KM Sangiang di Banda Neira bantu evakuasi pasien ke Ambon. Pelni dukung misi kemanusiaan di daerah terpencil dengan kapal berkapasitas 500 orang. [651] url asal
Bisnis.com, BANDA NEIRA -- Suara ambulance memecah keramaian di sekitar KM Sangiang yang sedang bersandar di Pelabuhan Banda 1 atau yang lebih dikenal sebagai Banda Neira.
Penumpang yang berbondong-bondong mengantri menaiki jembatan KM Sangiang hanya menoleh sekejap dan melanjutkan aktivitas seperti semula. Seolah-olah, hal seperti itu bukanlah pemandangan baru dan tidak ada juga masyarakat yang mendokumentasikan peristiwa ini, kecuali penumpang dari Pulau Jawa yang berpelesiran di Banda Neira.
Petugas kapal Pelni beragam putih datang ke arah mobil ambulance dan melihat kondisi pasien. Kemudian, berkomunikasi melalui HT agar awak kapal bisa menyediakan tempat bagi pasien yang mau diangkut naik kapal KM Sangiang menuju Ambon.
Seorang perempuan dengan infus terpasang di punggung tangannya, terbaring lemas di mobil ambulance, kemudian ditandu dan diangkat oleh empat orang pria dari mobil ambulance menuju KM Sangiang.
"Perutnya sakit sudah lama. Lemas. RSU Banda Neira tidak ada alat CT Scan, jadi mau dibawa ke Ambon," ucap perawat terburu-buru saat ke luar dari mobil ambulance.
Manajer Komunikasi Korporasi Pelni Ditto Pappilanda mengungkapkan bahwa KM Sangiang merupakan kapal bermuatan 500 orang. Biasanya, perseroan juga menjalankan misi kemanusiaan seperti membawa orang-orang yang sakit dari daerah terpencil untuk dirujuk ke kota sekitar dengan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Pelni menjadi urat nadi bagi daerah-daerah terpencil, khususnya menjadi penyambung di kepulauan yang jarang disentuh oleh kapal-kapal swasta. Ditto mengatakan bahwa Pelni juga memiliki misi kemanusiaan dan memanusiakan orang-orang di daerah terpencil agar tetap terhubung di kota-kota besar sekitarnya.
"Kalau ada pasien yang sakit di daerah terpencil kami melakukan pendataan agar bisa disediakan tempat di klinik," tuturnya.
Perjalanan dari Banda Neira menuju Ambon sekitar 14-15 jam. Ditto mengatakan bahwa saat ada pasien sakit yang mau dibawa naik kapal Pelni, maka hal ini tidak bisa dilakukan secara mendadak sebab tempatnya sangat terbatas di klinik. Tentunya, perseroan juga mempertimbangkan untuk menyediakan tempat bagi penumpang kapal, sekaligus untuk jaga-jaga bila ada orang yang tiba-tiba sakit selama perjalanan.
KM Sangiang memiliki kapasitas penumpang sebanyak 500 orang. Penumpang kapal ini mendapatkan makan sebanyak tiga kali selama di kapal.
Namun, KM Sangiang bukanlah satu-satunya kapal yang singgah ke Banda Neira, ada beberapa kapal lain yakni KM Labobar dengan kapasitas 3000 pax, KM Pangrango 500 pax, dan KM Sabuk Nusantara 106 sebanyak 400 pax.
Kapal Tua, Pelni, dan Misi Kemanusiaan
Rata-rata kapal Pelni berusia 25 tahun. Dalam dunia manusia, usia 25 tahun masuk dalam kategori muda dan gagah. Namun, bagi peralatan elektronik, teknologi, dan transportasi, maka usia 25 tahun bisa dikategorikan peralatan tua.
Adapun Pelni adalah perusahaan pelayaran milik negara dan sekaligus pembentuk infrastruktur laut yang menghubungkan pulau-pulau terpencil. Tujuannya adalah agar orang-orang yang berada di daerah terpencil bisa mengakses kota-kota besar di sekitarnya.
Bukan menjadi rahasia umum, kalau daerah kepulauan terpencil seperti Banda Neira memiliki fasilitas kesehatan yang sangat terbatas. Namun, Banda Neira memiliki keindahan alam tanpa batas, seperti biota laut, wisata lumba-lumba, dan kaya rempah-rempah.
