#30 tag 24jam
Dolar Tembus Rp18.000, Ini Daftar Barang yang Berpotensi Naik Harga
Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp18.000 per dolar AS, memicu potensi kenaikan harga barang impor seperti elektronik, kendaraan, dan produk pangan, memengaruhi daya beli masyarakat. [1,368] url asal
#dolar-tembus-rp18000 #harga-barang-naik #dampak-masyarakat #rupiah-melemah #biaya-impor-mahal #smartphone-gadget #laptop-komputer #mobil-motor #produk-makanan-impor #susu-olahan #obat-alat-kesehatan
(Bisnis.Com - Ekonomi) 05/06/26 11:17
v/240854/
Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian publik setelah bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Rupiah ditutup melemah 0,71 persen atau turun 125,50 poin ke level Rp17.966 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat ke level 99,30.
Tekanan terhadap rupiah datang dari berbagai faktor global maupun domestik. Dari luar negeri, pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Iran, Amerika Serikat, serta sejumlah negara di kawasan Teluk. Situasi di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia juga menimbulkan kekhawatiran terhadap rantai pasok global.
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh kenaikan inflasi Mei 2026 menjadi 0,28 persen secara bulanan. Di sisi lain, meskipun Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, surplus pada April 2026 menyempit cukup tajam sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan sektor eksternal.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati pergerakan rupiah. Jika dolar benar-benar menembus dan bertahan di atas level Rp18.000, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh investor atau perusahaan besar, tetapi juga dapat memengaruhi harga berbagai kebutuhan masyarakat.
Mengapa Dolar Naik Bisa Membuat Harga Barang Ikut Naik?
Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, biaya impor otomatis menjadi lebih mahal. Hal ini terjadi karena perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk mendapatkan jumlah dolar yang sama.
Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan harus membayar impor senilai US$1 juta, maka biaya yang dikeluarkan saat kurs Rp16.000 adalah Rp16 miliar. Namun ketika kurs naik menjadi Rp18.000, biaya impor meningkat menjadi Rp18 miliar.
Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya dapat diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual produk. Terlebih lagi, banyak industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku, komponen, maupun mesin yang berasal dari luar negeri.
Daftar Barang yang Turut Naik Jika Rupiah Melemah
1. Smartphone dan Gadget
Salah satu sektor yang paling sensitif terhadap penguatan dolar adalah industri elektronik dan teknologi. Mayoritas smartphone yang beredar di Indonesia masih menggunakan komponen impor seperti chipset, layar, kamera, baterai, hingga memori. Meskipun beberapa merek telah merakit produknya di dalam negeri, sebagian besar komponen utama tetap berasal dari luar negeri dan dibeli menggunakan dolar AS.
Akibatnya, ketika kurs dolar naik, biaya produksi maupun impor perangkat elektronik ikut meningkat. Dampaknya dapat berupa kenaikan harga ponsel baru, berkurangnya program diskon, atau naiknya harga aksesori elektronik.
2. Laptop dan Komputer
Selain smartphone, laptop dan komputer juga sangat rentan terhadap gejolak nilai tukarKomponen seperti prosesor, kartu grafis, RAM, SSD, motherboard, hingga monitor sebagian besar diproduksi di luar negeri. Distributor dan perakit komputer di Indonesia harus membeli komponen tersebut menggunakan dolar.
Jika tren pelemahan rupiah berlanjut, harga laptop, komputer rakitan, maupun berbagai perangkat pendukung teknologi berpotensi mengalami kenaikan secara bertahap.
3. Mobil dan Motor
Meski banyak kendaraan diproduksi di Indonesia, industri otomotif nasional masih mengandalkan berbagai komponen impor.
Beberapa suku cadang penting, sensor elektronik, material tertentu, hingga teknologi kendaraan modern masih didatangkan dari luar negeri. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pengadaan komponen tersebut ikut meningkat.
Dampaknya bukan hanya pada harga kendaraan baru, tetapi juga harga sparepart, biaya servis, serta perawatan kendaraan yang berpotensi menjadi lebih mahal.
