#30 tag 24jam
Sejarah Singkat Candi Borobudur, Monumen Megah Peninggalan Dinasti Sailendra
Candi Borobudur, dibangun Dinasti Sailendra (780-840 M) adalah monumen Buddha terbesar di dunia yang berada di Magelang, Jawa Tengah. [1,011] url asal
#borobudur #candi-borobudur #dinasti-sailendra #sejarah-borobudur #monumen-buddha #warisan-dunia-unesco #wisata-borobudur #arsitektur-mandala #relief-borobudur #stupa-borobudur #kamadhatu #rupadhatu
(Bisnis.Com - Terbaru) 04/06/26 12:07
v/239749/
Bisnis.com, SEMARANG — Candi Borobudur merupakan salah satu monumen agama Buddha terbesar dan paling megah di dunia. Situs ini menjadi salah satu bukti sejarah yang menunjukkan perkembangan dan penyebaran agama Buddha di Indonesia.
Selain menjadi monumen termegah, Candi Borobudur juga telah dikenal sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO yang paling terkenal di dunia. Terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, candi ini menjadi candi agama Buddha terbesar di dunia dan menjadi salah satu destinasi wisata paling populer dan banyak dituju di Asia Tenggara. Namun, dibalik kemegahan dan kepopulerannya ini, Candi Borobudur ternyata menyimpan sejarah yang sangat mengagumkan.
Sejarah Candi Borobudur
Mengutip dari laman In Journey, Candi Borobudur merupakan sebuah monumen yang dibangun oleh Dinasti Sailendra pada 780-840 Masehi. Menjadi dinasti yang berkuasa pada masa itu, Dinasti Sailendra membangun situs ini sebagai tempat pemujaan Buddha dan tempat sejarah. Tempat ini berisi petunjuk-petunjuk bagi manusia untuk menjauhkan diri dari nafsu dunia dan menuju pencerahan sekaligus kebijaksanaan menurut Buddha.
Mengutip dari laman Laboratorium Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro, Candi Borobudur diilhami sebagai gagasan dharma dari India, antara lain stupa dan mandala, tetapi dipercaya juga menjadi kelanjutan dari struktur megalitik Punden Berundak yang ditemukan dari periode prasejarah Indonesia.
Setelah dibangun oleh Dinasti Sailendra, Candi Borobudur ditemukan oleh Pasukan Inggris pada tahun 1814 di bawah pimpinan Sir Thomas Stanford Raffles. Usai penemuan tersebut, Raffles dan pasukannya membabat bukit serta membersihkan sisa-sisa vulkanik di bukit itu. Setelah dibersihkan, ditemukan adanya batu-batu pahatan yang berbentuk aneh.
Mengutip dari Id Sejarah, karena besarnya bebatuan Candi Borobudur misi dari Raffles tidak terselesaikan sepenuhnya. Upaya pembersihan ini dilanjutkan oleh penguasa Residen Kedu pada masa itu, yakni Hartmann. Area candi berhasil dibersihkan seluruhnya pada tahun 1835.
Dari masa Raffles, Candi Borobudur mengalami pemugaran kedua pada tahun 1907-1911 oleh Theoddor van Erp, serta pemugaran terbesar pada 1973-1983 oleh Pemerintah Indonesia dan UNESCO.
Terkait gaya arsitektur, Candi Borobudur diketahui dibangun dengan gaya Mandala yang mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha. Mengutip dari laman Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI, Candi Borobudur memiliki lima teras persegi dan tiga teras bundar dengan 72 stupa, serta satu stupa besar di puncak. Tak hanya stupa, Candi Borobudur juga memiliki 1.460 relief yang menceritakan kisah dan 1.212 relief hias, dengan total 2.672 panel yang menutupi area 2.500 meter persegi.
Struktur bangunan ini berbentuk kotak dengan empat pintu masuk dan titik pusat berbentuk lingkaran. Jika dilihat dari luar hingga ke dalam terbagi menjadi dua bagian, yakni alam dunia yang terbagi menjadi tiga zona di bagian luar, dan alam nirwana di bagian pusat.
