Sektor Logistik Waspadai Dampak Pengendalian BBM
Sektor logistik mewaspadai kebijakan pengendalian BBM karena dikhawatirkan berdampak pada stabilitas distribusi dan harga barang.
(Bisnis.Com) 02/04/26 10:10 179756
Bisnis.com, JAKARTA — Sektor logistik menghadapi ujian atas pengendalian pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang berlaku mulai hari ini, Rabu, 1 April 2026.
Kebijakan tersebut dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok jika tidak diimbangi dengan kepastian distribusi dan implementasi yang tepat di lapangan.
Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menyoroti dua jenis BBM, yakni Solar subsidi dan Pertalite, sebagai tulang punggung distribusi barang nasional. Ketergantungan tersebut membuat setiap perubahan kebijakan pada dua komoditas ini berisiko langsung menekan pergerakan logistik, terutama untuk distribusi jarak jauh dan last mile.
Ketua ALI Mahendra Rianto menilai pengendalian terhadap dua jenis BBM tersebut akan berdampak luas terhadap perekonomian. Bukan hanya menahan pergerakan barang, tetapi juga berisiko memicu lonjakan harga di tingkat konsumen.
Meski demikian, dirinya mengaku lega atas pengumuman harga BBM subsidi yang tidak naik.
“Kalau itu disesuaikan [harga dinaikkan], supply chain dapat terganggu. Distribusi ke daerah pelosok akan terdampak langsung,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (1/4/2026).
Dalam simulasi operasional, Mahendra menjelaskan pengendalian konsumsi sebenarnya masih relatif aman untuk distribusi dalam kota (last mile). Dengan asumsi konsumsi 1 liter untuk 7 kilometer, kuota 50 liter per hari masih memungkinkan kendaraan menempuh hingga 350 kilometer.
Persoalan muncul pada distribusi jarak jauh. Mengambil contoh konsumsi rata-rata 1 liter untuk 4 kilometer, kuota 200 liter hanya mampu menjangkau sekitar 800 kilometer per hari. Jarak tersebut dinilai cukup untuk rute Jawa, tetapi tidak memadai untuk distribusi ke Sumatra dan wilayah lain yang lebih jauh.
Untuk itu, Mahendra mengusulkan agar pemerintah turut mengeluarkan kebijakan pengiriman barang dengan jarak lebih dari 800 kilometer menggunakan kapal laut. Dengan catatan, pemerintah turut mempertimbangkan pemberian subsidi BBM untuk angkutan laut barang yang saat ini masih menggunakan harga industri.
Meski demikian, Mahendra mengingatkan kebijakan tersebut harus diikuti kesiapan industri pelayaran. Tanpa ketersediaan kontainer dan armada yang memadai, kebijakan justru berisiko menjadi bumerang bagi distribusi nasional.
Di tengah tekanan tersebut, dirinya juga mendorong penggunaan kendaraan listrik untuk last mile untuk mengurangi ketergantungan pada BBM, sekaligus menekan biaya operasional dalam jangka panjang.

Kepastian Stok
Selain soal kuota, pelaku usaha juga menyoroti persoalan klasik yang dinilai belum terselesaikan, yakni ketimpangan distribusi BBM di lapangan. Jaminan stok yang disampaikan pemerintah dinilai belum sepenuhnya tercermin di daerah.
Mahendra menilai ketersediaan BBM relatif aman di wilayah sekitar pusat pemerintahan, tetapi kondisi berbeda terjadi di sejumlah daerah seperti Sumatra. Jalur distribusi di luar Jawa dinilai masih rentan mengalami kekosongan pasokan.
Dia menekankan pentingnya jaminan stok yang merata untuk menghindari disparitas harga dan gangguan distribusi. Tanpa kepastian tersebut, pelaku usaha menghadapi ketidakpastian operasional yang berpotensi meningkatkan biaya logistik.
Keluhan serupa disampaikan Plt. Sekretaris Jenderal Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kurnia Lesani Adnan, yang menyoroti kelangkaan BBM subsidi di berbagai luar Jawa. Sementara di Pulau Jawa, kondisi relatif lebih stabil meski sesekali terjadi kelangkaan.
Dia menilai penerapan sistem barcode MyPertamina belum efektif dalam memastikan distribusi tepat sasaran. Di lapangan, sistem tersebut justru membuka celah praktik penyimpangan.
Menurutnya, sering ditemukan kasus di mana kuota kendaraan tiba-tiba berkurang meski belum melakukan pengisian, sementara pihak tertentu tetap dapat mengakses BBM melalui jalur tidak resmi.
“Implementasinya di lapangan tidak tepat sasaran. Ini yang perlu dibenahi,” ujarnya.
Sani, sapaannya, menegaskan pengendalian BBM bukan semata berdampak pada kenaikan biaya, tetapi lebih jauh menghambat pergerakan logistik. Hambatan distribusi dinilai berpotensi mengganggu kelancaran pasokan barang, terutama kebutuhan pokok.
Waspada Beban di Masyarakat
Di sisi lain, Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet melihat kebijakan ini dapat dipahami karena kenaikan harga minyak global demi menjaga keberlanjutan anggaran negara.
Yusuf mengingatkan, efektivitas kebijakan sangat bergantung pada implementasi di lapangan. Tanpa pengelolaan yang baik, kebijakan berisiko menimbulkan gangguan operasional bagi pelaku usaha.
Menurut Yusuf, dampak terhadap harga barang tidak bersifat otomatis dirasakan dan tidak selalu signifikan.
“Kenaikan biaya distribusi bisa saja diteruskan sebagian ke harga akhir, terutama untuk komoditas yang sensitif terhadap biaya logistik,” ujarnya.
Namun, besarnya sangat bergantung pada seberapa besar gangguan di lapangan dan seberapa efisien pelaku usaha bisa beradaptasi. Wilayah dengan tantangan distribusi lebih besar berpotensi merasakan dampak lebih signifikan dibandingkan daerah dengan infrastruktur yang lebih baik.
Untuk itu, Yusuf mendesak pemerintah agar menjaga transisi kebijakan sehingga tidak menimbulkan ketidakpastian. Kejelasan aturan operasional menjadi kunci untuk memastikan sektor logistik tetap dapat berfungsi optimal.
Selain itu, akses BBM untuk distribusi kebutuhan pokok perlu dipastikan tetap memadai agar tidak mengganggu stabilitas harga.
#logistik #pengendalian-bbm #distribusi-barang #rantai-pasok #solar-subsidi #pertalite #harga-bbm #distribusi-jarak-jauh #kendaraan-listrik #ketimpangan-distribusi #stok-bbm #sistem-barcode #kenaikan-b
https://ekonomi.bisnis.com/read/20260402/98/1963736/sektor-logistik-waspadai-dampak-pengendalian-bbm