Bisnis.com, SEMARANG — Pada awal abad ke-20, Indonesia diketahui pernah mengalami wabah pes, terutama di Pulau Jawa. Penyakit pes merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis. Bakteri Yersinia Pestis telah dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan di dunia dan menular melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh binatang tikus.
Baru-baru ini, peneliti dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati atas potensi kembalinya wabah pes di Indonesia. Pada beberapa tahun terakhir ini, tidak ditemukan adanya kasus manusia yang terjangkit penyakit pes. Namun demikian, peneliti BRIN menyebut bahwa kondisi tersebut belum tentu menandakan Indonesia sepenuhnya bebas dari pes.
Dilansir dari laman BRIN, peneliti BRIN Ristiyanto menjelaskan adanya fenomena silent period, yakni masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun masih berpotensi muncul kembali. “Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” jelas Ristiyanto, dikutip Sabtu (18/04/2026).
Ristiyanto menduga bahwa penyakit pes masih masih berada dalam fase silent period. Hal ini didukung oleh temuan bahwa bakteri penyebab, serta vektor dan reservoirnya seperti pinjal dan tikus, yang masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia. Selain itu, perubahan lingkungan disebut menjadi faktor penting yang dapat meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit.
Meski belum ditemukan kasus penyakit pes pada manusia selama lebih dari satu dekade, BRIN mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak menganggap sepele kondisi ini.
Untuk meningkatkan kesadaran terhadap potensi bahayanya, masyarakat perlu memahami gejala, penyebab, hingga cara penanganan penyakit pes. Dengan upaya pencegahan sejak dini, masyarakat dapat meminimalkan risiko penularan sekaligus mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali kasus di masa mendatang.
Penyebab Penyakit Pes
Penyakit pes ini disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis yang disebarkan melalui kutu yang biasa hinggap di binatang-binatang pengerat, seperti tikus, kelinci, hingga tupai. Manusia bisa terkena penyakit pes jika tergigit oleh kutu yang hinggap di binatang-binatang tersebut, maupun ditularkan langsung melalui droplet dari pengidap lain yang sedang terjangkit penyakit pes.
Berikut ini jenis penyakit pes berdasarkan cara penularannya:
1. Pneumonic Plague, yakni jenis pes yang disebarkan melalui udara dari batuk atau bersin yang menghirup udara tersebut.
2. Septicemic Plague, yakni penyakit yang terjadi saat bakteri masuk ke aliran darah secara langsung dan berkembang biak di dalam darah.
3. Bubonic Plague, yakni penyakit yang disebabkan oleh gigitan binatang pengerat.
Gejala Penyakit Pes
Terkait gejala pes, setiap jenisnya dapat menunjukkan tanda dan gejala yang berbeda. Berikut ini gejala pes berdasarkan masing-masing jenisnya.
1. Gejala Penyakit Pes Jenis Bubonic
Bubonic plague merupakan jenis penyakit pes yang menyerang sistem limfatik atau kelenjar getah bening. Penderita yang terjangkit penyakit pes jenis ini akan merasakan munculnya kelenjar getah bening yang bengkak di area ketiak, selangkangan, atau leher. Pembengkakan kelenjar getah bening akan terasa lunak atau nyeri, dengan ukurannya yang bervariasi mulai dari setengah inci hingga empat inci. Adapun gejala lain dari Bubonic plague sebagai berikut.
- Demam tinggi dan menggigil secara tiba-tiba
- Kelelahan
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Lemas
- Kejang
2. Gejala Penyakit Pes Jenis Septicemic
Septicemic plague merupakan jenis penyakit pes yang menyerang aliran darah. Adapun gejala dar penyakit pes jenis ini adalah
- Demam tinggi dan menggigil secara tiba-tiba
- Lemas
- Sakit perut
- Diare
- Mual dan muntah
- Pendarahan
- Syok
- Kematian jaringan
3. Gejala Penyakit Pes Jenis Pneumonic
Pneumonic plague merupakan jenis penyakit pes yang menyerang paru-paru. Penyakit jenis ini dapat dimulai di paru-paru, atau dapat menyebar dari kelenjar getah bening yang terinfeksi ke paru-paru. Gejala dari penyakit pes pneumonic dapat muncul dalam beberapa jam setelah terpapar dan memburuk dengan cepat. Adapun gejala yang akan muncul adalah sebagai berikut.
- Demam tinggi dan menggigil secara tiba-tiba
- Batuk disertai lendir berdarah
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Sakit perut dan muntah
- Sakit kepala
- Lemas
Cara Pengobatan Penyakit Pes
Setelah didiagnosa terjangkit penyakit pes, penderita harus segera diobati karena penyakit ini akan berkembang dengan cepat. Penyakit pes yang disebabkan oleh bakteri ini harus diobati dengan pemberian obat antibiotik. Fungsi antibiotik dalam pengobatan penyakit pes adalah untuk membunuh bakteri penyebab serta mencegah penyebaran infeksi.
Pemberian antibiotik ini harus dilakukan selama beberapa minggu hingga gejala yang muncul mulai berkurang. Selain antibiotik, dalam pengobatan penyakit pes, penderita juga memerlukan cairan infus, oksigen, hingga alat bantu pernapasan. Jika tidak diobati dengan tepat, penyakit ini dapat meningkatkan risiko kematian, terutama pada 24 jam setelah gejala mulai muncul.