Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan energi terbarukan Panthalassa memperoleh pendanaan senilai US$140 juta atau sekitar Rp2,44 triliun untuk memindahkan pusat data atau data center AI dari daratan ke lepas pantai. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Peter Thiel bersama sejumlah investor besar lainnya.
Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan fasilitas manufaktur percontohan di dekat Portland, Oregon. Perusahaan juga menargetkan percepatan penyebaran unit Ocean-3, sebuah sistem komputasi AI terapung yang sepenuhnya ditenagai oleh energi gelombang laut.
Co-founder dan CEO Panthalassa Garth Sheldon-Coulson mengatakan platform teknologi ini beroperasi di wilayah laut dalam yang memiliki kepadatan energi gelombang tertinggi. Sistem ini mengubah sumber daya alam tersebut menjadi tenaga bersih yang andal untuk mengoperasikan perangkat keras komputer.
"Kami sekarang siap untuk membangun pabrik, mengerahkan armada, dan menyediakan sumber energi baru yang berkelanjutan bagi kemanusiaan," ujar Sheldon-Coulson dalam keterangannya dilansir GeekWire, Selasa (5/5/2026).
Berbeda dengan infrastruktur energi terbarukan pada umumnya, sistem Panthalassa tidak memerlukan pembangunan transmisi kabel bawah laut yang mahal ke daratan. Seluruh proses komputasi dilakukan secara lokal di atas unit terapung yang berada di tengah samudra.
Hasil olah data kemudian dikirimkan kembali ke darat melalui jaringan satelit orbit bumi rendah (Low-Earth-Orbit/LEO). Selain itu, temperatur air laut yang dingin dimanfaatkan sebagai sistem pendingin alami untuk menjaga suhu perangkat keras tetap optimal.
Investor utama Peter Thiel mengatakan bahwa masa depan menuntut kapasitas komputasi yang lebih besar dari yang dibayangkan saat ini. Menurutnya, solusi di luar infrastruktur darat bukan lagi sekadar fiksi ilmiah karena Panthalassa telah membuka batas baru di samudra.
"Masa depan menuntut lebih banyak komputasi. Solusi ekstra-terestrial bukan lagi fiksi ilmiah, Panthalassa telah membuka perbatasan samudra," kata Thiel.
Pusat data terapung ini dirancang untuk menjawab tantangan krisis energi global dan keterbatasan kapasitas jaringan listrik di darat. Selama ini, pusat data konvensional menghadapi kendala kelangkaan air pendingin, hambatan izin, hingga dampak ekologi terhadap masyarakat lokal.
Panthalassa sendiri telah menghabiskan hampir satu dekade mengembangkan teknologi propulsi otonom dan pembangkit listrik gelombang. Uji coba purwarupa seperti Ocean-1, Ocean-2, dan Wavehopper telah berhasil dilakukan pada tahun 2021 dan 2024.
Perusahaan menjadwalkan pengerahan seri Ocean-3 di Samudra Pasifik utara pada tahun 2026 mendatang. Jika uji coba ini berjalan sesuai rencana, sistem komersial penuh akan mulai dioperasikan secara luas pada 2027.
Hingga saat ini, Panthalassa telah mengumpulkan total modal sebesar US$210 juta atau sekitar Rp3,66 triliun dari berbagai investor global. Daftar investor baru dalam putaran ini meliputi John Doerr, Hanwha Group, Super Micro Computer, hingga TIME Ventures milik Marc Benioff.
Didirikan pada 2016 sebagai perusahaan publik yang memberikan manfaat (public benefit corporation), Panthalassa kini didukung oleh 120 karyawan. Perusahaan ini bergabung dengan tren teknologi ekstrim lainnya seperti pusat data luar angkasa yang memanfaatkan energi surya.
Selain Panthalassa, sejumlah perusahaan di wilayah Pasifik Barat Laut juga mulai melirik potensi energi gelombang. Beberapa di antaranya adalah Oscilla Power asal Seattle dan C-Power yang merupakan unit bisnis dari Oregon State University.