Proyeksi Terbaru soal Likuiditas Bank Mandiri (BMRI)

Proyeksi Terbaru soal Likuiditas Bank Mandiri (BMRI)

Bank Mandiri diproyeksikan bakal mengalami pelonggaran likuiditas hingga 2026, didukung penurunan biaya dana dan pertumbuhan kredit.

(Bisnis.Com) 22/11/25 09:45 46452

Bisnis.com, JAKARTA — PTBank MandiriTbk. (BMRI) diperkirakan bakal mengalami pelonggaran likuiditas hingga 2026 seiring dengan penurunan biaya dana dan pertumbuhan kredit.

Rena Kwok,senior credit analystdi Bloomberg Intelligence, menjelaskan bahwa pertumbuhan kreditemiten perbankanpelat merah tersebut bakal ditopang oleh peningkatan simpanan yang mendukung pelonggaran likuiditas.

Likuiditas PT Bank Mandiri diperkirakan akan terus lebih longgar hingga tahun 2026, seiring dengan penurunan biaya pendanaan dan pertumbuhan kredit yang didorong oleh simpanan yang meningkatkan likuiditas,” jelasnya dalam laporan Bloomberg Intelligence, Jumat (21/11/2025).

Dia menjelaskan bahwa manajemen BMRI menargetkan rasio pinjaman terhadap simpanan atauloan to deposit ratio(LDR) sebesar 90% pada 2025. Jumlah itu berada di bawah realisasinya sebesar 94% per kuartal III/2025.

Pada saat yang sama, biaya dana ataucost of fund(CoF) BMRI pada Januari–September 2025 hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Kualitas aset [BMRI] yang unggul dibandingkan bank lain, didukung oleh pencadangan dan modal yang memadai, menawarkan perlindungan yang kuat jika risiko meningkat,” jelas Rena Kwok.

Dalam catatanBisnis,BMRImampu menjaga pertumbuhan kredit pada level yang sangat baik hingga kuartal III/2025, yaitu mencapai Rp1.764 triliun atau tumbuh 11% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Pendapatan bunga Bank Mandiri juga naik cukup tinggi, 10,5% YoY menjadi Rp122,3 triliun.

“Secara keseluruhan, kinerja Bank Mandiri terjaga dengan baik di triwulan ketiga 2025,” kata Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini, Senin (27/10/2025).

Hanya saja, perseroan mengalami kenaikan beban bunga 22,2% YoY, sedangkan beban operasional naik 25,3% YoY. Alhasil, laba bersih per September 2025 turun 10,2% YoY menjadi Rp37,73 triliun.

Namun, perbankanpelat merahmasih memiliki waktu untuk merealisasikan pemulihanbottom linepada kuartal terakhir tahun ini terutama dengan dukungan kebijakan otoritas moneter dan pemerintah.

Salah satunya melalui perubahan skema insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) mulai 1 Desember 2025 nanti.

Selain insentif itu, ada guyuran likuiditas tambahan dari Pemerintah RI senilai Rp200 triliun kepada bank-bank milik negara yang diyakini membawa angin segar bagi BMRI. Bank Mandiri sendiri mendapatkan suntikan dana sebesar Rp55 triliun.

Sebelumnya, Andrey Wijaya & David Chong, analis RHB Sekuritas Indonesia, menjelaskan pihaknya melihat adanya peluang bank-bank besar untuk memperbaiki kinerja margin dan laba pada kuartal IV/2025. Peluang itu dimungkinkan dengan kondisi likuiditas yang lebih baik dan tren penurunan biaya pendanaan atau CoF.

Gelontoran dana jumbo dari Pemerintah RI untuk penyaluran kredit bank-bank pelat merah dan tren penurunan suku bunga diyakini menjadi katalis positifnya.

“Sektor perbankan Indonesia sedang bertransisi ke fase yang lebih sehat seiring dengan membaiknya likuiditas dan tren penurunan biaya pendanaan, didorong oleh penempatan dana Pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank BUMN dan dampak penurunan suku bunga acuan BI sebesar 125 bps yang mulai terasa pada akhir kuartal III/2025,” jelas Andrey dan David dalam riset, Jumat (10/10/2025).

-----------------------

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#bank-mandiri #likuiditas-bank-mandiri #proyeksi-likuiditas #pertumbuhan-kredit #biaya-dana #loan-to-deposit-ratio #cost-of-fund #kualitas-aset #pendapatan-bunga #laba-bersih #kebijakan-likuiditas #sun

https://finansial.bisnis.com/read/20251122/90/1930827/proyeksi-terbaru-soal-likuiditas-bank-mandiri-bmri