4. Produk Makanan Berbahan Impor
Kenaikan dolar juga dapat merembet ke sektor pangan. Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas penting seperti gandum, kedelai, gula mentah, hingga beberapa bahan baku industri makanan dan minuman. Ketika dolar menguat, harga impor komoditas tersebut ikut naik.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi harga berbagai produk yang banyak dikonsumsi masyarakat seperti:
- Mi instan
- Roti
- Biskuit
- Kue dan pastry
- Produk olahan berbahan tepung terigu
- Tahu dan tempe berbahan kedelai impor
Meski kenaikannya tidak selalu terjadi secara langsung, tekanan biaya produksi biasanya akan memicu penyesuaian harga dalam jangka menengah.
5. Susu dan Produk Olahan Susu Rentan Mengalami Kenaikan
Industri susu nasional juga masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Banyak produsen menggunakan susu bubuk impor untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri. Saat kurs dolar meningkat, biaya pengadaan bahan baku ikut melonjak.
Akibatnya, harga berbagai produk berpotensi terdampak, seperti:
- Susu formula
- Susu bubuk
- Keju
- Yoghurt
- Mentega
- Produk minuman berbasis susu
Karena merupakan kebutuhan rumah tangga yang cukup penting, kenaikan harga pada sektor ini berpotensi memengaruhi pengeluaran keluarga.
6. Obat-obatan dan Alat Kesehatan
Sektor kesehatan juga tidak lepas dari dampak penguatan dolar. Industri farmasi Indonesia masih mengimpor sebagian besar bahan baku obat dari luar negeri. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi obat otomatis meningkat.
Selain obat-obatan, alat kesehatan seperti peralatan laboratorium, alat diagnostik, perlengkapan rumah sakit, hingga perangkat medis modern juga berpotensi mengalami kenaikan harga karena sebagian besar masih bergantung pada impor.
7. Tiket Pesawat
Industri penerbangan merupakan salah satu sektor yang memiliki biaya operasional berbasis dolar cukup besar. Pembelian suku cadang pesawat, biaya leasing armada, perawatan, asuransi, hingga beberapa komponen bahan bakar umumnya menggunakan dolar AS.
Ketika kurs naik, maskapai harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk operasional. Dalam kondisi tertentu, beban tersebut dapat mendorong penyesuaian harga tiket penerbangan domestik maupun internasional.
8. Barang Elektronik Rumah Tangga
Selain gadget dan komputer, berbagai perangkat elektronik rumah tangga juga berpotensi mengalami kenaikan harga.
Produk seperti:
- Televisi
- Kulkas
- Mesin cuci
- Air conditioner (AC)
- Microwave
- Vacuum cleaner
Jika biaya impor meningkat, produsen maupun distributor kemungkinan akan menyesuaikan harga jual untuk menjaga margin usaha.
9. Produk Fashion dan Barang Mewah
Pelemahan rupiah biasanya juga berdampak pada sektor gaya hidup.
Sepatu olahraga internasional, tas bermerek, jam tangan premium, kosmetik impor, hingga pakaian dari merek luar negeri diperdagangkan menggunakan dolar AS atau mata uang asing lainnya.
Ketika nilai dolar meningkat, biaya impor barang-barang tersebut ikut naik sehingga harga jual kepada konsumen berpotensi mengalami penyesuaian.
Faktor Kenaikan Harga Barang Ketita Rupiah Melemah
Kenaikan dolar memang meningkatkan biaya impor, tetapi tidak seluruh barang akan langsung mengalami lonjakan harga dalam waktu singkat.
Ada beberapa faktor yang dapat menahan kenaikan harga, antara lain:
- Perusahaan masih memiliki stok lama yang dibeli saat kurs lebih rendah.
- Persaingan pasar membuat pelaku usaha menahan kenaikan harga.
- Efisiensi biaya produksi yang dilakukan perusahaan.
- Kebijakan pemerintah melalui subsidi atau pengendalian pasokan.
Karena itu, dampak pelemahan rupiah biasanya terjadi secara bertahap dan berbeda pada setiap sektor. Jika dolar terus bertahan di kisaran Rp18.000 atau bahkan lebih tinggi, tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat adalah menurunnya daya beli.
