Bisnis.com, JAKARTA - Kasus penyekapan dan penganiayaan yang dialami oleh perempuan di Bandung oleh pasangannya membuat heboh.
Dari kasus penganiayaan itu, wajah korban hingga tidak bisa dikenali.
Kekerasan tidak hanya membahayakan kita secara fisik tetapi juga sangat memengaruhi kesejahteraan emosional dan psikologis kita.
Banyak penyintas kekerasan dalam rumah tangga mengalami kecemasan, depresi, PTSD (Gangguan Stres Pasca Trauma), dan masalah kesehatan mental lainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa trauma psikologis dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental dan fisik, terutama jika tidak ditangani (Herman, 1992). Memahami dampak trauma adalah langkah pertama menuju penyembuhan.
Dampak Utama Kekerasan Dalam Rumah Tangga terhadap Kesehatan Mental dilansir dari headroom.co.za
Kecemasan dan Ketakutan : Hidup dalam ketakutan yang terus-menerus dapat menyebabkan kecemasan kronis, sehingga sulit untuk mempercayai orang lain atau merasa aman.
Depresi : Para penyintas sering merasa tidak berdaya atau terjebak, yang dapat menyebabkan perasaan sedih dan putus asa yang mendalam.
Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD) : Kilas balik, mimpi buruk, dan kewaspadaan berlebihan adalah gejala umum PTSD pada penyintas kekerasan dalam rumah tangga.
Tips Penting : Jika Anda mengalami gejala-gejala ini, sangat penting untuk mencari bantuan profesional. Pemulihan trauma bukanlah sesuatu yang seharusnya dihadapi seseorang sendirian.
Berikut Tips Mengatasi Dampak Trauma Kekerasan
1. Mengenali dan Memproses Emosi Anda
Bagi para penyintas kekerasan dalam rumah tangga, menekan emosi adalah hal yang umum untuk mengatasi pelecehan tersebut. Namun, emosi yang tidak ditangani dapat menyebabkan trauma psikologis yang berkepanjangan. Mengakui dan memproses perasaan Anda—baik melalui menulis jurnal, terapi, atau berbicara dengan kelompok dukungan dapat membantu Anda memulai proses penyembuhan.
2. Membangun Jaringan Dukungan
Para penyintas kekerasan dalam rumah tangga sering merasa terisolasi dan kesepian. Membangun jaringan dukungan yang kuat dari teman-teman tepercaya, anggota keluarga, atau kelompok dukungan dapat membantu mengurangi isolasi ini. Dukungan emosional sangat penting dalam membantu para penyintas membangun kembali kepercayaan diri dan harga diri mereka.
3. Mempraktikkan Welas Asih Diri
Belas kasih terhadap diri sendiri sangat penting dalam menghadapi trauma psikologis. Para penyintas mungkin merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri atas pelecehan tersebut. Penting untuk diingat bahwa kekerasan dalam rumah tangga bukanlah kesalahan korban. Mempraktikkan belas kasih terhadap diri sendiri—bersikap baik kepada diri sendiri, memaafkan diri sendiri, dan mengakui kekuatan diri—dapat sangat menyembuhkan.
4. Mencari Bantuan Profesional
Terapi dan konseling merupakan alat penting dalam pemulihan dari trauma. Para profesional kesehatan mental dapat menyediakan mekanisme penanggulangan, dukungan emosional, dan ruang aman untuk memproses pengalaman Anda. Terapi perilaku kognitif (CBT), terapi yang berfokus pada trauma, dan EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) adalah semua pengobatan berbasis bukti untuk trauma.