Susunan tingkat pada Candi Borobudur juga diketahui melambangkan perjalanan kehidupan menurut ajaran agama Buddha. Setiap tingkatannya menggambarkan tahapan menuju kesempurnaan jiwa dimulai dengan fase kehidupan duniawi hingga mencapai tahapan pencerahan tertinggi.
Tiga Tingkatan Candi Borobudur
- Kamadhatu
Tingkat Kamadhatu merupakan bagian terbawah dari Candi Borobudur. Tingkatan ini melambangkan kehidupan manusia yang penuh hawa nafsu. Hawa nafsu menjadi hal yang sangat bertentangan dengan ajaran agama Buddha. Tingkatan Kamadhatu juga menggambarkan alam dunia yang terlihat dan sedang dialami oleh manusia sekarang.
Kamadhatu diketahui terdiri dari 160 relief yang menjelaskan Karmawibhangga Sutra, yakni hukum sebab akibat. Adapun sifat dan nafsu manusia yang digambarkan dalam tingkatan ini seperti merampok, membunuh, memperkosa, penyiksaan, dan fitnah.
- Rupadhatu
Tingkatan kedua di Candi Borobudur adalah Rupadhatu. Tingkatan Rupadhatu melambangkan manusia yang terbebas dari hawa nafsu atau menjadi alam peralihan di mana manusia telah dibebaskan dari urusan dunia. Rupadhatu menjadi tingkatan yang menjembatani tingkatan Kamadhatu dengan Arupadhatu di Candi Borobudur.
Selain itu, Rupadhatu diketahui terdiri dari galeri ukiran relief batu dan patung Buddha. Secara keseluruhan terdapat 328 patung Buddha yang juga memiliki hiasan relief pada ukirannya. Terkait relief, menurut manuskrip Sansekerta pada bagian ini terdiri dari 1300 relief yang berupa Gandhawyuha, Lalitawistara, Jataka, dan Awadana. Seluruhnya membentang sejauh 2,5 km dengan 1212 panel.
- Arupadhatu
Arupadhatu merupakan tingkatan teratas dari Candi Borobudur. Tingkatan ini melambangkan seorang manusia yang sudah tidak memiliki nafsu dan tidak berwujud namun belum mencapai nirwana. Arupadhatu memiliki tiga serambi berbentuk lingkaran yang mengarah ke kubah di bagian pusat atau stupa yang menggambarkan kebangkitan dari dunia. Pada bagian ini tidak ada ornamen maupun hiasan, yang berarti menggambarkan kemurnian tertinggi.
Serambi pada bagian ini terdiri dari stupa berbentuk lingkaran yang berlubang, lonceng terbaik, berisi patung Buddha yang mengarah ke bagian luar candi. Terdapat 72 stupa secara keseluruhan dengan stupa terbesar berada di tengah. Namun stupa terbesar ini diketahui tidak memiliki ukuran yang sama dengan versi aslinya yang mencapai 42 meter di atas tanah dengan diameter 9.9 m.
Berbeda dengan stupa yang mengelilinginya, stupa pusat kosong dan menimbulkan perdebatan bahwa sebenarnya terdapat isi namun juga ada yang berpendapat bahwa stupa tersebut memang kosong.
Empat Relief Utama di Candi Borobudur
- Karmawibhangga
Di lantai dasar candi, terdapat 160 relief Karmawibhangga yang hampir seluruhnya kini tertutup oleh dinding penopang. Relief ini mengajarkan prinsip ‘ngunduh wohing pakarti’ yang berarti kita akan memetik hasil dari perbuatan kita sendiri. Relief ini mengajak untuk hidup dengan integritas dan sopan santun, serta berinteraksi dalam masyarakat dengan adil, tanpa kekerasan, dan berkomitmen untuk tidak menyakiti atau merugikan orang lain.
- Jataka dan Awadana
Pada panel lantai satu bagian atas, terdapat 620 relief yang menggambarkan cerita Jataka dan Awadana. Relief-relief ini mengajarkan tentang ‘migunani tumpraping liyan’ yang berarti hidup yang memberikan manfaat untuk orang lain. Selain itu, relief ini juga menampilkan cerita tentang binatang, pemimpin negara, dan dewa, yang menggambarkan pentingnya kerja sama dan kesatuan dalam menghadapi berbagai situasi, baik dalam kemakmuran maupun tantangan.
