#30 tag 24jam
Industri gadai barang mewah dinilai tumbuh di tengah volatilitas pasar
Perusahaan gadai PT Lesca Gadai Premier menyebut terdapat tren peningkatan layanan gadai barang mewah pada kuartal kedua 2026 di tengah volatilitas pasar ... [338] url asal
#pergadaian #barang-mewah #ojk #lesca-gadai-premier #lgp #volatilitas-pasar
Jakarta (ANTARA) - Perusahaan gadai PT Lesca Gadai Premier menyebut terdapat tren peningkatan layanan gadai barang mewah pada kuartal kedua 2026 di tengah volatilitas pasar keuangan global dan meningkatnya kebutuhan likuiditas nasabah premium.
Direktur Lesca Gadai Premier Bastian Purnama mengatakan kondisi fluktuasi pasar modal, penyesuaian suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik mendorong sebagian investor serta individu beraset tinggi menyesuaikan portofolionya.
“Mereka membutuhkan likuiditas cepat untuk menangkap peluang bisnis atau menjaga arus kas, tetapi tidak ingin melepas aset yang berpotensi terus mengalami apresiasi,” kata Bastian dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, barang mewah kini tidak lagi hanya dipandang sebagai simbol status, tetapi juga sebagai instrumen penyimpan nilai atau safe haven.
“Banyak pengusaha dan kolektor yang menyadari bahwa menjual aset mewah mereka saat ini bukanlah langkah yang bijak, karena potensi kenaikan harganya di masa depan sangat tinggi,” ujarnya.
Lesca mengaku telah berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta menjadi perusahaan pegadaian swasta pertama di Indonesia yang memiliki sertifikasi ISO 9001 untuk sistem manajemen mutu dan ISO 27001 untuk keamanan informasi secara bersamaan.
Untuk mendukung layanan penilaian aset, perusahaan menggunakan instrumen dan akses basis data pasar global guna menentukan nilai pasar wajar sebagai dasar plafon pinjaman.
Selain itu, perusahaan menyediakan layanan white glove service, yakni proses transaksi mulai dari penilaian hingga pencairan dana yang dilakukan di lokasi nasabah tanpa perlu mendatangi gerai.
Layanan tersebut menyasar kalangan profesional dengan mobilitas tinggi yang mengutamakan privasi, keamanan, dan efisiensi transaksi.
Lebih lanjut, Bastian menyebut perseroan berencana memperluas jangkauan layanan ke Surabaya, Medan, dan sejumlah kota besar lain dalam satu hingga dua tahun ke depan.
“Kami optimistis dapat terus memberikan kontribusi positif bagi stabilitas finansial personal para nasabah di tahun 2026,” ucapnya.
Sementara itu, berdasarkan data OJK, pembiayaan industri pergadaian mencapai Rp153,49 triliun per Maret 2026 atau tumbuh 60,27 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Nilai aset industri pergadaian pada periode yang sama tercatat mencapai Rp182,84 triliun atau meningkat 58,77 persen dibandingkan posisi Maret 2025 sebesar Rp115,16 triliun.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026
Industri gadai barang mewah disebut tumbuh di tengah volatilitas pasar
Perusahaan gadai PT Lesca Gadai Premier menyebut terdapat tren peningkatan layanan gadai barang mewah pada kuartal kedua 2026 di tengah volatilitas pasar ... [338] url asal
#pergadaian #barang-mewah #ojk #lesca-gadai-premier #lgp #volatilitas-pasar
Jakarta (ANTARA) - Perusahaan gadai PT Lesca Gadai Premier menyebut terdapat tren peningkatan layanan gadai barang mewah pada kuartal kedua 2026 di tengah volatilitas pasar keuangan global dan meningkatnya kebutuhan likuiditas nasabah premium.
Direktur Lesca Gadai Premier Bastian Purnama mengatakan kondisi fluktuasi pasar modal, penyesuaian suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik mendorong sebagian investor serta individu beraset tinggi menyesuaikan portofolionya.
“Mereka membutuhkan likuiditas cepat untuk menangkap peluang bisnis atau menjaga arus kas, tetapi tidak ingin melepas aset yang berpotensi terus mengalami apresiasi,” kata Bastian dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, barang mewah kini tidak lagi hanya dipandang sebagai simbol status, tetapi juga sebagai instrumen penyimpan nilai atau safe haven.
“Banyak pengusaha dan kolektor yang menyadari bahwa menjual aset mewah mereka saat ini bukanlah langkah yang bijak, karena potensi kenaikan harganya di masa depan sangat tinggi,” ujarnya.
Lesca mengaku telah berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta menjadi perusahaan pegadaian swasta pertama di Indonesia yang memiliki sertifikasi ISO 9001 untuk sistem manajemen mutu dan ISO 27001 untuk keamanan informasi secara bersamaan.
Untuk mendukung layanan penilaian aset, perusahaan menggunakan instrumen dan akses basis data pasar global guna menentukan nilai pasar wajar sebagai dasar plafon pinjaman.
Selain itu, perusahaan menyediakan layanan white glove service, yakni proses transaksi mulai dari penilaian hingga pencairan dana yang dilakukan di lokasi nasabah tanpa perlu mendatangi gerai.
Layanan tersebut menyasar kalangan profesional dengan mobilitas tinggi yang mengutamakan privasi, keamanan, dan efisiensi transaksi.
Lebih lanjut, Bastian menyebut perseroan berencana memperluas jangkauan layanan ke Surabaya, Medan, dan sejumlah kota besar lain dalam satu hingga dua tahun ke depan.
“Kami optimistis dapat terus memberikan kontribusi positif bagi stabilitas finansial personal para nasabah di tahun 2026,” ucapnya.
Sementara itu, berdasarkan data OJK, pembiayaan industri pergadaian mencapai Rp153,49 triliun per Maret 2026 atau tumbuh 60,27 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Nilai aset industri pergadaian pada periode yang sama tercatat mencapai Rp182,84 triliun atau meningkat 58,77 persen dibandingkan posisi Maret 2025 sebesar Rp115,16 triliun.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026
Gubernur BI sebut indeks harga konsumen tetap terkendali
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan indeks harga konsumen atau IHK tetap terkendali dengan baik."Inflasi IHK pada Februari 2026 ... [232] url asal
Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan indeks harga konsumen atau IHK tetap terkendali dengan baik.
"Inflasi IHK pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,76 persen (year on year/yoy) terutama dipengaruhi oleh faktor temporer base effect dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50 persen pada Januari dan Februari 2025," ucapnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Selasa.
Selain itu, inflasi inti tetap terjaga sebesar 2,63 persen yoy terutama didorong oleh kenaikan harga emas.
Begitu pula dengan inflasi kelompok volatile food (VF) yang tercatat sebesar 4,64 persen (yoy), tetap terjaga di tengah peningkatan permintaan pada periode perayaan hari besar keagamaan nasional (HKBN) yakni Tahun Baru Imlek dan periode Ramadan 1447 H dan penurunan pasokan akibat gangguan cuaca.
Ke depan, lanjut Perry, Bank Indonesia memandang inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap dalam kisaran 2,5±1 persen, meskipun lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya, dipengaruhi oleh prospek harga komoditas global yang meningkat.
Inflasi inti diprakirakan tetap terkendali, sementara inflasi VF meningkat akibat kenaikan harga pangan dan pupuk global.
"Bank Indonesia akan terus memperkuat respons kebijakan moneter pre-emptive serta bersinergi dengan pemerintah dalam tim pengendalian inflasi pusat/daerah (TPIP/TPID) melalui penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) guna menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasarannya," kata Gubernur BI.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Perang Data Bikin Tegang: BI Rate, Transaksi Berjalan-Kabar Genting AS
Pengumuman BI-Rate serta kebijakan AS akan menjadi penggerak pasar domestik pada minggu ini [3,323] url asal
#rupiah #ihsg #yield-sbn #pasar-saham #bank-indonesia #suku-bunga #investasi #volatilitas-pasar #ekonomi-indonesia #laporan-pasar #newsletter #dolar-as
(CNBC Indonesia - Research) 15/11/25 19:04
v/40050/
- Pasar keuangan Indonesia dan rupiah melemah sementara harga SBN nyaris stagnan
- Wall Street ditutup bervariasi menunggu rapor Nvidia dan data ekonomi AS
- Pengumuman BI-Rate serta kebijakan AS akan menjadi penggerak pasar domestik pada minggu ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar di Indonesia bergerak beragam pada akhir pekan lalu. Penguatan dapat dilihat pada nilai tukar rupiah, imbal hasil obligasi stagnan tetapi di lain sisi bursa saham melemah pasar Jumat (14/11/2025)
Pasar keuangan Indonesia diproyeksikan akan mengalami volatilitas pada hari ini hingga satu pekan ke depan. Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melandai di 8.370,43 (-0,02%) pada perdagangan Jumat pekan lalu (14/11/2025) dengan total market cap menyentuh angka Rp 3.591 triliun pada penutupan pasar.
Terjadi net foreign sell sebesar Rp 73,42 milyar. Pasar saham Indonesia pada saat ini ditopang besar oleh investor domestik hingga kurang lebih 76% dari saham keseluruhan pasar dikuasai oleh investor dalam negeri.
Terdapat 480 saham mengalami pelemahan, 241 saham mengalami penguatan, dan 245 saham tidak bergerak dengan nilai transaksi mencapai Rp 20,82 triliun pada Jumat (14/11/2025).
