhilah Mathar (tengah) bersama Plt Direktur Utama PT PII Andre Permana (kiri) dan Direktur Utama PT Satelit Nusantara Tiga Heru Dwikartono (kanan) meninjau Stasiun Bumi SATRIA-1, Cikarang, Jawa Barat, Rabu (10/12/2025). ANTARA/Rizka Khaerunnisa
SATRIA-1 adalah proyek kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), dengan total investasi sekitar Rp 6,42 triliun dan skema build-operate-transfer (BOT).
Proyek ini dilaksanakan oleh PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) sebagai badan usaha pelaksana (BUP), dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) selaku penanggung jawab proyek kerja sama (PJPK) yang mana sebagian wewenangnya didelegasikan kepada BAKTI.
Proyek SATRIA-1 memperoleh dukungan penjaminan dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) atau PT PII, dengan masa penjaminan 12 tahun dan masa konsesi 15 tahun.
Cakupan penjaminan terbagi menjadi dua jenis. Pertama, risiko nonterminasi yakni risiko yang muncul ketika proyek tetap berjalan, misalnya keterlambatan pembayaran availability payment,dengan nilai penjaminan hingga Rp2,67 triliun.
Kedua, risiko terminasi yaitu risiko jika kerja sama harus dihentikan lebih awal. Terminasi A berlaku apabila penghentian proyek diputuskan oleh pemerintah, dengan nilai penjaminan maksimal Rp7,2 triliun.
Sementara itu, terminasi C berlaku apabila penghentian proyek terjadi karena keadaan kahar, dengan nilai penjaminan maksimal Rp3,6 triliun.
Plt Direktur Utama PT PII Andre Permana berharap pihaknya dapat memberikan dampak optimal bagi seluruh pemangku kepentingan melalui dukungan penjaminan pemerintah serta capacity building terkait proyek KPBU SATRIA-1.
Kepercayaan pasar diharapkan menguat melalui adanya penjaminan, sehingga investasi pada sektor telekomunikasi semakin kuat dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
"Selain itu, dukungan kami harapkan juga mampu memberikan dampak yang lebih luas lagi kepada masyarakat melalui kehadiran konektivitas jaringan digital yang andal dan inklusif di seluruh Indonesia, sejalan dengan perluasan akses digital nasional," kata Andre.
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56