Bisnis.com, JAKARTA — Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha mengatakan intensitas phishing, social engineering, dan penipuan transaksi digital cenderung meningkat sejak pekan pertama Ramadan dan mencapai puncaknya menjelang Idulfitri.
Pola ini, sejalan dengan teori opportunity based crime, ketika pelaku memanfaatkan tingginya volume transaksi serta menurunnya kewaspadaan pengguna akibat kelelahan dan distraksi menjelang hari raya.
Pratama menyebut, modus yang paling dominan meliputi phishing perbankan, penipuan e-commerce, pembajakan akun media sosial, serta donasi dan zakat palsu. Tautan yang menyerupai halaman login bank atau dompet digital beredar masif melalui pesan instan. "Selain itu, marak ditemukan akun palsu yang menawarkan promo parcel Ramadan dengan harga tidak masuk akal," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan ini.
Tak hanya itu, distribusi malware melalui file APK berkedok aplikasi diskon Ramadan atau cek THR juga meningkat. Serangan ini memanfaatkan teknik rekayasa sosial dengan narasi urgensi dan iming-iming keuntungan finansial instan. Korban diarahkan untuk memasukkan kredensial, termasuk kode one time password (OTP), yang kemudian digunakan untuk mengambil alih akun dan menguras saldo.
Dari sisi waktu, pelaku menyesuaikan aksinya dengan pola aktivitas masyarakat selama Ramadan. Waktu sahur dan menjelang berbuka kerap menjadi target karena kondisi konsentrasi yang tidak optimal. Aktivitas belanja dan transaksi keuangan pada malam hari selepas tarawih juga membuka peluang interaksi lebih tinggi terhadap pesan berbahaya.
Fenomena fear of missing out (FOMO) turut dimanfaatkan melalui promo flash sale dan diskon Ramadan. Situs tiruan yang menyerupai platform resmi, tautan diskon berantai, hingga impersonasi akun marketplace dan bank menjadi pola umum. Pada level lebih kompleks, ditemukan pula skema pre-order hampers dengan pembayaran penuh di awal tanpa realisasi pengiriman barang.
Momentum meningkatnya solidaritas sosial selama Ramadan juga dieksploitasi. Kampanye donasi palsu menggunakan narasi emosional berlebihan, rekening pribadi atas nama individu, serta logo lembaga filantropi yang dipalsukan. Domain situs yang menyerupai lembaga resmi menjadi instrumen untuk menipu masyarakat yang berniat menunaikan zakat atau infak.
"Dalam beberapa kasus, pelaku memalsukan logo lembaga filantropi terkenal dan membuat situs dengan domain yang menyerupai aslinya untuk menipu masyarakat," tuturnya.
Indikasi eskalasi ancaman juga menyasar infrastruktur keuangan. Upaya brute force login, credential stuffing, hingga distributed denial of service (DDoS) meningkat terhadap lembaga keuangan dan fintech, termasuk perbankan syariah yang mengalami lonjakan transaksi menjelang Lebaran.
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menunjukkan laporan penipuan digital naik sekitar 34,7% selama Ramadan, dengan puluhan ribu laporan di sejumlah daerah. Sebanyak 89% kasus berkaitan dengan WhatsApp dan 64% melalui panggilan telepon, menandakan kanal komunikasi personal menjadi jalur paling rentan. Operator telekomunikasi juga mencatat kenaikan fraud sekitar 34%–35%, mendorong penguatan sistem anti-spam dan anti-scam berbasis kecerdasan artifisial.
Laporan lembaga konsumen digital turut mencatat peningkatan phishing hingga sekitar 30% menjelang musim mudik. Tren ini katamya mencerminkan bagaimana pelaku kejahatan siber meningkatkan kampanye phishing dengan teknik yang lebih canggih. "Termasuk penggunaan halaman login palsu yang meyakinkan dan peniruan institusi tepercaya untuk mencuri data kredensial pengguna," tegas Pratama.
Otoritas seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengamati tren penipuan berkedok promo Ramadan dan donasi ilegal, sementara perbankan nasional seperti PT Bank Negara Indonesia (BNI) secara terbuka mengingatkan nasabah agar waspada terhadap lonjakan phishing saat pencairan THR.
Secara global, pola serupa juga terjadi. Di Uni Emirat Arab, otoritas mencatat lebih dari 1.200 kasus permohonan sumbangan digital palsu selama Ramadan 2025. Sementara di Malaysia, teridentifikasi puluhan situs phishing bertema Ramadan yang meniru portal resmi pemerintah dan organisasi keagamaan.
Analisis firma keamanan internasional bahkan katanya menunjukkan lonjakan serangan bot terhadap platform e-commerce di kawasan Teluk hingga puluhan ribu permintaan otomatis per detik pada puncak belanja Ramadan.
Menghadapi kondisi tersebut, Pratama menekankan pendekatan pencegahan berbasis disiplin keamanan digital. Pengguna diminta tidak sembarang mengklik tautan bertema THR, mudik gratis, atau diskon besar. Alamat domain harus diverifikasi secara detail karena perbedaan satu huruf kerap menjadi indikator situs palsu.
Kredensial digital, termasuk OTP dan PIN, tidak boleh dibagikan kepada siapa pun. Autentikasi dua faktor perlu diaktifkan pada akun perbankan, e-commerce, dan media sosial. Instalasi aplikasi hanya melalui toko resmi, serta menghindari penggunaan WiFi publik untuk transaksi finansial.
Transaksi donasi dan zakat, lanjutnya, harus dilakukan melalui lembaga berlegalitas jelas dan terverifikasi. Rekening pribadi, desakan transfer cepat, serta narasi emosional tanpa transparansi patut dicurigai. “Ramadan adalah momentum ibadah dan berbagi. Namun disiplin keamanan digital tetap menjadi prasyarat agar masyarakat tidak menjadi korban,” jelas Pratama.