Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan kredit UMKM yang nyaris stagnan pada April 2026 menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi akar rumput belum benar-benar kuat.
Di tengah konsumsi masyarakat yang masih selektif, pelaku usaha di segmen ini mulai mengubah strategi dengan menahan ekspansi modal kerja, tetapi tetap mengambil pembiayaan investasi untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Data Analisis Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan kredit UMKM hanya tumbuh 0,2% secara tahunan (year on year/YoY) per April 2026, setelah pada bulan sebelumnya tumbuh 0,1% YoY. Pertumbuhan itu utamanya ditopang kredit investasi yang naik 10,1% YoY, sedangkan kredit modal kerja masih mengalami kontraksi sebesar 4,1% YoY.
Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengatakan tekanan terhadap daya beli masyarakat masih memengaruhi kinerja segmen usaha kecil dan menengah. Meski demikian, pembiayaan SME BCA Syariah masih mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 19,3% YoY menjadi Rp1 triliun hingga April 2026.
“Segmen yang berkontribusi dalam pertumbuhan ini antara lain pedagang besar dan eceran dan industri pengolahan,” kata Yuli kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, pola konsumsi masyarakat yang lebih selektif membuat pelaku UMKM lebih berhati-hati dalam menjalankan usahanya. Kendati begitu, perseroan optimistis prospek segmen tersebut akan membaik seiring pemulihan daya beli masyarakat.
Untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan, BCA Syariah mulai mengembangkan strategi deepening customer dengan memanfaatkan perusahaan besar sebagai jangkar pembiayaan UMKM. Selain itu, perseroan juga mengembangkan BIQ dan virtual account management yang dapat digunakan untuk mendukung transaksi SME.
Di sisi lain, tantangan sektor UMKM tidak hanya berasal dari lemahnya permintaan pasar, tetapi juga tingginya profil risiko pembiayaan. SVP Finance Amar Bank David Wirawan mengatakan, segmen UMKM secara alami memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan korporasi lantaran keterbatasan data dan rendahnya transparansi informasi usaha.
Menurutnya, korporasi umumnya memiliki laporan keuangan dan data transaksi yang lebih mudah diverifikasi. Sebaliknya, data UMKM masih sulit diakses secara formal.
Kondisi ini lantas membuat Amar Bank sejak 2014 fokus mengembangkan model analisis berbasis unstructured data untuk memperkuat penilaian risiko pembiayaan UMKM.
“Mungkin challenge untuk UMKM itu adalah sebenarnya datanya itu sendiri,” ujar David dalam diskusi Performa Bisnis Amar Bank Kuartal I/2026, Jakarta Selatan, dikutip pada Kamis (28/5/2026).
Ke depan, Amar Bank juga mulai mengubah pendekatan bisnis dengan memperluas kerja sama bersama korporasi sebagai pintu masuk pembiayaan UMKM.
Strategi tersebut membuat porsi kredit UMKM secara persentase kemungkinan akan menurun dalam beberapa tahun ke depan. Kendati begitu, secara nominal pembiayaan dipastikan tetap tumbuh.
“Secara persentase mungkin MSME mengecil. Tapi kalau kita lihat secara rupiah, itu akan terus berkembang,” katanya.
Pemulihan Belum Merata
Pengamat perbankan dan praktisi sistem pembayaran Arianto Muditomo menilai lemahnya pertumbuhan kredit UMKM mencerminkan pemulihan konsumsi masyarakat yang belum merata, terutama di kelompok menengah bawah yang menjadi pasar utama usaha kecil.
Menurut Arianto, pertumbuhan kredit investasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan modal kerja menunjukkan pelaku UMKM mulai melakukan penyesuaian kapasitas usaha secara selektif.
Dia mengatakan, pembiayaan investasi lebih banyak digunakan untuk kebutuhan jangka panjang seperti pembelian mesin, kendaraan operasional, digitalisasi usaha, renovasi tempat usaha, hingga peningkatan kapasitas produksi.
Sebaliknya, lemahnya kredit modal kerja menunjukkan aktivitas usaha harian dan perputaran kas belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi operasional.
“Jadi, data ini bukan hanya mencerminkan sisi kredit perbankan, tetapi juga menggambarkan daya beli, permintaan pasar, dan keyakinan pelaku usaha yang masih belum kuat,” tutur Arianto kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (28/5/2026).
Senada, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai pemulihan konsumsi masyarakat di tingkat akar rumput masih belum solid meskipun belanja masyarakat tetap berjalan.
“Konsumen masih berbelanja tetapi pola belanjanya lebih selektif terutama yang terkait dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari,” jelas Trioksa kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (28/5/2026).
Dia memandang, pola kredit investasi yang tumbuh di tengah kontraksi modal kerja menunjukkan pelaku UMKM mulai mempersiapkan kapasitas usaha untuk jangka menengah dan panjang, meskipun belum berani melakukan ekspansi secara agresif.
“Mungkin bukan survive mode tapi adaptive survival karena UMKM belum berani ekspansi modal kerja namun tetap mengambil kredit investasi untuk persiapan ketika keadaan membaik,” pungkasnya.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56