Kenaikan harga barang impor dan bahan baku dapat mendorong inflasi yang lebih tinggi. Ketika harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak bertambah secara signifikan, kemampuan belanja rumah tangga akan tertekan.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat perlu lebih cermat mengatur pengeluaran, terutama untuk kebutuhan yang sangat bergantung pada produk impor.
Menguatnya dolar AS hingga mendekati atau menembus Rp18.000 bukan hanya menjadi isu di pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga berbagai barang dan jasa yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Kelompok yang paling berisiko mengalami kenaikan harga antara lain smartphone, laptop, kendaraan, produk pangan berbahan impor, susu, obat-obatan, alat kesehatan, tiket pesawat, elektronik rumah tangga, hingga produk fashion impor.
Meski tidak semua harga akan naik secara langsung, pelemahan rupiah yang berlangsung dalam waktu lama dapat meningkatkan biaya impor dan produksi di berbagai sektor. Karena itu, pergerakan nilai tukar dolar menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan, baik oleh pelaku usaha maupun masyarakat umum, karena berpengaruh langsung terhadap biaya hidup sehari-hari.
FAQ
1. Mengapa penguatan dolar AS dapat menyebabkan kenaikan harga barang di Indonesia?
Ketika dolar AS menguat, biaya impor barang menjadi lebih mahal karena perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk mendapatkan jumlah dolar yang sama. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan harga barang yang bergantung pada komponen impor.
2. Barang apa saja yang berpotensi mengalami kenaikan harga akibat penguatan dolar?
Barang yang berpotensi mengalami kenaikan harga meliputi smartphone, laptop, kendaraan, produk pangan berbahan impor, susu, obat-obatan, alat kesehatan, tiket pesawat, elektronik rumah tangga, dan produk fashion impor.
3. Apakah semua harga barang akan langsung naik ketika dolar menguat?
Tidak semua harga barang akan langsung naik. Beberapa faktor seperti stok lama, persaingan pasar, efisiensi biaya produksi, dan kebijakan pemerintah dapat menahan kenaikan harga dalam jangka pendek.
4. Bagaimana penguatan dolar AS memengaruhi daya beli masyarakat?
Penguatan dolar AS dapat menurunkan daya beli masyarakat karena kenaikan harga barang impor dan bahan baku dapat mendorong inflasi. Jika pendapatan masyarakat tidak meningkat seiring kenaikan harga, kemampuan belanja rumah tangga akan tertekan.
5. Sektor mana yang paling sensitif terhadap penguatan dolar AS?
Sektor yang paling sensitif terhadap penguatan dolar AS adalah industri elektronik dan teknologi, karena banyak komponen seperti chipset dan layar masih diimpor dan dibeli menggunakan dolar AS.
Produsen Sosis Kibif (BEEF) Datangkan 250 Ekor Sapi Perah Impor, Dukung Program MBG
Manajemen BEEF menyebut, pemerintah menargetkan 20 juta penerima MBG sehingga kebutuhan susu diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ton per tahun. [613] url asal
#sapi-perah #sapi-perah-impor #susu-mbg #susu-olahan #program-mbg #estika-tata-tiara #beef-ekspansi #bisnis-susu #cold-storage #penggemukan-kerbau #program-makan-bergizi #investasi-beef #penjualan-bee
(Bisnis.Com - Market) 18/02/26 20:29
v/140014/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Estika Tata Tiara Tbk. (BEEF) secara resmi menerima kedatangan 250 ekor sapi perah impor, sejalan dengan rencana perseroan mendukung program pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melansir keterbukaan informasi pada Rabu (18/2/2026), BEEF mengungkapkan bahwa kedatangan 250 ekor sapi perah impor tersebut merupakan rencana dan bagian dari program MBG.
Manajemen BEEF menyebut, pemerintah menargetkan 20 juta penerima MBG sehingga kebutuhan susu diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.
