Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa dia telah berbicara via telepon dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Menurut laporan The New York Times yang dilansir dari Reuters, percakapan itu berlangsung pada awal bulan ini dan mencakup pembahasan mengenai kemungkinan pertemuan keduanya di Amerika Serikat. Namun, Trump tidak merinci lebih jauh isi pembicaraannya dengan Maduro.
“Saya tidak akan mengatakan itu berjalan baik atau buruk, itu hanya panggilan telepon,” ujar Trump tentang percakapan tersebut, dikutip pada Senin (1/2/2025).
Maduro dan pejabat tinggi lainnya juga belum memberi komentar mengenai panggilan telepon tersebut. Saat ditanya pada Minggu (30/11/2025), Ketua Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodriguez mengatakan bahwa panggilan tersebut bukan topik konferensi persnya yang membahas penyelidikan terhadap serangan kapal AS di Karibia.
Kabar mengenai panggilan telepon ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua pihak. Pada Sabtu (29/11/2025), Trump menyatakan bahwa wilayah udara di atas dan sekitar Venezuela harus dianggap sepenuhnya ditutup, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Ketika ditanya apakah hal itu menandakan serangan terhadap Venezuela akan segera terjadi, Trump hanya menjawab agar hal itu tidak perlu dipikirkan. Pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran dan kebingungan di Caracas, sementara pemerintahannya terus meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Maduro.
Sebelumnya, AS menilai Maduro terlibat dalam jaringan kartel narkoba Cartel de los Soles. Status teroris itu ditetapkan setelah AS memasukkan Maduro dalam daftar buronan dan menawarkan hadiah sebesar US$50 juta (sekitar Rp833 miliar) bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada penangkapannya. Namun, Maduro membantah keras memiliki hubungan dengan perdagangan narkoba.
Menurut Reuters, AS tengah mempertimbangkan sejumlah langkah, termasuk opsi untuk menjatuhkan pemerintahan Maduro. Militer AS juga disebut siap memasuki fase operasi baru setelah sebelumnya melakukan pengerahan besar-besaran di wilayah Karibia dan hampir tiga bulan menargetkan kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba di perairan sekitar Venezuela.
Menyusul kabar tersebut, berbagai kelompok hak asasi manusia mengecam serangan itu karena dinilai sebagai pembunuhan ilegal terhadap warga sipil. Sejumlah sekutu AS juga semakin khawatir bahwa Washington berpotensi melanggar hukum internasional.
Trump menanggapi kritik tersebut dengan menyatakan bahwa ia akan menyelidiki apakah militer AS telah melancarkan serangan kedua di Karibia. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak menginginkan terjadinya serangan semacam itu. (Putri Astrian Surahman)