Pasar ditopang oleh kinerja saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang beberapa hari ke belakang tengah rally sampai dengan double digit persen akibat dari sisi indikator, serta adanya sentimen selesainya akuisisi BUMI dalam akuisisi perusahaan pertambangan emas dan tembaga di Australia bernama Wolfram senilai hampir 100% dengan nilai transaksi mencapai hampir Rp 700 milyar.
Selain itu PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) +70 (+15.91%), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) +50 (+0,6%), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) +150 (+5,19%), dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) +525 (+3,70%) menjadi saham dengan nilai transaksi tertinggi pada Jumat (14/11/2025)
Kemudian DSSA, MORA, dan TLKM menjadi tiga perusahaan tertinggi penggerak naiknya IHSG, sementara AMMN, BREN, dan BRMS menjadi tiga perusahaan dengan penggerak turunnya IHSG hingga penutupan pasar pada sore hari.
Beralih ke pasar rupiah, mata uang ditutup ditutup di Rp16.690/US$ atau mengalami penguatan sebesar 0,18%.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia mengalami kenaikan tipis bahkan hampir stagnan ke angka 6.1196% dari hari sebelumnya yang ditutup pada level 6,1123%.
Stagnasi pada imbal hasil ini diakibatkan oleh adanya investor yang masih wait and see dan menentukan arah kebijakan dan data penting yang akan keluar pada beberapa waktu mendatang.
Berdasarkan hasil dari perdagangan pasar saham di Wall Street pada Jumat (14/11/2025), masing-masing ditutup bervariasi.
Nasdaq ditutup pada level 22.900 naik sebesar 30,23 poin (+0,13%). Sementara S&P 500 ditutup sedikit melemah sebesar 0,05% ke level 6.734,11.
Sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) menjadi index yang tertekan pada penutupan pasar mengalami penurunan sebesar -0,65% ke level 47.147 bahkan tidak pernah menyentuh area hijau pada waktu perdagangan.
Sesi perdagangan terakhir ini diwarnai oleh kehati-hatian investor yang menimbang ulang ekspektasi mereka terhadap pemotongan suku bunga The Fed lebih lanjut di bulan Desember. Terhentinya rilis data ekonomi penting seperti inflasi dan ketenagakerjaan akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) yang terjadi sebelumnya, membuat bank sentral AS kekurangan data acuan untuk mengambil keputusan.
Data Index yang bervariasi ini mengindikasikan adanya kebingungan dalam pasar walaupun pada saat ini Fear and Greed Index pada pasar saham di Amerika masih berada pada level 20-an (Extreme Fear) selama beberapa minggu ini.
Hal ini dipacu oleh adanya ketakutan pada AI Bubble yang semakin hari semakin nyata dirasakan oleh pasar akibat valuasi perusahaan-perusahaan AI di AS yang semakin tidak terkendali akibat pergerakan harga sahamnya yang ekspansif.
Di tengah kebimbangan pasar ini, dua berita besar dari Washington dan Omaha menyita perhatian investor.
Pertama, dari sisi kebijakan, Presiden Donald Trump secara mengejutkan menandatangani perintah eksekutif pada Jumat untuk memotong atau menghapus apa yang disebutnya tarif "resiprokal" pada berbagai komoditas impor, terutama bahan pangan.
Langkah ini mencakup produk-produk utama seperti daging sapi, kopi, pisang, tomat, dan berbagai buah-buahan tropis.
Ini juga merupakan sebuah pengakuan implisit bahwa kebijakan tarifnya selama ini turut berkontribusi pada kenaikan harga, sebuah sentimen yang santer terdengar pasca-kemenangan Demokrat dalam pemilihan sela (off-year elections) baru-baru ini di mana isu ekonomi menjadi faktor penentu.
Kedua, dari jagat korporasi, investor legendaris Warren Buffett kembali membuat gebrakan. Dalam laporan terbarunya, Berkshire Hathaway mengungkap kepemilikan saham baru senilai US$ 4,3 miliar di Alphabet, induk perusahaan Google.
Ini adalah taruhan besar yang mengejutkan, mengingat Buffett secara historis dikenal menghindari saham-saham teknologi yang tumbuh cepat, meski Apple telah lama menjadi portofolio terbesarnya.
Banyak analis meyakini langkah ini didorong oleh manajer investasinya, Todd Combs dan Ted Weschler, yang lebih terbuka pada sektor teknologi.
Pada saat yang sama, Berkshire juga terlihat kembali memangkas kepemilikan sahamnya di Apple, meskipun raksasa iPhone itu masih menjadi investasi terbesarnya. Langkah ini menjadi sorotan karena diambil menjelang akhir era kepemimpinan Buffett selama 60 tahun di Berkshire.
Kembali ke pasar, dengan sentimen yang masih rapuh, investor kini mencari katalis baru. Laporan pendapatan dari raksasa teknologi menjadi fokus utama minggu depan.
Pasar tengah menyoroti laporan keuangan Nvidia sebagai pemantik potensial yang akan dipublikasikan pada Rabu (19/11/2025) mendatang.
Dengan saham Nvidia yang berhasil pulih dari tekanan jual pada hari Jumat, laporan yang kuat dari raksasa AI ini diyakini dapat menjadi pemicu yang dibutuhkan pasar untuk memulai reli yang lebih luas, dan menarik sektor teknologi keluar dari bayang-bayang kekhawatiran valuasi.
Namun potensi eskalasi geopolitik kian memanas antara Jepang dan juga China akibat perkataan yang dilontarkan oleh PM Sanae Takaichi pada akhir pekan lalu, dibahas pada halaman selanjutnya.
Fokus utama pasar domestik pekan ini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dan juga ucapan PM Jepang Takaichi yang berpotensi meningkatkan tensi geopolitik di lautan China.
Dari Amerika Serikat, keputusan Trump membatalkan tarif impor sejumlah komoditas pertanian menjadi kabar positif. Berikut sejumlah sentimen pasar pekan depan:
Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) September 2025
Bank Indonesia akan mengumumkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode September pada hari ini, Senin (17/11/2025).
Sebagai catatan, pada Agustus 2025 utang luar negeri tumbuh melambat. Posisi ULN Indonesia pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$ 431,9 miliar , atau secara tahunan tumbuh 2,0% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4,2% (yoy) pada Juli 2025.
Perkembangan ini terutama bersumber dari melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi pertumbuhan ULN sektor swasta.
Posisi ULN pemerintah pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$213,9 miliar dolar AS, tumbuh sebesar 6,7% (yoy), atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan 9,0% (yoy) pada Juli 2025.
Posisi ULN swasta tercatat sebesar US$194,2 miliar dolar, atau mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,1% (yoy) pada Agustus 2025, lebih besar dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,2% (yoy)
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI)
Bank Indonesia akan menggelar RDG pada Selasa dan Rabu pekan ini (18-19/11/2025) dan akan mengumumkan kebijakan pada Rabu.
Berbeda dengan RDG-RDG sebelumnya yang sarat akan tekanan eksternal, pertemuan kali ini digelar di tengah lanskap makroekonomi global yang secara signifikan lebih menguntungkan bagi aset emerging markets, termasuk Indonesia.
Narasinya telah bergeser 180 derajat. Pertanyaan pasar kini bukan lagi "apakah BI akan menaikkan suku bunga untuk bertahan?" melainkan "seberapa besar ruang kebijakan yang kini dimiliki BI di tengah sinyal pivot The Fed, yang akan menghentikan reducing balance sheetnya pada Desember mendatang?"
Ini adalah inti dari perubahan paradigma pasar. Bank Indonesia saat ini mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Di seberang Pasifik, Federal Reserve AS (The Fed) memiliki suku bunga acuan (Fed Funds Rate) pada rentang 3,75% - 4,00%.
Secara matematis, ini menempatkan Indonesia pada posisi interest rate differential (spread) positif yang atraktif sebesar 75 hingga 100 basis poin (bps). Skenario ini secara fundamental sangat menguntungkan.
Spread positif yang solid ini berfungsi sebagai insentif kuat bagi capital inflow ke instrumen SBN (Surat Berharga Negara) dan menjadi 'jangkar' alami untuk stabilitas, bahkan potensi apresiasi, nilai tukar Rupiah ke depan apabila Bi-Rate tetap ditahan pada level saat ini.
Posisi superior ini memberikan kemewahan bagi BI untuk tidak perlu reaktif terhadap kebijakan The Fed dan dapat lebih fokus pada mandat stabilitas domestik, apabila kondisi pasar tetap berjalan sesuai dengan rencana.
Dari sisi domestik, data-data terbaru justru memberi BI justifikasi untuk tetap prudent (hati-hati). Pertumbuhan Kredit (Loan Growth) per Oktober tercatat melambat ke level 7,7% (YoY).
Moderasi ini mengindikasikan bahwa transmisi kebijakan moneter BI-pasca kenaikan terakhir ke 4,75%-sudah berjalan efektif dan mulai mendinginkan permintaan kredit di sektor riil, sehingga mengurangi risiko overheating.
Rilis FOMC, Sinyal 'Pivot' The Fed Semakin Kuat?
Bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan merilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis (20/11/2025). Rilis ini akan menjadi pegangan bagi pelaku pasar mengenai arah kebijakan The Fed ke depan.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar kini terbelah (split) dalam memproyeksikan langkah The Fed.
