Bisnis.com, PEKANBARU — Sebanyak 213 jemaah haji yang tergabung dalam kloter pertama Provinsi Riau tiba kembali di Tanah Air melalui Bandara Internasional Bandara Sultan Syarif Kasim II, Jumat (5/6/2026). Kedatangan ini menandai dimulainya fase pemulangan jemaah haji asal Riau yang akan berlangsung hingga 21 Juni 2026.
Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT239 yang mengangkut jemaah asal Kota Pekanbaru mendarat dengan selamat pada pukul 08.50 WIB. Setibanya di bandara, para jemaah disambut oleh Wali Kota Pekanbaru, manajemen bandara, serta sejumlah pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyelenggaraan angkutan haji tahun ini.
Pelaksana tugas General Manager Bandara Sultan Syarif Kasim II, Yoko Harianto, mengatakan seluruh jemaah kloter pertama tiba dengan selamat dan langsung diberangkatkan menuju Kantor Kementerian Agama Kota Pekanbaru menggunakan bus yang telah disiapkan panitia haji.
“Sebanyak 213 jemaah haji kloter pertama asal Kota Pekanbaru telah tiba kembali di tanah air dengan selamat dan langsung menuju lokasi penerimaan jemaah yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Menghadapi periode pemulangan jemaah haji, PT Angkasa Pura Indonesia Bandara SSK II telah melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait, mulai dari otoritas bandara, Kementerian Agama, TNI/Polri, penyelenggara navigasi penerbangan, imigrasi, bea cukai, balai kekarantinaan kesehatan, maskapai, hingga perusahaan ground handling.
Menurut Yoko, kesiapan operasional tersebut dilakukan untuk memastikan kelancaran layanan bagi seluruh jemaah yang akan tiba secara bertahap dalam sembilan kloter pemulangan.
“Seluruh fasilitas dan layanan operasional bandara telah dipersiapkan guna mendukung kelancaran perjalanan jemaah haji sejak keberangkatan hingga kepulangan ke tanah air,” katanya.
Pada musim haji 2026, Bandara SSK II melayani kedatangan sebanyak 2.472 jemaah haji yang terbagi dalam 10 kloter. Pemulangan jemaah berlangsung mulai 5 Juni hingga 21 Juni 2026, dengan jemaah berasal dari Kota Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kabupaten Pelalawan.
Manajemen bandara juga mengimbau keluarga jemaah untuk tidak melakukan penjemputan langsung di area bandara guna menghindari kepadatan lalu lintas. Keluarga diminta menunggu di lokasi penerimaan jemaah yang telah ditentukan oleh panitia.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kelancaran mobilitas bus pengangkut jemaah serta arus kendaraan pengguna jasa bandara lainnya selama periode pemulangan haji berlangsung.
Jakarta, CNBC Indonesia — Di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, ketika bangsa ini masih berjuang bangkit dari penjajahan dan krisis ekonomi, muncul sosok dermawan luar biasa dari tanah Riau, yaitu Sultan Syarif Kasim II.
Penguasa Kesultanan Siak ini dikenal sebagai raja muslim terkaya di Nusantara pada masanya. Kekayaannya berasal dari berbagai sektor, mulai dari perkebunan, pertanian, hingga kerja sama migas dengan perusahaan asal Amerika Serikat, Standard Oil Company of California.
Pada 1930, dia mengizinkan perusahaan AS tersebut menambang minyak bumi di wilayah kekuasaannya.
Praktis, kegiatan bisnis tersebut membuat kantong pribadi raja muslim terkaya itu makin tebal. Namun, di balik kekayaan yang melimpah, Syarif Kasim II justru memilih hidup sederhana dan mengabdikan hartanya untuk rakyat. Ia mendirikan sekolah, menyalurkan beasiswa, dan memastikan rakyatnya mendapat pendidikan layak, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Begitu juga usai Indonesia merdeka tahun 1949. Saat itu kondisi Indonesia sangat kacau.
Roda pemerintahan tak bisa bergerak imbas kedatangan Belanda yang ingin kembali menjajah. Lalu, rakyat juga hidup susah karena situasi politik dan ekonomi yang tak stabil.
Di tengah kondisi demikian, Syarif Kasim II memutuskan untuk membagi-bagikan harta demi mengurai kesulitan. Dia membagikannya bukan kepada rakyat perseorangan, tetapi pemerintah Indonesia supaya bisa digunakan semaksimal mungkin bagi masyarakat luas.
Dalam Sultan Syarif Kasim II: Riwayat Hidup dan Perjuangannya (2004) tercatat dia menyumbangkan mahkota emas, pedang kerajaan, mobil, serta kiloan emas dan berlian. Semuanya diserahkan kepada Gubernur Sumatera Tengah di Bukittinggi.
Kebaikan dan rasa simpati sang raja juga terjadi saat dirinya melihat kondisi Aceh. Saat tiba di Aceh, dia hendak membagikan emas dan berlian yang dia bawa kepada masyarakat melalui Gubernur Aceh Daud Beureuh.
Namun, Daud Beureuh menolaknya dan meminta Penguasa Siak menyerahkannya kepada pemerintah Indonesia di Yogyakarta supaya bisa diserap masyarakat luas. Alhasil, Syarif Kasim II pun segera pergi ke Yogyakarta bersama rombongan dan sisa-sisa perhiasan emas dan berlian miliknya.
Saat tiba di Istana Negara, dia memberikan semua harta pribadi kepada Presiden RI guna membantu negara dan rakyat dalam kondisi sulit. Total semua harta pribadi yang diberikannya secara cuma-cuma mencapai 13 juta gulden atau jika dikonversi dengan nominal saat ini, mencapai lebih dari Rp 1 triliun.
Pemberian harta tersebut juga menandakan dukungan penguasa tanah Sumatera Timur itu atas eksistensi Indonesia. Dengan modal kekayaan yang dimiliki, Kesultanan Siak bisa saja berdiri sebagai negara merdeka. Alias tak perlu bergabung ke Indonesia.
Namun, Syarif Kasim II memutuskan mengambil jalan berbeda. Dia memberi dukungan kepada Indonesia hingga membagi-bagikan harta pribadi senilai miliaran rupiah kepada rakyat agar tak menderita.
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56