Putra Mahkota Saudi Marah, Trump Batalkan Misi Militer di Selat Hormuz
Trump menghentikan operasi militer di Selat Hormuz setelah Saudi menolak akses udara, memicu ketegangan dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
(Bisnis.Com) 09/05/26 18:05 216584
Bisnis.com, BANDA ACEH — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghentikan sementara Project Freedom, operasi militer untuk mengawal kapal melewati Selat Hormuz, setelah Arab Saudi menolak akses pesawat militer AS ke pangkalan dan wilayah udaranya.
NBC melaporkan keputusan mendadak Trump itu terjadi setelah salah satu sekutu penting AS di Teluk itu menangguhkan izin penggunaan pangkalan dan wilayah udara untuk mendukung operasi tersebut. Langkah Saudi itu membuat Trump terpaksa menghentikan operasi guna memulihkan akses militer AS ke ruang udara yang dinilai strategis.
“Karena faktor geografi, kami membutuhkan kerja sama dari mitra regional untuk memanfaatkan wilayah udara di sepanjang perbatasan mereka,” kata seorang pejabat AS, dikutip NBC, Sabtu (9/2/2026).
Trump mengejutkan sekutu Teluk setelah mengumumkan Project Freedom melalui media sosial pada Minggu sore. Pengumuman itu disebut membuat marah kepemimpinan Arab Saudi.
Sebagai respons, Kerajaan Saudi memberi tahu bahwa mereka tidak akan mengizinkan militer AS menerbangkan pesawat dari Pangkalan Udara Prince Sultan di tenggara Riyadh atau melintasi wilayah udara Saudi untuk mendukung operasi tersebut.
The New York Times menuliskan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan para pejabat Saudi kemudian tetap berkomunikasi dengan Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, Komando Pusat AS, serta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Namun, pembicaraan antara Trump dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman tidak menyelesaikan persoalan tersebut. Kondisi itu memaksa Trump menghentikan sementara Project Freedom.
Menurut NBC, sekutu dekat AS lain di Teluk juga terkejut dengan pengumuman tersebut. Trump disebut baru berbicara dengan para pemimpin Qatar setelah operasi itu dimulai.
Seorang sumber Saudi mengatakan kepada NBC bahwa Trump dan putra mahkota “telah berkomunikasi secara teratur”.
Ketika ditanya apakah pengumuman Project Freedom mengejutkan pemimpin Saudi, sumber Saudi kepada NBC mengatakan, “Masalahnya adalah segala sesuatu terjadi dengan cepat secara real time.”
Sumber Saudi itu juga mengatakan bahwa Arab Saudi “sangat mendukung upaya diplomatik” Pakistan untuk menengahi kesepakatan antara Iran dan AS guna mengakhiri perang.
Di sisi lain, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa “sekutu regional telah diberi tahu sebelumnya” ketika ditanya soal sejumlah pemimpin negara Teluk yang disebut terkejut atas pengumuman operasi AS tersebut.
Seorang diplomat Timur Tengah memberi keterangan berbeda. Menurut diplomat itu, AS baru berkoordinasi dengan Oman setelah Trump mengumumkan operasi tersebut.
“AS membuat pengumuman, lalu berkoordinasi dengan kami,” kata diplomat Timur Tengah itu.
Diplomat itu menambahkan bahwa pihak Oman “tidak kesal atau marah”.
Trump sebelumnya mengumumkan operasi itu pada akhir pekan sebagai upaya menerobos blokade Iran di Selat Hormuz. Para pejabat keamanan nasional AS kemudian memaparkan operasi tersebut dalam pengarahan publik di Pentagon dan Gedung Putih.
Namun, Trump tiba-tiba menghentikan operasi itu sekitar 36 jam setelah dimulai.
Seorang pejabat AS mengatakan bahwa militer AS saat itu sedang menyiapkan sejumlah kapal tambahan di Teluk untuk melintas melalui selat tersebut ketika operasi dihentikan.
Komando Pusat AS sebelumnya menyatakan dua kapal berbendera AS telah berhasil melewati Selat Hormuz sebagai bagian dari Project Freedom.
Trump mengatakan Project Freedom akan “dihentikan sementara untuk waktu singkat guna melihat apakah” kesepakatan untuk menyelesaikan perang “dapat dirampungkan dan ditandatangani”.
Pangkalan Udara Prince Sultan menjadi lokasi penting karena militer AS menempatkan pesawat tempur dan sistem pertahanan udara di sana.
Arab Saudi sebelumnya mengizinkan AS menerbangkan pesawat dari pangkalan itu untuk mendukung perang di Iran. Saudi juga mengizinkan pesawat yang berbasis di negara sekitar melintasi wilayah udaranya.
Militer AS menyebut izin penggunaan wilayah negara lain sebagai access, basing and overflight atau ABO. Izin tersebut mencakup akses, pangkalan, dan lintas udara.
Dalam operasi kawasan, jet tempur, pesawat tanker pengisian bahan bakar, dan pesawat pendukung membutuhkan izin terbang dari sekutu utama regional. Arab Saudi dan Yordania dinilai penting untuk pangkalan, Kuwait untuk lintas udara, sedangkan Oman untuk lintas udara dan logistik angkatan laut.
#putra-mahkota-saudi #trump-batalkan-misi #selat-hormuz #project-freedom #operasi-militer #arab-saudi #pesawat-militer #wilayah-udara #pangkalan-udara #donald-trump #sekutu-teluk #komunikasi-diplomatik