“Pemerintah menargetkan mengimpor 400.000 sapi pada 2025, setengahnya merupakan sapi perah, sebagai bagian dari dua juta sapi dalam lima tahun ke depan,” ujar manajemen, Rabu (18/2/2026).
Adapun, seluruh ternak tersebut telah tiba pada 2 Februari 2026 melalui Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap, Jawa Tengah. Setelah menjalani masa karantina kurang lebih dua pekan sesuai dengan ketentuan dan prosedur kesehatan hewan yang berlaku, sapi perah tersebut ditempatkan di kawasan Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul (BBPTU) Manggala, Baturaden, Kabupaten Banyumas.
BEEF menjelaskan bahwa kedatangan sapi perah impor tersebut terlaksana melalui kerja sama strategis dengan PT Lunar Chemplast sebagai mitra dalam proses pengadaan dan importasi. “Sinergi ini menjadi langkah penting dalam memastikan kualitas ternak yang didatangkan memenuhi standar kesehatan, produktivitas, serta keberlanjutan operasional perseroan.”
Sementara itu, untuk proses pengelolaan dan perawatan sapi perah, BEEF bekerja sama dengan Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul (BBPTU) Baturaden guna memastikan penerapan standar manajemen peternakan terbaik. Kerja sama ini mencakup aspek teknis pemeliharaan, pengawasan kesehatan ternak, serta pengembangan sistem produksi yang berkelanjutan.
Perseroan juga melakukan penanaman tanaman pakan ternak di area seluas 178.214 m² yang berlokasi di Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas sebagai bagian dari penguatan rantai pasok pakan. Area tersebut berada pada ketinggian sekitar 700 mdpl di atas permukaan laut, dengan kondisi agroklimat yang mendukung pertumbuhan hijau berkualitas tinggi guna menjaga nutrisi dan produktivitas sapi perah.
“Melalui langkah ini, [kami] perseroan optimis dapat mengembangkan dan meningkatkan kapasitas produksi susu segar secara signifikan, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta berkontribusi dalam mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional.”
Pengembangan ini sekaligus menegaskan komitmen BEEF dalam membangun sektor peternakan modern yang berorientasi pada keberlanjutan dan ketahanan pangan nasional.
Untuk diketahui, BEEF yang juga merupakan produsen sosis Kibif tersebut pada akhir tahun lalu telah membuka tiga kegiatan usaha baru, yaitu segmen susu sapi, aktivitas cold storage (gudang pendingin), dan usaha penggemukan kerbau dalam rangka mendukung program MBG.
Dalam keterbukaan informasi, BEEF mengungkapkan perseroan mendapat mandat dari pemerintah untuk berpartisipasi dalam pemenuhan gizi melalui susu dalam program MBG. “Penambahan kegiatan usaha baru terhadap kelangsungan usaha perseroan adalah dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis [MBG] di mana perseroan diminta untuk berpartisipasi dalam pemenuhan gizi melalui susu. Saat ini, usaha susu tidak perseroan miliki, sehingga pemerintah meminta perseroan berpartisipasi untuk usaha sapi perah beserta usaha turunannya,” tulis manajemen, dikutip Kamis (13/11/2025).
Adapun, tiga kegiatan usaha baru tersebut ditaksir akan berkontribusi atas penjualan senilai Rp83,33 miliar pada 2026, dan akan melesat 116,92% menjadi Rp180,76 miliar pada 2027.
Lebih lanjut, BEEF menambah kegiatan usaha penggemukan kerbau karena melihat adanya kebutuhan yang tinggi. Perseroan melihat kerbau adalah pilihan kedua masyarakat selain daging sapi dan harganya pun lebih terjangkau.
Selain itu, BEF juga akan melakukan penambahan aktivitas cold storage secara komersil. Manajemen mengumumkan saat ini pembangunan cold storage di Subang sudah mencapai 100%, dan cold storage tersebut dapat disewakan.
Total investasi yang dihitung perusahaan untuk menjalankan penambahan tiga kegiatan usaha baru ini sebesar Rp319,37 miliar, dengan komposisi 60% atau Rp191,62 miliar dari utang bank dan 40% atau Rp127,75 miliar bersumber dari modal sendiri.