- Sutra Lalitavistara
Sutra Lalitavistara yang terukir di dinding lantai pertama ini terdiri dari 120 relief. Sutra ini mengisahkan tentang ‘Kiprah Pamungkas’ yang merupakan puncak dari berbagai aktivitas yang kaya dan lengkap. Tak hanya itu, relief ini menunjukkan juga bagaimana berbagai kegiatan bermanfaat mencapai puncaknya dengan dimulainya penyebaran ajaran.
- Gandavyuha
Sutra Gandawyuha merupakan ajaran utama di Candi Borobudur yang terukir dalam 460 relief. Relief ini menggambarkan cara mencapai pengetahuan yang sempurna dan potensi tertinggi manusia.
Di lantai dua, terdapat 128 relief tentang pembukaan dan ‘kalyanamitra’ dari Sutra Gandawyuha. Relief ini menampilkan kehidupan spiritual yang penuh empati, percaya diri, ingin belajar, dan rendah hati. Selain itu, relief ini juga mengajarkan terkait toleransi terhadap semua jenis kelamin, usia, profesi, kekayaan, suku, kasta, dan agama.
Okupansi Hotel dan Aktivitas UMKM di Kawasan Borobudur Naik saat Waisak
Perayaan Waisak di Candi Borobudur meningkatkan okupansi penginapan dan aktivitas UMKM lokal, mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Magelang. [665] url asal
#borobudur-waisak #umkm-borobudur #wisata-borobudur #penginapan-borobudur #homestay-borobudur #ekonomi-borobudur #pariwisata-jawa-tengah #acara-waisak #lampion-borobudur #wisatawan-borobudur #hotel-bor
(Bisnis.Com - Terbaru) 01/06/26 18:15
v/236867/
Bisnis.com, SEMARANG - Rangkaian perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ditutup dengan prosesi pelepasan 2.570 buah lampion perdamaian pada Minggu (31/5/2026) malam.
Ribuan pengunjung dan umat Buddha dari berbagai daerah serta mancanegara memadati area Marga Utama kompleks candi untuk menyaksikan prosesi tahunan tersebut. Acara tahunan ini berdampak langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan Borobudur.
"Semua penginapan, homestay yang di sini penuh semua. Dan tentu saja juga untuk UMKM masyarakat di sekitar Borobudur juga punya dampak yang signifikan," ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat memberikan keterangan di pelataran Candi Borobudur, Minggu (31/5/2026) malam.
Sumarno menjelaskan bahwa sebagai agenda keagamaan rutin tahunan, peringatan Waisak secara konsisten memberikan kontribusi terhadap perekonomian lokal.
Perputaran uang dari belanja wisatawan dan sektor akomodasi dinilai menjadi stimulus penting bagi pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap momentum perayaan ini dapat menjadi pemantik yang berkelanjutan untuk meningkatkan angka kunjungan wisata ke wilayah Magelang dan sekitarnya pada bulan-bulan berikutnya.
Peningkatan indikator pariwisata tersebut juga dikonfirmasi oleh Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Hartati Murdaya. Kapasitas homestay yang dikelola oleh warga lokal terus berkembang secara kuantitas untuk mengantisipasi lonjakan arus kunjungan.
Kendati demikian, tingginya volume umat dan turis yang hadir membuat fasilitas akomodasi yang ada sering kali terisi penuh, sehingga keberadaan sejumlah hotel baru di sekitar kawasan tersebut turut membantu menyerap kebutuhan tempat tinggal sementara selama periode perayaan.
Sebagai informasi, rangkaian kegiatan Waisak tahun ini berlangsung dalam durasi yang cukup panjang dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat sipil.
Selain kegiatan ritual keagamaan, panitia menyelenggarakan aksi sosial berupa layanan pengobatan gratis yang menyasar lebih dari 7.000 pasien. Rangkaian ritual inti lainnya meliputi prosesi pengambilan air suci di Umbul Jumprit, Kabupaten Temanggung, penyalaan api abadi di Mrapen, Kabupaten Grobogan, serta pelaksanaan Dharma Santi Waisak sebelum akhirnya ditutup dengan pelepasan lampion di langit Borobudur.
Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyatakan bahwa perayaan Waisak di Candi Borobudur merupakan representasi dari komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas sosial, toleransi, dan pengelolaan keragaman budaya. Menurut Wakil Presiden, persatuan antarumat beragama merupakan salah satu modal dasar untuk mendukung keberlanjutan pembangunan nasional. Pemerintah pusat mengapresiasi peran umat Buddha dalam menjaga kondusivitas dan mendorong penguatan nilai-nilai persaudaraan lintas iman.
Acara seremonial penutupan tersebut juga dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara dari Kabinet Merah Putih. Di antaranya adalah Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Kehadiran para menteri lintas sektor ini menegaskan fokus pemerintah dalam melakukan sinkronisasi kebijakan antara pengelolaan situs keagamaan, pelestarian kebudayaan, dan pengembangan ekonomi kreatif pariwisata.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendiri terus melakukan upaya proaktif dalam mempromosikan potensi pariwisata di kawasan Candi Borobudur. Salah satunya melalui partisipasi Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah dalam ajang Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026.
Acara yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada 28-30 Mei 2026 tersebut menjadi salah satu ajang pertemuan Business-to-Business (B2B) pelaku pariwisata di Tanah Air.
Kepala Disbudparekraf Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono, melaporkan bahwa delegasi Jawa Tengah berhasil merealisasikan sekitar 80 pertemuan bisnis dengan pembeli internasional asal Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, Eropa, hingga Timur Tengah.
Produk pariwisata yang ditawarkan berpusat pada integrasi interkoneksi wilayah atau paket "Java Experience" yang menghubungkan Candi Borobudur dengan destinasi strategis lain seperti Kepulauan Karimunjawa, Solo Raya, dan Kota Semarang.
"Apabila 20% dari hasil pertemuan bisnis tersebut ditindaklanjuti secara riil menjadi kerja sama pemasaran paket wisata, maka akan terbentuk sekitar 16 mitra agen perjalanan internasional aktif," ujarnya.
Dengan estimasi serapan pengiriman wisatawan antara 100 hingga 250 ekspatriat/agen/tahun, potensi tambahan kunjungan mancanegara ke Jawa Tengah diproyeksikan mencapai 1.600-4.000 orang per tahun. Dengan rata-rata belanja wisatawan asing sebesar Rp15 juta-Rp20 juta per kunjungan, perputaran ekonomi baru yang dihasilkan dari program ini diprediksi menyentuh angka Rp24 miliar-Rp80 miliar per tahun.
Fenomena Sudden Travel, Perubahan Perjalanan Liburan yang Mengubah Industri Pariwisata
Fenomena sudden travel pasca pandemi mengubah pola wisata menjadi lebih spontan, mempengaruhi industri pariwisata dan mendorong adaptasi pelaku usaha. [1,014] url asal
#sudden-travel #perubahan-pariwisata #industri-pariwisata #perilaku-wisatawan #pandemi-covid-19 #wisata-spontan #gen-z-travel #pengalaman-wisata #reservasi-hotel #wisata-borobudur #wisata-desa #pariwis
(Bisnis.Com - Terbaru) 01/01/26 12:21
v/90511/
Bisnis.com, SEMARANG — Pandemi Covid-19 menjadi salah satu fase paling berat yang dialami masyarakat global dalam beberapa dekade terakhir. Tidak hanya mengubah cara manusia berinteraksi dan bekerja, krisis kesehatan ini juga meninggalkan scarring effect, yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang yang merasa cemas dalam mengambil keputusan untuk melakukan kegiatan ekonomi.
Pengalaman hidup dalam ketidakpastian membuat banyak orang menjadi lebih berhati-hati, termasuk saat merencanakan perjalanan liburan. Meski kini pembatasan mobilitas mulai dilonggarkan, perilaku wisata yang sebelumnya direncanakan sejauh jauh hari tidak serta-merta kembali. Scarring effect dari pandemi membuat wisatawan kini enggan mengikat rencana terlalu jauh ke depan dan lebih memilih menunggu hingga mendekati waktu keberangkatan sebelum menentukan perjalanan.
