Daftar Sektor Manufaktur yang Terkontraksi pada 2025, Tekstil Tak Termasuk
Industri padat karya seperti tembakau, kayu, dan karet terkontraksi pada 2025, sementara tekstil masih tumbuh meski dilanda gelombang PHK.
(Bisnis.Com) 10/02/26 12:00 131667
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah industri padat karya mengalami kontraksi mendalam sepanjang 2025. Kondisi pelemahan kinerja terhadap produk domestik bruto (PDB) terjadi pada sektor industri pengolahan tembakau, industri kayu dan barang dari kayu, industri karet, hingga industri alat angkutan.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kinerja industri pengolahan tembakau terkontraksi -1,37% (year-on-year/yoy) secara kumulatif pada 2025. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, kinerja industri tersebut masih positif yakni tumbuh 3,49% yoy pada 2024.
Hal serupa terjadi pada industri kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan, dan sejenisnya. Kinerja sektor tersebut masih positif pada 2024 yang tumbuh 2,79% yoy. Namun, sepanjang 2025 turun hingga -3,29% yoy.
Di sisi lain, industri karet, barang dari karet dan plastik juga mengalami penurunan hingga terkontraksi -4,07% yoy pada 2025, sementara tahun sebelumnya masih dapat tumbuh positif 1,75% yoy.
Selanjutnya, industri alat angkutan juga terkontraksi -2,10% yoy pada 2024. Kinerja sektor tersebut kembali turun sepanjang 2025 yang menyentuh angka -2,64% yoy.
Sementara itu, industri tekstil dan pakaian jadi yang belakangan dilanda gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pabrik gulung tikar, justru masih tumbuh positif kinerjanya di angka 3,55% yoy pada 2025.
Lebih lanjut, sektor yang mencatatkan pertumbuhan signifikan yaitu industri logam dasar yang tumbuh 15,71% yoy dan industri mesin serta perlengkapan yang naik 13,98% yoy.
“Kedua sektor ini juga bukan sektor padat karya. Justru industri padat karya mengalami penurunan, seperti industri kayu, karet, dan alat angkutan,” kata Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda kepada Bisnis, dikutip Selasa (10/2/2026).
Dia menyayangkan kondisi tersebut dan mendorong pemerintah untuk fokus memperkuat industri padat karya yang menyerap tenaga kerja paling besar. Pasalnya, saat ini pihaknya menilai hanya industri padat modal yang paling banyak masuk investasinya.
Untuk diketahui, BPS mencatat industri pengolahan nonmigas atau manufaktur tumbuh 5,15% yoy pada 2025. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak pandemi Covid-19 dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11% yoy. Industri pengolahan juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada 2025.
“Jika dilihat dari kontribusi pertumbuhan ekonomi secara kumulatif pada 2025, dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,07%. Angka ini merupakan yang tertinggi selama empat tahun terakhir,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam rilis resmi statistik, Kamis (5/2/2026).
Amalia menambahkan, pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri. Industri makanan dan minuman, misalnya, tumbuh 6,39% didukung oleh peningkatan produksi beras, minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya, serta kapasitas produksi yang terjaga.
#industri-padat-karya #manufaktur #pdb #industri-karet #industri-tembakau #industri-kayu #bps