Bisnis.com, JAKARTA — Nuklir yang dikembangkan Iran disinyalir menjadi alasan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengintervensi Republik Islam tersebut.Dalam pidato kenegaraannya di Washington Selasa kemarin, inisiator Board of Peace itu, menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Lantas seperti apa cadangan nuklir yang dimiliki Iran? Dalam laporan terbaru Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), Iran disebut memiliki stok signifikan uranium yang diperkaya hingga 60%.
Cadangan itu katanya ditemukan di Isfahan, salah satu dari tiga fasilitas yang diklaim AS telah dihancurkan dalam perang 12 hari, pada tahun lalu. IAEA mengatakan telah mengamati dalam citra satelit adanya aktivitas kendaraan reguler di sekitar pintu masuk kompleks terowongan di Isfahan, tempat disimpannya uranium yang diperkaya hingga 20% dan 60%.
Oleh karenanya, IAEA menilai sangat penting dan mendesak untuk menginspeksi lokasi tersebut. “Aktivitas kendaraan reguler di sekitar pintu masuk kompleks terowongan di Isfahan tempat (uranium) yang diperkaya hingga 20% dan 60% U-235 ... disimpan," bunyi laporan tersebut seperti dikutip dari Reuters, Minggu (1/3/2026).
Dalam laporan IAEA disebutkan bahwa stockpile uranium kelas tinggi yang dimiliki Iran diperkirakan mencapai 440,9 kilogram pada level 60%, sebelum serangan AS-Israel tahun lalu. Cadangan uranium dengan jumlah tersebut katanya cukup untuk membuat 10 senjata nuklir .
Meski Iran secara resmi menyatakan program nuklirnya untuk tujuan energi dan sipil, serta menolak tuduhan pengembangan senjata, fakta bahwa negara itu menyimpan material yang secara teknis dapat dikonversi menjadi bom menimbulkan tekanan diplomatik.
Amerika Serikat dan sekutu Eropa menuntut Teheran untuk menyerahkan atau mengurangi stok uranium yang diperkaya sebagai bagian dari perundingan nuklir yang berlangsung kemarin.
Mengenal Uranium
Mengutip Asosiasi Nuklir Dunia, uranium merupakan logam berat yang telah digunakan sebagai sumber energi terkonsentrasi yang melimpah selama lebih dari 60 tahun. Uranium terdapat di sebagian besar batuan dengan konsentrasi 2 hingga 4 bagian per juta dan umumnya terdapat di kerak bumi seperti timah, tungsten, dan molibdenum. Uranium juga terdapat di air laut, dan dapat diekstraksi dari lautan.
Uranium ditemukan pada tahun 1789 oleh Martin Klaproth, seorang ahli kimia Jerman, dalam mineral yang disebut pitchblende. Nama uranium diambil dari nama planet Uranus, yang ditemukan delapan tahun sebelumnya.
Seperti unsur-unsur lainnya, uranium terdapat dalam beberapa bentuk yang sedikit berbeda yang dikenal sebagai 'isotop'. Isotop-isotop ini berbeda satu sama lain dalam jumlah partikel tak bermuatan (neutron) di dalam inti.
Uranium alami seperti yang ditemukan di kerak bumi adalah campuran yang sebagian besar terdiri dari dua isotop yakni uranium-238 (U-238) yang berjumlah 99,3% dan uranium-235 (U-235) sekitar 0,7%. Uranium dengan kadar lebih dari 90% menjadi bahan baku pembuatan senjata nuklir.