Peningkatan Polusi Udara Ancam Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Polusi udara global yang meningkat mengancam ekonomi dan kesehatan. Sejauh ini hanya 14% kota yang kualitas udaranya memenuhi standar WHO.
(Bisnis.Com) 26/03/26 11:00 173198
Bisnis.com, JAKARTA — Kualitas udara global memburuk pada 2025, seiring dengan makin banyaknya kota-kota di dunia yang mencatat tingkat polusi di bawah standar kesehatan internasional.
Mengutip laporan IQAir Group yang diwartakan Bloomberg, kebakaran hutan besar serta polusi dari sektor bahan bakar fosil dan pertanian menjadi segelintir faktor utama yang memicu penurunan kualitas ini.
Data rata-rata tahunan konsentrasi partikel halus berbahaya atau PM2.5 dari hampir 9.500 kota menunjukkan bahwa hanya 14% yang memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Angka itu menurun dibandingkan tahun sebelumnya, ketika 17% dari hampir 9.000 kota yang disurvei memenuhi ambang tersebut.
Chief Executive Officer Global IQAir, Frank Hammes, mengatakan kualitas udara akan sangat menentukan kapasitas produktif generasi mendatang.
“Produktivitas satu generasi masa depan secara keseluruhan akan sangat terkait dengan kualitas udara,” kata Frank Hammes, dikutip Kamis (26/3/2026).
Hammes mengemukakan bahwa polusi udara memiliki sejumlah dampak signifikan terhadap kesehatan, seperti penurunan IQ dan penurunan kemampuan untuk melakukan kerja fisik.
“Kita tahu bahwa pada akhirnya polusi udara akan membebani sistem kesehatan karena masyarakat membutuhkan perawatan medis dan keluar dari angkatan kerja,” imbuhnya.
Laporan itu menyebut kebakaran hutan menjadi salah satu faktor utama penurunan kualitas udara pada tahun lalu, terutama akibat lonjakan emisi dari kebakaran besar di Eropa dan Kanada.
Polusi udara luar ruang sebelumnya diperkirakan menyebabkan sekitar 5,7 juta kematian pada 2020. Selain itu, kerugian ekonomi tahunan akibat polusi udara diperkirakan mencapai US$4,5 triliun hingga US$6,1 triliun, atau setara hingga 6,5% dari produk domestik bruto (PDB) global, menurut laporan Bank Dunia tahun lalu.
Di tengah memburuknya kualitas udara, sejumlah negara seperti China mulai menerapkan standar kualitas udara yang lebih ketat. Sebaliknya, kebijakan pengendalian polusi di Amerika Serikat justru mulai dilonggarkan. Kontradiksi di AS tak terlepas dari dorongan Environmental Protection Agency (EPA) yang ingin memangkas aturan yang dinilai meningkatkan biaya dan membatasi pilihan konsumen.
Menurut laporan IQAir, 25 kota paling tercemar di dunia seluruhnya berada di India, Pakistan, dan China. Buruknya kualitas udara di kawasan tersebut dipicu oleh emisi industri, asap kendaraan, badai debu, hingga pembakaran sisa tanaman pertanian.
Kondisi polusi parah di India utara pada November dan Desember tahun lalu bahkan dinilai berpotensi menjadi ancaman ekonomi yang lebih serius dibandingkan dengan tarif perdagangan. Penilaian itu sebelumnya disampaikan mantan pejabat Dana Moneter Internasional (IMF) Gita Gopinath dalam World Economic Forum di Davos pada Januari 2026.
Secara rata-rata tahunan, Pakistan dan Bangladesh mencatat konsentrasi PM2.5 tertinggi. Sebaliknya, Polinesia Prancis dan Puerto Rico menjadi wilayah dengan tingkat PM2.5 terendah, serta termasuk di antara 13 negara atau teritori yang berada di bawah batas rekomendasi WHO.
IQAir, perusahaan berbasis di Swiss, merupakan penyedia data kualitas udara sekaligus pemasok sistem pemantauan dan pemurnian udara.
Adapun PM2.5 dinilai lebih berbahaya bagi kesehatan dibandingkan dengan partikel yang lebih besar karena dapat masuk lebih dalam ke paru-paru dan memicu peradangan. Kondisi itu meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan, hingga kanker. Pada anak-anak, paparan polusi udara juga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sistem pernapasan.
Sumber utama PM2.5 yang berasal dari aktivitas manusia meliputi mesin pembakaran, emisi industri, pembangkit listrik, sektor pertanian, serta pembakaran kayu atau batu bara di rumah tangga.
Di Amerika Serikat, pusat data untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga mulai dipandang sebagai sumber baru polusi PM2.5. Kontribusinya dapat terjadi secara tidak langsung melalui peningkatan emisi pembangkit listrik, maupun secara langsung akibat penggunaan generator diesel sebagai sumber listrik cadangan.
#polusi-udara #kualitas-udara #pm2-5 #kesehatan-global #kebakaran-hutan #bahan-bakar-fosil #emisi-industri #who-standar #dampak-kesehatan #kerugian-ekonomi #kebijakan-polusi #kota-tercemar #ancaman-eko