Sekitar 400 tahun silam, Banda Neira menjadi perebutan oleh bangsa Portugis, Belanda, dan Inggris. Kepulauan Banda Neira juga disebut sebagai pusat ‘harta karun’ bagi para penjajah yang pernah berlayar ke daerah tersebut. Namun, pada masa pemerintah Indonesia, Banda Neira hanya dijadikan tempat pengasingan tokoh-tokoh penting seperti Bung Hatta, Sutan Syahrir, dan Dr. Cipto Mangunkusumo.
Pelni mengemban misi kemanusia, sehingga perseroan menjadi perusahaan yang tidak sekadar mengejar untung. Perusahaan ini juga sering kali menjadi armada perintis, khususnya saat kondisi darurat dan bencana alam, seperti mengevakuasi wisatawan yang terjebak di Karimun karena cuaca buruk, terlibat saat evakuasi di Labuan Bajo ketika Gunung Tobi meletus, karena ada penutupan bandara.
Selain angkutan penumpang, PELNI juga melayani 30 trayek kapal perintis yang menjadi sarana aksesibilitas bagi mobilitas penduduk di wilayah 3TP, dimana kapal perintis menyinggahi 230 pelabuhan dengan total 522 ruas. PELNI juga mengoperasikan sebanyak 18 kapal rede. Untuk pelayanan bisnis logistik, saat ini PELNI mengoperasikan 8 trayek tol laut serta satu trayek khusus untuk kapal ternak.
Ingin ke Banda Neira? Naik kapal Pelni dari Ambon, perjalanan 16 jam dengan tiket Rp180.000. Pilih KM Labobar, Pangrango, Sangiang, atau Sabuk Nusantara 106. [380] url asal
Bisnis.com, AMBON- Bagi Anda yang ingin melakukan perjalanan wisata ke Banda Neira, maka bisa menaiki 4 jenis kapal Pelni.
Destinasi wisata Banda Neira saat ini menjadi terkenal karena keindahan alamnya. Saat Anda mendarat di Ambon dan memiliki mencoba naik kapal ke Banda Neira, jangan lupa sediakan waktu sekitar 16 jam, dengan harga tiket sekitar Rp180.000.
Kepala Cabang PELNI Ambon Marthin Heryanto merinci, tiga kapal PELNI yang menyinggahi Banda Neira antara lain KM Labobar dengan kapasitas 3000 penumpang, KM Pangrango sebanyak 500 penumpang, KM Sangiang ada 500 penumpang dan KM Sabuk Nusantara 106 sebanyak 400 orang.
"Untuk mendukung pariwisata Banda Neira, jadwal kapal Pelni diatur sedemikian rupa agar tiba di Banda Neira pada pagi hari, sehingga wisatawan dapat beristirahat di kapal selama pelayaran, dan tiba di Banda Neira dalam keadaan segar bugar dan bisa beraktivitas wisata sejak pagi hari," ujar Marthin, Senin (20/10/2025).
Berikut rute kapal-kapal PELNI ke Banda Neira:
Rute KM Labobar
Jakarta - Surabaya - Makassar - Baubau - Ambon - Banda - Tual - Dobo - Fakfak - Kaimana (PP)
Ambon - Banda - Geser - Gorom - Kesui - Teor - Pulau Kur - Tual (PP)
Marthin menambahkan bahwa wisatawan dapat kembali menggunakan kapal PELNI untuk meninggalkan Banda setelah berwisata selama tiga-empat hari. Dia menuturkan rata-rata kapal PELNI yang menyinggahi Banda dari arah barat akan berlayar tiga hingga empat hari ke arah timur, sebelum kembali berlatar ke arah barat.
Sebagai contoh, KM Labobar yang berlayar dari Tanjung Priok, Jakarta, membutuhkan lima hari berlayar untuk tiba di Banda Neira. Selanjutnya Labobar akan berlayar hingga Fak-Fak untuk kemudian tiba kembali di Banda empat hari kemudian untuk berlayar balik ke arah Jakarta.
"Selama tiga hingga empat hari berada di Banda Neira, wisatawan dapat menjelajahi kota kecil Banda dan jejak rempah yang bersejarah, dilanjutkan aktivitas laut seperti snorkling hingga diving, sampai menyusuri jalur perkampungan dan perbukitan untuk melihat Gunung Banda yang legendaris," tutur Marthin.
Khusus untuk KM Pangrango, kapal tipe 500 pax tersebut berangkat dari Ambon setiap Jumat sore dan tiba di Banda pada Sabtu pagi.
"Kapal sandar satu malam hingga minggu sore, jadi bisa dimanfaatkan oleh wisatawan untuk menginap satu malam di atas kapal dan kembali ke Ambon minggu sore dan tiba senin pagi," ujarnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56