Bisnis.com, JAKARTA — Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun ke level terendah sepanjang sejarah pasar obligasi Indonesia. Alih-alih karena pelonggaran moneter, penurunan ini didorong kuatnya permintaan domestik.
Melansir data Trading Economics, imbal hasil atau yield SUN tenor 10 tahun kini berada di level 5,93% pada Senin (20/10/2025). Posisi tersebut merupakan yang terendah sepanjang sejarah.
Selain itu, spread antara INDOGB dan US Treasury (UST) juga mencapai rekor terendah 191,6 basis poin, menandakan kompresi risiko global yang signifikan. Adapun kepemilikan asing anjlok ke 13,9% atau terendah dalam 17 tahun.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjelaskan fenomena ini mirip dengan kondisi pasar saham yang memperlihatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap menguat, meski asing mencatatkan net outflow.
David menyampaikan dalam sebulan terakhir, investor asing memang tercatat keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN). Padahal, sebelumnya mereka masih membukukan net inflow sekitar US$4 miliar.
“Sekarang juga SBN ketika asing keluar, investor domestik baik bank maupun nonbank masuk membeli SBN. Ini menjaga stabilitas yield,” pungkasnya saat dihubungi Bisnis pada Senin (20/10/2025).
Menurutnya, likuiditas pasar juga didukung oleh kucuran dana Rp200 triliun yang mendorong investor domestik tetap aktif. Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) turut menjaga minat beli domestik.
Di sisi lain, meski yield rendah, David menilai kondisi ini mencerminkan ekspektasi pasar daripada fundamental. Inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi solid, dan kurs relatif stabil dinilai mendukung optimisme investor.
Dia pun memproyeksikan imbal hasil SUN 10 tahun hingga akhir 2025 berada di kisaran 5,8%–6,1%. Akan tetapi, penurunan lanjutan masih memungkinkan seiring likuiditas domestik yang kuat dan potensi pelonggaran moneter global.
Adapun risiko terbesar, lanjutnya, berasal dari faktor eksternal. Kepemilikan asing yang sekitar 14% bisa memicu gejolak jika terjadi ketidakpastian global, seperti perang dagang atau valuasi pasar modal AS yang tinggi. Namun, sebagian besar investor yang tersisa bersifat jangka menengah hingga panjang.
“Biasanya, jika harga sudah kembali atraktif, mereka [investor asing] akan masuk lagi. Mereka juga mungkin akan melihat potensi ekonomi ke depan seperti apa. Jika pertumbuhan ekonomi bagus dan ekspektasinya meningkat, kemungkinan investor asing kembali masuk ke pasar,” ujar David.
--
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.