Kisah dari Banda Neira, Permata Rempah yang Terlupakan

Kisah dari Banda Neira, Permata Rempah yang Terlupakan

KM Sangiang di Banda Neira bantu evakuasi pasien ke Ambon. Pelni dukung misi kemanusiaan di daerah terpencil dengan kapal berkapasitas 500 orang.

(Bisnis.Com) 29/10/25 21:51 20783

Bisnis.com, BANDA NEIRA -- Suara ambulance memecah keramaian di sekitar KM Sangiang yang sedang bersandar di Pelabuhan Banda 1 atau yang lebih dikenal sebagai Banda Neira.

Penumpang yang berbondong-bondong mengantri menaiki jembatan KM Sangiang hanya menoleh sekejap dan melanjutkan aktivitas seperti semula. Seolah-olah, hal seperti itu bukanlah pemandangan baru dan tidak ada juga masyarakat yang mendokumentasikan peristiwa ini, kecuali penumpang dari Pulau Jawa yang berpelesiran di Banda Neira.

Petugas kapal Pelni beragam putih datang ke arah mobil ambulance dan melihat kondisi pasien. Kemudian, berkomunikasi melalui HT agar awak kapal bisa menyediakan tempat bagi pasien yang mau diangkut naik kapal KM Sangiang menuju Ambon.

Seorang perempuan dengan infus terpasang di punggung tangannya, terbaring lemas di mobil ambulance, kemudian ditandu dan diangkat oleh empat orang pria dari mobil ambulance menuju KM Sangiang.

"Perutnya sakit sudah lama. Lemas. RSU Banda Neira tidak ada alat CT Scan, jadi mau dibawa ke Ambon," ucap perawat terburu-buru saat ke luar dari mobil ambulance.

Manajer Komunikasi Korporasi Pelni Ditto Pappilanda mengungkapkan bahwa KM Sangiang merupakan kapal bermuatan 500 orang. Biasanya, perseroan juga menjalankan misi kemanusiaan seperti membawa orang-orang yang sakit dari daerah terpencil untuk dirujuk ke kota sekitar dengan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Pelni menjadi urat nadi bagi daerah-daerah terpencil, khususnya menjadi penyambung di kepulauan yang jarang disentuh oleh kapal-kapal swasta. Ditto mengatakan bahwa Pelni juga memiliki misi kemanusiaan dan memanusiakan orang-orang di daerah terpencil agar tetap terhubung di kota-kota besar sekitarnya.

"Kalau ada pasien yang sakit di daerah terpencil kami melakukan pendataan agar bisa disediakan tempat di klinik," tuturnya.

Perjalanan dari Banda Neira menuju Ambon sekitar 14-15 jam. Ditto mengatakan bahwa saat ada pasien sakit yang mau dibawa naik kapal Pelni, maka hal ini tidak bisa dilakukan secara mendadak sebab tempatnya sangat terbatas di klinik. Tentunya, perseroan juga mempertimbangkan untuk menyediakan tempat bagi penumpang kapal, sekaligus untuk jaga-jaga bila ada orang yang tiba-tiba sakit selama perjalanan.

KM Sangiang memiliki kapasitas penumpang sebanyak 500 orang. Penumpang kapal ini mendapatkan makan sebanyak tiga kali selama di kapal.

Namun, KM Sangiang bukanlah satu-satunya kapal yang singgah ke Banda Neira, ada beberapa kapal lain yakni KM Labobar dengan kapasitas 3000 pax, KM Pangrango 500 pax, dan KM Sabuk Nusantara 106 sebanyak 400 pax.

Kisah dari Banda Neira, Permata Rempah yang Terlupakan

Kapal Tua, Pelni, dan Misi Kemanusiaan

Rata-rata kapal Pelni berusia 25 tahun. Dalam dunia manusia, usia 25 tahun masuk dalam kategori muda dan gagah. Namun, bagi peralatan elektronik, teknologi, dan transportasi, maka usia 25 tahun bisa dikategorikan peralatan tua.

Adapun Pelni adalah perusahaan pelayaran milik negara dan sekaligus pembentuk infrastruktur laut yang menghubungkan pulau-pulau terpencil. Tujuannya adalah agar orang-orang yang berada di daerah terpencil bisa mengakses kota-kota besar di sekitarnya.

Bukan menjadi rahasia umum, kalau daerah kepulauan terpencil seperti Banda Neira memiliki fasilitas kesehatan yang sangat terbatas. Namun, Banda Neira memiliki keindahan alam tanpa batas, seperti biota laut, wisata lumba-lumba, dan kaya rempah-rempah.

Sekitar 400 tahun silam, Banda Neira menjadi perebutan oleh bangsa Portugis, Belanda, dan Inggris. Kepulauan Banda Neira juga disebut sebagai pusat ‘harta karun’ bagi para penjajah yang pernah berlayar ke daerah tersebut. Namun, pada masa pemerintah Indonesia, Banda Neira hanya dijadikan tempat pengasingan tokoh-tokoh penting seperti Bung Hatta, Sutan Syahrir, dan Dr. Cipto Mangunkusumo.

Pelni mengemban misi kemanusia, sehingga perseroan menjadi perusahaan yang tidak sekadar mengejar untung. Perusahaan ini juga sering kali menjadi armada perintis, khususnya saat kondisi darurat dan bencana alam, seperti mengevakuasi wisatawan yang terjebak di Karimun karena cuaca buruk, terlibat saat evakuasi di Labuan Bajo ketika Gunung Tobi meletus, karena ada penutupan bandara.

Selain angkutan penumpang, PELNI juga melayani 30 trayek kapal perintis yang menjadi sarana aksesibilitas bagi mobilitas penduduk di wilayah 3TP, dimana kapal perintis menyinggahi 230 pelabuhan dengan total 522 ruas. PELNI juga mengoperasikan sebanyak 18 kapal rede. Untuk pelayanan bisnis logistik, saat ini PELNI mengoperasikan 8 trayek tol laut serta satu trayek khusus untuk kapal ternak.

#banda-neira #kapal-pelni #km-sangiang #misi-kemanusiaan #pelabuhan-banda #perjalanan-ambon #fasilitas-kesehatan #kapal-tua #wisata-banda-neira #sejarah-banda-neira #pelni-indonesia #trayek-kapal #evak

https://lifestyle.bisnis.com/read/20251029/361/1924505/kisah-dari-banda-neira-permata-rempah-yang-terlupakan