Meskipun 55,6% pelaku pasar masih berekspektasi The Fed akan menahan (hold) suku bunga, porsi yang signifikan 44,4% justru telah melakukan pricing-in atas skenario pemangkasan suku bunga (rate cut).
Chairman The Fed Jerome Powell bulan lalu mengatakan pemangkasan Desember belum pasti. Namun, data ekonomi menunjukkan pemburukan.
Pasar meyakini The Fed akan segera melakukan berbagai cara untuk menghindari hard landing ekonomi imbas dari kebijakan pada masa Covid beberapa tahun ke belakang.
Bagi Indonesia, sinyal dovish The Fed adalah katalis bullish primer, yang berpotensi menekan Indeks Dolar (DXY) dan membuka ruang penguatan Rupiah lebih lanjut. Namun tetap harus waspada terhadap adanya ancam di mana The Fed yang akan mempertahankan suku bunganya pada FOMC mendatang.
Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan
Pada Kamis (21/11), Bank Indonesia mengumumkan data NPI dan Transaksi Berjalan kuartal III-2025. Data ini sangat penting dan ditunggu pelaku pasar dan publik karena menjadi cerminan seberapa kekuatan fundamental Indonesia di tengah tekanan eksternal.
Sebagai catatan, NPI Kembali mengalami defisit pada kuartal II-2025. Defisit dipicu derasnya arus keluar modal asing di saham dan obligasi. Kondisi ini membuat defisit neraca transaksi finansial membengkak.
Data Bank Indonesia mencatat defisit NPI pada kuartal II-2025 tercatat mencapai US$6,74 miliar,sekaligus menjadi defisit yang tertinggi sejak kuartal II-2023.
Bila dibandingkan dengan periode kuartal pertama tahun ini, terjadi kenaikan defisit yang sangat besar, dimana pada kuartal I-2025 defisit NPI tercatat sebesar US$800 juta. Artinya terjadi kenaikan deficit NPI sebesar US$5,94 miliar.
Transaksi berjalan membukukan defisit sebesar US$3,01 miliar pada kuartal II-2025 atau 0,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut adalah yang tertinggi sejak kuartal I-2020 yang tercatat sebesar US$3,36 miliar.
Defisit pada transaksi berjalan ditengarai oleh meningkatnya defisit pada pendapatan primer, yang tercatat defisit sebesar US$35,87 miliar di kuartal II-2025, naik dari defisit di periode sebelumnya yakni US$9,04 miliar.
Kondisi ni diperparah dengan menurunnya surplus pada neraca perdagangan barang. Pada kuartal II- 2025, tercatat surplus US$10,6 milia turun dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat surplus US$13 miliar.
Perkembangan Uang Beredar Oktober 2025
Bank Indonesia akan mengumumkan data uang beredar pada Oktober 2025 pada Jumat (21/11/2025). Data ini akan menjadi pegangan seberapa besar belanja masyarakat di awal kuartal IV-22025.
Data ini juga menjadi indikator penting bagi likuiditas perbankan dan permintaan kredit. Kenaikan likuiditas dapat mendukung aktivitas ekonomi, namun pasar juga mempertimbangkan implikasinya terhadap inflasi dan strategi kebijakan BI ke depan.
Sebagai catatan, uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2025 tumbuh lebih tinggi.Pertumbuhan M2 pada September 2025 sebesar 8,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 sebesar 7,6% (yoy) sehingga tercatat Rp9.771,3 triliun. Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,7% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,2% (yoy).
Faktor Penopang Kebijakan Akomodatif China
People's Bank of China (PBoC) akan mengumumkan kebijakan moneter pada Kamis (20/11/2025). PBoC diperkirakan akan menahan Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun di level 3,0%.
Kebijakan moneter China yang tetap akomodatif ini krusial untuk menjaga harga komoditas global. Bagi Indonesia, ini membantu menjaga floor price untuk ekspor andalan (batu bara, CPO, nikel), yang pada gilirannya menopang surplus neraca perdagangan dan memberi fondasi kuat bagi stabilitas Rupiah.
Di lain sisi, China saat ini memfokuskan kebijakannya pada penjagaan nilai tukar CNY seperti yang terjadi pada pekan sebelumnya di mana CNY ditekan untuk tetap berada di level rendah guna meningkatkan ketergantungan dagang dan stabilitas akibat tarif yang kian ditetapkan oleh Amerika.
Stagflasi Jepang dan Ancaman Repatriasi Yen
Jepang akan mengumumkan sejumlah data penting mulai dari pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 pada hari ini, Senin (17/11/2025), neraca perdagangan Oktober pada Rabu (19/11/2025) dan inflasi pada Jumat (21/11/2025).
ata ekonomi Jepang menunjukkan dilema stagflasi yang sempurna. Pertumbuhan melambat sementara inflasi tinggi.
Ini menempatkan Bank of Japan (BoJ) dalam posisi terjepit. Risiko terbesarnya adalah jika BoJ terpaksa mengorbankan pertumbuhan dan mulai menormalisasi suku bunga negatifnya untuk memerangi inflasi. Jika ini terjadi, 'pesta' Yen Carry Trade akan berakhir.
Ini berpotensi memicu repatriasi modal (capital outflow) besar-besaran dari investor Jepang-salah satu pemegang SBN terbesar-yang menarik dana mereka kembali ke Yen. Ini adalah risiko eksternal utama yang kini menggantikan The Fed.
Foto: Foto kolase PM Jepang, Sanae Takaichi dan Presiden China, Xi Jinping. (CNBC Indonesia) |
Hancurnya Hubungan Jepang dan China
Seluruh rencana di atas dapat berubah karena satu perbuatan yang dilakukan oleh PM Baru Jepang Sanae Takaichi yang baru menjabat beberapa waktu ini. Suatu perkataan krusial baru saja dilontarkan pada akhir pekan lalu.
Takaichi mengucapkan sinyal buruk terkait potensi naiknya tensi geopolitik di Taiwan ini menjadikan suatu ancaman besar bagi perekonomian dunia. Hal ini membentuk suatu kekhawatiran di pasar akibat respon balik oleh China untuk rakyatnya tidak datang ke Jepang terlebih dahulu.
Hal ini mampu membentuk suatu gangguan supply chain di kawasan Taiwan, terutama TSMC yang merupakan perusahaan pembuat semi-conductor terbesar di dunia. Gangguan ini berpotensi menghilangkan momentum rally AI yang sekarang tengah terjadi pada Wall Street.
Diproyeksikan penutupan pasar saham di Amerika pada pagi esok hari nanti akan berisi pelemahan terutama ditopang oleh sektor teknologi dan juga AI.
Selain itu, konflik ini juga mengganggu potensi pendapatan perusahaan-perusahaan AI yang berada di Amerika sehingga forecast investasi juga akan berubah dan terganggu dalam waktu dekat apabila hal ini tidak berkepanjangan.
Tensi geopolitik ini sangat krusial bagi Amerika dan China karena masa depan dunia dan AI sangat bergantung pada produksi chip yang dibuat oleh TSMC yang memiliki weight market share terbesar di dunia.
Data Ekonomi Amerika
Dengan berakhirnya shutdown pemerintahan terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, berbagai lembaga statistik utama kini mengumumkan rencana untuk menerbitkan jadwal terbaru bagi rilis data ekonomi yang tertunda.
Namun ketidakpastian masih ada, karena beberapa laporan kunci kemungkinan pada akhirnya dibatalkan jika lembaga terkait tidak dapat menyelesaikannya akibat terganggunya proses pengumpulan data. Meski begitu, serangkaian indikator swasta dan regional tetap akan memberikan sedikit gambaran mengenai kondisi ekonomi AS.
Penjualan rumah existing diperkirakan tidak banyak berubah pada Oktober. Indeks Pasar Perumahan NAHB diperkirakan turun sedikit, sementara Indeks Manufaktur Empire State New York kemungkinan melemah lebih lanjut.
Data lain mencakup S&P Global Flash PMI, laporan pekerjaan mingguan ADP, pembacaan akhir Sentimen Konsumen Michigan, serta survei manufaktur Fed Philadelphia dan Kansas. Dari sisi laba perusahaan, beberapa perusahaan besar yang akan melaporkan kinerjanya minggu depan termasuk Nvidia dan Walmart.
Trump Berikan Pengecualian Tarif
Presiden Donald Trump pada hari Jumat mengecualikan sejumlah impor pertanian utama seperti kopi, kakao, pisang, dan produk daging sapi tertentu dari tarif tinggi yang ia berlakukan.
Langkah ini diambil saat Trump menghadapi tekanan politik akibat tingginya harga di toko bahan makanan AS. Sejumlah distributor daging sapi, kopi, cokelat, dan bahan pangan umum lainnya telah menaikkan harga sejak tarif Trump diberlakukan tahun ini, menambah tekanan pada anggaran rumah tangga yang sudah terpukul oleh inflasi tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Tindakan Trump pada Jumat itu juga mengecualikan berbagai jenis buah, termasuk tomat, alpukat, kelapa, jeruk, dan nanas. Selain kopi, penurunan tarif juga mencakup teh hitam dan hijau, serta rempah-rempah seperti kayu manis dan pala.
Langkah ini menandai perubahan sikap bagi Trump, yang sebelumnya bersikeras bahwa tarif diperlukan untuk melindungi bisnis dan pekerja AS. Ia mengklaim bahwa konsumen AS pada akhirnya tidak akan menanggung beban tarif yang lebih tinggi tersebut.
