Gibran: AI Bantu Picu Kreativitas, Bukan Gantikan Kemampuan Berpikir
Wapres Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya penguasaan AI saat ini, bukan masa depan, untuk mendukung Indonesia Emas 2045. AI harus digunakan untuk kreativitas dan inovasi, bukan menggantikan
(Bisnis.Com) 17/06/26 11:45 251903
Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengajak pelajar, guru, dan orang tua untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menguasai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam keterangan yang disampaikan melalui tayangan video di akun YouTube Wakil Presiden Republik Indonesia, Rabu (17/6/2026), Gibran menegaskan bahwa perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat sehingga masyarakat tidak bisa lagi memandang AI sebagai teknologi masa depan.
"Dalam beberapa kesempatan, saya sering menyampaikan bahwa AI bukan lagi masa depan, AI adalah hari ini. Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekedar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," ujar Gibran.
Menurutnya, transformasi digital telah mengubah cara masyarakat memahami literasi. Jika sebelumnya fokus pada kemampuan baca tulis, kini penguasaan literasi digital menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Gibran menilai AI dapat menjadi alat yang membantu pelajar meningkatkan kemampuan belajar dan mempercepat penguasaan berbagai bidang ilmu pengetahuan.
"Oleh sebab itu, kepada adik-adik pelajar, saya ingin kalian memahami bahwa AI adalah alat untuk mempercepat, bukan alat untuk membuat kalian malas," katanya.
Dia menjelaskan AI dapat dimanfaatkan sebagai asisten pribadi untuk membantu proses belajar, mencari data, mempelajari bahasa asing, hingga memahami materi pelajaran yang kompleks dengan cara yang lebih sederhana.
"AI bisa membantu mengejar ketertinggalan kita, namun penguasaan teknologi ini tidak boleh membuat kita kehilangan daya kritis," ujarnya.
Karena itu, Gibran mengingatkan agar generasi muda menggunakan AI untuk mendorong kreativitas dan inovasi, bukan menggantikan kemampuan berpikir secara mandiri.
"Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri," tegasnya.
Wapres juga menyoroti semakin luasnya akses terhadap teknologi AI yang bersifat open source dan dapat dipelajari secara bebas oleh masyarakat.
"Kabar baiknya, banyak sekali teknologi AI canggih yang sekarang sifatnya open source. Ilmu gratis, kodenya terbuka, bisa diakses siapa saja," kata Gibran.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi generasi muda Indonesia untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing di tingkat global.
"Ini kesempatan emas bagi talenta berbakat Indonesia. Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekedar impian, tetapi sebuah kepastian," ujarnya.
Selain menyasar pelajar, Gibran juga memberikan pesan khusus kepada para guru agar terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Ia memahami masih terdapat kekhawatiran terhadap kehadiran AI di dunia pendidikan. Namun, menurutnya, guru yang mampu memanfaatkan teknologi justru akan memiliki kemampuan yang lebih besar dalam mendukung proses pembelajaran.
"Saya harap para guru tidak pernah menyerah untuk meningkatkan kemampuan diri," katanya.
Menurut Gibran, AI dapat membantu guru mengurangi beban administratif, mulai dari penyusunan soal, penyederhanaan materi pembelajaran, hingga penyajian contoh-contoh yang lebih mudah dipahami siswa.
"Guru yang menguasai AI akan memiliki kekuatan super untuk mendidik dengan lebih efektif," ujarnya.
Dengan dukungan teknologi, guru dinilai dapat memiliki lebih banyak waktu untuk membangun karakter dan memberikan pendampingan secara langsung kepada peserta didik.
"Sehingga Bapak-Ibu punya lebih banyak waktu untuk menyentuh sisi humanis dan karakter murid-murid kita," katanya.
Gibran juga mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak-anak di era digital.
Menurutnya, orang tua tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi yang digunakan generasi muda.
"Jangan sampai anak-anak kita terbang tinggi dengan teknologi, tapi kita sebagai orang tua tertinggal di bawah dan tidak tahu apa yang mereka akses," ujarnya.
Meski menekankan pentingnya penguasaan teknologi, Gibran menilai aspek etika harus menjadi fondasi utama dalam pemanfaatan AI.
"Teknologi tanpa etika itu berbahaya," katanya.
Ia mengingatkan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai inovasi positif, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, melakukan plagiarisme, hingga melanggar privasi orang lain.
"Saya ingin mengingatkan, pemanfaatan AI harus didasari oleh nilai-nilai integritas," tegasnya.
Gibran meminta masyarakat tidak menggunakan AI untuk tujuan yang merugikan pihak lain.
"Jangan gunakan AI untuk menipu, jangan gunakan AI untuk menjatuhkan orang lain. AI harus digunakan untuk kesejahteraan bersama, untuk mempermudah hidup, bukan untuk menciptakan kekacauan sosial," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyelesaikan Readiness Assessment Methodology (RAM) AI yang disusun UNESCO sebagai instrumen untuk menilai kesiapan dan tata kelola kecerdasan buatan di Indonesia.
Menurutnya, penyelesaian asesmen tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem pengembangan AI yang selaras dengan prinsip etika dan tata kelola yang baik.
"Pemerintah Indonesia telah berhasil menyelesaikan Readiness Assessment Methodology untuk AI yang disusun UNESCO, yang berfungsi sebagai alat diagnose untuk menilai kesiapan dan tata kelola AI Indonesia di masa datang sesuai perduman etika," kata Gibran
Dia menegaskan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan teknologi berbasis AI, asalkan didukung oleh peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan ekosistem yang memadai.
"Kita punya potensi besar, Indonesia punya talenta-talenta hebat, tugas pemerintah adalah menyiapkan ekosistemnya, dan tugas kita semua adalah mempersiapkan kapasitas diri kita masing-masing. Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya, mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermatabat," pungkasnya.
#ai #ai-indonesia #ai-masa-depan #ai-hari-ini #kecerdasan-buatan #literasi-digital #transformasi-digital #teknologi-ai #ai-open-source #ai-pendidikan #ai-dan-etika #ai-dan-kreativitas #ai-dan-inovasi #n-a