Bisnis.com, JAKARTA – Paus Leo XIV kembali menegaskan posisi Vatikan bahwa solusi dua negara atau w merupakan satu-satunya jalan menuju keadilan dan penyelesaian konflik Israel vs Palestina.
Pernyataan itu disampaikan saat ia terbang dari Turkiye ke Lebanon pada Minggu (30/11/), dalam rangkaian kunjungan apostolik pertamanya sebagai Paus Gereja Katolik.
Melansir Al Jazeera, Paus Leo XIV menjawab pertanyaan pers mengenai isi pembicaraannya dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Ia membenarkan bahwa kedua pihak turut membahas perang di Gaza dan Ukraina, serta menilai Turkiye memiliki peran signifikan untuk mendorong penyelesaian kedua konflik tersebut.
Terkait Gaza, Paus Leo menegaskan kembali dukungan Takhta Suci terhadap pembentukan negara Palestina yang mencakup Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Ia menyebut langkah tersebut sebagai satu-satunya solusi yang dapat menjamin keadilan bagi kedua pihak.
“Kami memahami bahwa saat ini Israel belum menerima opsi tersebut, tetapi kami melihatnya sebagai satu-satunya jalan keluar dari konflik yang berlangsung. Kami menjalin hubungan baik dengan Israel dan berupaya menjadi suara mediasi bagi kedua pihak untuk mendekatkan mereka pada solusi yang adil,” ujarnya.
Hingga Senin (1/12/2025), Al Jazeera mengungkapkan belum ada respons dari kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas pernyataan Sri Paus.
Netanyahu sebelumnya menegaskan penolakannya terhadap negara Palestina, dengan alasan hal itu akan memberi keuntungan bagi Hamas dan meningkatkan ancaman terhadap keamanan Israel.
Kunjungan Apostolik Paus Leo XIV di Lebanon
Paus Leo mendarat di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut pada Minggu (31/11) malam. Sri Paus dijadwalkan bertemu Presiden Lebanon Joseph Aoun, satu-satunya kepala negara Kristen di dunia Arab. Ia akan menyampaikan pidato di hadapan otoritas dan diplomat di Istana Kepresidenan pada Senin siang, serta memimpin misa akbar di pusat kota Beirut.
Warga Lebanon tampak menyambut rombongan Paus di sepanjang rute menuju Baabda. Sekitar 30% penduduk Lebanon beragama Kristen, sementara mayoritas adalah Muslim dari kelompok Syiah dan Sunni.
Kunjungan Apostolik Internasional telah menjadi bagian penting dari diplomasi kepausan modern, baik untuk memperkuat komunitas Katolik global maupun membangun dialog lintas negara.
Kedatangan Paus mendapat sambutan luas dari berbagai komunitas Lebanon. Pemuka agama Druze, Sheikh Sami Abi al-Muna, menyatakan bahwa kunjungan ini memberikan “secercah harapan” bagi negara yang tengah dilanda krisis ekonomi dan keamanan.
Otoritas setempat menurunkan pasukan tambahan untuk mengamankan kedatangan Paus. Konvoi Paus akan melewati wilayah selatan Beirut yang menjadi basis pengaruh Hezbollah dan mengalami kerusakan parah akibat serangan udara Israel tahun lalu. Kelompok tersebut telah menyiapkan penyambutan simbolis di sepanjang rute.
Paus dikabarkan akan berdoa di lokasi ledakan Pelabuhan Beirut 2020 yang menewaskan 200 orang dan menyebabkan kerugian miliaran dolar. Selain itu, ia akan memimpin misa terbuka di tepi laut Beirut dan mengunjungi rumah sakit jiwa, salah satu fasilitas kesehatan mental yang masih bertahan di tengah krisis negara tersebut.
Meski demikian, Paus tidak akan mengunjungi wilayah selatan Lebanon yang menjadi target serangan Israel. Serangan tersebut terus terjadi meski ada gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat pada November 2024.
Seorang warga Beirut, Farah Saadeh, menyebut kunjungan Paus membawa harapan bagi masyarakat. “Beliau datang untuk memberkati kami dan demi perdamaian,” ujarnya.
Sebelum kedatangan Paus, Hezbollah mendesak agar beliau menyuarakan penolakan atas “ketidakadilan dan agresi” yang mereka klaim sedang dialami Lebanon akibat serangan Israel. (Stefanus Bintang Agni)