Pengecualian tarif ini muncul hanya sehari setelah Trump mencapai kerangka kesepakatan dagang dengan empat negara Amerika Latin-termasuk tarif 10% untuk sebagian besar barang dari Argentina, Guatemala, dan El Salvador, serta 15% untuk barang dari Ekuador. Kebijakan ini juga menghapus bea masuk untuk produk yang tidak ditanam atau diproduksi dalam jumlah cukup di AS, seperti pisang dan kopi.
Harga pangan yang terus naik telah membebani rumah tangga AS selama beberapa tahun terakhir. Data Indeks Harga Konsumen menunjukkan harga bahan makanan di rumah meningkat sekitar 2,7% secara tahunan pada September. (Data terbaru tertunda akibat shutdown pemerintah).
Pengecualian tarif ini bertujuan membantu meredam kenaikan harga bahan makanan, meskipun para ahli memperingatkan bahwa faktor lain seperti kekurangan pasokan global juga memengaruhi harga, terutama untuk kopi dan daging sapi.
Dalam setahun terakhir, AS telah memberlakukan tarif tinggi terhadap pemasok utama termasuk Brasil, Australia, Selandia Baru, dan Uruguay. Brasil-produsen daging sapi terbesar kedua di dunia-menghadapi tarif efektif yang mencapai lebih dari 75%, sehingga menurunkan volume impor ke AS pada saat populasi ternak di negara tersebut berada di level terendah dalam hampir 75 tahun.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- GDP Growth Jepang
- Industrial Production Jepang
- FDI YoY China
Pertemuan Menteri Perdagangan dengan Menteri UMKM dengan agenda pembahasan "Isu Thrifting" di Gedung Utama, Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat.
Press conference Orange Forum 2025 "From The South To The Future: Financing Global Sustainability Through Inclusion" di Main Hall BEI, Jakarta Selatan.
National Seminar & FEB UI Tax Clinic Launch - Reinventing Tax Compliance: From Enforcement to Cooperative Comliance di Auditorium FEB UI, Depok, Jawa Barat. Turut hadir Direktur Jenderal Pajak dan Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan.
13th US-Indonesia Investment Summit dengan tema "Turning Headwinds into Opportunities: Unlocking Investment Potential to Power Indonesia's Growth" di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Konferensi pers Indonesia AI Day for Higher Education bertema "Experience The Shift: From Traditional to Tech-Driven Education" di Meeting Room MX Center, Gedung Indosat, Jakarta Pusat. Narasumber: Director & Chief Business Officer Indosat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Tera Data Indonusa Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Adi Sarana Armada Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Prima Globalindo Logistik Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interims Darya Varia Laboratoria Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
Saham PJHB Meroket 203% dan INET 41%, Bursa Kasih Tato UMA
Bursa Efek Indonesia mengumumkan Unusual Market Activity untuk saham PJHB dan INET akibat lonjakan harga. [399] url asal
#bursa-efek-indonesia #saham #unusual-market-activity #pt-pelayaran-jaya-hidup-baru #pt-sinergi-inti-andalan-prima #investasi #volatilitas-saham #laporan-emiten #harga-saham
(CNBC Indonesia - Market) 13/11/25 09:48
v/37188/
Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan terjadinya Unusual Market Activity (UMA) atas saham dua emiten, yakni PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), seiring lonjakan harga yang dinilai di luar kebiasaan.
Dalam dua pengumuman terpisah bertanggal 12 November 2025, BEI menyampaikan bahwa peningkatan harga saham PJHB dan INET tersebut tengah dalam pemantauan. Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan di bidang pasar modal.
"Dalam rangka perlindungan investor, kami menginformasikan bahwa telah terjadi peningkatan harga saham yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity)," tulis BEI dalam keterangannya, dikutip Kamis (13/11/2025).
BEI juga menegaskan bahwa saat ini bursa masih mencermati pola transaksi kedua saham tersebut. Investor diminta untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat atas permintaan konfirmasi bursa, mencermati kinerja dan keterbukaan informasi emiten, mengkaji kembali rencana corporate action apabila belum mendapatkan persetujuan RUPS, serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan investasi.
Adapun informasi terakhir yang diterima BEI terkait PJHB adalah laporan kepemilikan saham per 10 November 2025. Sementara untuk INET, informasi terakhir yang dipublikasikan adalah penjelasan atas volatilitas transaksi pada 12 November 2025.
BEI mengingatkan, seluruh keterbukaan informasi resmi terkait emiten dapat diakses melalui situs resmi bursa di www.idx.co.id.
Sebagai informasi pada awal pekan ini saham INET naik 25% atau menyentuh auto reject atas (ARA). Secara akumulatif, sejak awal pekan INET telah naik 41,25% ke level 452.
Sementara itu, PJHB resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Jumat (7/11/2025). Sejak IPO hingga perdagangan kemarin, Rabu (12/11/2025), PJHB selalu naik hingga menyentuh batas ARA. Dengan demikian sejak IPO hingga perdagangan kemarin, PJHB telah naik 203,03% ke level 1.000.
Pada perdagangan hari ini hingga puluk 10.00 WIB, INET turun 1,33% ke level 446, sedangkan PJHB turun 4,5% ke level 955. INET sempat menyentuh 478 dan PJHB menyenggol level 1.085 pada awal perdagangan.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Too Much Risk! Awas, Guncangan Voting Shutdown-Ambruknya Harga Minyak
Voting shutdown, data inflasi AS dan harga minyak akan menjadi penggerak pasar hari ini [2,927] url asal
#newsletter #ihsg #rupiah #pasar-keuangan #nilai-tukar-rupiah #investasi #saham #kapitalisasi-pasar #perdagangan-saham #bank-indonesia #volatilitas-pasar #dolar-as
(CNBC Indonesia - Research) 12/11/25 14:38
v/36977/
- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam kemarin. Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
- Wall Street bergerak beragam, Dow Jones pesta dan rekor
- Voting shutdown, data inflasi AS dan harga minyak akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam kemarin. Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bangkit pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan kemarin Rabu (12/11/2025). Indeks ditutup naik 0,26% atau 22,06 poin ke level 8.388,57. Sebanyak 343 saham naik, 323 turun, dan 147 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 22,3 triliun, melibatkan 51,3 miliar dalam 2,6 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 15.303 triliun.
Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 1,23 triliun.
Mengutip Refinitiv, konsumer non-primer naik paling kencang, yakni 1,41%. Kemudian diikuti oleh teknologi (1,32%) dan properti (0,85%).
Saham yang menjadi penopang utama adalah emiten Prajogo Pangestu, yaitu Barito Pacific (BRPT) yang berkontribusi 15,61 indeks poin. BRPT pada perdagangan kemarin naik 7,08% ke level 3.780.
Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (12/11/2025).
Melansir Refintiv, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,09% ke level Rp16.695/US$. Rupiah bergerak di rentang level Rp16.680 - Rp16.725/US$ pada perdagangan hari ini.
Pelemahan rupiah ini terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar AS (DXY). Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tersebut pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat walau hanya tipis 0,06% di posisi 99.505.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kehati-hatian pelaku pasar global menjelang pemungutan suara di DPR AS (House of Representatives) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (12/11/2025) sore waktu AS.
Voting tersebut akan menentukan apakah government shutdown terpanjang dalam sejarah AS yang telah berlangsung sejak 1 Oktober 2025 akhirnya berakhir atau justru berlanjut.
Ketidakpastian ini membuat investor cenderung menahan posisi di aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah, dan memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) melandai tipis ke 6,15% pada perdagangan kemarin, dari 6,16% pada hari sebelumnya. Melandainya imbal hasil menandai harga SBN tengah naik karena diburu investor.
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street pesta pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari nanti. Wall Street optimistis menjelang kemungkinan berakhirnya shutdown pemerintahan AS yang memecahkan rekor terpanjang dalam sejarah.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatat penutupan rekor pertamanya di atas level 48.000 melanjutkan reli dari sesi sebelumnya.
Indeks Dow Jones yang berisi 30 saham unggulan naik 326,86 poin atau 0,68% menjadi 48.254,82, sekaligus mencetak rekor tertinggi intraday baru.
Sementara itu, S&P 500 nyaris tak bergerak dan ditutup naik tipis 0,06% ke 6.850,92, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,26% menjadi 23.406,46.
Investor memantau perkembangan di Washington, karena pemerintah federal tampak siap dibuka kembali pada akhir pekan ini.
Senat AS pada Senin malam telah meloloskan rancangan undang-undang pendanaan (spending bill) yang kini diteruskan ke Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) untuk pemungutan suara final.
Pemimpin Mayoritas DPR AS Steve Scalise (R-Louisiana) mengatakan kepada CNBC pada Rabu bahwa voting kemungkinan dilakukan sekitar pukul 7 malam waktu Washington D.C. (07.00 WIB Kamis pagi).
"Kita sedang berada dalam penutupan terpanjang sepanjang sejarah. Fokus saat ini adalah mengakhiri shutdown secepatnya. Setelah ketentuan pembukaan kembali ditetapkan, barulah mungkin kita perlu khawatir soal perpanjangan pendanaan hingga Januari," ujar Josh Chastant, manajer portofolio investasi publik di GuideStone Funds, kepada CNBC International.
Dia menambahkan bahwa pelaku pasar akan menyambut baik kembalinya rilis data ekonomi, mengingat ada tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja.