Di sektor industri pariwisata, perubahan ini terasa sangat nyata. Salah satu pelaku perhotelan di Kota Semarang mencatat pergeseran pola permintaan wisatawan. Di Grand Candi Hotel Semarang, perubahan perilaku wisatawan ini mulai terlihat jelas sejak pascapandemi Covid-19 tahun 2022 lalu. Okupansi kamar yang biasanya dapat diproyeksikan sejak jauh hari, kini kerap bergerak lambat di awal periode liburan, sebelum mengalami lonjakan tajam mendekati hari keberangkatan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai sudden travel, yakni perjalanan yang diputuskan dalam waktu singkat tanpa perencanaan panjang. Manager Communication Grand Candi Hotel Semarang, Azkar Rizal Muhammad, mengungkapkan bahwa pandemi menjadi titik balik dari perubahan perilaku tamu hotel. Ketidakpastian selama pandemi berhasil membentuk kebiasaan baru di kalangan wisatawan.
“Kalau dulu orang-orang bisa mempersiapkan agenda liburan dari jauh-jauh hari, mulai dari tiket pesawat, destinasi wisata, hingga hotel. Nah, entah bagaimana setelah Covid-19, tamu ini lebih suka untuk sudden travel. Itu benar-benar terasa sejak tahun 2022 sampai sekarang,” ujar Azkar.
Perubahan perilaku tersebut membuat ritme bisnis hotel menjadi semakin dinamis. Angka reservasi kamar hotel di awal periode liburan seringkali terlihat rendah, seolah menunjukkan permintaan yang lesu. Namun, kondisi tersebut bisa berubah secara drastis dalam satu waktu. “Begitu masuk ke tanggal liburan, misalnya sekitar tanggal 20 Desember, okupansi hotel dari yang sebelumnya 60% bisa tiba-tiba jadi 100%. Dan itu terjadi hanya dalam satu hari saja,” katanya.
Ekonom Universitas Negeri Semarang (Unnes) Bayu Bagas Hapsoro, menilai bahwa perubahan ini bukan sekadar respons sesaat, melainkan pola baru yang lahir dari pengalaman kolektif selama pandemi. “Secara umum saya mencermati wisata global, termasuk di Indonesia, itu saat ini memang ada tampaknya mendekati sebagai fenomena yang relatif permanen, membentuk pola baru yang memang disetir oleh Gen Z,” ujar Bayu.
Menurut Bayu, pandemi juga berhasil mengubah orientasi wisata para wisatawan. Perjalanan liburan tidak lagi semata tentang destinasi, melainkan pengalaman. “Sudden travel ini menunjukkan behavior para pelancong, kini mereka lebih memilih sesuatu yang bersifat experience. Mereka melakukan kunjungan karena ada event, bukan karena destinasi,” jelasnya.
Dilihat dari kacamata ekonomi pariwisata, Bayu mengungkap bahwa perilaku sudden travel memiliki potensi untuk menstimulasi perputaran ekonomi, baik bagi pelaku industri pariwisata maupun pemerintah daerah. Dengan pola wisatawan yang kini lebih mencari pengalaman, Bayu menilai pelaku usaha dapat merespons melalui pengembangan paket bundling antara penginapan dan destinasi wisata.
“Bisa dibuat paket bundling dengan perjalanan ke destinasi wisata yang menarik dan bisa memberikan pengalaman berkesan bagi wisatawan. Misalnya, ada paket bundling dengan destinasi wisata ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), yang di sana wisatawan bisa mendapatkan pengalaman baru, seperti memetik buah melon,” ujar Bayu.
Selaras dengan pernyataan Bayu, konsultan pariwisata Bambang Mintosih juga menyebut bahwa tren perilaku sudden travel juga dipelopori oleh generasi muda, khususnya Gen Z. Bambang menjelaskan bahwa terdapat perbedaan yang mencolok dalam pola perencanaan perjalanan antargenerasi. “Yang sudden travel ini rata-rata didominasi oleh Gen Z karena sekarang hotel banyak di mana-mana, mereka juga nunggu flash sale. Sementara yang biasanya reservasi dari jauh-jauh hari itu generasi baby boomer,” ujar Bambang.
