Bisnis.com, JAKARTA - Sinema horor Indonesa kembali menyuguhkan tontonan baru. Film Warung Pocong bakal menyapa publik lewat potret sosial masyarakat dengan balutan komedi horor. Warung Pocong dijadwalkan tayang di bioskop pada 9 April 2026.
Warung Pocong bercerita tentang tiga pemuda yang tengah terjebak masalah keuangan. Syahdan mereka menerima tawaran pekerjaan untuk menjaga sebuah warung. Namun, pekerjaan tersebut justru membawa mereka pada teror mistis yang tak terduga.
Kendati horor, film ini digadang tetap memiliki pesan. Salah satunya untuk menjaga kewarasan di tengah tekanan hidup. Termasuk mengajak penonton agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan saat berada dalam situasi sulit.
Sutradara Bendolt mengatakan Warung Pocong ingin memotret isu sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat. Karakter-karakter dalam film juga digambarkan sedang menghadapi persoalan ekonomi dan tekanan hidup.
"Cerita di film ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang masalah ekonomi yang sering dialami anak muda, namun dikemas dengan pendekatan yang fun,” paparnya saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/26).
Dari sisi produksi, Eko Supriyanto juga melihat film ini memiliki peluang di tengah persaingan industri film yang semakin ketat. Dia menyebut saat ini film Indonesia sangat beragam. Karena itu, dibutuhkan pendekatan berbeda agar bisa menonjol.
Eko menilai kekuatan Warung Pocong ada pada perpaduan genre dan pemain. Dia bahkan menyebut film ini sebagai “film Avengers” karena menggabungkan kekuatan aktor horor dan komika. “Mudah-mudahan dengan ramuan ini filmnya bisa diterima masyarakat dan mendapatkan penonton yang banyak,” ujarnya.
Pendekatan komedi dalam film ini juga dirancang tidak biasa. David Nurbianto sebagai comedy consultant menjelaskan bahwa humor tidak bergantung pada dialog. Komedi justru dibangun dari situasi dan ekspresi para pemain.
David menyebut gaya komedi yang diusung cenderung subtil. “Pak Bendolt tidak mau terlalu banyak main verbal, tapi di situasi dan ekspresi, jadi mukanya yang berbicara,” katanya. Dia menambahkan bahwa seluruh elemen komedi sudah dikunci sejak tahap pengembangan naskah.
Tiga pemeran utama juga menjadi penggerak utama komedi situasional tersebut. Mereka adalah Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil. Dikenal sebgai komika, ketiganya menghadirkan karakter yang berangkat dari realitas sosial.
Sadana Agung mengungkapkan bahwa karakter yang dia perankan dekat dengan kondisi ekonomi masyarakat. Dia menilai banyak orang bisa merasa relate dengan situasi tersebut. “Kalau lagi kena masalah jangan langsung ambil keputusan, harus lebih hati-hati dan tenang,” ujarnya.
Sementara itu, Randhika Djamil mengaku memiliki pengalaman pribadi yang serupa dengan karakternya. Dia pernah mengalami penipuan dalam kehidupan nyata. “Gue juga pernah ketipu, jadi kebawa pas main, tinggal ngerecall rasanya,” katanya.
Fajar Nugra juga menyoroti pentingnya observasi dalam membangun karakter. Dia menyebut pengalaman hidup menjadi modal penting dalam berakting. “Aktor itu ketika syuting justru liburan, tapi ketika libur kita kerja untuk observasi,” ungkapnya.