Obligasi untuk Biayai Dekarbonisasi Industri Diramal Menggeliat pada 2026
Obligasi transisi untuk penurunan emisi industri diprediksi tumbuh pesat pada 2026, mencapai US$40 miliar, didorong oleh kebutuhan investasi dekarbonisasi.
(Bisnis.Com) 21/01/26 12:22 109397
Bisnis.com, JAKARTA — Obligasi transisi yang diterbitkan untuk membiayai penurunan emisi di industri-industri dengan tingkat polusi tinggi diperkirakan tumbuh pada tahun ini karena pasar instrumen berkelanjutan secara keseluruhan berhasil menepis sentimen negatif yang menyasar isu perubahan iklim.
Dalam catatan Moody’s Ratings yang dikutip Bloomberg, penerbitan obligasi transisi pada tahun ini diproyeksikan menembus US$40 miliar atau sekitar Rp678,56 triliun. Nilai ini hampir dua kali lebih besar dibandingkan dengan total penerbitan pada 2024.
Sementara untuk pasar obligasi berkelanjutan secara umum, total penerbitan sepanjang 2026 diestimasi menembus US$900 miliar, menyamai angka pada 2025 menurut para Analis Moody’s Ratings, termasuk Matthew Kuchtyak, dalam catatan tersebut.
Adapun penerbitan obligasi hijau diestimasi mendominasi pasar surat utang berlabel hijau pada 2026, dengan nilai menembus US$530 miliar. Adapun penerbitan obligasi keberlanjutan diestimasi mencapai US$190 miliar dan obligasi sosial US$115 miliar.
“Fokus global pada pembiayaan berkelanjutan untuk menutup kesenjangan investasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang material akan menopang pasokan obligasi berlabel,” tulis para analis tersebut, dikutip Rabu (21/1/2026).
Meski demikian, Moody’s mencatat bahwa tekanan politik serta kekhawatiran terkait keamanan energi dan gangguan perdagangan global berpotensi membuat isu keberlanjutan menjadi prioritas yang lebih rendah bagi sebagian penerbit.
Kendati masih mencakup porsi kecil dari total pasar obligasi berkelanjutan, obligasi transisi dipandang memiliki ruang pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan investor dan pelaku usaha terhadap instrumen berlabel yang dapat menyalurkan modal secara lebih spesifik untuk agenda dekarbonisasi. Segmen ini juga dinilai mendapat momentum setelah lembaga global seperti International Capital Market Association (ICMA) dan Loan Syndications and Trading Association (LSTA) menerbitkan standar baru pada tahun lalu.
Sebelumnya, perkembangan obligasi transisi dinilai tertahan oleh persaingan dengan produk pembiayaan berkelanjutan lainnya, serta skeptisisme pasar terhadap penggunaan dana oleh sektor bahan bakar fosil, khususnya gas alam.
“Kami memperkirakan sebagian besar instrumen transisi akan diterbitkan oleh perusahaan nonkeuangan di sektor-sektor yang sulit diturunkan emisinya, termasuk minyak dan gas, semen, logam dan pertambangan, kimia, serta penerbangan,” tulis analis Moody’s.
Data Bloomberg Intelligence menunjukkan Jepang menjadi penerbit terbesar obligasi transisi sejak 2021, dengan total penerbitan hampir US$34 miliar atau lebih dari tiga perempat volume global. Selain itu, First Abu Dhabi Bank PJSC pada tahun lalu juga menerbitkan instrumen transisi pertamanya yang selaras dengan pedoman label transisi ICMA, yang digunakan untuk pembiayaan ulang proyek pembangkit listrik tenaga nuklir.
#obligasi-transisi #obligasi-berkelanjutan #obligasi-hijau #obligasi-sosial #pasar-obligasi #penerbitan-obligasi #emisi-industri #pembiayaan-berkelanjutan #perubahan-iklim #dekarbonisasi-industri #mood