Bisnis.com, JAKARTA—Perusahaan pengembang energi surya (solar developer) SUN Energy memperluas penetrasi bisnis energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Salah satunya melalui proyek Containerized Battery Energy Storage System (CBESS).
CEO SUN Energy Emmanuel Jefferson Kuesar menyampaikan pengembangan teknologi akan menjadi kunci utama dalam mempercepat dekarbonisasi industri ke depan. Memasuki 2026, fokus perusahaan tidak hanya pada proyek energi surya, tetapi juga pada pengembangan teknologi penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS).
“Khususnya untuk sektor industri dengan kebutuhan energi tinggi dan operasional kompleks seperti pertambangan, manufaktur berat, serta sektor-sektor potensial lainnya. Integrasi antara pembangkitan, penyimpanan, dan sistem manajemen energi menjadi pondasi penting untuk memastikan keandalan pasokan sekaligus efisiensi emisi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (5/1/2026).
Sebagai bagian dari penguatan kapabilitas teknologi, SUN Energy pada 2025 juga mencatatkan tonggak penting melalui keberhasilan implementasi CBESS di sektor pertambangan. Proyek ini menjadi implementasi CBESS pertama di Indonesia, sekaligus menandai perluasan solusi perusahaan dari pembangkitan energi surya menuju sistem energi terintegrasi.
SUN Energy mengembangkan proyek PLTS dengan CBESS SUN Energy di PT Cipta Kridatama (CK). Perusahaan tersebut merupakan anak usaha PT ABM Investama Tbk. (ABMM).
Dia menambahkan bahwa kolaborasi lintas ekosistem akan semakin diperluas. SUN Energy membuka kerja sama yang lebih erat dengan kawasan industri untuk membangun sistem energi terintegrasi, termasuk integrasi dengan elektrifikasi armada kendaraan operasional dan infrastruktur kendaraan listrik.
“Pendekatan ini memungkinkan industri mengelola energi dan emisi secara menyeluruh, dari sumber energi, penyimpanan, hingga mobilitas, sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” imbuhnya.
Hingga kini, perusahaan telah memasang PLTS untuk lebih dari 20 tenant di tiga kawasan industri strategis, yakni Karawang International Industrial City (KIIC), Greenland International Industrial Center (GIIC), serta Kawasan Industri Jababeka melalui kerja sama dengan Bekasi Power.
Total kapasitas terpasang di kawasan industri tersebut mencapai lebih dari 20 MW, dan melayani beragam sektor industri dan komersial.
Berbekal pengalaman global dalam pengembangan proyek energi surya berskala besar, hingga kini SUN Energy telah mengoperasikan proyek energi surya sebesar 420 MW di empat negara, menghasilkan lebih dari 650 juta kWh listrik bersih. Energi bersih tersebut berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon hingga 506 juta kg CO₂, setara dengan penanaman 5,9 juta pohon per tahun.
Di Indonesia, SUN Energy telah mengembangkan proyek PLTS sektor industri dengan kapasitas terpasang mencapai 240 MW. Pencapaian ini menjadikan SUN Energy sebagai salah satu pengembang proyek energi surya terbesar di Tanah Air.
Pertumbuhan terbesar tercatat pada sektor-sektor dengan intensitas energi tinggi seperti semen, FMCG (Fast Moving Consumer Goods), kertas, kemasan plastik, elektronik, dan komponen otomotif.
Secara geografis, pemanfaatan energi surya oleh pelanggan SUN Energy terkonsentrasi di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten sebagai pusat manufaktur nasional.
Emmanuel Jefferson Kuesar menambahkan, memasuki 2026, SUN Energy akan melanjutkan penguatan peran di sektor industri sekaligus memperluas keterlibatan di segmen Independent Power Producer (IPP) guna mendukung pengembangan proyek energi surya berskala lebih besar. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat kontribusi terhadap bauran energi nasional serta memperluas jangkauan solusi energi surya.
Dari sisi industri, adopsi energi terbarukan menunjukkan tren pertumbuhan. Data PLN mencatat jumlah pelanggan PLTS Atap mencapai 11.392 pelanggan dengan kapasitas terpasang sekitar 772,9 MW.