----
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Produsen Kibif (BEEF) Ekspansi Bisnis Susu Olahan Dukung Program MBG
PT Estika Tata Tiara Tbk. (BEEF) ekspansi ke bisnis susu, cold storage, dan penggemukan kerbau untuk dukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan target penjualan Rp180,76 miliar pada 2027. [442] url asal
#susu-olahan #program-mbg #estika-tata-tiara #beef-ekspansi #bisnis-susu #cold-storage #penggemukan-kerbau #program-makan-bergizi #investasi-beef #penjualan-beef #laba-bersih-beef #distribusi-susu #usa
(Bisnis.Com - Market) 13/11/25 14:48
v/37407/
Bisnis.com, JAKARTA – PT Estika Tata Tiara Tbk. (BEEF) membuka tiga kegiatan usaha baru yaitu segmen susu sapi, aktivitas cold storage (gudang pendingin), dan usaha penggemukan kerbau dalam rangka mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melansir keterbukaan informasi pada Rabu (12/11/2025), BEEF mengungkapkan perseroan mendapat mandat dari pemerintah untuk berpartisipasi dalam pemenuhan gizi melalui susu dalam program MBG.
"Penambahan kegiatan usaha baru terhadap kelangsungan usaha perseroan adalah dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di mana perseroan diminta untuk berpartisipasi dalam pemenuhan gizi melalui susu. Saat ini, usaha susu tidak perseroan miliki, sehingga pemerintah meminta perseroan berpartisipasi untuk usaha sapi perah beserta usaha turunannya," tulis manajemen, dikutip Kamis (13/11).
Adapun, tiga kegiatan usaha baru tersebut ditaksir akan berkontribusi atas penjualan senilai Rp83,33 miliar pada 2026, dan akan melesat 116,92% menjadi Rp180,76 miliar pada 2027.
Lebih lanjut, BEEF menambah kegiatan usaha penggemukan kerbau karena melihat adanya kebutuhan yang tinggi. Perseroan melihat kerbau adalah pilihan kedua masyarakat selain daging sapi dan harganya pun lebih terjangkau.
Selain itu, BEF juga akan melakukan penambahan aktivitas cold storage secara komersil. Manajemen mengumumkan saat ini pembangunan cold storage di Subang sudah mencapai 100%, dan cold storage tesebut dapat disewakan.
Total investasi yang dihitung perusahaan untuk menjalankan penambahan tiga kegiatan usaha baru ini sebesar Rp319,37 miliar, dengan komposisi 60% atau Rp191,62 miliar dari utang bank dan 40% atau Rp127,75 miliar bersumber dari modal sendiri.
Manajemen BEEF menghitung penjualan perseroan dari tiga lini bisnis baru itu akan melesat signifikan pada 2027, mencapai Rp180,76 miliar atau naik 116,92% dari estimasi penjualan 2026 sebesar Rp83,33 miliar.
Sementara, laba bersih 2027 yang bersumber dari tiga lini usaha baru tersebut ditaksir sebesar Rp90,49 miliar atau naik dari estimasi laba bersih 2026 mencapai Rp15,36 miliar.
Dalam jangka panjang, penjualan BEEF dari tiga lini usaha tersebut ditaksir mencapai Rp220,45 miliar dengan laba bersih sebesar Rp118,49 miliar pada tahun buku 2030.
Berdasarkan Laporan Keuangan, BEEF sepanjang Januari-September 2025 membukukan penjulan Rp5,02 triliun, naik dari Rp2,64 triliun pada periode yang sama 2024. Penjualan ini berasal dari segmen distribusi dan penjualan sebesar Rp5,01 triliun, pengolahan makanan Rp10,54 miliar, yang kemudian ada faktor eliminasi sebesar Rp8,24 miliar.
Sejalan dengan perbaikan kinerja top line, BEEF dalam 9 bulan pertama 2025 membukukan pertumbuhan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih menjadi Rp99,05 miliar, naik dibanding Rp39,81 miliar pada periode yang sama 2024.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56