Menurut Chastant, pasar kini memperlihatkan reaksi "terbelah" seiring investor bersiap menyambut berakhirnya shutdown yang telah memasuki hari ke-43. Optimisme terhadap pembukaan kembali pemerintahan terlihat dari penguatan saham-saham sektor keuangan.
Kinerja Dow Jones didukung oleh saham-saham perbankan besar seperti Goldman Sachs, JPMorgan Chase, dan American Express, yang semuanya mencetak rekor tertinggi baru. Saham Caterpillar, yang sensitif terhadap kondisi ekonomi riil, juga menguat.
Saham bank lainnya seperti Morgan Stanley, Wells Fargo, dan Bank of America turut mencetak level tertinggi baru. Indeks Financial Select SPDR Fund (XLF), yang melacak sektor keuangan di S&P 500, naik hampir 1%.
Di luar sektor keuangan, saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) kembali menunjukkan volatilitas tinggi bulan ini.
Investor masih berhati-hati karena valuasi sektor teknologi dinilai sudah sangat mahal setelah lonjakan besar baru-baru ini. Saham Advanced Micro Devices (AMD) melonjak 9%, namun Oracle dan Palantir Technologies justru melemah.
"Permintaan dan penerapan AI nyata adanya. Laporan laba perusahaan teknologi sejauh ini cukup kuat, jadi kami tidak melihat adanya gelembung, hanya saja valuasinya memang sudah tinggi," ujar Chastant kepada CNBC.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen yang diperkirakan menggerakkan saham, rupiah, hingga SBN. Dari luar negeri, sentimen terbesar akan datang dari voting shutdown dan inflasi AS.
Dari dalam negeri, sejumlah isu di DPR bisa menjadi sentimen pasar hari ini.
Voting Shutdown
DPR Amerika Serikat berencana memulai pemungutan suara pada Rabu untuk membahas rancangan undang-undang yang telah disetujui Senat guna membuka kembali pemerintahan federal, menurut pemberitahuan dari Majority Whip Tom Emmer.
Pemungutan suara tersebut dijadwalkan sekitar pukul 7 sore waktu Washington D.C. (ET) atau 07.00 Waktu Indonesia Barat (WB). Diperkirakan akan ada beberapa sesi voting pada hari yang sama.
Voting tersebut nantinya akan menentukan apakah penutupan terpanjang sejarah AS, yang telah berlangsung sejak 1 Oktober 2025 akhirnya berakhir atau justru masih akan berlanjut.
Penutupan pemerintahan AS ini yang telah berlangsung selama lebih dari 43 hari telah menimbulkan dampak yang luas khususnya bagi perekonomian AS. Mulai dari gaji pegawai pemerintahan yang belum terbayarkan, gangguan penerbangan, hingga tidak terbitnya data-data indikator ekonomi vital.
Seluruh mata penjuru dunia akan menanti hasil dari voting tersebut yang pada akhirnya akan ada dua skenario.
Skenario pertama adalah voting berhasil menyetujui pendanaan untuk pemerintahan bisa berjalan lagi setidaknya hingga 30 Januari 2026. Kemudian, ada skenario kedua yakni apabila voting untuk pendanaan ini masih gagal otomatis, pemerintahan AS ini akan kembali melanjutkan penutupannya hingga waktu yang tidak diketahui.
Penutupan pemerintahan AS selama lebih dari enam minggu membuat publikasi data ekonomi penting seperti inflasi, tenaga kerja, dan penjualan ritel terhenti total. Kondisi ini membuat The Federal Reserve (The Fed) kehilangan panduan utama untuk membaca kondisi ekonomi terkini menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 9-10 Desember 2025.
Ketua The Fed Jerome Powell bahkan mengibaratkan situasi ini seperti "driving in the fog," menandakan bahwa bank sentral harus berhati-hati dalam mengambil keputusan di tengah kabut ketidakpastian.
Shutdown juga memukul sektor layanan publik. Lebih dari 5.500 penerbangan telah dibatalkan karena kekurangan petugas pengatur lalu lintas udara yang disebabkan oleh gaji yang belum diterima.
Menurut Tourism Economics, penutupan selama enam minggu berpotensi mengurangi belanja perjalanan sebesar US$2,6 miliar, dengan dampak lanjutan terhadap hotel, restoran, dan transportasi darat.
Tekanan terhadap ekonomi riil makin terasa menjelang akhir shutdown. Sentimen konsumen AS anjlok ke titik terendah dalam 3,5 tahun pada awal November, mencerminkan penurunan keyakinan rumah tangga menjelang musim liburan. Para ekonom turut memperingatkan, semakin lama shutdown berlangsung, semakin besar risiko pelemahan konsumsi dan PDB kuartal IV-2025.
Program bantuan sosial seperti Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP) yangn mana memberikan bantuan pangan bagi keluarga berpendapatan rendah di seluruh AS dan program sosial Women Infant and Children (WIC) yang menyediakan bantuan nutrisi khusus bagi ibu hamil, hingg anak-anak di bawah usia lima tahun juga terdampak.
DPR dan Pemerintah Bahas Ulang 29 Isu Krusial dalam RKUHAP
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah kembali membedah 29 isu penting dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP). Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan draf aturan dengan berbagai masukan masyarakat yang dinilai perlu diakomodasi dalam sistem hukum pidana Indonesia.
Pembahasan RKUHAP berlangsung dalam rapat Panitia Kerja (Panja) Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (12/11/2025). Rapat tersebut dipimpin oleh Ketua Komisi III DPR Habiburokhman dan dihadiri oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Omar Sharif Hiariej bersama jajaran pemerintah.
Agenda pembahasan akan berlanjut pada Kamis (13/11/2025) dengan fokus pada sejumlah materi yang masih terbuka, seperti ketentuan penyitaan, mekanisme bantuan hukum, serta ganti kerugian bagi pihak yang dirugikan dalam proses hukum. Pemerintah menilai beberapa aspek tersebut perlu dijabarkan lebih rinci agar memiliki dasar hukum yang jelas dan dapat diterapkan secara konsisten.
Secara keseluruhan, DPR dan pemerintah telah menghimpun lebih dari 40 masukan publik yang kemudian dikelompokkan dalam beberapa klaster.
Isu yang paling banyak disorot mencakup perlindungan terhadap penyandang disabilitas dan kelompok rentan, termasuk anak, perempuan, dan ibu hamil. Dalam draf yang dibahas, posisi dan hak kelompok tersebut akan dijamin setara, baik dalam proses pemeriksaan maupun pembuktian di pengadilan.
Panja juga menyepakati pentingnya keterbukaan dalam proses penyidikan. Seluruh tahapan pemeriksaan nantinya wajib terekam melalui kamera pengawas, sementara tersangka berhak didampingi advokat sejak awal pemeriksaan. Pendekatan ini diharapkan meningkatkan transparansi dan mencegah potensi pelanggaran hukum dalam proses penyelidikan.
Selain itu, mekanisme keadilan restoratif (restorative justice) menjadi salah satu fokus utama. Prinsip ini diusulkan untuk diterapkan di setiap tahap proses hukum guna menyeimbangkan kepentingan hukum dengan pemulihan hubungan sosial antara pelaku dan korban. Pemerintah dan DPR masih menyempurnakan rumusan final agar implementasinya memiliki dasar hukum yang kuat.
Dalam pembahasan lain, DPR dan pemerintah juga telah menyepakati posisi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai penyidik utama.
Ketentuan ini mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20/PUU-XXI/2023, yang menegaskan bahwa Polri memegang fungsi koordinasi dan pengawasan terhadap Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).
Meski sejumlah isu telah disepakati, pembahasan mengenai pelaksanaan penyitaan masih berlanjut dan dijadwalkan dibahas kembali dalam rapat berikutnya. DPR memastikan bahwa seluruh klaster masalah akan dibahas secara menyeluruh sebelum RKUHAP dibawa ke tahap pengambilan keputusan.
Berdasarkan hasil kajian sementara, terdapat 29 klaster utama yang menjadi fokus pembahasan, mulai dari perlindungan kelompok rentan, hak bantuan hukum, mekanisme penyitaan, pemblokiran aset, hingga pelaksanaan keadilan restoratif.
DPR menilai seluruh isu ini perlu difinalisasi dengan melibatkan pandangan masyarakat agar RKUHAP yang baru benar-benar mencerminkan prinsip keadilan dan transparansi dalam hukum acara pidana Indonesia.
Inflasi AS
Pada Kamis malam waktu Indonesia, seluruh pasar keuangan global akan menahan napas menanti angkaConsumer Price Index(CPI) Amerika Serikat (AS) untuk Oktober. Angka ini akan menjadi kunci arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed), pergerakan Dolar AS, Rupiah, IHSG, SBN, hingga harga emas dan Bitcoin.
Pada September lalu, inflasi AS mendingin lebih cepat dari ekspektasi. Inflasi inti (Core CPI) melandai ke 3,0% (yoy), dan inflasi utama (Headline CPI) juga di 3,0%. Untuk Oktober, konsensus pasar memperkirakan inflasi tetap stabil di 3,0% untuk kedua indikator tersebut.
Pasar kini menanti dua kemungkinan besar yang akan menentukan arah pergerakan aset global
Jika CPI Oktober berada di 3,0% atau bahkan turun ke 2,9%, terutama pada inflasi inti, pasar akan merespons dengan euforia.
