Bisnis.com, JAKARTA — Pada abad ke-19, ketika sebagian besar wilayah Nusantara masih dianggap misterius oleh dunia Barat, seorang ilmuwan bernama Alfred Russel Wallace datang menembus hutan tropis, lautan, dan pulau-pulau terpencil.
Dari perjalanan panjang itulah lahir konsep yang kemudian dikenal sebagai “Garis Wallace”. Garis ini menjadi penanda penting yang membedakan karakter fauna Asia dan Australia di wilayah kepulauan Indonesia.
Namun, perjalanan tersebut tidak hanya menghasilkan gagasan penting di bidang ilmu pengetahuan. Beragam sisi menarik dari ekspedisi itu kini dapat ditelusuri kembali melalui buku Kepulauan Nusantara Abad 19.
Karya ini tidak sekadar merekam kekayaan alam Indonesia, tetapi juga menyoroti Nusantara sebagai ruang hidup dengan keberagaman budaya serta kehidupan masyarakat yang kaya untuk dipelajari.
Membaca karya Wallace seolah membawa pembaca melihat Indonesia dari sudut pandang seorang ilmuwan sekaligus penjelajah. Berbagai pengamatannya terhadap alam tropis Nusantara pada abad ke-19 hingga kini masih menjadi rujukan penting untuk memahami kekayaan hayati dan wajah Indonesia di masa lampau.
Selama melakukan ekspedisi di Nusantara, Wallace mendokumentasikan beragam flora dan fauna unik yang ditemuinya di berbagai wilayah. Tak hanya itu, dia juga membagikan kisah perjalanannya saat menghadapi medan berat, perjalanan panjang antarpulau, hingga pengalaman berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Dengan gaya penulisan yang deskriptif dan hidup, Wallace menggambarkan bentang alam Nusantara secara rinci. Hutan tropis, pegunungan, sungai, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat dituliskan melalui sudut pandang seorang peneliti yang dipenuhi rasa ingin tahu terhadap alam dan manusia.
Pengamatan Alfred Russel Wallace terhadap kekayaan flora dan fauna Nusantara turut melahirkan pemikiran penting mengenai variasi spesies serta keterkaitan makhluk hidup dengan lingkungannya. Gagasan-gagasan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan teori evolusi pada abad ke-19.
Tak hanya memiliki nilai ilmiah, buku ini juga dikenal sebagai karya sastra perjalanan yang sarat refleksi. Wallace memadukan kisah penjelajahan, gambaran alam, budaya masyarakat lokal, hingga pemikiran filosofis tentang relasi manusia dan alam dalam satu narasi yang mendalam.
Hingga saat ini, karya Wallace masih dianggap sebagai salah satu literatur klasik penting dalam sejarah ilmu pengetahuan. Buku tersebut tidak hanya merekam kekayaan alam Nusantara pada masa lampau, tetapi juga menunjukkan bagaimana Indonesia pernah menjadi pusat perhatian ilmuwan dunia melalui keanekaragaman hayatinya.
Bagi Indonesia, Wallace memiliki peran besar dalam menjelaskan pola persebaran fauna yang unik di kawasan kepulauan. Dia mengungkap bahwa perbedaan jenis hewan di Nusantara berkaitan dengan perubahan permukaan bumi pada masa lampau, termasuk menjelaskan mengapa fauna di Sulawesi memiliki karakter khas yang berbeda dibandingkan wilayah Indonesia bagian barat maupun timur.
Lebih jauh, buku ini menjadi catatan menarik bagaimana Indonesia juga menjadi bagian penting dalam sejarah besar perkembangan teori evolusi. Sebelum gagasan tersebut dipublikasikan secara luas oleh Charles Darwin, Wallace pada tahun 1858 dari Ternate, Maluku Utara, mengirimkan naskah pemikirannya kepada Darwin.
Keduanya ternyata sampai pada kesimpulan yang serupa mengenai evolusi dan persebaran spesies. Setahun kemudian, Darwin menerbitkan The Origin of Species, setelah mempertimbangkan dan didorong oleh gagasan yang dikirim Wallace dari Nusantara tersebut.