Risiko Kebocoran Data Meningkat Saat Ramadan, Platform Diminta Perkuat Proteksi

Risiko Kebocoran Data Meningkat Saat Ramadan, Platform Diminta Perkuat Proteksi

Risiko kebocoran data meningkat saat Ramadan karena lonjakan transaksi online. Platform diminta perkuat keamanan dan edukasi pengguna untuk cegah serangan siber.

(Bisnis.Com) 01/03/26 04:00 150707

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, mengatakan risiko kebocoran data pribadi meningkat signifikan selama Ramadan. Kondisi ini terjadi karena lonjakan transaksi e-commerce, donasi daring, pemesanan perjalanan, hingga aktivitas media sosial.

Pelaku biasanya memanfaatkan momentum ini dengan phishing bertema promo Ramadan, zakat, atau THR. Semakin tinggi intensitas berbagi data dan transaksi, katanya semakin besar pula permukaan serangan.

“Jika literasi keamanan digital rendah dan proteksi platform lemah, potensi kebocoran data bisa meningkat dibanding periode normal,” ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan ini.

Heru menjelaskan secara umum kapasitas infrastruktur keamanan digital di Indonesia terus berkembang, baik di sektor perbankan, fintech, maupun e-commerce. Namun, lonjakan trafik musiman tetap menjadi tantangan, terutama bagi pelaku usaha kecil dan platform dengan sistem keamanan yang belum matang.

Pada periode dengan volume transaksi tinggi, sejumlah serangan seperti distributed denial of service (DDoS), credential stuffing, hingga phishing massal cenderung meningkat. Ketimpangan tingkat keamanan antarplatform ini dinilai masih menjadi celah yang dapat dimanfaatkan pelaku.

Oleh karena itu, tanggung jawab platform digital dan penyedia pembayaran perlu ditingkatkan dengan meningkatkan sistem deteksi penipuan berbasis perilaku, memperkuat enkripsi dan 2FA, serta mempercepat respons terhadap laporan pengguna.

Edukasi proaktif melalui notifikasi dalam aplikasi juga penting, khususnya terkait modus musiman seperti donasi palsu atau diskon fiktif. Transparansi dalam penanganan insiden dan mekanisme pemulihan dana yang cepat, lanjutnya, akan berperan besar dalam menjaga kepercayaan publik sekaligus menekan dampak ekonomi dari kejahatan siber.

“Kerugian tidak hanya berupa dana yang hilang, tetapi juga biaya pemulihan sistem, penurunan kepercayaan konsumen, dan dampak reputasi bagi pelaku usaha,” tuturnya.

Sementara itu, masyarakat diminta menerapkan autentikasi dua faktor dan penggunaan kata sandi yang kuat serta unik untuk setiap akun. Masyarakat juga diimbau tidak sembarangan mengklik tautan promo mencurigakan dan memastikan hanya bertransaksi melalui aplikasi atau situs resmi.

Kemudian, sebaiknya rutin memperbarui perangkat lunak, membatasi berbagi data pribadi di media sosial, menghindari penggunaan Wi-Fi publik untuk transaksi finansial, serta mengaktifkan notifikasi transaksi secara real-time.

“Segera laporkan aktivitas mencurigakan. Kewaspadaan secara kolektif dan literasi digital adalah kunci utama pencegahan,” jelas Heru.

#kebocoran-data #risiko-kebocoran-data #proteksi-platform #keamanan-digital #transaksi-e-commerce #phishing-ramadan #literasi-keamanan-digital #infrastruktur-keamanan #serangan-ddos #credential-stuffin

https://teknologi.bisnis.com/read/20260301/84/1956594/risiko-kebocoran-data-meningkat-saat-ramadan-platform-diminta-perkuat-proteksi