Ini menegaskan bahwa siklus kenaikan suku bunga The Fed telah selesai. Jerome Powell akan mendapat "lampu hijau" untuk mulai bersikap dovish.
Dampaknya: indeks Dolar AS (DXY) kemungkinan melemah tajam, imbal hasil (yield) US Treasury turun, dan selera risiko (risk-on sentiment) meningkat. Aset berisiko seperti saham (termasuk IHSG), mata uang emerging market seperti Rupiah, serta komoditas seperti emas berpotensi menguat signifikan.
Sebaliknya, jika inflasi justru naik misalnyacore CPImenanjak ke 3,1% atau 3,2% yoy - pasar akan langsung panik.
NarasipivotThe Fed akan runtuh. Ekspektasi akan beralih ke potensi kenaikan suku bunga tambahan pada Desember. Imbasnya: Dolar AS menguat tajam, yield Treasury naik, dan Rupiah berpotensi kembali tertekan ke kisaran Rp16.500-17.000 per dolar AS. IHSG dan pasar obligasi pemerintah (SBN) bisa terpuruk.
Bank Indonesia (BI) terus menurunkan volume penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan likuiditas di sistem perekonomian Indonesia.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, penurunan volume penerbitan SRBI itu telah turun dari awal 2025 mencapai kisaran Rp 916,9 triliun, menjadi tersisa Rp 705,8 triliun saat ini.
"Sehingga kami telah memberikan ekspansi likuiditas dari sisi moneter dengan penurunan SRBI sebesar Rp211,2 triliun," ucap Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu (12/11/2025).
Meski penerbitan SRBI terus dikurangi untuk menjaga likuditas sistem perekonomian domestik, BI tetap memastikan instrumen kebijakan moneter itu ke depannya akan terus dipertahankan.
"SRBI ini adalah instrumen moneter yang tentunya masih akan terus diperlukan. Operasi moneter itu kan menarik likuiditas dari sistem apabila diperlukan, dan melakukan tambahan likuiditas ke sistem apabila kebijakan kita ekspansif," ucap Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya saat di Bukittinggi pada akhir Oktober 2025.
Namun, saat ini, posisi instrumen moneter SRBI terus diturunkan BI untuk mengimbangi aksi ekspansi likuiditas yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Harga Minyak Ambruk
Harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) berjangka turun lebih dari 4% ke sekitar US$58,49 per barel pada Rabu, menyentuh level terendah dalam tiga minggu setelah sebelumnya mencatat kenaikan tiga sesi berturut-turut. Penurunan tajam ini terjadi setelah OPEC merevisi proyeksi pasokan globalnya dan kini memperkirakan akan terjadi surplus pasokan pada kuartal III.
Sepanjang tahun ini, harga minyak sudah jeblok 18%.
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kini memperkirakan pasokan global melebihi permintaan sekitar 500.000 barel per hari, berbalik arah dari perkiraan sebelumnya yang menunjukkan defisit pasokan. Revisi ini mencerminkan produksi AS yang lebih kuat dari perkiraan serta kenaikan output di negara-negara OPEC sendiri.
Badan Informasi Energi AS (U.S. Energy Information Administration - EIA) dijadwalkan merilis laporan bulanan pada Rabu malam waktu setempat, disusul oleh laporan prospek energi dari Badan Energi Internasional (IEA) pada Kamis. IEA baru-baru ini melunakkan pandangannya terhadap puncak permintaan minyak, dan kini memperkirakan bahwa konsumsi global bisa terus meningkat hingga tahun 2050.
Harga minyak dunia memang melemah sepanjang tahun ini di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan, seiring OPEC+ mulai memulihkan kapasitas produksinya dan produsen non-anggota meningkatkan aktivitas pengeboran.
Namun demikian, sanksi AS terhadap perusahaan minyak besar Rusia yang terlibat dalam konflik Ukraina mulai menunjukkan dampak nyata. Salah satunya, Lukoil dilaporkan menyatakan force majeure (keadaan kahar) pada salah satu ladang minyaknya di Irak.
Di satu sisi, ambruknya harga minyak bisa menjadi kabar baik karena bisa menekan impor BBM. Namun, jatuhnya harga minyak juga akan berdampak besar terhadap sejumlah emiten minyak di Tanah Air seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), hingga PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- US Inflation Rate / Inflasi AS YoY
Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR dengan Dirjen IKMA Kementerian Perindustrian dan asosiasi-asosiasi di ruang rapat Komisi VII DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Rapat Kerja Komisi IX DPR dengan antara lain Menteri Kesehatan dan Direktur Utama BPJS Kesehatan di ruang rapat Komisi IX DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Pemaparan laporan e-Conomy SEA 2025 yang akan digelar di kantor Google Indonesia, Gedung Pacific Century Place Lantai 43, Kota Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Tanggal ex Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
RUPS PT Nanotech Indonesia Global Tbk
RUPS PT Lovina Beach Brewery Tbk.
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Avia Avian Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim Baramulti Suksessarana Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim Indo Tambangraya Megah Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Tera Data Indonusa Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim Adi Sarana Armada Tbk
Tanggal ex Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Prima Globalindo Logistik Tbk.
Tanggal ex Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
Tanggal akhir perdagangan hmetd PT PT Bukit Uluwatu Villa Tbk
Tanggal akhir perdagangan hmetd PT PT Bukit Uluwatu Villa Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CEO Bank Besar ASEAN Wanti-Wanti Investor, Waspada Gejolak Ini!
CEO DBS, Tan Su Shan, peringatkan investor tentang volatilitas pasar global. Ia sarankan diversifikasi portofolio. [389] url asal
#ceo-bank #investasi #volatilitas-pasar #saham-teknologi #koreksi-pasar #diversifikasi-portofolio #risiko-investasi #ekonomi-global #singapura #pasar-keuangan
(CNBC Indonesia - Market) 08/11/25 15:44
v/32419/
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO bank terbesar di Asia Tenggara, Tan Su Shan, memperingatkan para investor untuk bersiap menghadapi gejolak pasar keuangan global di tengah valuasi saham Amerika Serikat (AS) yang kian tinggi. Ia menilai volatilitas akan menjadi tema besar dalam beberapa waktu ke depan.
"Kami telah melihat banyak volatilitas di pasar, bisa di ekuitas, suku bunga, atau valuta asing," ujar CEO DBS tersebut, seperti dikutip CNBC International, Sabtu (8/11/2025). "Saya memperkirakan volatilitas ini akan terus berlanjut."
Tan, yang menggantikan Piyush Gupta sebagai CEO DBS pada Maret lalu, menyoroti kekhawatiran investor terhadap valuasi tinggi saham-saham teknologi besar AS, yang dikenal sebagai Magnificent Seven, yakni Amazon, Alphabet, Meta, Apple, Microsoft, Nvidia, dan Tesla.
"Misalnya, ada triliunan dolar yang terikat pada tujuh saham itu. Dengan konsentrasi seperti itu, tak terelakkan akan muncul pertanyaan: 'Kapan gelembung ini akan pecah?'" tegas Tan.
Dalam forum Global Financial Leaders' Investment Summit di Hong Kong pekan ini, para pemimpin industri keuangan dunia juga menyoroti potensi koreksi pasar. CEO Morgan Stanley, Ted Pick, bahkan memperkirakan penurunan sebesar 10%-20% dalam 12 hingga 24 bulan mendatang.
Namun, Tan melihat koreksi sebagai hal positif. "Terus terang, koreksi akan sehat," ujarnya, seraya menyinggung bahwa pergerakan seperti itu merupakan bagian alami dari dinamika pasar.
Peringatan Tan sejalan dengan pandangan Dana Moneter Internasional (IMF) serta sejumlah gubernur bank sentral dunia, termasuk Jerome Powell (The Fed) dan Andrew Bailey (Bank of England), yang menyoroti risiko dari harga saham yang terlalu tinggi.
Lebih jauh, Tan menyarankan investor untuk memperkuat strategi diversifikasi, terutama di tengah ketidakpastian global.
"Baik dalam portofolio, rantai pasokan, maupun distribusi permintaan, diversifikasi saja," katanya.
Selain itu, ia juga menilai Asia, khususnya Singapura, akan menjadi tujuan investasi yang menarik ke depan.
"Kami memiliki supremasi hukum, sistem keuangan yang transparan dan terbuka, serta stabilitas politik. Singapura adalah tempat yang baik untuk berinvestasi dan mempertimbangkan diversifikasi," pungkasnya.
(tfa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Bursa Asia Jatuh Terseret Sektor Teknologi AI
Bursa Asia melemah mengikuti penurunan Wall Street, dipicu jatuhnya saham AI. [371] url asal
#saham-ai #bursa-asia #penurunan-wall-street #indeks-nikkei-225 #pasar-saham #investasi #data-perdagangan-china #ekspor-dan-impor #volatilitas-pasar
(CNBC Indonesia - Market) 07/11/25 08:04
v/30616/
Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Asia dibuka melemah mengikuti penurunan Wall Street yang disebabkan oleh saham kecerdasan buatan atau AI yang merosot hari ini, Jumat (7/11/2025). Para investor sepertinya cemas karena valuasi yang sudah cukup tinggi di sektor tersebut.
Indeks acuan Nikkei 225 Jepang anjlok 1,38% pada pembukaan perdagangan yang dipicu oleh kejatuhan saham-saham terkait dengan AI.
