KPK mengungkap akuisisi kapal tua oleh ASDP dengan harga mahal, menyoroti manipulasi data usia kapal oleh PT JN dan perubahan kebijakan direksi terkait KSU. [398] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan harga dan usia kapal milik PT Jembatan Nusantara (PT JN) yang diakuisisi PT ASDP (Persero).
Plt. Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu memaparkan data yang dihimpun dari Internasional Maritime Organization (IMO) yang berisikan daftar kapal-kapal diakusisi ASDP.
Asep menjelaskan, terdapat kapal yang diproduksi dari tahun 1959 yang masih beroperasi. Dia turut memaparkan foto-foto kondisi kapal yang sebagian besar dipenuhi karat.
"Ada yang buatan tahun 59, ada yang tahun 66, ada yang tahun juga rata-rata di 64 ada. Jadi kapal yang digunakan untuk penyeberangan itu ada yang tahun 59," ungkap Asep, dikutip Selasa (25/11/2025).
Bahkan, katanya, ada kapal yang berusia lebih dari 60 tahun. Padahal hal itu berbahaya bagi keselamatan pelanggan. Asep mengemukakan telah terjadi manipulasi data berupa perubahan tahun kapal oleh PT JN agar dinilai berusia muda.
Namun, pengecekan usia kapal diabaikan oleh ASDP. Asep turut membandingkan harga kapal PT JN dengan PT ASDP. Salah satunya adalah kapal Portlink 5 milik ASDP tahun 2011 seharga sekitar Rp100 miliar.
Sedangkan kapal Mabuhay Nusantara milik PT JN tahun 1990 seharga sekitar Rp108 miliar.
"Satu lagi, kapal Farina Nusantara. Ini masih Jembatan Nusantara juga. Ini tahunnya 1994. Jauh, lebih tua. Tapi nilai akuisisinya Rp116,64 miliar. Dengan tahun yang lebih tua tetapi diakuisisi dengan harga yang lebih mahal," ucap Asep.
Lebih lanjut, Asep juga menjelaskan terkait perubahan surat Keputusan Direksi Nomor 35 menjadi Keputusan Direksi Nomor 86. Perubahan bertujuan untuk mempermudah pelaksanaan KSU antara PT ASDP dan PT JN (Jembatan Nusantara) dengan cara menambahkan ketentuan pengecualian.
Secara garis besar, keputusan nomor 35 menyatakan KSU tidak bisa dilakukan, tetapi diubah melalui keputusan 85 sehingga KSU bisa dilaksanakan.
Pada 11 Oktober 2019, Asep mengatakan Ira Puspadewi kembali mengesahkan Keputusan Direksi KD.237/HK.002/ASDP.2019 tentang Pedoman Kerja Sama di Lingkungan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), menggantikan Keputusan Direksi Nomor KD.86/HK.201/ASDP.2009.
Keputusan tersebut menghapus ketentuan pengecualian persyaratan untuk kerja sama KSU yang muncul pada beberapa pasal pada pedoman kerja sama Nomor 86. Jadi hanya waktu Keputusan Direksi Nomor 86 ini, berlaku 7 bulan. Kemudian dirubah lagi dengan Keputusan Direksi Nomor 237.
Kata Asep, keputusan Direksi Nomor 237 mengatur ketentuan awal yakni Keputusan Direksi Nomor 35, tetapi menambahkan penjelasan di pasal 25 yang berbunyi:
"Terhadap proses kerja sama yang sudah dilaksanakan sebelum Keputusan Direksi ini berlaku, tetap menggunakan KD.35 Jo KD.86."
KM Sangiang di Banda Neira bantu evakuasi pasien ke Ambon. Pelni dukung misi kemanusiaan di daerah terpencil dengan kapal berkapasitas 500 orang. [651] url asal
Bisnis.com, BANDA NEIRA -- Suara ambulance memecah keramaian di sekitar KM Sangiang yang sedang bersandar di Pelabuhan Banda 1 atau yang lebih dikenal sebagai Banda Neira.
Penumpang yang berbondong-bondong mengantri menaiki jembatan KM Sangiang hanya menoleh sekejap dan melanjutkan aktivitas seperti semula. Seolah-olah, hal seperti itu bukanlah pemandangan baru dan tidak ada juga masyarakat yang mendokumentasikan peristiwa ini, kecuali penumpang dari Pulau Jawa yang berpelesiran di Banda Neira.
Petugas kapal Pelni beragam putih datang ke arah mobil ambulance dan melihat kondisi pasien. Kemudian, berkomunikasi melalui HT agar awak kapal bisa menyediakan tempat bagi pasien yang mau diangkut naik kapal KM Sangiang menuju Ambon.
