Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia membutuhkan talenta sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Namun jumlah lulusan STEM masih terbatas. Tantangan ini bersifat struktural dan berlangsung lama.
Data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2023 mencatat hanya 18,47 persen lulusan perguruan tinggi berasal dari bidang STEM. Artinya, kurang dari seperlima sarjana Indonesia berasal dari rumpun sains dan teknologi.
Dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, proporsi mahasiswa STEM Indonesia masih lebih rendah. Ketimpangan ini membuat Indonesia tertinggal dalam suplai talenta teknologi di kawasan. Dalam ekonomi berbasis inovasi, komposisi lulusan menjadi faktor penentu daya saing.
Pemerintah sejauh ini menempatkan pendidikan tinggi dan sains sebagai fondasi transformasi ekonomi. Penguatan STEM dipandang bukan sekadar urusan kampus. Basis pendidikan ini diharapkan menjadi strategi untuk mengejar ketertinggalan regional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menilai perguruan tinggi harus bertransformasi. Kampus, menurutnya, tidak lagi cukup menjadi ruang produksi teori, tetapi harus hadir sebagai motor perubahan sosial dan ekonomi.
“Perguruan tinggi harus mampu mencetak SDM yang mumpuni secara kapasitas dan kapabilitas, berintegritas, nasionalis, dan memiliki keberpihakan besar kepada masyarakat dan bangsa,” ujar Brian.
Dia menyoroti keterputusan antara riset dan kebutuhan industri sebagai persoalan mendasar. Menurutnya, masih banyak penelitian berhenti di jurnal ilmiah tanpa hilirisasi. Akibatnya, dampak bagi masyarakat dan dunia usaha masih terbatas.
Untuk memperkuat ekosistem riset, pemerintah meningkatkan alokasi dana inovasi perguruan tinggi hingga Rp4 triliun. Secara nasional, total anggaran riset mencapai Rp8 triliun atau sekitar 0,34 persen APBN. Kenaikan ini diharapkan mempercepat transformasi riset menjadi produk dan solusi nyata.
“Riset tidak boleh berhenti di jurnal, tetapi harus berujung pada solusi nyata bagi industri dan masyarakat,” kata Brian. Ia juga mendorong kampus membangun budaya problem solving dan kolaborasi lintas disiplin.
Terpisah, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengusulkan perluasan STEM menjadi STEAM dengan memasukkan unsur seni dan kebudayaan. Menurutnya, pendekatan ini relevan bagi Indonesia sekaligus dapat memperkaya daya cipta dan konteks inovasi nasional.