Bisnis.com, JAKARTA — Kualitas aset dinilai menjadi penguat fase pemulihan industri perbankan pada 2026 seiring dengan normalisasi likuiditas dan penyesuaian suku bunga.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam riset sektor perbankan yang dirilis pada pertengahan Januari 2026 menyebut kualitas aset dinilai menjadi faktor pembeda utama antarbank.
Analis BRIDS Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis menyebut bahwa Non-Performing Loan (NPL) sektor perbankan belum sepenuhnya keluar dari fase kenaikan, khususnya pada segmen kredit konsumer dan UMKM.
“Kami menilai NPL masih berpotensi berada dalam fase upcycle pada 2026, dengan risiko delinkuensi yang lebih tinggi berasal dari kredit konsumer dan UMKM," seperti dikutip dalam riset, Rabu (28/1/2026).
Salah satu perbankan yang menjadi sorotan adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Rasio loan at risk (LAR) BCA pada 2025 yang membaik ke 4,8% dibandingkan 5,3% pada tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, rasio non-performing loan (NPL) terkendali di 1,7% dan pencadangan NPL serta LAR memadai, masing-masing sebesar 183,8% dan 71,6%
BRIDS menilai saham BCA memiliki posisi relatif lebih defensif dibandingkan bank-bank lainnya.
"Kami memilih BBCA sebagai top pick karena didukung oleh profil pendapatan yang lebih aman dan kualitas aset yang lebih solid dibandingkan dengan peers," ujarnya.
BRIDS memproyeksikan BBCA akan meraih laba Rp57,63 triliun pada 2026 dan merekomendasikan sahamnya dengan status buy dan target harga Rp10.800 per saham.
Di sisi lain, laporan CGS International per Desember 2025, memaparkan bahwa industri perbankan masih berada dalam kondisi operasional yang menantang. Namun, bank dengan disiplin manajemen risiko yang kuat berpotensi lebih resilient.
"Kami mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor ini karena kami melihat prospek laba bersih yang lebih baik di 2026F, didorong oleh volume kredit yang meningkat dan tren pembalikan pada biaya pendanaan," ujar analis CGS Handy Noverdanius, Owen Tjandra, dan Elizabeth Noviana dalam risetnya.
CGS juga menjadikan BBCA sebagai salah satu top pick karena berfokus pada segmen wholesale, yang diuntungkan dari sentimen bisnis yang membaik. BBCA berpotensi paling diuntungkan dari foreign fund inflow.
CGS juga menekankan bahwa stabilitas kualitas kredit menjadi salah satu keunggulan BBCA dibandingkan dengan bank lain. CGS memberikan target harga BBCA menyentuh Rp10.700 dalam setahun ke depan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.