Dalam menghadapi tren sudden travel, Bambang menjelaskan bahwa kota-kota yang biasa menjadi pilihan destinasi wisata perlu terus beradaptasi dalam menghadapi perubahan perilaku wisatawan yang semakin spontan. Saat ini, Bambang menilai ada sejumlah daerah yang sudah cukup berhasil dalam memanfaatkan tren sudden travel. “Contohnya Kota Semarang, Solo, Yogyakarta, Bandung, dan lain-lain jadi kota yang berhasil memanfaatkan tren ini,” jelasnya.
Tidak hanya berdampak pada reservasi hotel, tren sudden travel juga berdampak pada cara wisatawan menikmati destinasi. Ketua Forum Rumpun Komunitas (FRK) Pariwisata Borobudur, Kirno Prasojo menjelaskan bahwa di kawasan Borobudur, kini wisatawan tidak hanya melakukan kunjungan wisata ke Candi Borobudur, tetapi juga melakukan perjalanan wisata desa di Borobudur.
“Kalau pola kunjungannya memang agak berubah. Kalau dulu orang yang keluarga itu berkunjung harus naik ke Candi. Nah, sekarang mereka cenderung datang ke Borobudur untuk perjalanan wisata desa menaiki mobil VW Safari Klasik atau Andong, dan Borobudur hanya sebagai latar selfie aja dari jauh,” jelas Kirno.
Selain perubahan perilaku, Kirno juga menambahkan bahwa adanya pembatasan jumlah pengunjung, tarif tiket yang naik, dan aturan terkait larangan naik ke puncak candi menjadi alasan lain wisatawan mengalihkan aktivitas kunjungan ke area sekitar yang lebih mudah dijangkau.
“Jadi pertama, dulu pernah ada isu masuk Candi Borobudur tiketnya mahal. Mereka gak datang karena tiketnya mahal padahal sebenarnya enggak, tiketnya tetap masih biasa. Terus yang kedua karena adanya pembatasan. Dulu yang naik Candi satu jam hanya bisa 120 orang, oleh karena itu wisatawan harus booking dulu. Sekarang kan udah dibuka tuh, satu hari bisa berapa ribu orang boleh. Namun memang butuh waktu untuk mengubah image yang sudah terlanjur terbentuk bahwa tidak bisa naik ke Borobudur," tambahnya.
Dengan dampak nyata yang dirasakan oleh para pelaku industri pariwisata, baik dari sisi perhotelan hingga tempat wisata, mampu menunjukkan bahwa scarring effect yang ditinggalkan pandemi Covid-19 dan menguatnya tren sudden travel menjadi sebuah tantangan baru untuk industri pariwisata. Pola perjalanan yang semakin spontan membuat perencanaan bisnis kian sulit diprediksi, sementara lonjakan permintaan bisa terjadi dalam waktu yang cukup singkat. Kondisi ini menuntut para pelaku usaha untuk sigap membaca perubahan perilaku wisatawan yang bergerak cepat dan dinamis, serta melakukan perubahan operasional menjadi lebih fleksibel.
Di tengah ketidakpastian tersebut, kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberlanjutan untuk industri pariwisata. Ketika wisatawan tidak lagi ingin terikat pada perencanaan jangka panjang, destinasi dan pelaku usaha dituntut untuk menghadirkan pengalaman yang lebih relevan dan siap dinikmati kapan saja. Pada titik ini, terlihat bahwa sudden travel bukan semata tantangan, melainkan ujian bagi industri pariwisata untuk terus bertahan dan tumbuh di era pasca pandemi Covid-19. (Fadya Jasmin Malihah)
Candi Borobudur Disesaki Wisatawan Domestik saat Libur Nataru
Candi Borobudur didominasi wisatawan lokal saat Nataru, mayoritas dari D.I. Yogyakarta. Hotel di Yogyakarta penuh, optimis wisatawan meningkat tahun ini. [476] url asal
#borobudur #wisatawan-domestik #candi-borobudur #wisata-jogja #libur-nataru #wisata-borobudur #d-i-yogyakarta #wisatawan-jawa #wisatawan-magelang #wisatawan-semarang #wisatawan-purworejo #menginap-yog
(Bisnis.Com - Terbaru) 25/12/25 11:00
v/84689/
Bisnis.com, SEMARANG — Menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, kunjungan wisata Borobudur masih didominasi oleh Wisatawan Nusantara (Wisnus) khususnya wisatawan dari Pulau Jawa, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Timur.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, mayoritas wisatawan yang datang masih memilih D.I. Yogyakarta sebagai pintu masuk sebelum melanjutkan perjalanan ke Magelang dan kawasan Borobudur.