Sedangkan indeks Topix turun 0,5%. Lalu indeks Kospi Korea Selatan turun 0,46%, sementara indeks Kosdaq yang berkapitalisasi kecil turun 0,92%.
Sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,27%. Futures untuk Indeks Hang Seng Hong Kong menunjukkan pembukaan yang lebih rendah, diperdagangkan pada 26.436, dibandingkan dengan penutupan indeks sebelumnya di 26.485,9.
Mengutip CNBC Internasional, saham-saham perusahaan-perusahaan AI raksasa jatuh pada hari Kamis di Amerika Serikat. Penurunan terbesar terjadi pada Nvidia, Microsoft, Palantir Technologies, Broadcom dan Advanced Micro Devices.
Selain itu, para investor di Asia juga mengamati data perdagangan China bulan Oktober yang akan dirilis hari ini. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan ekspor akan melambat menjadi 3% secara tahunan. Angka tersebut turun dari lonjakan 8,3% di bulan September, sementara impor diperkirakan turun menjadi 3,2% dari 7,4%.
Hal ini terjadi karena lemahnya permintaan domestik terus membebani akibat kemerosotan perumahan yang berkepanjangan, meningkatnya ketidakamanan pekerjaan, dan pengurangan langkah-langkah stimulus yang berfokus pada konsumsi.
Futures AS naik tipis di awal jam-jam Asia setelah aksi jual teknologi pada hari Kamis.
Semalam, Dow Jones Industrial Average turun 398,70 poin, atau 0,84%, menjadi ditutup pada 46.912,30. S&P 500 diperdagangkan turun 1,12%, menjadi menetap di 6.720,32, sementara Nasdaq Composite anjlok 1,9% dan berakhir di 23.053,99.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Rugi AirAsia Bengkak Jadi Rp985 Miliar, Kurang Modal Rp10 Triliun
PT AirAsia Indonesia mencatat rugi Rp 985,4 miliar hingga kuartal III 2025, meski pendapatan usaha naik. [533] url asal
#airasia #rugi-keuangan #laporan-keuangan #defisiensi-modal #industri-penerbangan #volatilitas-harga-minyak #selisih-kurs #pendapatan-usaha #strategi-bisnis #peluang-pasar
(CNBC Indonesia - Market) 05/11/25 17:48
v/28835/
Jakarta, CNBC Indonesia - PT AirAsia Indonesia Tbk. mencatat rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga kuartal III tahun 2025 membengkak jadi Rp 985,4 miliar. Kerugian tersebut membengkak 64,6% dari kuartal III tahun 2024 yang sebesar Rp 598,5 miliar.
Mengutip laporan keuangannya melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), padahal pendapatan usaha AirAsia hingga akhir September 2025 naik jadi Rp 6,02 triliun dari kuartal III tahun 2024 yang sebesar Rp 5,90 triliun.
Meskipun pendapatan usaha naik, namun total beban usaha juga naik jadi Rp 6,49 triliun dari kuartal III tahun 2024 yang sebesar Rp 6,27 triliun.
Bengkaknya beban usaha karena rugi selisih kurs dari kegiatan operasional hingga kuartal III tahun ini sebesar Rp 182,5 miliar dari sebelumnya mencatat laba yang sebesar Rp 72,3 miliar.
Sehingga, rugi usaha kuartal III tahun ini naik jadi Rp 466,6 miliar dari kuartal III tahun lalu yang sebesar Rp 366,6 miliar.
Selanjutnya, ditambah pendapatan lain-lain, catatan rugi terbesar berasal dari rugi selisih kurs dari aktivitas pendanaan Rp 178,8 miliar dari sebelumnya tercatat untung Rp 83,4 miliar, maka rugi sebelum beban pajak penghasilan membengkak menjadi Rp 982,5 miliar dari Rp 596,5 miliar.
Adapun total aset AirAsia hingga kuartal III tahun ini menyurut jadi Rp 5,6 triliun dari akhir tahun 2024 yang sebesar Rp 5,7 triliun.
Sedangkan defisiensi modal yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga membengkak pada akhir September 2025 menjadi Rp 10,4 triliun dari kuartal III tahun 2024 yang sebesar Rp 9,4 triliun.
Manajemen mengaku, volatilitas harga minyak dan kurs mata uang merupakan dinamika bisnis sekaligus operasional di industri penerbangan. Hal ini menjadi input elemen strategi dan rencana yang sudah dijalankan dari sebelum covid hingga hari ini.
"Sampai dengan saat ini Perseroan senantiasa berupaya untuk menyeimbangkan volatilitas tersebut dengan efisiensi operasional Perseroan," tulis manajemen.
Manajemen tidak memungkiri bahwa hal tersebut menimbulkan dampak bagi Perseroan, tergantung dari seberapa volatilitasnya. Namun, Perseroan sudah memiliki langkah-langkah mitigasi, yang diharapkan bisa menyeimbangkan dampak dari volatilitas tersebut, sebagaimana yang sudah Perseroan berhasil lakukan di periode sebelumnya.
Manajemen menyebut, AirAsia optimis dan positif memandang peluang bisnis yang ada di Indonesia. Memipun manajemen memahami dan mendapatkan input dari rekan-rekan yang berada di industri penerbangan, bahwa setelah pandemi total jumlah pesawat yang saat ini beroperasi di Indonesia secara substansial lebih rendah dari pada periode sebelumnya.
Kondisi ini merupakan peluang dan tanggung jawab bagi Perseroan sebagai perusahaan di Indonesia untuk bisa berkontribusi sebagai solusi dalam mengatasi kekurangan tersebut.
"Permintaan pasar akan terus ada, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan dengan populasi yang besar sehingga memiliki potensi pasar yang sangat besar dan melihat ketersediaan pesawat yang saat ini lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi," tulis manajemen.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
IHSG Hari Ini Cetak Rekor ATH, Lompat Nyaris 1% Tembus 8.318
IHSG mencetak rekor penutupan tertinggi baru di level 8.318,93, didorong oleh kenaikan saham blue chip. [563] url asal
#rekor-ath #ihsg #pasar-saham #investasi #ekonomi-indonesia #blue-chip #transaksi-saham #msci #pertumbuhan-ekonomi #volatilitas-pasar
(CNBC Indonesia - Market) 05/11/25 16:25
v/28643/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba melesat kencang pada akhir perdagangan sesi pertama, Rabu (5/11/2025). Indeks yang pada awal perdagangan dibuka di zona merah malah berakhir lompat 0,93% atau menguat 76,61 poin ke level 8.318,93.
Ini merupakan rekor penutupan perdagangan tertinggi baru (all time high/ATH) yang dicatatkan oleh indeks acuan bursa saham domestik.
Sebanyak 284 saham turun, 357 naik, dan 168 tidak bergerak. Nilai transaksi hari ini mencapai Rp 18,51 triliun, melibatkan 35,26 miliar saham dalam 2,2 juta kali transaksi.
Nyaris seluruh sektor perdagangan bergerak di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh utilitas, barang baku dan konsumer non-primer. Adapun sektor energi menjadi satu-satunya yang mengalami koreksi hari ini.
Emiten blue chip berkapitalisasi besar tercatat menjadi penopang IHSG dalam mencatatkan rekor penutupan tertinggi baru hari ini. Kenaikan saham Barito Renewables Energy (BREN) tercatat menyumbang paling besar ke IHSG atau sebanyak 20,02 indeks poin.
Selanjutnya ada GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) yang melesat 8,77% ke Rp 62 per saham dengan kontribusi 10,78 indeks poin. Emiten lainnya yang ikut menopang kinerja IHSG termasuk BRMS, AMMN dan TLKM.
Adapun pelaku pasar modal di Tanah Air mencerna dengan seksama rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2025 yang diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Lonjakan dolar AS juga mesti diwaspadai karena bisa membuat rupiah semakin tertekan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada ekonomi kuartal III-2025 mencapai 5,04% secara tahunan (year on year/yoy) dan 1,43% (qtq). Moh. Edy Mahmud, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, menuturkan pertumbuhan 5,04% ini lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2025 sebesar 4,95%.
Selain itu, pelaku pasar ini juga mencermati pengumuman tinjauan reguler (index review) MSCI untuk periode November 2025.
Perubahan konstituen yang diumumkan akan mulai berlaku efektif pada 25 November 2025 mendatang, dan biasanya menimbulkan periode volatilitas tinggi menjelang implementasi.
Dalam tinjauan kali ini, sejumlah saham Indonesia disebut berpotensi mengalami perubahan posisi dalam indeks MSCI.
Beberapa emiten domestik yang dinilai berpeluang masuk atau naik kelas antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), setelah keduanya diperkirakan telah memenuhi syarat free float dan likuiditas.
Sebaliknya, sejumlah saham disebut berisiko keluar atau diturunkan kelas, seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Masuknya saham ke dalam indeks MSCI biasanya mendorong aliran dana asing (foreign inflow) karena banyak dana indeks dan exchange-traded fund (ETF) global yang mereplikasi konstituen MSCI.
Namun sebaliknya, keluarnya saham dari indeks dapat menimbulkan tekanan jual akibat penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global.
Periode antara pengumuman hingga tanggal efektif pada 25 November 2025 mendatang, diperkirakan akan menjadi momen yang cukup dinamis bagi IHSG, terutama bagi saham-saham dengan kapitalisasi besar yang menjadi kandidat perubahan.