Seorang perempuan dengan infus terpasang di punggung tangannya, terbaring lemas di mobil ambulance, kemudian ditandu dan diangkat oleh empat orang pria dari mobil ambulance menuju KM Sangiang.
"Perutnya sakit sudah lama. Lemas. RSU Banda Neira tidak ada alat CT Scan, jadi mau dibawa ke Ambon," ucap perawat terburu-buru saat ke luar dari mobil ambulance.
Manajer Komunikasi Korporasi Pelni Ditto Pappilanda mengungkapkan bahwa KM Sangiang merupakan kapal bermuatan 500 orang. Biasanya, perseroan juga menjalankan misi kemanusiaan seperti membawa orang-orang yang sakit dari daerah terpencil untuk dirujuk ke kota sekitar dengan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Pelni menjadi urat nadi bagi daerah-daerah terpencil, khususnya menjadi penyambung di kepulauan yang jarang disentuh oleh kapal-kapal swasta. Ditto mengatakan bahwa Pelni juga memiliki misi kemanusiaan dan memanusiakan orang-orang di daerah terpencil agar tetap terhubung di kota-kota besar sekitarnya.
"Kalau ada pasien yang sakit di daerah terpencil kami melakukan pendataan agar bisa disediakan tempat di klinik," tuturnya.
Perjalanan dari Banda Neira menuju Ambon sekitar 14-15 jam. Ditto mengatakan bahwa saat ada pasien sakit yang mau dibawa naik kapal Pelni, maka hal ini tidak bisa dilakukan secara mendadak sebab tempatnya sangat terbatas di klinik. Tentunya, perseroan juga mempertimbangkan untuk menyediakan tempat bagi penumpang kapal, sekaligus untuk jaga-jaga bila ada orang yang tiba-tiba sakit selama perjalanan.
KM Sangiang memiliki kapasitas penumpang sebanyak 500 orang. Penumpang kapal ini mendapatkan makan sebanyak tiga kali selama di kapal.
Namun, KM Sangiang bukanlah satu-satunya kapal yang singgah ke Banda Neira, ada beberapa kapal lain yakni KM Labobar dengan kapasitas 3000 pax, KM Pangrango 500 pax, dan KM Sabuk Nusantara 106 sebanyak 400 pax.
Kapal Tua, Pelni, dan Misi Kemanusiaan
Rata-rata kapal Pelni berusia 25 tahun. Dalam dunia manusia, usia 25 tahun masuk dalam kategori muda dan gagah. Namun, bagi peralatan elektronik, teknologi, dan transportasi, maka usia 25 tahun bisa dikategorikan peralatan tua.
Adapun Pelni adalah perusahaan pelayaran milik negara dan sekaligus pembentuk infrastruktur laut yang menghubungkan pulau-pulau terpencil. Tujuannya adalah agar orang-orang yang berada di daerah terpencil bisa mengakses kota-kota besar di sekitarnya.
Bukan menjadi rahasia umum, kalau daerah kepulauan terpencil seperti Banda Neira memiliki fasilitas kesehatan yang sangat terbatas. Namun, Banda Neira memiliki keindahan alam tanpa batas, seperti biota laut, wisata lumba-lumba, dan kaya rempah-rempah.
Sekitar 400 tahun silam, Banda Neira menjadi perebutan oleh bangsa Portugis, Belanda, dan Inggris. Kepulauan Banda Neira juga disebut sebagai pusat ‘harta karun’ bagi para penjajah yang pernah berlayar ke daerah tersebut. Namun, pada masa pemerintah Indonesia, Banda Neira hanya dijadikan tempat pengasingan tokoh-tokoh penting seperti Bung Hatta, Sutan Syahrir, dan Dr. Cipto Mangunkusumo.
Pelni mengemban misi kemanusia, sehingga perseroan menjadi perusahaan yang tidak sekadar mengejar untung. Perusahaan ini juga sering kali menjadi armada perintis, khususnya saat kondisi darurat dan bencana alam, seperti mengevakuasi wisatawan yang terjebak di Karimun karena cuaca buruk, terlibat saat evakuasi di Labuan Bajo ketika Gunung Tobi meletus, karena ada penutupan bandara.
Selain angkutan penumpang, PELNI juga melayani 30 trayek kapal perintis yang menjadi sarana aksesibilitas bagi mobilitas penduduk di wilayah 3TP, dimana kapal perintis menyinggahi 230 pelabuhan dengan total 522 ruas. PELNI juga mengoperasikan sebanyak 18 kapal rede. Untuk pelayanan bisnis logistik, saat ini PELNI mengoperasikan 8 trayek tol laut serta satu trayek khusus untuk kapal ternak.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56