Ketua Forum Rumpun Komunitas (FRK) Pariwisata Borobudur, Kirno Prasojo menjelaskan bahwa pola perjalanan wisatawan umumnya berasal dari D.I. Yogyakarta menuju Borobudur. Meski demikian, terdapat juga wisatawan yang datang dari wilayah barat seperti Purworejo dan Semarang, meski jumlahnya tidak sebanyak dari D.I. Yogyakarta.
“Kalau rata-rata tetap dari D.I. Yogyakarta dulu terus baru ke Borobudur. Ada juga yang dari daerah-daerah barat, seperti Purworejo dan Semarang juga ada. Tapi kalau dari arah Semarang itu berarti biasanya mereka ke D.I. Yogyakarta dulu baru ke Magelang atau ke Borobudur,” jelas Kirno, dikutip Rabu (24/12/2025).
Di sisi lain, berdasarkan lama menginap wisatawan, Kirno menjelaskan bahwa jelang Nataru, peningkatan kunjungan lebih banyak didorong oleh wisatawan yang menginap dibanding wisatawan harian.
Namun, sebagian besar wisatawan masih memilih D.I. Yogyakarta sebagai lokasi menginap, kecuali saat berlangsung event besar di kawasan Magelang atau Borobudur yang dapat mendorong tingkat hunian di sekitar kawasan Borobudur.
“Sebenarnya kalau lama tinggal itu sudah ada peningkatan, tapi tetap masih kalah dengan DIY. Kecuali ada event-event tertentu, misalnya event Borobudur Marathon itu baru banyak yang menginap di sekitar Borobudur. Tapi kalau liburan biasa tetap menginapnya masih banyak di D.I Yogyakarta,” katanya
Selaras dengan pernyataan Kirno terkait lama menginap wisatawan. General Manager Artotel Suites Bianti Reza Farhan menjelaskan bahwa pada periode libur Nataru okupansi hotel sudah terisi penuh hampir 100%.
“Saat ini okupansi Artotel Suites Bianti Yogyakarta sudah terisi penuh hampir 100%, kira-kira di kisaran 93%. Secara target sudah terpenuhi, tapi tentu kita terus berusaha supaya mencapai angka semaksimal mungkin,” jelas Reza, dikutip Rabu (24/12/2025)
Terkait proyeksi hotel terhadap pergerakan wisatawan pada periode Nataru tahun ini, Reza mengungkapkan bahwa Artotel Suites Bianti Yogyakarta optimistis pada jumlah wisatawan tahun 2025 akan alami peningkatan.
“Melihat tren pasar dari tahun ke tahun, jumlah wisatawan periode Nataru selalu meningkat. Bahwa kami juga melakukan forecasting,demand market untuk kebutuhan hotel sudah terlihat dari bulan Agustus. Ini jauh lebih awal dari yang kita duga, sehingga kami pun optimis bahwa jumlah wisatawan tahun ini akan meningkat,” ungkap Reza
Dalam upaya pemenuhan tingkat okupansi yang optimal, Reza menyebut bahwa Artotel Suites Bianti telah menyiapkan berbagai event akhir tahun hingga promo harga bagi para wisatawan yang ingin merayakan puncak pergantian tahun.
Terdapat sejumlah aktivitas menarik yang bisa diikuti para tamu mulai dari kompetisi photo taking, pembuatan essential oil, hingga aktivitas interaktif untuk anak-anak. Selain itu, menuju pergantian tahun, Artotel Suites Bianti juga akan menghadirkan artis nasional yang akan tampil dalam countdown party tahun 2025 ini. (Fadya Jasmin Malihah)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56