Jika terdapat lebih banyak saham besar yang keluar atau turun kelas, sentimen pasar bisa tertekan, dan menjadi salah satu pemicu koreksi IHSG dalam jangka pendek.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
IHSG Sesi 1 Ditutup Naik 0,26%, Tiba-tiba Balik Arah ke Zona Hijau
IHSG berbalik arah ke zona hijau, naik 0,26% di akhir sesi pertama. Pelaku pasar menanti rilis pertumbuhan ekonomi dan tinjauan MSCI. [586] url asal
#pasar-saham #ihsg #investasi #indeks-msci #arus-modal #sektor-perdagangan #pertumbuhan-ekonomi #volatilitas-pasar #saham-indonesia #analisis-pasar
(CNBC Indonesia - Market) 05/11/25 12:14
v/28243/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba balik arah ke zona hijau pada akhir perdagangan sesi pertama, Rabu (5/11/2025). Indeks yang sebelumnya dibuka di zona merah berakhir naik 0,26% atau menguat 21,22 poin ke level 8.263,13.
Sebanyak 266 saham turun, 349 naik, dan 192 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga jeda makan siang mencapai Rp 9,57 triliun, melibatkan 22,32 miliar saham dalam 1,29 juta kali transaksi.
Mayoritas sektor perdagangan bergerak di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh utilitas, teknologi dan konsumer non-primer. Adapun sektor properti, energi mencatatkan koreksi paling dalam hari ini.
Emiten konglomerat tercatat menjadi pemberat utama pergerakan IHSG hari ini. Perusahaan tambang Grup Sinar Mas, Dian Swastatika Sentosa (DSSA), tercatat menjadi pemberat utama kinerja IHSG hari ini.
Lalu diikuti oleh emiten tambang batu bara Baya Resources (BYAN) dan emiten properti Hermanto Tanoko, Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE)..
Sementara itu pasar modal di kawasan kompak berada di zona merah pagi ini.
Mengutip CNBC, S&P/ASX 200 Australia mengawali hari dengan penurunan 0,19%.
Nikkei 225 Jepang melemah 0,25%, sementara Topix melemah 0,26%. Kospi Korea Selatan melemah 1,9% dan Kosdaq berkapitalisasi kecil melemah 0,95%.
Indeks berjangka Hang Seng Hong Kong mencatatkan pembukaan yang sedikit lebih rendah di level 25.917 dibandingkan penutupan terakhir indeks di level 25.952,4.
Adapun pelaku pasar modal di Tanah Air menanti dengan seksama rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2025 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data ini akan berpengaruh pada pergerakan pasar keuangan Tanah Air.
Lonjakan dolar AS juga mesti diwaspadai karena bisa membuat rupiah semakin tertekan.
Selain itu, pelaku pasar hari ini juga perlu mencermati pengumuman tinjauan reguler (index review) MSCI untuk periode November 2025.
Perubahan konstituen yang diumumkan akan mulai berlaku efektif pada 25 November 2025 mendatang, dan biasanya menimbulkan periode volatilitas tinggi menjelang implementasi.
Dalam tinjauan kali ini, sejumlah saham Indonesia disebut berpotensi mengalami perubahan posisi dalam indeks MSCI.
Beberapa emiten domestik yang dinilai berpeluang masuk atau naik kelas antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), setelah keduanya diperkirakan telah memenuhi syarat free float dan likuiditas.
Sebaliknya, sejumlah saham disebut berisiko keluar atau diturunkan kelas, seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Masuknya saham ke dalam indeks MSCI biasanya mendorong aliran dana asing (foreign inflow) karena banyak dana indeks dan exchange-traded fund (ETF) global yang mereplikasi konstituen MSCI.
Namun sebaliknya, keluarnya saham dari indeks dapat menimbulkan tekanan jual akibat penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global.
Periode antara pengumuman hingga tanggal efektif pada 25 November 2025 mendatang, diperkirakan akan menjadi momen yang cukup dinamis bagi IHSG, terutama bagi saham-saham dengan kapitalisasi besar yang menjadi kandidat perubahan.
Jika terdapat lebih banyak saham besar yang keluar atau turun kelas, sentimen pasar bisa tertekan, dan menjadi salah satu pemicu koreksi IHSG dalam jangka pendek.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Investor Merapat! Ada Tanda Bahaya dari Bitcoin
Bitcoin jatuh ke bear market, diperdagangkan di bawah US$100.000. Penurunan ini dipicu oleh likuidasi besar dan ketidakpastian suku bunga The Fed. [655] url asal
#bear-market #bitcoin #aset-kripto #likuidasi #suku-bunga #pasar-saham #volatilitas
(CNBC Indonesia - Market) 05/11/25 08:52
v/27884/
Jakarta, CNBC Indonesia — Bitcoin kembali tergelincir ke wilayah bear market pada Selasa, (4/11/2025), hanya beberapa pekan setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa.
Aset kripto terbesar di dunia itu diperdagangkan di bawah US$100.000 atau sekitar Rp1,67 miliar untuk pertama kalinya sejak Juni. Angka ini turun 21% dari level puncaknya di US$126.200 yang tercatat pada 6 Oktober.
Melansir Business Insider, Rabu (5/11/2025), bulan Oktober yang biasanya membawa optimisme bagi investor kripto kali ini berubah menjadi bulan yang mengecewakan. Bitcoin mencatat kerugian bulanan pertamanya dalam tujuh tahun terakhir, menandai berakhirnya harapan terhadap fenomena "Uptober".
Penurunan lebih dari 5% pada Selasa terjadi seiring melemahnya aset berisiko secara umum. Pasar saham juga tumbang karena kekhawatiran valuasi setelah laporan keuangan terbaru Palantir dan peringatan dari sejumlah eksekutif bank besar.
Namun, tekanan terhadap bitcoin telah terakumulasi selama beberapa pekan terakhir. Pasar kripto menghadapi berbagai hambatan yang menekan harga, mulai dari likuidasi besar-besaran hingga perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
"Indeks sentimen turun ke level 21, terendah sejak 9 April, menunjukkan ketakutan ekstrem di pasar," ujar Alex Kuptsikevich, Chief Market Analyst di FXPro. "Bulan lalu, level ini memicu rebound, tetapi kini pasar sudah jatuh lebih dalam dari titik tersebut," tambahnya.
Serangkaian aksi jual ini memangkas kenaikan bitcoin sepanjang tahun menjadi hanya sekitar 8%. Angka tersebut tertinggal jauh dari kenaikan indeks S&P 500 yang mencapai 15% secara year-to-date.
Volatilitas terbaru di pasar kripto dipicu oleh kombinasi faktor global. Di antaranya kekhawatiran perdagangan, aksi likuidasi bersejarah, berkurangnya minat terhadap strategi keuangan berbasis kripto, serta revisi ekspektasi pemangkasan suku bunga pasca pertemuan terakhir The Fed.
Salah satu faktor terbesar yang membebani pasar terjadi pada 10 Oktober. Ketika itu, gelombang kekhawatiran perdagangan memicu aksi likuidasi posisi long bitcoin senilai US$19 miliar hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.
Beberapa perkiraan bahkan menunjukkan nilai likuidasi mendekati US$30 miliar, menjadikannya yang terbesar dalam sejarah bitcoin. "Hampir tidak penting apa penyebabnya, yang jelas kemarin kita diingatkan betapa rapuhnya pasar ini," ujar Jonathan Man, Portfolio Manager di Bitwise.
Menurut Li dari Codex, aksi likuidasi berantai di pasar derivatif luar negeri pada awal Oktober turut membentuk sentimen negatif. Ia menambahkan bahwa saat ini faktor makroekonomi menjadi penggerak utama pasar, seiring meningkatnya ketidakpastian terhadap valuasi saham teknologi dan dukungan The Fed.
Bitcoin sempat mencatat penurunan tajam setelah pertemuan The Fed Oktober lalu, ketika Ketua Jerome Powell menegaskan belum ada kepastian pemangkasan suku bunga pada Desember. Ketidakpastian dukungan kebijakan moneter tersebut semakin menekan aset berisiko seperti bitcoin.
Berbeda dengan pasar saham yang masih ditopang oleh tren AI, bitcoin belum memiliki katalis serupa untuk mengangkat harganya. Sebelum aksi jual besar pada Selasa, sejumlah analis mencatat rotasi investor dari kripto ke saham akibat kejatuhan pasar digital pada Oktober.
"Ketika pasar saham dan bitcoin mulai turun, sebagian investor menarik dana dari bitcoin untuk menutup posisi di saham, yang kemudian justru memicu rebound di bursa," ujar Marcus Sturdivant, Managing Member di The ABC Squared.
Secara keseluruhan, pasar kini jauh lebih skeptis bahwa proyeksi optimistis akhir tahun akan terwujud. Tokoh-tokoh bullish seperti Tom Lee dan Geoff Kendrick dari HSBC masih menargetkan harga bitcoin di kisaran US$200.000, yang berarti aset ini harus melesat 100% hanya dalam dua bulan.
"Dengan tekanan perdagangan yang meningkat, ketidakpastian suku bunga, serta potensi dampak penutupan pemerintahan AS terhadap data ekonomi bulan ini, pembeli belum punya cukup alasan untuk masuk kembali di level US$120.000," kata Guillermo Fernandes, pendiri Blockpliance.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56
Foto: Foto kolase PM Jepang, Sanae Takaichi dan Presiden China, Xi Jinping. (CNBC Indonesia)