Bisnis.com, BANDA ACEH — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat investor kembali mencari aset yang dinilai tahan banting, mulai dari emas, dolar AS, minyak, saham energi, pertahanan, hingga Bitcoin.
Krisis di kawasan tersebut menegaskan rapuhnya keamanan energi global, terutama karena posisi Iran dalam produksi minyak dan peran Selat Hormuz sebagai jalur penting perdagangan energi dunia. Di tengah volatilitas pasar, investor mulai menimbang aset yang bisa memberi perlindungan sekaligus peluang pertumbuhan.
Dikutip dari VanEck, Senin (11/5/2026), emas, sektor pertahanan, komoditas, dan saham berkualitas berada dalam posisi struktural yang relatif kuat untuk menghadapi situasi seperti ini. Fokus pasar kini bergeser ke geopolitik setelah ketegangan di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak dan perburuan aset aman.
Dalam kondisi geopolitik memanas, aset terbaik tidak selalu hanya aset safe haven tradisional. Minyak, saham energi, komoditas, saham pertahanan, hingga sejumlah aset berbasis teknologi ikut menjadi perhatian karena dinilai bisa mendapat dorongan dari perubahan risiko global.
Emirates NBD mencatat Brent sempat melonjak di atas US$80 per barel, sedangkan penutupan Selat Hormuz dapat mengganggu sekitar seperlima pasokan energi dunia. Kondisi ini membuat pasar kembali menghitung ulang risiko inflasi, suku bunga, dan prospek pertumbuhan global.
Berikut sejumlah investasi atau aset yang dinilai menarik saat geopolitik memanas:
1. Emas dan Logam Mulia
Emas tetap menjadi aset yang banyak dilirik saat risiko geopolitik meningkat. VanEck menilai emas didukung oleh akumulasi bank sentral, memburuknya kondisi fiskal, serta ketidakpastian geopolitik.
Emirates NBD juga menyebut logam kuning tersebut berpeluang menuju level tertinggi baru seiring meningkatnya gejolak di kawasan Teluk. Dalam jangka panjang, emas masih dipandang menarik karena kenaikan utang di negara-negara Barat, pencetakan uang, dan pelemahan daya beli mata uang.
Namun, emas tidak selalu bebas tekanan. Harga emas disebut sempat turun sekitar 13% sejak perang dimulai karena pasar memperkirakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama akibat lonjakan harga energi.
“Kenaikan harga minyak semakin memperkuat narasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama,” kata mantan trader logam JP Morgan, Robert Gottlieb.
2. Dolar AS dan US Treasuries
Dolar AS kembali menjadi incaran sebagai mata uang safe haven ketika ketegangan geopolitik meningkat. Emirates NBD mencatat dolar AS menguat karena investor mencari perlindungan di tengah gejolak Timur Tengah.
Namun, penguatan dolar dinilai bisa bersifat sementara. Dolar AS sudah mahal berdasarkan purchasing power parity dan berada dalam tren turun sekuler yang dapat berlanjut setelah situasi kawasan mereda.
Selain dolar AS, US Treasuries dapat menjadi lindung nilai portofolio dalam periode risk-off dan saat suku bunga naik. Instrumen ini berpotensi membantu menahan volatilitas ketika investor mengurangi risiko.
3. Minyak, Saham Energi, dan Komoditas
Minyak mentah menjadi salah satu aset yang paling langsung terdampak saat geopolitik Timur Tengah memanas. Konflik di sekitar Selat Hormuz membuat pasar khawatir terhadap gangguan pasokan energi global.
ETF berbasis WTI crude oil disebut melonjak hampir 70% sejak perang pecah pada akhir Februari. Harga minyak WTI bahkan sempat bertahan di sekitar US$105 per barel setelah serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal tanker.
Saham energi ikut terdorong ketika harga minyak naik. Emirates NBD menilai produsen hulu dan perusahaan energi terintegrasi memiliki perlindungan jangka pendek saat harga minyak bertahan tinggi, termasuk Chevron dan Exxon Mobil.
Untuk kawasan Teluk, Emirates NBD menyarankan penambahan eksposur pada platform energi dan gas yang menghasilkan arus kas serta dividen tinggi, seperti Saudi Aramco dan perusahaan ADNOC.
Di luar minyak, komoditas dan mineral kritis juga dinilai menarik. Investor kembali melirik sumber daya tradisional dan mineral kritis sebagai eksposur strategis dalam portofolio, terutama ketika konflik mengancam transportasi, produksi, dan pengolahan energi.
4. Saham Pertahanan
Sektor pertahanan menjadi tema struktural yang semakin kuat saat geopolitik memanas. VanEck menyebut belanja pertahanan sudah berada dalam siklus naik dan konflik mempercepat penilaian ulang jangka panjang terhadap keamanan.
Pertahanan bukan sekadar peluang taktis. Risiko geopolitik yang meningkat memperkuat prospek pengadaan jangka panjang dan komitmen fiskal multiyear di negara NATO dan sekutunya.
Investor disarankan menggunakan volatilitas untuk mengakumulasi kontraktor pertahanan berkualitas tinggi di Eropa dan AS, termasuk Lockheed Martin.
5. Saham Emerging Market dan Teknologi
Dalam saham, Emirates NBD menilai negara emerging market lebih terekspos pada siklus komoditas dan industri. Karena itu, saham emerging market lebih disukai dibandingkan saham developed market dalam tactical asset allocation.
Sektor teknologi juga ikut mencuri perhatian. ETF semikonduktor disebut naik sekitar 22%, sedangkan ETF hydrogen melonjak hampir 28% karena reli saham chip global, permintaan AI, dan kebutuhan pusat data.
Nasdaq juga kembali mencetak rekor tertinggi baru karena reli saham teknologi. Strategist Global X ETFs Billy Leung menyebut tema AI sudah meluas ke berbagai sektor, termasuk semikonduktor, hydrogen, dan teknologi baterai.
6. Bitcoin
Bitcoin masuk daftar aset yang dicari sebagian investor di tengah ketegangan geopolitik. ETF berbasis Bitcoin disebut berhasil masuk daftar ETF dengan performa terbaik selama konflik berlangsung.
Fenomena ini menunjukkan sebagian investor mulai melihat Bitcoin sebagai alternatif diversifikasi ketika pasar global tidak pasti. Meski begitu, Bitcoin tetap memiliki karakter volatil sehingga lebih cocok diposisikan sebagai pelengkap portofolio, bukan pengganti aset lindung nilai tradisional.
Aset yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua aset cocok dikoleksi saat geopolitik memanas. Sektor yang paling rentan mencakup maskapai, operator logistik, saham perjalanan, saham konsumsi berbasis leisure, dan saham growth berbeta tinggi. Jika harga minyak tetap tinggi dan volatilitas bertahan, sektor-sektor tersebut berpotensi mendapat tekanan lebih besar.
Pilihan aset terbaik saat geopolitik memanas bergantung pada durasi konflik, dampaknya terhadap energi, arah inflasi, suku bunga, dan kualitas aset yang masuk ke portofolio.